Review - Perahu Kertas
Juni 08, 2018Review Perahu Kertas
Judul: Perahu Kertas
Penulis: Dee Lestari
Genre: Young Adult
Editor:
Oke, saya review bukunya Dee lagi. Perahu Kertas, beda dari Supernova, ini young adult. Kisah percintaan, gitu, lah.
Bercerita tentang Kugy dengan mimpinya yang tak biasa: juru dongeng, dan Keenan yang bercita-cita sebagai pelukis tapi ditentang ayahnya. Merasa saling menemukan dalam perbedaan dan saling berbagi mimpi, mereka dekat dan saling memendam rasa. Hanya saja, rasa itu tak pernah bisa dikonfirmasi dengan Kugi yang berstatus pacar Ojos dan Keenan yang akhirnya berpacaran dengan Wanda. Dan masih ditambah banyak hal, juga kehadiran tokoh lain seperti Luhde dan Remi yang mengisi hari-hari keduanya saat tak lagi saling bertemu selama bertahun-tahun.
Saya pinjam buku ini di perpus, membacanya di sekolah dengan keadaan kelas yang super bising: ada yang gosip, adu nyanyi 'Topi Bundar' dan 'Burung Kakak Tua', konser di kelas dadakan, beberapa main Ludo atau Mobile Legends. Ugh, dan akhirnya saya pun nyerah karena keadaan kelas, juga godaan menonton rilisnya episod terbaru Tokyo Ghoul dan Boruto. Oke, informasi yang sangat penting. Abaikan.
Terhitung, saya menyelesaikan buku ini satu mingguan lebih. Lama, iya. Selain karena sedang UAS juga sebab bukunya lumayan tebal, sih, 552 halaman meski formatnya juga kecil. Sebanding dengan perjalanan Kugy-Keenan yang dimulai dari baru mau kuliah sampai mereka dewasa.
Untuk Young Adult, alurnya sendiri lumayan, meski konfliknya yang muter-muter (oke, sebenernya, beberapa kali saya merasa kayak sinetron atau ftv) menurut saya, meski endingnya—nggak, saya bukannya mau bilang buruk—kurang ngena bagi saya. Saya, sih, lebih seneng opsi lain akhir dari cerita Kugy dan Keenan. He he.
Terus, karena ini buku Dee. Saya mengharapkan hal yang sama dari Perahu Kertas yang juga ada pada Filosofi Kopi dan Supernova—meski saya baru selesai baca Supernova sampai yang KPBJ. Ternyata saya sadar, hal ini nggak saya temukan di Perahu Kertas.
Itu adalah gaya penceritaan, gaya bahasa, gaya penulisan, apa pun sebutannya, yang biasanya mengalir, enak sekali diikuti, rangkaian kata yang biasanya bikin saya baca dua kali kalimatnya karena saya kagum dan suka. Bukan berarti Perahu Kertas nggak enak diikuti, dan ceritanya nggak mengalir, hanya saja ... kayak ada yang hilang. Satu-satunya yang mewakili gaya penceritaan Dee pada Perahu Kertas adalah dialog Luhde yang kurang lebih, "Kenangan itu cuma hantu di sudut pikir.".
Oke, selain itu masih ada banyak yang mau saya bahas, salah satunya: kebetulan-kebetulan.
Saya sadar waktu baca Supernova juga ada beberapa (atau banyak) kebetulan, tapi di Perahu Kertas lebih banyak lagi, dan itu nggak bisa ditutupi dengan gaya bercerita yang nggak seperti Supernova.
Kebetulan-kebetulan itu ada dari awal bahkan hingga di bab akhir, penyelesaian. Nyaris sepanjang cerita. Mulai dari Kugy yang bersahabat dekat dengan Noni, juga Keenan yang bersahabat dengan Eko. Sedangkan Eko dan Noni adalah pasangan. Di titik itu, mereka bertemu. Juga—ehem, di bawah ini nyaris spoiler.
Remi adalah pembeli lukisan pertama Keenan yang ternyata menjadi bos Kugy, juga mencintai Kugy sepenuh hati. Pertemuan Luhde dan Kugy di Bali. Kedatangan Kugy dan Keenan di Bali pada saat yang sama. Keenan yang adalah teman Bimo (kalo saya nggak salah sebut) yang direkomendasikan Bimo buat ngajar menggambar di Sakola Alit, tempat Kugy mengajar. Terus, banyak hal, kayak saat Ojos putus dari Kugy, pas juga dengan Keenan putus sama Wanda. Tapi yang bagi saya agak ganjal adalah kebetulan di bagian akhir. Kayak, saya mikir, "Hah? Segampang itu?"
Oke, sebenarnya ini nggak begitu masalah, apalagi bagi orang yang nggak berkeberatan dengan adanya banyak (banget) kebetulan. Dan bagi saya sendiri, masih bisa saya abaikan untuk terus menikmati ceritanya. Meski kadang mengernyit-ngernyit dan tidak setuju.
Tapi, masih ada banyak hal yang ganjal. Seperti... deskripsi Remi—tokoh yang muncul di tengah cerita, tapi punya peran penting dalam hidup Kugy— yang ugh, harus saya bilang berlebihan (setidaknya bagi saya).
"Matanya lantas tertumbuk pada Remi. Manusia satu itu seperti madu yang dikerubungi lebah. Yang melingkarinya semua adalah perempuan. Tampak jelas mereka berusaha sekali mencuri perhatian Remi dengan mengobrol, atau melucu, atau apa pun, hanya sekedar supaya Remi mengalihkan sebentar tatapannya dan meladeni barang satu atau dua kalimat. Mereka yang baru bergabung berkesempatan untuk sejenak menyerobot, cium pipi kiri-kanan, sambil melingkarkan tangan mereka sejenak di pinggang Remi. Namun, sesudah "tiket sosial" itu berlalu, mereka kembali harus menunggu giliran. Kugy menontoni itu semua sampai akhirnya tersenyum geli." —Perahu Kertas Halaman 343, di satu paragraf utuh.
Familiar dengan sesuatu? Hehe, iya, ada beberapa kalimat nggak efektif.
Atau, dengan dialog perempuan-perempuan yang mengelilingi Remi, ceritanya, mereka lagi gosipin Remi di toilet dan Kugy dengar hal itu:
"Sialan. Makin ganteng, tuh, orang!"
"Gua mau dikerem seminggu sama dia."
"Gua sebulan. Hayo?"
"Jadi, sekarang Remi lagi nggak deket sama siapa-siapa? Still eligible?"
—Hal 345, dan masih banyak dialog yang ... yah, kayak gitu.
Tapi, sekali lagi ini nggak masalah dengan orang yang nggak bermasalah dengan deskripsi semacam ini. Cuma masalah selera ... mungkin.
Dan bukannya pertama kali, Dee juga melakukan hal serupa pada tokoh Diva di Supernova, hanya saja saya merasa Diva dideskripsikan dengan cara yang lebih bisa saya terima. Kalau saya bilang sih, ini pengaruh dari gaya berceritanya juga, yang lebih enak di Supernova (bagi saya).
"Namun, selalu ada perbedaan menonjol setiap kali peragawati satu itu muncul. Satu perbedaan yang sungguh tidak sederhana. Pandangan matanya. Tidak hanya tajam, tapi juga seketika membelah. Yang lain ibarat pajangan sederet pisau yang berkilau, tapi tanpa aksi. Yang satu ini langsung menghunus. Ia tidak mencari ruang kosong. Ia mencari mata-mata lain. Sorot-sorot lain. Menelanjangi semuanya." —Supernova, hal 71
Atau:
"Ada seseorang di sana. Seorang perempuan, duduk menekuk, memeluk lutut, setengah menunduk. Cantik. Dengan bingkai malam yang penuh bintang, ia malah kelihatan tidak nyata. Seperti lukisan. Re mendapatinya sangat indah. Seluruh lukisan ini. Teramat lekat, ia memandanginya. Menit demi menit pun berlalu. Tanpa terasa, sudah sangat lama ini berlangsung. Namun, Re tetap tak bergerak, begitu pula lukisan itu." —Supernova, hal 177.
Keduanya adalah deskripsi Diva. Oke, oke. Kenapa malah terus-terusan membandingkan Perahu Kertas dengan Supernova? Ck.
Oh, iya, dialog pada Perahu Kertas pakainya lu-gua, awalnya saya butuh penyesuaian saat membaca dialognya.
Hal yang agak ganjal lainnya ... dialog Keenan. Sebenarnya, ini nggak begitu harus dipermasalahkan, sih. Cuma ... yah, kayaknya saya ugh, susah untuk nggak membahas.
Keenan saat berbicara dengan Kugy, orangtuanya, dan Luhde pakenya saya-kamu. Tapi sama Noni, Eko, dan temen cowoknya (Bimo) pakainya lu-gua. Serius, awalnya saya kira typo(s) atau kesilapan saya. Rasanya, saya butuh penjelasan 'kenapa', tapi sepanjang cerita nggak ada satu pun penjelasan, yah, meski saya bisa menerjemahkannya menjadi: mungkin karena awalnya nggak kenal Kugy, demi kesopanan pakenya saya-kamu, atau mungkin karena dia naksir Kugy.
Terus ada lagi:
"Neng Ami ... Kumaha, Neng? Damang?" Bapak itu menjulurkan ujung tangannya untuk menyalami Ami.
"Pak Somad, kenalkan, ini teman-teman saya yang nanti ikut ngajar," Ami...
—Perahu Kertas hal 110.
Tanya kabar dijawabnya apa. Kayak saya tanya A kamu jawab Z. Duh, oke bisa diabaikan, lagi pula cuma satu.
Ada satu kejadian di Perahu Kertas yang menurut saya sinetronisya kelihatan (banget): Nih, ceritanya, kan, Wanda itu kurator lukisan. Dan lukisannya Keenan dipajang di galerinya Wanda. Terus, empat lukisan Keenan dibeli sendiri sama Wanda dan dia bilang lukisan Keenan ludes terjual tanpa bilang dirinya yang sebenernya beli supaya Keenan senang. Wanda sembunyiin lukisannya di kolong tempat tidurnya. Ceritanya mereka udah pacaran.
Nah, apa selanjutnya? Ketahuan, iya. Dan ketahuannya tuh, Wanda ceritanya mabuk, Keenan bawa dia ke kamarnya. Ada hal yang bikin Wanda kesal, terus dia marah-marah (mabuk). Dan tebak, tadaaa, dia ambil lukisan Keenan terus dilempar, dia bongkar rahasianya sendiri. Duh, udah gitu dia sadarnya cepet. Abis Keenan tahu kenyataannya, Keenan yang balik marah, lalu Wanda maaf-maaf. Mendadak sadar yang dia ucapin.
Meski Keenan karakter utama, sebenarnya saya nggak begitu suka dia. Habisnya, satu:
1. Ini dia gampang banget ngomong cinta ke Luhde, pas liat Kugy dia bimbang. Terus juga dia sebenarnya nggak cinta sama Wanda tapi pacaran karena, mungkin, merasa berutang. Gitu lah.
2. Keenan digambarkan sempurna.
3. Keenan egois, meski ayahnya juga egois, tapi ini dia keluar kuliah gitu aja demi menjadi penulis saat IP-nya 3.7 atau berapa.
Dan endingnya sendiri, oke, saya nggak bisa nahan untuk nggak kasih spoiler. Keenan dan Kugy bersatu. Iya udah kelihatan sih.
Tapi, konfliknya yang muter-muter itu bikin saya mikir, "Ya kalo akhirnya mau bersatu segampang itu kenapa muter-muter kejauhan dulu?!" alih-alih: "Asik! Setelah perjalanan panjang, akhirnya mereka bersatu juga!"
Nah, yah, mungkin hanya segitu. Tapi gimanapun, Perahu Kertas bukanlah Young Adult dengan alur yang jelek. Tetap ada pelajaran yang bisa dipetik dari novel ini. Pun, saya juga bisa terkikik sama celetukan lucunya Kugy, atau moment Kugy-Noni dan Kugy-Eko. Di beberapa bagian, saya juga tersentuh, saya bisa merasakan sedihnya saat Noni-Kugy perang dingin, dan bahagianya waktu mereka baikan.
Terakhir, saya bakal 2.5 dari 5 bintang untuk Perahu Kertas!




0 komentar