Semua orang pasti punya trait yang dirinya sadar itu buruk, tapi cenderung kesulitan untuk mengatasinya. Bagi saya trait itu adalah kecenderungan untuk show off atau pamer.
Saya
nggak punya banyak harta maupun kesempurnaan dan kecantikan fisik untuk
dipamerkan, tapi saya cenderung ingin memamerkan satu hal: intelegensi. Sesuatu
yang tanpa sadar saya lakukan untuk mendapat validasi atas “kemampuan” diri
saya. Saya senang bila orang-orang kalah dalam berdebat dengan saya. Saya
menikmati ketidaktahuan orang-orang atas hal-hal yang saya lebih tahu. Tidak mudah
mengakuinya, tapi saya selalu ingin menjadi yang terpintar di sebuah ruangan.
Saya benci orang lain lebih tahu, lebih bisa dari saya untuk hal-hal yang saya
minati.
Saya
terkadang melempar obrolan, katakanlah dengan topik seperti feminisme, kepada
teman saya yang jelas-jelas tidak tahu apa itu feminis, seksis, toxic
masculinity, dan sebangsanya. Dari ketidaktahuan itu, saya menikmatinya. Padahal,
lebih sering daripada tidak, saya hanya tah “kulit”nya saja.
Mungkin tumbuh dalam sistem pendidikan di mana nilai tinggi dijadikan standar mutlak kepintaran adalah salah satu alasan. Sejak SD hingga SMK ranking saya tidak jauh-jauh dari 1, 2, 3. Saya cenderung mudah menangkap pelajaran (meski mudah juga melupakannya seketika). Teman-teman saya sampai menjuluki saya “pintar tapi pemalas”, bukan sebab saya benar-benar tidak mengerahkan tenaga untuk belajar, tapi saya memang sadar saya tidak perlu berusaha sekeras teman-teman saya yang lain untuk memahami pelajaran. Saya entah bagaimana terlihat malas-malasan dan kurang berusaha tetapi mampu meraih nilai tinggi dalam tes.
Sejak kecil, saya sering menerima pujian bahwa saya anak pintar, dan diam-diam saya menikmatinya, segala pujian yang datang: dari guru, teman sebaya, tetangga, sampai guru mengaji saya.
Lambat laun, “pintar” menjadi satu dengan identitas saya. "Pintar" menjadi sesuatu yang darinya saya dapatkan kebanggan. Saya tanpa sadar melabeli dan mengadopsi "pintar" sebagai salah satu hal terpenting bagaimana diri saya terlihat di mata saya.
Saya tumbuh besar dengan label itu. Jadi, saya merasa harus mempertahankannya. Seseorang yang lebih tahu dari saya, terlihat sebagai sebuah ancaman. Dunia orang dewasa berbeda. Mereka tidak lagi mudah memuji. Jadi, begitulah, kebutuhan untuk diakui sebagai pribadi yang pintar dan cerdas mendorong untuk mengingatkan orang-orang bahwa saya ini pintar.
Saya tidak dapat menahan dorongan untuk tidak berkata bahwa saya melakukan hal ini, saya membetulkan hal itu, saya lho yang menemukan metode lain yang lebih efektif ini, kamu harusnya melakukannya dengan cara seperti ini (ketika orang tersebut sama sekali tidak meminta pendapat saya). Atau dorongan untuk menimbrung obrolan agar terlihat saya lebih tahu. Saya merasa harus menjelaskan segalanya untuk membuktikan kemampuan saya.
Terkadang,
berlindung dibalik pemikiran bahwa saya ingin deep conversation dengan
orang lain, di sana ada maksud lain. Bukannya saya tidak benar-benar
ingin memiliki deep conversation dengan orang-orang terdekat, saya ingin
dan menyukainya, tapi jika saya benar-benar jujur, alasan itu bukanlah
satu-satunya. Saya tidak benar-benar berusaha untuk membuat kami sama-sama memperoleh
pemahaman yang sama atau memahami dan mengambil nilai dari satu sama lain,
tetapi lebih kepada fakta bahwa penekanan bahwa saya tahu hal ini, yang kamu
bahkan tidak tahu apa-apa.
This
trait is pretty annoying, right?
Perlahan, saya berupaya melepas label "pintar" itu. It's perfectly okay if I am not the smartest in the group. It's perfectly okay if others do better than me. I’am enough. I don’t need to prove my intelligent to anyone. I still slip sometimes, but I believe that acknowledging it is a step towards change. I am still working on it.
Saya
pernah membaca sebuah tulisan yang menganalogikan memamerkan kecerdasan dengan
kekayaan. Kamu merasa tidak nyaman saat seseorang membual dan terus
membicarakan kekayaannya. Terkadang, bukannya terkagum, hal itu malah menjengkelkan.
Kita justru malah meragukan perkataannya dan kekayaannya yang sebenarnya. Tetapi jika kekayaan itu diketahui secara
tiba-tiba, kamu atau saya tidak pernah menduga jika ia kaya karena sikapnya
yang biasa saja, kita justru akan merasa sangat kagum. Self resect kita
meroket untuk orang tersebut.
Dan, hal
yang sama bekerja untuk kecerdasan. It stuck on my mind.
