Pages

facebook linkedin twitter youtube

A Dreamer

If you can't explain it simply, you don't understand it well enough - Albert Einstein

    • Home
    • Review
    • Opini
    • Prakerin
    • Karya




    Naik ke kelas duabelas SMK, saya ngerasa hidup saya berlalu begitu cepat. Terlalu cepat sampai saya berada pada titik di mana saya merasa takut. Tiba-tiba saya udah mau lulus dan sebagaimana yang diharapkan dari lulusan SMK, langsung kerja setelahnya. Saya udah harus mulai memikirkan masa depan dan dunia kerja.

    Ketakutan itu merambah ke banyak aspek di kehidupan saya. Awalnya tentang bagaimana saya akan bisa terjun ke dunia kerja. Realita yang dihadapi para lulusan SMK adalah ... mereka seringkali nggak bekerja di bidang keahlian yang mereka pelajari di SMK. Saya melihat banyak contohnya dari kakak kelas saya.

    Pekerjaan yang mereka jalani seringkali jaaauh berbeda dari yang seharusnya. Nggak peduli seberapa pintar dulunya mereka di sekolah. Seringnya, mereka menjadi karyawan pabrik, penjaga toko, bahkan beberapa menjadi kuli bangunan.

    Saya nggak mau begitu. Meski saya merasa jurusan saya di sekolah saat ini beda dari hobi dan keinginan saya yang sebenarnya, saya tahu dalam hati kecil, saya ingin bekerja sesuai jurusan di SMK. Karena dengan begitu saya akan merasa apa yang saya pelajari berguna, saya nggak akan merasa sia-sia atas semua tenaga yang telah saya keluarkan di sekolah. Tapi, saya sadar lebih banyak kemungkinan saya akan melepas idealisme saya ketika dihadapkan realita dunia kerja.

    Pemikiran seperti itu membuat saya takut. Saya kira itu adalah pemicu dan awal dari segala pemikiran lain.

    Saya jadi takut dengan konsep "menjadi tua". Saya nggak mau cepat-cepat lulus, karena itu berarti saya harus mulai menentukan arah kehidupan saya sendiri. Saya harus membuat keputusan-keputusan yang bisa saja salah dan saya sesali. Cepat lulus berarti waktu bermain-main saya sudah habis, saya harus mulai jadi pribadi yang mandiri.

    Ditambah dengan pengharapan besar orang tua saya: mampu sukses dan membuat perekonomian keluarga membaik. Tidak ada yang salah dari harapan mereka, yang salah adalah pikiran saya: harapan mereka seperti beban yang menggelayut di pundak saya dan membuat saya takut nantinya mereka kecewa bila saya tak dapat memenuhinya.

    Ketika teman-teman saya bilang mau cepat-cepat lulus dan kerja, saya justru bilang sebaliknya. Dan karenanya, mereka sering mengatakan pemikiran saya aneh.

    "Kamu itu aneh, tau, nggak capek apa mikirin pelajaran mulu?"
    "Kamu aneh, deh, kalo nggak mau cepet-cepet tua ya, jadi anak kecil aja terus."

    Meski jawaban-jawaban itu diucapkan dengan candaan, sejujurnya saya seringkali merasa marah. Kenapa mereka nggak bisa merasa apa yang saya rasa? Kenapa mereka nggak memiliki ketakutan seperti yang saya alami? Apa mereka pikir dunia kerja semudah dunia ketika mereka sekolah?


    Belum selesai dengan pemikiran-pemikiran tersebut, serangkaian pemikiran lain membanjiri otak saya: mulai dari mempertanyakan identitas diri. "Siapa, sih saya?" (Pertanyaan sederhana yang jawabannya bukan perihal nama). "Apa yang sebenarnya saya mau?".

    Pertanyaan mengenai eksistensi seperti, "Apa tujuan saya diciptakan?" sampai titik di mana saya mempertanyakan keyakinan dan agama saya, menanyakan keberadaan Tuhan, pertanyaan-pertanyaan yang orang-orang nilai nggak seharusnya dipertanyakan. Segala hal rasanya kacau.

    Ini terjadi cukup lama, berbulan-bulan. Puncaknya adalah selama bulan Ramadhan dan setelahnya. Barangkali sampai saat ini, hanya saja, pertanyaan-pertanyaan tersebut sudah cukup jarang mampir.

    Sampai saya berkenalan dengan istilah Quarter life crisis, saya awalnya merasa aneh dengan diri saya. Mengutip Wikipedia, "A quarter-life crisis is a period of life ranging from twenties to thirties, in which a person begins to feel doubtful about their own lives due to stress associated with the transition to adulthood."

    Pada intinya, kegalauan yang terjadi saat mengalami Quarter life crisis—kadang disebut juga krisis dewasa-muda—disebabkan transisi dari masa remaja ke dewasa.

    Mengutip satu paragraf dari Pijarpsikologi yang mewakili 'rasa' saya:

    "Krisis ini biasanya ditandai dengan perasaan cemas, ketidakpastian, dan kekacauan batin. Orang-orang yang rentan mengalami krisis ini, menurut Robinson, adalah orang-orang berpendidikan. Hal ini dikarenakan mereka dihadapkan dengan pilihan antara keinginan untuk bisa sukses di bidang yang mereka minati atau menjalani hidup sebagaimana yang telah mereka impikan sesuai dengan idealisme masing-masing. Semua hal dilematis ini diperparah dengan tuntutan dari banyak sisi kehidupan."

    Quarter life crisis biasa dialami orang berusia 20-30 tahun. Umur saya bahkan baru 17, pun saya nggak begitu yakin mengidentifikasi apa yang saya alami sebagai quarter life crisis. Tapi satu-satunya hal yang mungkin dan bisa menjelaskan segala 'kekacauan' pemikiran saya adalah quarter life crisis ini.

    Lagi pula saya kira, umur asli seseorang nggak menentukan umur mentalnya. Barangkali karena saya SMK, ada kecenderungan saya mengalaminya lebih cepat sebab keputusan-keputusan yang harus saya ambil dimulai lebih cepat dibanding mereka yang SMA/ SMK lalu melanjutkan kuliah.

    Dan akhirnya saya tahu, quarter life crisis adalah sebuah proses. Proses mengenal diri dan menjadi pribadi dewasa yang nggak menjadi cerminan orang lain, melainkan mampu menjadi diri sendiri. Quarter life crisis juga bukan sekadar proses yang harus dilewati, tapi juga dinikmati. Di titik inilah, saya sekarang, mencoba menikmatinya sembari berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan saya. Saya yakin, saya bisa melewati dan memaknainya. Begitu juga kamu, saat kamu mulai mengalaminya.

    Continue Reading


    Sebagai negara yang mayoritas penduduknya adalah muslim, ulama dan ustaz tentu membludak di negara ini. Ustaz-ustaz yang menghiasi tv, baik untuk ceramah atau nongol di infotainment membarengi gosip panas para selebritas terjerat kasus, selebritas yang jadi ustaz, dan sebagainya. Juga Ulama yang merambah ke berbagai ranah, termasuk politik.

    Bicara saya barangkali kedengaran sentimental dan kontra mereka. Ditambah apa yang menjadi judul postingan ini. Kesannya saya kayak nggak suka pada mereka-mereka, yang memang sejujurnya, iya, untuk beberapa hal. Tapi nggak, saya nggak bener-bener anti pada mereka, kok.

    Saya tahu sih ini salah. Apalagi saya muslim—jika menurut pada apa yang diajarkan oleh keluarga dan lingkungan saya sejak saya kecil. Saya tahu barangkali saya harusnya nggak menulis ini, dengan pengetahuan minim saya tentang mereka. Meski memang, saya sebenarnya nggak ingin merasa seperti ini. Saya ingin nggak harus merasa kesal dengan tingkah mereka di depan publik. Saya ingin menghormati mereka sebagaimana harusnya. Tapi saya sulit untuk bisa.

    Definisi saya tentang para ustaz seringkali kabur. Yang mana yang boleh disebut ustaz ataupun ustazah? Yang bagaimana? Jika (selebritas yang) baru berhijab saja dikatakan sudah hijrah. Jika baru berhijab saja dikatakan menjadi muslimah yang sesungguhnya lalu dakwah kepada muslimah lainnya. Bukannya saya menentang dakwah, atau seruan mereka, itu bagus kiranya, jika dibarengi niat yang benar bukan sekadar cari perhatian publik atau menunjukan "ini loh saya, sudah jadi muslim/muslimah sejati, sudah hijrah".

    Yang bagaimana? Jika (selebritas yang) baru menjalankan sunah dengan memanjangkan jenggot dan pakai sorban sudah ceramah sana-sini? Jika mereka tiba-tiba saja menyandang titel tambahan sebagai ustaz di depan nama 'artis'nya.

    Kadangkala antara selebritas dan ustaz tidak bisa dibedakan lagi. Ustaz muncul di topik hot sensasi para selebritas. Dan seleb tiba-tiba menyandang titel ustad/ustazah.

    Katakanlah saya hanya melihat 'kulit luar' dari para pendakwah (ustaz-ustaz) ini. Apa yang saya lihat—ketika bahkan saya nggak ingin menyimak atau mencari tahunya—justru kasus-kasus poligami mereka, mereka yang berdakwah dengan mendegradasi agama lain, intoleran pada umat lain, menjual ayat demi membenarkan sesuatu atau mengharamkan sesuatu, menjual ayat untuk merendahkan agama atau kelompok minoritas, dan suka mengkafir-kafirkan orang lain.

    Sejak dulu saya sudah muak dengan dakwah-dakwah yang meninggikan Islam dengan cara membandingkannya dengan agama lain dalam konteks agama tersebut dibuat lebih rendah di hadapan Islam. Saya telah menyaksikan 'pengajian umum' dengan seorang ustaz yang melakukan hal tsb, atau juga pengalaman dengan guru saya di sekolah.

    Hal yang dianggap seremeh perkataan: "Agama kitalah yang terbukti paling baik. Kita menunaikan salat lima waktu, beribadah secara jelas waktunya, coba saja bandingkan dengan agama X yang ke tempat ibadahnya saja satu minggu sekali. Bandingkan dengan agama Y yang jarang frekuensi ibadahnya." atau perkataan semacamnya justru mengusik saya. Saya pernah mendengarnya dari seseorang yang saya pikir tidak seharusnya mengatakannya.

    Saya terusik dengan pertanyaan: kenapa? Kenapa demi membangun keimanan seseorang ataupun meninggikan agama sendiri orang-orang ini harus membuat pernyataan merendahkan agama lain?

    Para orang yang 'mengerti' agama ini (ustaz dan ulama) juga kadang menjadi yang paling anti dengan perbedaan. Mereka juga sangat intoleran, konservatif, dan mencampuradukkan segalanya dengan agama. Beda aliran satu agama saja dikatai 'sesat'.

    Memang susah kalau sudah nggak suka. Saya sadar karena ketidaksukaan saya, saya cenderung menganggap gerak-gerik mereka tidak sesuai dengan apa yang seharusnya di mata saya.

    Dan berusaha menilik diri saya, saya cenderung menuntut 'kesempurnaan' mereka sebagai tokoh publik, tokoh agama dan masyarakat karena mereka menyandang titel besar yang harus dipertanggungjawabkan—ustaz dan ulama. Padahal, saya pun tahu nggak ada manusia yang sempurna, termasuk juga mereka. Itulah kesalahan saya. Lalu, saya sadar saya cenderung 'menghindari' segala sesuatu tentang mereka yang tidak saya suka karena saya telanjur muak, barangkali itulah yang membuat saya hanya menemukan kejelekan-kejelekan dari para ustaz dan ulama. Karena saya nggak mau mencari tahu. Karena saya membatasi diri sebab takut menemui lebih banyak mereka yang nggak saya suka alih-alih tokoh agama yang benar-benar bijak di mata saya.

    Meski begitu, saya nggak mau menggeneralisasi mereka. Saya tahu pasti bahwa ada dari para tokoh agama yang nggak seperti mereka dengan sifat-sifat yang saya sebutkan.

    Sampai saat ini, saya kagum pada mereka yang mencintai Islam dengan nggak intoleran pada agama lain, dengan keyakinan lain, bahkan dengan kaum minoritas seperti LGBT.

    Saya kagum dengan mereka yang sanggup mencintai Islam dengan cara mereka—ketika saya belum bisa. Dengan tenang tanpa perlu berkoar pada dunia "inilah agama saya! Yang terbaik.". Mungkin karena inilah, orang-orang yang mencintai agamanya dengan tulus justru jauh dari sorotan publik. Karena mereka nggak mau koar-koar. Karena mereka mencintai Islam yang (harusnya) mencintai perbedaan.



    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    About Me

    Photo Profile
    Tri!

    Pelajar tingkat akhir SMK. Hobi membaca dan (kadangkala) menulis baik fiksi maupun nonfiksi. Blog ini adalah tempat saya menjaga kewarasan dengan mempublikasikan pemikiran-pemikiran yang sulit didiskusikan dengan orang-orang di sekitar saya.

    Contact Me

    • facebook
    • twitter
    • bloglovin
    • youtube
    • pinterest
    • instagram

    Labels

    Review cerpen opini prakerin

    Blog Archive

    • ►  2017 (1)
      • ►  Desember (1)
    • ▼  2018 (19)
      • ►  Januari (2)
      • ►  Februari (2)
      • ►  Maret (4)
      • ►  April (4)
      • ►  Mei (3)
      • ►  Juni (1)
      • ►  Juli (1)
      • ▼  Agustus (2)
        • Generasi Anti-ustaz dan Ulama
        • Quarter Life Crisis Sebelum Masanya
    • ►  2019 (6)
      • ►  Mei (3)
      • ►  Juni (1)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  November (1)
    • ►  2020 (4)
      • ►  Januari (1)
      • ►  Maret (1)
      • ►  April (1)
      • ►  Mei (1)
    • ►  2021 (17)
      • ►  Januari (3)
      • ►  Februari (3)
      • ►  Maret (3)
      • ►  April (2)
      • ►  Juni (1)
      • ►  Juli (2)
      • ►  Oktober (2)
      • ►  Desember (1)
    • ►  2022 (26)
      • ►  Januari (1)
      • ►  Februari (1)
      • ►  Maret (1)
      • ►  April (2)
      • ►  Mei (2)
      • ►  Juli (2)
      • ►  November (8)
      • ►  Desember (9)
    • ►  2023 (7)
      • ►  Januari (2)
      • ►  Februari (1)
      • ►  Mei (1)
      • ►  Oktober (3)
    • ►  2024 (4)
      • ►  Januari (1)
      • ►  Mei (2)
      • ►  Agustus (1)
    facebook Twitter instagram bloglovin google plus

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top