Review - Twilight

Mei 09, 2018

Review - Twilight



Judul Buku: Twilight
Genre: Fiksi – Fantasi
Nama Penulis: Stephanie Meyer

Blurb:
About three things I was absolutely positive. First, Edward was a vampire. Second, there was a part of him—and I didn't know how dominant that part might be—that thirsted for my blood. And third, I was unconditionally and irrevocably in love with him.

Saya sih, bacanya yang terjemahan. Tapi blurb-nya copas dari goodreads, karena males ngetik, wkwkw.

Sejujurnya, saya bingung mau mulai dari mana. He he.

Mungkin, alur dulu kali ya. Alurnya sendiri menceritakan kisah cinta antara Bella Swan, gadis biasa pindahan yang tinggal bersama Ayahnya dengan Edward Cullen seorang Vampire yang punya kemampuan membaca pikiran orang lain, kecuali Bella.

Sebenernya, saya udah lama baca Twilight, berdasarkan yang saya ingat, saya pernah bosen bacanya di beberapa bagian. Soalnya, novel ini tergolong tebal, sedangkan konfliknya sendiri (kalau boleh saya bilang) sepele.

Dengan Bella yang bercerita, yang dia ceritakan ya Edward-Edward-Edward. Kayak, setiap yang ia bahas, apa pun juga bakal berakhir pada Edward. Dan, lihat blurb-nya sendiri, terutama kalimat terakhir, itu cerminan novelnya sih, memang isinya kadang lebay.

Konflik sebenarnya dimulai ketika seorang Vampire pemburu bernama James yang satu rombongan dengan Victoria dan Laurent tertarik memangsa Bella.  Dan itu baru muncul sekitar berapa halaman ... entahlah.

Jujur, saya agak kurang ngeh, sih, sebetulnya. Apa yang membuat James sebegitu tertariknya? Kecuali alasan untuk menjadikan Bella sebagai pihak yang harus dilindungi Edward. Oke, sotoy. Atau, ada alasannya cuma saya lupa. Demi menghindari James, Bella sampai disembunyikan oleh keluarga Cullen. Dan ugh, saya agak geregetan di bagian ini. Karena, hallo, Bella pergi begitu aja dengan bilang pada Charlie (Ayah Bella) kalau intinya dia nggak tahan hidup di kota kecil itu bersama Charlie. Ugh, masa sih, harus gitu penyelesaiannya?



Menurut saya sendiri, sih, Twilight itu konfliknya super ringan, tapi didramatisir.

Ada beberapa bagian yang menurut saya antara di novel dan di film, lebih bagus di film. Sebut saja waktu Edward ngaku dirinya tuh Vampire, di novel sendiri kan waktu mereka kencan, kayak datar aja, sedangkan di film jauh lebih—yah, ada kesan—apa ya? Menegangkan? Nggak juga, sih. Tapi saya rasa bagian itu lebih oke di filmnya.

Oke, cukup dulu masalah alur.

Karakter.

Bella
Bella itu Marry Sue? Saya setuju, sih. Soalnya, di hari pertamanya pindahan, dia langsung dapat perhatian dari banyak orang. Cowok-cowok pada tertarik sama Bella, yang nggak dijelasin kenapa bisa. Sebut aja Mike Newton, Tyler (ini sih, karena dia hampir nabrak Bella. Okelah), dan lainnya, saya lupa. Oh! Jangan lupakan Edward, dan nantinya, Jacob. Dan, mungkin alasan saya bacanya bosan-bosan gimana gitu, karena yang dibicarain Bella tuh cuma Edward, Edward dan Edward.

Edward
Vampire, tampan luar biasa. Dideskripsikan oleh Bella sedemikian rupa, yang, intinya Edward tampan tiada cela, ketampanannya nggak manusiawi, membikin dia penasaran. Gitulah. Edward punya kemampuan bisa membaca pikiran orang lain, kecuali Bella. Yang kalau saya nggak salah ingat, alasannya kenapa nggak dijelaskan di Twilight.

Kalau gimana Edward tertarik sama Bella, sih, okelah. Dia penasaran plus dia ingin melindungi Bella yang ceroboh.

Sebenernya, mungkin banyak hal yang bakal saya komentarin dari novel satu ini, tapi karena saya males buka-buka lagi, yah, daripada salah-salah, segini aja deh. Oh, ya, saya sebenernya sudah mau baca novel keduanya, tapi udah baca bagian awalannya beberapa kali, saya kok males mulu mau lanjutin.

Ala-ala Goodreads, saya bakal kasih 2 dari 5 bintang. 

You Might Also Like

0 komentar