Pages

facebook linkedin twitter youtube

A Dreamer

If you can't explain it simply, you don't understand it well enough - Albert Einstein

    • Home
    • Review
    • Opini
    • Prakerin
    • Karya

    Review – Danur




    Penulis: Risa Saraswati
    Editor: Syafial Rustama
    Desain sampul: Gita Mariana
    Ilustrasi: Diantra Irawan & Qori Hafiz
    Penerbit: Bukune
    Cetakan pertama, 2011

    Blurb:

    Jangan heran jika mendapatiku sedang berbicara sendirian atau tertawa tanpa seorang pun terlihat sedang bersamaku. Saat itu. mungkin saja aku sedang bersama salah satu dari lima sahabatku.

    Kalian mungkin tak melihatnya.... Wajar. Mereka memang tak kasat mata dan sering disebut... hantu. Ya, mereka adalah hantu, jiwa-jiwa penasaran atas kehidupan yang dianggap mereka tidak adil.

    Kelebihanku dapat melihat mereka adalah anugerah sekaligus kutukanku. Kelebihan ini membawaku ke dalam persahabatan unik dengan lima anak hantu Belanda. Hari-hariku dilewati dengan canda tawa Peter, pertengkaran Hans dan Hendrick—dua sahabat yang sering berkelahi—alunan lirih biola William, dan tak lupa: rengekan si Bungsu Johnsen.

    Jauh dari kehidupan "normal" adalah harga yang harus dibayar atas kebahagiaanku bersama mereka. Dan semua itu harus berubah ketika persahabatan kami meminta lebih. yaitu kebersamaan selamanya. Aku tak bisa memberi itu. Aku mulai menyadari bahwa hidupku bukan hanya milikku seorang....

    Namaku Risa. Aku bisa melihat 'mereka'. Dan 'mereka', sesungguhnya, hanya butuh didengar.

    Start: lupa
    Finish: 08-04-18

    Abaikan tanggal yang di atas itu. Jadi, ceritanya saya nemuin catatan—atau, review singkat, barangkali—sehabis baca Danur. Jadi, yeah, kenapa nggak dipublikasikan di blog.

    Danur, kukira awalnya judul tersebut mengambil nama pemeran utamanya. Namun ternyata ... salah besar! Danur adalah air yang keluar dari jasad mati yang sudah membusuk.

    Meski membuat bulu kuduk berdiri, novel ini bukan buku misteri. Novel ini sesungguhnya bercerita soal persahabatan antar dimensi dengan cara yang menyentuh. Bisa dibilang, Risa telah 'memanusiakan' makhluk-makhluk halus itu lewat novel ini.— Soleh SoLihun, Jurnalis Rolling Stone Indonesia

    Oke, itu adalah testimoni dari Soleh Solihun—dia ini salah satu seleb bukan, sih? Kayak pernah dengar namanya—tentang buku Danur yang ada di sampul belakang buku.

    Membuat bulu kuduk berdiri? Saya sih nggak setuju ya, soalnya menurut saya buku ini sama sekali nggak serem. Trus, bentar, apa hubungannya bulu kuduk berdiri dengan novel misteri? Saya gagal paham. Tapi, saya juga setuju kalimat 'memanusiakan' makhluk-makhluk halus lewat novel ini.

    Ada benernya, karena penulis, Risa Saraswati, lewat Danur nggak membuat hantu di sini seperti stereotip kita tentang hantu selama ini: serem, rambut panjang, cenderung jahat, dan kayak nggak punya lagi hati seperti manusia. Danur beda dalam hal setiap hantu dalam novel ini punya kisah masa lalunya masing-masing, apa yang menyebabkan mereka jadi hantu, dan beberapa dari mereka hanya butuh didengar. Bagi saya, ini hal yang bagus.



    Saya suka kalimat pembuka novelnya;
    "Ketika penciumanku tertutup sedang mata hati terbuka lebar untuk mereka yang biasa kalian sebut ... hantu."

    Garis besarnya, novel ini bercerita tentang persahabatan Risa dan lima anak hantu Belanda, bagaimana Risa bisa menyeimbangkan antara kehidupannya dengan makhluk-makhluk tak kasat mata dan dunia manusia.


    Isinya dibuka pov satu Risa, tapi di pertengahan, ada tuh POV-nya Peter, William, Asih dll., juga Surat hantu Samantha. Awalnya saya berasa kayak, "aneh amat sih, nggak konsisten" waktu baca penyusunan novel ini, tapi mungkin itu adalah gaya pengarang ya.

    Saya nggak tau sih, apa memang penulis bisa lihat hantu beneran. Danur itu novel fiksi yang kayak nonfiksi, berisi memoar pengarang.

    Novel ini sendiri alurnya ... saya bingung. Bukan bingung alurnya sih, tapi karena, yeah, baru pertama kali baca novel yang penyusunannya begini: ada yang bentuknya narasi, cuma dialog kayak naskah drama, surat-surat, dan pov-nya ganti-ganti.

    Ini tuh semacam buku yang berisi cerita-cerita tentang hantu-hantu yang Risa temui, yah meski, alur utamanya memang ada. Yaitu ketika para sahabatnya—lebih spesifik, Peter—meminta sesuatu yang lebih dari Risa. Hidup bersama selamanya.

    Dan pada akhirnya Risa tak dapat menepati janjinya pada Peter. Dan Peter dkk ngambek! Nggak mau lagi menampakkan diri pada Risa.

    Dan kisah-kisah selanjutnya bercerita bagaimana Risa menjalani hari-harinya tanpa sahabat terkasihnya, tentang hantu-hantu yang Risa temui. Menurut saya sendiri, yang berhubungan sama alur utama justru punya porsi yang lebih dikit dari kisah-kisah tersendiri hantu yang Risa temui.

    Ini minusnya, bisa berujung kebosanan! Hehe, saya sendiri bosan di halaman 180-an tapi akhirnya lanjut baca. Dan kalau mau baca-baca ngasal, alias nggak beneran runut pun bisa juga, kayak kisah hantu Asih, Samantha, Diah itu bisa berdiri sendiri. Nah nah, tapi saya nggak kecewa sih sampai meneguhkan diri buat namatin baca. Menurut saya, endingnya lumayan manis.


    Apa sih, ga nyambung ya, abisnya saya 
    males nge-crop gambarnya. Jadi ya udah...


    Kalau ada hal yang mau saya komplain—tapi, siapa sih saya? Wkwk—itu adalah bagian dialog kawan-kawannya Risa yang harusnya dienter tapi nggak dienter. Jadinya, antara dialognya Risa, sedikit narasi, dialog kawan-kawan Risa ada dalam satu paragraf. Dan buat saya, ini lumayan ganggu.

    Dan o-ow, ini bedaaa buaaanget dari film-nya sendiri. Fyi, saya nonton film-nya sebelum baca novelnya. Film dan novel menurutku menampilkan hal yang bener-bener beda. Kayak, karakter Asih (hantu) di filmya dibikin jahat. Dan di film sendiri kayaknya sahabat Belanda-nya Risa dikurangin, jadi empat atau malah tiga ya?

    Terakhir, saya bakal kasih 3.5 dari 5 bintang buat Danur!
    Continue Reading

    Review - Twilight



    Judul Buku: Twilight
    Genre: Fiksi – Fantasi
    Nama Penulis: Stephanie Meyer

    Blurb:
    About three things I was absolutely positive. First, Edward was a vampire. Second, there was a part of him—and I didn't know how dominant that part might be—that thirsted for my blood. And third, I was unconditionally and irrevocably in love with him.

    Saya sih, bacanya yang terjemahan. Tapi blurb-nya copas dari goodreads, karena males ngetik, wkwkw.

    Sejujurnya, saya bingung mau mulai dari mana. He he.

    Mungkin, alur dulu kali ya. Alurnya sendiri menceritakan kisah cinta antara Bella Swan, gadis biasa pindahan yang tinggal bersama Ayahnya dengan Edward Cullen seorang Vampire yang punya kemampuan membaca pikiran orang lain, kecuali Bella.

    Sebenernya, saya udah lama baca Twilight, berdasarkan yang saya ingat, saya pernah bosen bacanya di beberapa bagian. Soalnya, novel ini tergolong tebal, sedangkan konfliknya sendiri (kalau boleh saya bilang) sepele.

    Dengan Bella yang bercerita, yang dia ceritakan ya Edward-Edward-Edward. Kayak, setiap yang ia bahas, apa pun juga bakal berakhir pada Edward. Dan, lihat blurb-nya sendiri, terutama kalimat terakhir, itu cerminan novelnya sih, memang isinya kadang lebay.

    Konflik sebenarnya dimulai ketika seorang Vampire pemburu bernama James yang satu rombongan dengan Victoria dan Laurent tertarik memangsa Bella.  Dan itu baru muncul sekitar berapa halaman ... entahlah.

    Jujur, saya agak kurang ngeh, sih, sebetulnya. Apa yang membuat James sebegitu tertariknya? Kecuali alasan untuk menjadikan Bella sebagai pihak yang harus dilindungi Edward. Oke, sotoy. Atau, ada alasannya cuma saya lupa. Demi menghindari James, Bella sampai disembunyikan oleh keluarga Cullen. Dan ugh, saya agak geregetan di bagian ini. Karena, hallo, Bella pergi begitu aja dengan bilang pada Charlie (Ayah Bella) kalau intinya dia nggak tahan hidup di kota kecil itu bersama Charlie. Ugh, masa sih, harus gitu penyelesaiannya?



    Menurut saya sendiri, sih, Twilight itu konfliknya super ringan, tapi didramatisir.

    Ada beberapa bagian yang menurut saya antara di novel dan di film, lebih bagus di film. Sebut saja waktu Edward ngaku dirinya tuh Vampire, di novel sendiri kan waktu mereka kencan, kayak datar aja, sedangkan di film jauh lebih—yah, ada kesan—apa ya? Menegangkan? Nggak juga, sih. Tapi saya rasa bagian itu lebih oke di filmnya.

    Oke, cukup dulu masalah alur.

    Karakter.

    Bella
    Bella itu Marry Sue? Saya setuju, sih. Soalnya, di hari pertamanya pindahan, dia langsung dapat perhatian dari banyak orang. Cowok-cowok pada tertarik sama Bella, yang nggak dijelasin kenapa bisa. Sebut aja Mike Newton, Tyler (ini sih, karena dia hampir nabrak Bella. Okelah), dan lainnya, saya lupa. Oh! Jangan lupakan Edward, dan nantinya, Jacob. Dan, mungkin alasan saya bacanya bosan-bosan gimana gitu, karena yang dibicarain Bella tuh cuma Edward, Edward dan Edward.

    Edward
    Vampire, tampan luar biasa. Dideskripsikan oleh Bella sedemikian rupa, yang, intinya Edward tampan tiada cela, ketampanannya nggak manusiawi, membikin dia penasaran. Gitulah. Edward punya kemampuan bisa membaca pikiran orang lain, kecuali Bella. Yang kalau saya nggak salah ingat, alasannya kenapa nggak dijelaskan di Twilight.

    Kalau gimana Edward tertarik sama Bella, sih, okelah. Dia penasaran plus dia ingin melindungi Bella yang ceroboh.

    Sebenernya, mungkin banyak hal yang bakal saya komentarin dari novel satu ini, tapi karena saya males buka-buka lagi, yah, daripada salah-salah, segini aja deh. Oh, ya, saya sebenernya sudah mau baca novel keduanya, tapi udah baca bagian awalannya beberapa kali, saya kok males mulu mau lanjutin.

    Ala-ala Goodreads, saya bakal kasih 2 dari 5 bintang. 
    Continue Reading

    Review - Supernova: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh



    Hallo!


    Saat saya membuat review ini, saya baru—benar-benar baru—menyelesaikan membaca Supernova, dan berniat membaca kelanjutannya, yaitu Supernova: Akar. Saya tahu ini terhitung terlambat, banget malah. Secara, buku ini aja terbitnya tahun 2001. Ehm. Tahun lahir saya.

    Blurb:
    Dimas dan Ruben adalah dua orang mahasiswa yang tengah menuntut ilmu di negeri Paman Sam. Dhimas kuliah di Goerge Washinton University, dan Ruben di John Hopkins Medical School. Mereka bertemu dalam suatu pesta yang meriah, yang diadakan oleh perkumpulan mahasiswa yang bersekolah di Amrik. Pertama kali bertemu mereka terlibat dalam percakapan yang saling menyudutkan satu sama lain, hal tersebut dikarenakan oleh latar belakang mereka, Dhimas berasal dari kalangan The have, sedangkan Ruben, mahasiswa beasiswa. Tetapi setelah Ruben mencoba serotonin, mereka menjadi akrab membincangkan permasalahan iptek, saint, sampai acara buka-bukaan bahwa Ruben adalah seorang gay.

    Ternyata tak disangka-sangka bahwa Dhimas juga adalah seorang gay. Maka jadilah mereka sepasang kekasih, meskipun mereka tidak pernah serumah dalam satu apartemen. Bila ditanya mereka menjawab supaya bisa tetap kangen, tetap butuh usaha bila ingin bertemu satu sama lainnya. Dalam pertemuan di pesta tersebut mereka telah berikrar akan membuat satu karya. Satu masterpiece. Satu tulisan atau riset yang membantu menjembatani semua percabangan sains. Roman yang berdimensi luas dan mampu menggerakkan hati banyak orang.

    Nah.

    Sebelum baca Supernova, saya lebih dulu baca Filisofi Kopi. Dan dari kedua buku ini (atau gampangnya, tulisan Dee) ada dua hal yang saya kagumi: gaya penulisannya (duh! Mengalir, enak banget, trus diksinya, ughh. Kalau mau nambah diksi mending baca aja karya-karyanya Dee) dan ada sesuatu yang bisa direnungkan (seenggaknya buat saya).



    Kisah Supernova dibuka dengan Dimas dan Reuben. Mereka bertemu dan berbincang hingga saling mengungkapkan bahwa mereka gay. Dari situ, mereka mulai berkomitmen untuk bersama-sama membuat mahakarya (masterpiece) sebuah roman sains dalam waktu 10 tahun, sekaligus juga berkomitmen menjadi pasangan.

    Dimulailah, mereka berdua merancang tokoh-tokoh mereka: Sang Putri (Rana) wanita 28 tahun yang sudah bersuami, tapi merasa tak bahagia, hampa. Lalu Sang Kesatria (Ferre) seorang managing director berjiwa pujangga yang telah lama kehilangan jati dirinya. Pertemuan Rana dan Ferre berujung pada perselingkuhan mereka berdua. Satu lagi, Bintang Jatuh (Diva) seorang model papan atas juga pelacur yang berpengetahuan amat luas juga memiliki selera humor sadis (dalam bahasa penulis).

    Mereka semua berada pada satu jaring laba-laba (dalam istilah penulis), tokoh-tokoh yang diciptakan Dimas dan Reuben bukan fiksi belaka, mereka benar-benar ada. Dan mereka semua (termasuk juga Reuben dan Dimas) dipersatukan oleh sang Supernova yang identitasnya baru diketahui menjelang akhir. Dan ugh, saya juga nggak nyangka Supernova ternyata adalah...

    Hmm. Spoiler dong.

    Oke. Oke. Lewatin.

    Pertama saya baca, saya mengernyit-ngernyit. Hoho, soalnya dibuka dengan pembicaraan Reuben dan Dimas tentang bifurkasi, serotonin, turbulensi, yang tanpa mau sok-sok pintar dan intelek, saya nggak tahu. Nggak paham.

    Kalau bicara tentang Supernova, selentingan yang didengar pasti ada, lah, tentang novel berbalut sains, atau kisah yang dipadukan dengan sains. Pun, kalau kita buku halaman awalnya, kita yang enggak ngerti bakal dipusingkan dengan mencoba memahami sains yang disajikan di awal itu. Percayalah, saya perlu baca berulang awalnya. Entah otak saya yang kelewat bebal atau memang footnote-nya juga nggak begitu membantu. Trus saya sempat berhenti dan mampir-mampir goodreads dan iseng cari Supernova. Ada review yang bilang Supernova itu kisah biasa yang disains-sainskan, sains-nya cuma tempelan.


    Trus setelah selesai baca, saya setuju perihal 'sains-nya cuma tempelan'. Bener, kok. Sains-nya disajikan hanya saat bagiannya Dimas dan Reuben. Di bagian-bagian lain? Enggak ada. Kalaupun misal kamu lewatin bagian Sains-nya, kalo males mencerna, menurut saya, kamu bakal tetep tahu jalan ceritanya gimana.

    Dan biar pembaca yang sama sekali nggak paham sains macam itu (kayak saya), Dee mengakalinya dengan bikin tokoh Reuben sebagai si Pintar yang menjelaskan ini-itu, sedangkan Dimas kayak refleksi pembaca, dia bakal bertanya apa maksudnya ini, apa maksudnya itu, intinya menyederhanakan teori-teori rumit yang dikemukakan Reuben.


    Ya, walau tetep sih, kalau mau beneran ngerti ya bacanya diulang.

    Tambahan, kadang saya merasa, Dimas dan Reuben ini kok kayak komentator bola yang lagi ngomentarin kisah hidupnya Ferre-Rana-Diva-Arwin dengan bahasa sains.

    Terlepas dari tempelan sains-nya, Supernova tetep aja menarik diikuti karena saya suka narasi beserta dialog yang Dee sajikan. Intinya, saya suka (banget) gaya penulisannya Dee.



    Tapi dari segala kisah mereka yang dihubung-hubungkan dengan Sains, kayaknya saya paling suka waktu Ferre mau—ugh, spoiler, jangan deh—mau ... yang dihubungkan dengan Teori Kucing Schrodinger.

    Untuk tokoh-tokohnya sendiri:

    Dimas dan Reuben.

    Untuk pasangan homo, uhm, mereka sendiri yang suka menyebut diri mereka homo.

    “Dan, kita ini homo!” [hal 111]

    "Ini gawat. Kita bisa pensiun jadi homo.” [hal 199]


    Baik dalam dialog maupun narasi, yang menurut saya, kayaknya pasangan homo nggak akan berlaku kayak gitu juga. Dan mereka enggak terlihat seperti homo, bukan karena nggak ada adegan seks mereka, tapi karena, yah ... mereka lebih cocok jadi sahabat gitu. Dan saya seneng-seneng aja, karakter gay mereka nggak dieksploitasi jadi karakter yang melulu tahunya seks, atau mengedepankan seks antar mereka karena mereka homo. Menurut saya (lagi) biarpun karakter Dimas dan Reuben ini bukan homo, mereka sekedar sahabat, atau salah satu dari mereka itu perempuan. Mereka hetero, kek. Enggak ngaruh sebebernya ke alurnya sendiri.


    Ferre dan Rana
    Saya sih, suka-suka aja dengan karakter mereka. Walau, kadang puisi-puisi dalam hatinya Ferre itu bahasanya agak ... ugh, buat saya.

    Rana, tokoh Rana seolah berakhir gitu aja tanpa Ferre—yang sebenarnya nggak gitu-gitu aja si—tapi maksud saya, enggak kelihatan lagi di cerita setelah dia nggak berkaitan dengan Ferre.


    Diva
    Diva ini kayak, tanpa mencoba melebih-lebihkan, dibuat beda. Penuh paradoks (katanya), punya selera humor sadis (katanya), tapi masih punya sisi lembut. Diva merasa satu-satunya orang yang mencoba bertahan hidup dengan tidak membiarkan dirinya dimiliki siapa pun, di antara orang-orang yang mati.

    Dia cantik dan pintar, cerdas, bermulut tajam. Hanya mau dibayar dolar. Ketahuan sih, dia berusaha dibuat penuh paradoks. Meski disebut-sebut memiliki humor tsadeeest tapi ada beberapa bagian yang menurut saya nggak sadis-sadis amat.

    Alurnya sendiri, saya merasakan juga ketegangan waktu ... waktu Ferre, ugh, awas nih spoiler!


    Ferre mau bunuh diri yang pada akhirnya, yah tebak saja sendiri. He he.
    Di situ bolak-balik, Ferre-Dimas dan Reuben-Diva. Saya ikut tegang juga, ha ha.

    Ala-ala goodreads, kayaknya saya bakal kasih 3.75 (he he, bisa nggak sih?) dari 5.

    Sekian.

    Trii
    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    About Me

    Photo Profile
    Tri!

    Pelajar tingkat akhir SMK. Hobi membaca dan (kadangkala) menulis baik fiksi maupun nonfiksi. Blog ini adalah tempat saya menjaga kewarasan dengan mempublikasikan pemikiran-pemikiran yang sulit didiskusikan dengan orang-orang di sekitar saya.

    Contact Me

    • facebook
    • twitter
    • bloglovin
    • youtube
    • pinterest
    • instagram

    Labels

    Review cerpen opini prakerin

    Blog Archive

    • ►  2017 (1)
      • ►  Desember (1)
    • ▼  2018 (19)
      • ►  Januari (2)
      • ►  Februari (2)
      • ►  Maret (4)
      • ►  April (4)
      • ▼  Mei (3)
        • Review - Supernova: Kesatria, Putri, dan Bintang J...
        • Review - Twilight
        • Review — Danur
      • ►  Juni (1)
      • ►  Juli (1)
      • ►  Agustus (2)
    • ►  2019 (6)
      • ►  Mei (3)
      • ►  Juni (1)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  November (1)
    • ►  2020 (4)
      • ►  Januari (1)
      • ►  Maret (1)
      • ►  April (1)
      • ►  Mei (1)
    • ►  2021 (17)
      • ►  Januari (3)
      • ►  Februari (3)
      • ►  Maret (3)
      • ►  April (2)
      • ►  Juni (1)
      • ►  Juli (2)
      • ►  Oktober (2)
      • ►  Desember (1)
    • ►  2022 (26)
      • ►  Januari (1)
      • ►  Februari (1)
      • ►  Maret (1)
      • ►  April (2)
      • ►  Mei (2)
      • ►  Juli (2)
      • ►  November (8)
      • ►  Desember (9)
    • ►  2023 (7)
      • ►  Januari (2)
      • ►  Februari (1)
      • ►  Mei (1)
      • ►  Oktober (3)
    • ►  2024 (4)
      • ►  Januari (1)
      • ►  Mei (2)
      • ►  Agustus (1)
    facebook Twitter instagram bloglovin google plus

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top