Genre : Young Adult, Misteri
Penulis : Karen M. McManus
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Blurb :
Bayview High lagi-lagi dibuat geger dengan pesan yang dikirim ke ponsel semua murid. Isinya ajakan untuk bermain Jujur atau Tantangan secara bergilir. Jika ajakan itu tidak kauacuhkan, rahasiamu akan terungkap.
Ketika terpilih menjadi pemain pertama, hidup Phoebe hancur. Rahasianya yang terungkap membuat semua hal dalam hidupnya jadi kacau balau. Maeve juga dibuat penasaran dengan si pengirim pesan. Siapa dalang di balik semua ini hingga mengganggu persahabatannya dengan Knox?
Tiba-tiba seorang murid tewas. Meski polisi memutuskan kejadian tersebut hanya kecelakaan, tidak demikian bagi Phoebe, Maeve, dan Knox. Pengirim pesan itu harus ditemukan. Atau permainan tersebut akan berujung pada kematian lain.
-
Iya, ini sequel yang bisa dibilang macam prequel, berlatar sesudah novel pertamanya, One of Us is Lying. Mengambil latar waktu delapan belas bulan sesudah waktu dari novel pertamanya. Bronwyn dkk diceritakan sudah lulus dari Bayview High dan sedang kuliah. Sementara sequel ini fokus pada kehidupan tiga tokoh utama baru: Maeve (adik Bronwyn), Knox, dan Phoebe. Tapi empat tokoh utama buku sebelumnya masih disertakan kok di novel ini.
Setelah Simon dan About That—situs gosip teraktual ciptaannya—mati, banyak yang berlomba-lomba meniru cara Simon dengan membuat situs serupa, tapi tak ada yang cukup berhasil hingga waktu lama. Sampai adanya permainan Jujur atau Tantangan (truth or dare) yang mengharuskan orang yang terpilih memutuskan untuk memilih salah satunya; menjalankan tantangan paling konyol atau berbahaya sekalipun, atau memilih tidak bermain, yang berarti, rahasia terkelammu akan dibongkar.
Pemain pertama adalah Phoebe, yang memilih tak bermain,
dan anonim di balik permainan itu membongkar rahasianya: ia tidur dengan cowok
kakaknya sendiri. Kemudian, seperti yang terjadi pada korban-korban Simon,
kehidupan sosialnya berantakan. Permainan itu sampai pada Maeve, yang membuat
hubungan pertemanannya dengan Knox hampir hancur, hingga menyebabkan kematian
salah satu siswa. Dan ketiganya akhirnya memutuskan untuk membongkar dalang di
balik permainan truth or dare.
Secara keseluruhan, One of Us is Next masih memakai formula (?) yang sama dengan buku pertamanya: misteri di balik sesuatu yang besar, yang melibatkan beberapa tokoh utama sekaligus. Tokoh utama punya rahasia. Dengan masing-masing tokoh utama punya konflik masing-masing yang akan diselesaikan seiring bergulirnya cerita.
Bedanya, masalah di One of Us is Next ini skalanya lebih besar dan lebih kompleks dari buku pendahulunya. Nggak cuma siapa pembunuh siapa. Tapi lebih banyak pihak yang terlibat, dan mungkin yang paling membedakan adalah bagaimana cerita diselesaikan. Kalau di One Of Us Is Lying akhir cerita jelas, semua nasib tokoh yang terlibat diceritakan setelah pelakunya terungkap, One of Us is Next mengambil jalan yang berbeda.
Cerita selesai secara ... menggantung. Atau enggak. Lebih tepat disebut open ending? Kita bebas mengingerpretasikan akan bagaimana selanjutnya nasib para tokoh, kelanjutan cerita, dan lain sebagainya. Bahkan di beberapa paragraf akhir, kita masih disuguhi plot twist, yang menutup rangkaian buku itu.
Jadi, saat saya baca, saya kayak: Hah? Tamat???
Meskipun sequel ini skala konfliknya lebih besar, semua hubungan tokoh lebih terangkai dengan baik, sejujurnya saya lebih suka buku pertamanya. Mungkin karena saya lebih suka tokoh-tokoh pada buku pertamanya atau bagaimana. Atau karena buku pertamanya lebih memorable, entahlah.
Barangkali karena skala konfliknya lebih besar, jadi banyak porsi dari buku ini tidak membahas masing-masing konflik para karakter secara lebih mendalam seperti di buku satu, yang membuat character development-nya juga lebih kerasa para tokoh buku satu. Saya ingat suka banget bagaimana Addy akhirnya berubah dari cewek cantik penurut yang tidak punya identitas lain selain sebagai pacar seorang control freak, berubah menjadi cewek yang memutuskan segala sesuatu untuk dirinya sendiri dan berusaha lepas dari hubungan toxic, kemudian mandiri.
Soal character development-nya di sequel ini berasa sih, hanya enggak seperti saat saya baca buku pertamanya. Mungkin yang paling saya suka di sini adalah perkembangan karakternya Maeve.
Dan soal konflik Knox dan ayahnya, saya kok ngerasa kayak: ini sebenarnya konflik mereka apa sih? Iya, saya paham kok ayahnya Knox ini tipe-tipe yang sayang tapi susah ngaku, ngejudge dulu sebelum tahu, dan marah padahal peduli, tapi kayak, penyebab utamanya apa sih? Saya padahal agak ngarep ada sesuatu yang bikin hubungan dan komunikasi mereka seburuk itu, yang terkait sama konflik besar buku ini, tapi ternyata zonk.
Saya juga lebih suka romance di buku pertama antara Bronwyn dan Nate (ya ampun mereka berdua tuh lucu-lucu gemas gimana gitu). Sure, Maeve-Luis interaksi nya juga manis kok dan Phoebe-Knox yaa decent sih, tapi saya enggak se-invested sama mereka kayak saya ke Bronwyn-Nate.
Dan jujur saja, bab awal novel ini saya rasa agak bertele-tele dan lama masuk ke konflik utamanya. Setelah kita tahu siapa salah satu (iya, nggak cuma satu ... secara teknis) pelakunya pun, saya semacam kurang puas karena saya berharap Maeve dkk ini ketemu dulu (secara harfiah, ketemu muka satu sama lain) sama si dalang di balik permainan truth or dare. Baru deh, akhirnya si dalang ini ditangkap.
Overall, One Of Us Is Next sama sekali bukan novel yang buruk kok! Cuma, enggak begitu bisa memuaskan saya seperti buku pertamanya.
So, 3.85 buat novel ini!