
Judul : Petjah
Penulis : Oda Sekar Ayu
Penerbit : Elex Media Komputindo
Blurb :
Nadhira menyayangi Dimas, tetapi Dimas membenci Nadhira. Semesta menyayangi Nadhira dan memberinya satu permintaan untuk dikabulkan. Nadhira meminta Dimas beserta hatinya. Permintaan pun dikabulkan semesta.Kemudian hadir satu orang lagi dalam permainan ini. Biru. Biru menyayangi Nadhira, namun bisakah Nadhira menyayangi Biru?Satu dari seribu, aku mau kamu. Adalah puisi hati Nadhira untuk cinta pertamanya.Satu dari seribu, memang harus kamu. Adalah sepenggal puisi harapan Biru untuk masa depannya.Semesta mempermainkan Nadhira dan membuat hidupnya petjah.
•
Magis. Seperti yang dijanjikan penulisnya, dan juga review para pembaca di goodreads, novel ini memang magis. Tapi mungkin, magis yang saya rasa beda dengan magis menurut mereka. Novel ini magis, karena bikin saya suka sekaligus begitu nggak suka, pengin nerusin baca sekaligus pengin berhenti baca.
Tapi, ya, akhirnya saya selesai baca juga.
Ayo ngomong soal ceritanya dulu. Blurb-nya sudah cukup menjelaskan isi cerita. Tentang Nadhira dan Dimas, siswa-siswi kelas akselerasi. Nadhira yang gemar berpuisi menyukai Dimas, cowok idealis dan strict banget sama peraturan. Lalu ada Biru, kakak kelas yang jadi pentolan sekeloh, juga gemar berpuisi.
Dimas yang biasanya lihat Nadhira aja ogah, tiba-tiba jadi lunak waktu lihat Nadhira nangis. Mereka dekat. Lalu muncul Biru, yang penuh dengan stereotip: tukang pukul, suka tawuran, nggak peduki aturan, kasar, pentolan sekolah. Tapi Biru yang berkenalan dengan Nadhira bukan Biru yang dikenal seluruh sekolah, melainkan Biru yang ngomongnya pake bahasa baku, Biru yang pintar banget bikin puisi, intinya, Biru yang baik. Sisi lain Biru yang nggak ditunjukkan ke orang lain.
Mari ngomongin hal yang bikin saya nggak suka novel ini dan pengin berhenti baca:
- Jalan cerita lumayan sederhana, tapi dirumit-rumitkan. Terutama hubungan Biru dan Nadhira. Serius, menurut saya sebenernya mereka tuh konfliknya biasa aja, nggak begitu terkait satu sama lain, tapi terasa dikait-kaitkan.
- Drama. Banyak banget drama terutama di tengah novel. Apalagi Biru dan Nadhira ini. Menurut saya, ini efek dari jalan cerita sederhana yang diperumit, makanya jadilah begini, untuk membuatnya kelihatan besar, karakter Nadhira dan (terutama) Biru mendramatisasi keadaan. Tapi kadar drama-nya itu, kadang saya nggak tahan (mungkin masalah selera, sih). Mereka terlalu, terlalu, terlalu drama.
- Sudut pandang yang gonta-ganti dari pov 1 ke pov 3. Saya selalu merasa penulis yang gonta-ganti sudut pandang, tuh, enggak konsisten. Dan saya masih bertahan sama pemikiran itu, sayangnya. Di awal, novel dibawakan dengan pov 1 Nadhira yang menggebu-gebu dan ya, remaja abis. Lalu berpindah ke pov 3 menyelami pikiran Dimas dan Biru. Menurut saya, kenapa enggak pilih salah satu aja? Pov 1 oleh Nadhira atau sekalian pov 3 dari awal?
- Karakter. Terutama Biru yang suka banget drama ini (info nggak penting: padahal saya suka Biru di awal-awal, tapi dia kebanyakan drama, sih, jadi....).
"Gue naif banget kayaknya. Lo lihat aja, gue mau menghentikan kekerasan dengan kekerasan. Goblok abis!"—dialog Biru, hal. 278
Iya, Biru, kamu naif banget! Jalan pikir kamu juga aneh. Kekerasan dilawan kekerasan itu bodoh. Saya masih enggak ngerti gimana ceritanya Biru yakin balas dendamnya hanya bisa dilakukan kalo ia berhasil menang tawuran, dan bikin perjanjian nggak akan ada tawuran lagi untuk selanjutnya. Menurutnya, dengan itu nggak akan ada korban meninggal tawuran lagi.
Gimana bisa? Kalo iya, paling banter itu bakal bertahan berapa tahun, sih?
Akan selalu ada konflik, akan selalu ada penyebab (bahkan sepele banget) anak sekolah bakal tawuran lagi, meski awalnya udah damai. Dan itu, jelas banget di luar kontrol Biru.
Maaf saya sebutin kekurangannya dulu, ya, ya, ya, saya enggak mengikuti pedoman review sandwich itu—selapis pujian, kritik, pujian, dst.
Mari bahas hal yang bikin saya suka dan terus lanjut baca:
1. Bahasa dan narasinya enak diikutin. Enak banget gitu. Enggak semua teenlit begini. Beneran enak. Makanya meski sudut pandangnya gonta-ganti sebenernya itu nggak begitu bermasalah, baik pov 1 atau pov 3 sama-sama enak dibaca. Perpindahan dari pov 1 ke pov 3 juga jadi smooth efek dari gaya bahasa sama narasinya itu.
2. Puisinya bagus! Iya, saya suka, meski saya enggak ngerti-ngerti banget, sih, soal puisi.
3. Dimas! (Harus banget, ya?)
Dimas itu karakter favorit saya, soalnya dia enggak drama, sih. Dimas juga yang masalahnya, tuh, realistis dan beneran dekat sama remaja.
4. Saya suka analoginya!
Berikut contoh analoginya (ini Dimas yang ngomong, btw):
"Cita-cita itu sesuatu hal yang abstrak. Dia itu adalah bentuk paling nggak jelas dari sebuah kata benda yang manusia buat. Sebalikya, tujuan hidup itu justru sesuatu yang real. Ibarat katrol, bebannya itu lo, tali katrolnya adalah kehidupan lo, dan gaya yang menggerakkan katrol itu, ya, tujuan hidup lo. Makanya kalo nggak ada tujuan hidup, ya, hidup lo stagnan. Kalo mau hidup, ya, harus punya tujuan meskipun tujuannya sekadar buat bertahan sampai hari besok."
Hal-hal minor yang minta dikomentarin:
1. Saya ngerti sih, Dimas sama Nadhira ini di kelas akselerasi, tapi emangnya kalo aksel dia jadi punya ingatan superkuat ya? Soalnya, Nadhira ini ceritanya kasih sontekan ke teman-temannya yang lain waktu dia udah keluar kelas, dan gilanya dia hafal semua jawaban pilgannya (yang ada 25 atau berapa soal gitu) dan dia kirim ke grup chat kelas.
2. Untuk ukuran orang yang digambarkan sebelumnya benci—seperti juga dinarasikan dalam blurb-nya—sama Nadhira, agak aneh Dimas tiba-tiba berubah jadi sebegitu lunaknya melihat Nadhira nangis. Apalagi seolah tiba-tiba hubungan mereka dekat begitu. Nggak ada fase canggung-canggungan dulu.
3. Biru kalo ngobrol sama Nadhira ngomongnya pake saya-kamu. Apa karena Biru lebih senior? Saya nggak begitu mempermasalahkan ini, sih, karena kayaknya saya yang agak miss di penjelasannya.
Secara keseluruhan, novel ini bagus dan enak dibaca, tapi efek konflik-sederhana-diperumit yang bikin karakternya drama itu yang jadi kelemahannya. Jadi kayaknya ini bakal cocok banget sama: orang yang suka baca teenlit dan suka drama. /HAHA. Gajelas banget/
Jadi, 3 dari 5 bintang untuk Petjah!


