Cerpen-- Mantra Sang Kecoak

Desember 30, 2017

Harapan yang telah lama terpupuk dalam diriku telah hancur dua jam yang lalu. Api dalam diriku telah padam. Semangatku hilang tak berbekas. Sesuatu yang ditinggalkan hanya aku dan kegetiran.

Semua yang telah kucoba untuk membuat  'mereka'  tidak lagi memandangku dengan jijik seolah aku kotoran atau makhluk paling mereka hindari, tak berarti apa pun, mereka masih memandangku seperti itu.

Mereka berteriak ketika melihatku, dan pada akhirnya mengusirku seperti biasanya.

"Ada batas jelas antara mereka dan kita," aku masih ingat kata-kata ibuku. "Mereka memang tak pernah menganggap kita selain makhluk menjijikan." Mungkin memang seharusnya aku memercayainya.

Kini aku mematut diri di depan cermin. Seburuk itukah rupaku? Tidak, rupaku biasa saja, tak ada cacat apa pun di wajahku. Tetapi mengapa mereka tak menyukaiku? Mereka selalu tak ingin berada di dekatku, mengapa? Pertanyaan yang tak pernah kutahu jawabannya.

Aku masih merutuki kesialanku ketika sebuah suara terdengar.

Percayakah kau pada mantra lama bagaimana-jika? Suaranya terdengar jelas, begitu jelasnya hingga aku yakin, suara itu tidak berasal dari luar diriku, tak ada seseorang pun di sekitarku. Suara itu berasal dari pikiranku. Menggema.

Mantra lama bagaimana-jika? Aku pernah mendengarnya.

Ya, kata suara itu, seolah dapat membaca apa yang kupikirkan.

Bagaimana jika gajah bertubuh besar dan semut bertubuh kecil? Seseorang mengucapkannya, dan kini itulah kenyataannya.

Maksudmu dulu sebaliknya? Gajah berubuh kecil dan semut bertubuh besar? tanyaku (dalam hati), penasaran.

Tentu saja!

Bagaimana jika daun berwarna hijau dan laut berwarna biru? kata suara itu lagi. Seseorang mengucapkannya dan kini itulah kenyataannya.

Bagimana jika tak ada lagi dinosaurus dan munculah makhluk-makhluk kecil? katanya meneruskan.

Aku sudah hapal kalimat selanjutnya: Seseorang mengucapkannya dan kini itulah kenyataannya. Dan dia memang mengatakan itu.

Jadi, siapa kau? tanyaku tanpa merasa perlu berucap. Toh, dia sepertinya memang berbicara padaku lewat pikiranku.

Aku, mereka menyebutku sang Pembawa Mantra Bagaimana-Jika, kadang-kadang menyebutku sang Pengabul, sang Peramal, bahkan tak jarang sang Penyihir. Aku memiliki banyak sebutan.

Suaranya terasa lebih mendekat, Dan sekarang aku memberimu kesempatan mempergunakan mantra bagaimana-jika. Apa yang ingin kauminta?

Aku sedang mempertimbangkan apakah ia benar tentang ucapannya—mengingat itu mustahil, tapi hei, dia bicara dalam pikiranku!—ketika pintu terbuka.

Pikirkan itu, bisik suara itu lalu menghilang dari kepalaku.

Seseorang masuk. Aku sudah mendapat firasat ini akan menjadi buruk seperti biasanya hanya dengan melihat penampilan orang itu. Aku menahan napas ketika pandangannya jatuh padaku, ia terdiam sejenak, lalu matanya membelalak. Ia berteriak atau menjerit, entahlah suaranya memekakkan.

"Kecoak busuk! Enyah kau!" Dia mengambil sikat WC dan mengacung-acungkannya ke arahku.

Aku terkesiap, langsung turun dari kaca yang kupijaki.

"Kecoak menjijikan! Pergi! Hush!" Dia adalah manusia kesekian yang mengusir dan mengataiku begitu.

Ketika aku sudah di lantai, hendak keluar, melewatinya, ia berteriak kembali dan berjinjit-jinjit. Hak sepatunya yang runcing hampir saja menginjak tubuhku yang mungil.

Aku keluar dari bawah celah pintu toilet, lalu merenung untuk kesekian kali. Mengapa manusia selalu memandangku hina? Mengapa aku dilabeli makhluk yang menjijikan dan selalu diusir kehadirannya? Apa kesalahanku?

Tak pernah ada manusia yang menerimaku dengan baik. Kalaupun mereka tidak berteriak dan memandangku jijik seperti wanita itu, mereka tetap saja akan mengusirku. Aku tidak tahu apa salahku.

Aku bersandar pada tembok toilet umum. Pengalaman buruk kedua yang sama hari ini. Rasanya semua tak akan pernah berubah lebih baik.

Sudah kaupikirkan? Suara itu kembali menelusup di pikiranku.

Aku memejamkan mata, satu menit yang lalu aku belum tahu, tapi kini aku sudah tahu dan tak akan ragu atas apa yang akan kuminta pada mantra bagaimana-jika.

Katakanlah, gema panjang dari suara itu seolah memantul-mantul dari pikiranku.

Dengan penuh keyakinan kukatakan;

Bagaimana jika keadaan berbalik, kecoak tak akan lagi dipandang menjijikan, tak akan lagi diusir kehadirannya, sedangkan manusia sebaliknya?

Rasanya aku mendengar kekehan suara itu dalam pikiranku.

Aku sang Pembawa Mantra Bagaimana-jika, suaranya terdengar sangat dalam, 'mengabulkan mantramu.' Kemudian suara itu menghilang, tak pernah lagi terdengar dalam pikiranku.

Dan keadaan memang benar-benar berubah, aku tak pernah lagi diusir dan dipandang menjijikan, sedangkan manusia ... sebaliknya. Keadaan benar-benar berbalik, dan harus kuakui, aku senang.


Hei, ho, cerpen buatanku sendiri --deartrii--

You Might Also Like

0 komentar