Pages

facebook linkedin twitter youtube

A Dreamer

If you can't explain it simply, you don't understand it well enough - Albert Einstein

    • Home
    • Review
    • Opini
    • Prakerin
    • Karya


    Saat kita mulai dewasa, semua hal berubah jadi rumit. The world's getting more and more complicated. Hal-hal yang dulu kayaknya nggak kita persoalkan, tiba-tiba kita meragukannya, lalu mempertanyakannya: agama, Tuhan, norma masyarakat, apa batas baik dan buruk, tujuan hidup, bahkan siapa kita. Kita tidak lagi memandang dunia secara hitam putih lagi; kita nggak lagi bisa gampang memutuskan apakah seseorang itu dikategorikan orang baik atau buruk, karena nyatanya manusia nggak sehitam putih itu. Human beings, just like the world, are so complicated.

    Waktu kita kecil, kita menurut saja disuruh beribadah padahal kita enggak begitu ngerti maksudnya. Kita nggak bertanya dan nggak meragu. Kita hanya melakukannya. Kita meyakini apa yang orangtua kita yakini.

    Waktu kecil, tujuan hidup sama sekali nggak ada dalam pikiran. Hidup itu soal bermain dan bersenang-senang. Hidup itu soal hari ini, masa depan adalah masa lain untuk bermain.

    Semuanya berubah saat kita jadi dewasa. Hal-hal yang rasanya kecil jadi besar. Well, saya sedang di tahap itu. Merasa dunia terlalu rumit dan pikiran saya terlalu sempit dan nggak muat untuk menampungnya. Saya terus berpikir dan mempertanyakan banyak hal: keyakinan, tujuan hidup, saya sendiri, dan banyak hal lain.

    Saya memperumit banyak hal. Saya merasa butuh sekali jawaban atas pertanyaan saya dan harus segera menemukannya. Saya merasa orang lain nggak bisa memahami jalan pikiran saya sebab mereka nggak berpikir seperti saya. Saya merasa teman sebaya saya nggak memahami saya, sebab mereka nggak mempertanyakan hal-hal yang saya pertanyakan. Saya menganggap mereka berpikir terlalu sederhana. Mereka terlalu mengikuti arus.

    Akhirnya saya menarik diri. Tak lagi membahasnya dengan orang lain. Memikirkan segalanya di pikiran kecil saya. Most of the time, I got frustrated. Dan berpikir orang lain tuh nggak bisa diajak diskusi serius. Berpikir mereka nggak cukup 'deep' buat ngomongin itu sama saya. Ha ha, I used to think like that.

    Padahal ada hal lain yang saya harusnya sadar: saya terlalu fokus kepada saya dan pertanyaan-pertanyaan saya.

    Lama-lama saya sadar, saya terlalu sibuk mempertanyakan, sampai saya lupa, saya juga sesekali perlu berpikir sederhana, seperti orang-orang lain—terutama teman sebaya saya. Mungkin nggak semua pertanyaan itu harus ditemukan jawabannya seketika. Mungkin beberapa dari pertanyaan itu memang nggak seharusnya dipertanyakan. Bukan berarti saya akan ikut arus dan berhenti berpikir dan mempertanyakan. Bukan. Tetapi mungkin kadang saya harus berhenti, merefleksi diri, fokus pada hal-hal yang membuat saya nyaman walau mungkin masih terus saya pertanyakan. Saya masih terus mempertanyakan, tapi saya mencoba berdamai, dengan diri saya, juga dengan orang-orang lain yang merasa saya cuma kebanyakan mikirin hal nggak penting, yang seharusnya tidak dipikirkan.

    Pada awalnya susah mengakui, karena lebih mudah menganggap diri saya sespesial dan selangka itu sampai-sampai nggak ada orang yang dapat mengerti jalan pikir saya. Lebih mudah berpikir saya benar dan orang-orang yang berpikir sederhana dan mengikuti aruslah yang salah. Padahal merekalah yang hidupnya kelihatan lebih tenang. Lebih mudah menganggap orang-orang itu not deep enough to talk to me. Padahal, seseorang mungkin bakal jadi deep banget ngomongin hal lain yang jadi passion-nya atau kesukaannya.

    Kamu, yang mungkin pernah atau juga sedang berada di posisi saya, hei, mungkin kita harus mulai berhenti menganggap diri kita terlalu rumit dan spesial hingga nggak ada orang lain yang bisa mengerti. You're not that special, neither am I. Mungkin terkadang kita hanya perlu berpikir lebih sederhana.

    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    About Me

    Photo Profile
    Tri!

    Pelajar tingkat akhir SMK. Hobi membaca dan (kadangkala) menulis baik fiksi maupun nonfiksi. Blog ini adalah tempat saya menjaga kewarasan dengan mempublikasikan pemikiran-pemikiran yang sulit didiskusikan dengan orang-orang di sekitar saya.

    Contact Me

    • facebook
    • twitter
    • bloglovin
    • youtube
    • pinterest
    • instagram

    Labels

    Review cerpen opini prakerin

    Blog Archive

    • ►  2017 (1)
      • ►  Desember (1)
    • ►  2018 (19)
      • ►  Januari (2)
      • ►  Februari (2)
      • ►  Maret (4)
      • ►  April (4)
      • ►  Mei (3)
      • ►  Juni (1)
      • ►  Juli (1)
      • ►  Agustus (2)
    • ▼  2019 (6)
      • ►  Mei (3)
      • ►  Juni (1)
      • ►  Oktober (1)
      • ▼  November (1)
        • Dewasa dan Pemikiran yang Sederhana
    • ►  2020 (4)
      • ►  Januari (1)
      • ►  Maret (1)
      • ►  April (1)
      • ►  Mei (1)
    • ►  2021 (17)
      • ►  Januari (3)
      • ►  Februari (3)
      • ►  Maret (3)
      • ►  April (2)
      • ►  Juni (1)
      • ►  Juli (2)
      • ►  Oktober (2)
      • ►  Desember (1)
    • ►  2022 (26)
      • ►  Januari (1)
      • ►  Februari (1)
      • ►  Maret (1)
      • ►  April (2)
      • ►  Mei (2)
      • ►  Juli (2)
      • ►  November (8)
      • ►  Desember (9)
    • ►  2023 (7)
      • ►  Januari (2)
      • ►  Februari (1)
      • ►  Mei (1)
      • ►  Oktober (3)
    • ►  2024 (4)
      • ►  Januari (1)
      • ►  Mei (2)
      • ►  Agustus (1)
    facebook Twitter instagram bloglovin google plus

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top