Review – Danur
Penulis: Risa Saraswati
Editor: Syafial Rustama
Desain sampul: Gita Mariana
Ilustrasi: Diantra Irawan & Qori Hafiz
Penerbit: Bukune
Cetakan pertama, 2011
Jangan heran jika mendapatiku sedang berbicara sendirian atau tertawa tanpa seorang pun terlihat sedang bersamaku. Saat itu. mungkin saja aku sedang bersama salah satu dari lima sahabatku.
Kalian mungkin tak melihatnya.... Wajar. Mereka memang tak kasat mata dan sering disebut... hantu. Ya, mereka adalah hantu, jiwa-jiwa penasaran atas kehidupan yang dianggap mereka tidak adil.
Kelebihanku dapat melihat mereka adalah anugerah sekaligus kutukanku. Kelebihan ini membawaku ke dalam persahabatan unik dengan lima anak hantu Belanda. Hari-hariku dilewati dengan canda tawa Peter, pertengkaran Hans dan Hendrick—dua sahabat yang sering berkelahi—alunan lirih biola William, dan tak lupa: rengekan si Bungsu Johnsen.
Jauh dari kehidupan "normal" adalah harga yang harus dibayar atas kebahagiaanku bersama mereka. Dan semua itu harus berubah ketika persahabatan kami meminta lebih. yaitu kebersamaan selamanya. Aku tak bisa memberi itu. Aku mulai menyadari bahwa hidupku bukan hanya milikku seorang....
Namaku Risa. Aku bisa melihat 'mereka'. Dan 'mereka', sesungguhnya, hanya butuh didengar.
Start: lupa
Finish: 08-04-18
Abaikan tanggal yang di atas itu. Jadi, ceritanya saya nemuin catatan—atau, review singkat, barangkali—sehabis baca Danur. Jadi, yeah, kenapa nggak dipublikasikan di blog.
Danur, kukira awalnya judul tersebut mengambil nama pemeran utamanya. Namun ternyata ... salah besar! Danur adalah air yang keluar dari jasad mati yang sudah membusuk.
Meski membuat bulu kuduk berdiri, novel ini bukan buku misteri. Novel ini sesungguhnya bercerita soal persahabatan antar dimensi dengan cara yang menyentuh. Bisa dibilang, Risa telah 'memanusiakan' makhluk-makhluk halus itu lewat novel ini.— Soleh SoLihun, Jurnalis Rolling Stone Indonesia
Oke, itu adalah testimoni dari Soleh Solihun—dia ini salah satu seleb bukan, sih? Kayak pernah dengar namanya—tentang buku Danur yang ada di sampul belakang buku.
Membuat bulu kuduk berdiri? Saya sih nggak setuju ya, soalnya menurut saya buku ini sama sekali nggak serem. Trus, bentar, apa hubungannya bulu kuduk berdiri dengan novel misteri? Saya gagal paham. Tapi, saya juga setuju kalimat 'memanusiakan' makhluk-makhluk halus lewat novel ini.
Ada benernya, karena penulis, Risa Saraswati, lewat Danur nggak membuat hantu di sini seperti stereotip kita tentang hantu selama ini: serem, rambut panjang, cenderung jahat, dan kayak nggak punya lagi hati seperti manusia. Danur beda dalam hal setiap hantu dalam novel ini punya kisah masa lalunya masing-masing, apa yang menyebabkan mereka jadi hantu, dan beberapa dari mereka hanya butuh didengar. Bagi saya, ini hal yang bagus.
Saya suka kalimat pembuka novelnya;
"Ketika penciumanku tertutup sedang mata hati terbuka lebar untuk mereka yang biasa kalian sebut ... hantu."
Garis besarnya, novel ini bercerita tentang persahabatan Risa dan lima anak hantu Belanda, bagaimana Risa bisa menyeimbangkan antara kehidupannya dengan makhluk-makhluk tak kasat mata dan dunia manusia.
Isinya dibuka pov satu Risa, tapi di pertengahan, ada tuh POV-nya Peter, William, Asih dll., juga Surat hantu Samantha. Awalnya saya berasa kayak, "aneh amat sih, nggak konsisten" waktu baca penyusunan novel ini, tapi mungkin itu adalah gaya pengarang ya.
Saya nggak tau sih, apa memang penulis bisa lihat hantu beneran. Danur itu novel fiksi yang kayak nonfiksi, berisi memoar pengarang.
Novel ini sendiri alurnya ... saya bingung. Bukan bingung alurnya sih, tapi karena, yeah, baru pertama kali baca novel yang penyusunannya begini: ada yang bentuknya narasi, cuma dialog kayak naskah drama, surat-surat, dan pov-nya ganti-ganti.
Ini tuh semacam buku yang berisi cerita-cerita tentang hantu-hantu yang Risa temui, yah meski, alur utamanya memang ada. Yaitu ketika para sahabatnya—lebih spesifik, Peter—meminta sesuatu yang lebih dari Risa. Hidup bersama selamanya.
Dan pada akhirnya Risa tak dapat menepati janjinya pada Peter. Dan Peter dkk ngambek! Nggak mau lagi menampakkan diri pada Risa.
Dan kisah-kisah selanjutnya bercerita bagaimana Risa menjalani hari-harinya tanpa sahabat terkasihnya, tentang hantu-hantu yang Risa temui. Menurut saya sendiri, yang berhubungan sama alur utama justru punya porsi yang lebih dikit dari kisah-kisah tersendiri hantu yang Risa temui.
Ini minusnya, bisa berujung kebosanan! Hehe, saya sendiri bosan di halaman 180-an tapi akhirnya lanjut baca. Dan kalau mau baca-baca ngasal, alias nggak beneran runut pun bisa juga, kayak kisah hantu Asih, Samantha, Diah itu bisa berdiri sendiri. Nah nah, tapi saya nggak kecewa sih sampai meneguhkan diri buat namatin baca. Menurut saya, endingnya lumayan manis.
Apa sih, ga nyambung ya, abisnya saya
males nge-crop gambarnya. Jadi ya udah...
Kalau ada hal yang mau saya komplain—tapi, siapa sih saya? Wkwk—itu adalah bagian dialog kawan-kawannya Risa yang harusnya dienter tapi nggak dienter. Jadinya, antara dialognya Risa, sedikit narasi, dialog kawan-kawan Risa ada dalam satu paragraf. Dan buat saya, ini lumayan ganggu.
Dan o-ow, ini bedaaa buaaanget dari film-nya sendiri. Fyi, saya nonton film-nya sebelum baca novelnya. Film dan novel menurutku menampilkan hal yang bener-bener beda. Kayak, karakter Asih (hantu) di filmya dibikin jahat. Dan di film sendiri kayaknya sahabat Belanda-nya Risa dikurangin, jadi empat atau malah tiga ya?
Terakhir, saya bakal kasih 3.5 dari 5 bintang buat Danur!









