[Resensi Buku] One of Us is Lying – Karen M. Mcmanus
Oktober 14, 2019Penerjemah : Angelic Zaizai
Genre : Misteri, Young Adult
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Blurb :
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Blurb :
Senin sore, lima murid memasuki ruang detensi.
Bronwyn, si genius, nilai akademis sempurna dan tidak pernah melanggar peraturan.
Addy, si cewek populer, gambaran sempurna pemenang kontes kecantikan.
Nate, si bandel, dalam masa percobaan karena transaksi narkoba.
Cooper, si atlet, pelempar bola andalan tim bisbol dan pangeran di hati semua orang.
Dan Simon, si orang buangan, pencipta aplikasi gosip terdepan mengenai kehidupan Bayview High.
Namun sebelum detensi berakhir, Simon tewas. Menurut para penyidik, kematiannya disengaja. Apalagi kemudian ditemukan draft artikel gosip terbaru untuk ditayangkan pada Selasa, sehari setelah kematian Simon.
Gosip heboh tentang empat orang yang berada dalam ruangan detensi bersamanya.
Mereka berempat dicurigai, dan semuanya punya rahasia terpendam.
Salah satu di antara mereka pasti ada yang berbohong.
•
Dan ya, ini novel terjemahan. Seperti yang dijelaskan pada blurb-nya, lima orang memasuki ruang detensi. Satu mati karena mengalami reaksi alergi kacang. Orang itu adalah Simon, pencipta aplikasi gosip-tapi-fakta tentang orang-orang di Bayview High School.
Gosip-gosip yang diunggahnya adalah hal-hal mengerikan, rahasia, yang ingin ditutup-tutupi oleh orang bersangkutan. Sehingga jika gosip itu terpampang di aplikasi milik Simon, orang yang digosipkan akan jadi pusat perhatian, diolok, menanggung malu, kehidupan sosialnya hancur, bahkan sampai ingin bunuh diri.
Pada penyelidikan kematian Simon, dalam panel admin aplikasinya, polisi menemukan entri yang belum diunggah soal keempat anak yang didetensi bersamanya: Bronwyn, Addy, Cooper, dan Nate. Kecuali Nate si Berandalan, ketiga yang lainnya sebelumnya bersih dari gosip dan namanya tak pernah terpampang pada aplikasi Simon.
Satu persatu, keempat anak itu mengalami apa yang dialami anak-anak lain yang namanya terpampang pada aplikasi milik Simon. Dikucilkan, dan kehidupan sosialnya nyaris hancur. Sementara pelakunya masih belum ditemukan, siapa kira-kira?
•
Saya butuh penyesuain yang cukup lama waktu baca novel ini. Mungkin karena narasi, gaya bahasanya, atau juga karena saya yang udah kelamaan nggak baca novel terjemahan—akhir-akhir ini saya selalu baca teenlit.
Saya nggak tahu mau bahas apa dari novel ini, sejujurnya (yah, tapi nulis review juga), sebab kayanya yang mau saya tulis itu poin-poin bagusnya—dan mungkin kalo keterusan bisa jadi fangirling. Hehe.
Novel ini dibawakan dengan sudut pandang orang pertama dengan empat tokoh: Bronwyn, Cooper, Addy, dan Nate. Dengan Bronwyn yang bisa dibilang punya porsi jauh lebih banyak dari yang lain—terutama di akhir. Cukup kerasa bedanya setiap ganti sudut pandang, apalagi karena yang dibahas dalam narasi tiap tokoh adalah kehidupan pribadinya (YA, IYA LAH YA!), jadi, yah, langsung kerasa aja bedanya.
Saya suka banget gimana tiap tokoh punya latar belakang dan konflik minornya sendiri-sendiri dan gimana konflik itu terselesaikan dengan perlahan dan memuaskan.
Kayak, Cooper dan keluarga—terutama Ayahnya—dan gimana ia pada akhirnya coming out soal *piiip*. Nate dan keluarganya yang—hampir—disfungsional. Yang, pada akhirnya, memiliki titik temu. Bronwyn, si pintar tanpa masalah yang akhirnya mau mengakui kecurangan yang pernah diperbuatnya.
Dan tentu, Addy! Yang mampu menghadapi konfliknya sama Jake, pacarnya, yang, menurut kakaknya, maniak kontrol. Jadi, Jake ini dalam hubungannya dengan Addy, mengontrol Addy dalam segala hal: gimana Addy harus berpakaian, bersikap, gimana ia harus mengiyakan setiap pilihan Jake. Dan pada akhirnya, Addy kehilangan dirinya sendiri. Addy nggak tahu apa yang benar-benar dia mau, dia suka. Addy nggak bisa menemukan kata yang dapat mendefinisikan dirinya, kecuali bahwa ia adalah pacar Jake.
Well, ya, subkonflik Addy itu favorit saya! Gimana ia yang penurut, iya-iya aja, seperti nggak punya pendirian, berubah jadi seseorang yang tangguh, dan berubah menjadi *piip* gitu. (Takut spoiler). Subkonflik Cooper juga favorit saya, nomor dua (tapi).
Dan tentu, ada romance di novel ini. We need a love stroy, after all. Dan yang berperan dalam hal ini adalah....
(drum roll)
Selamat Bronwyn dan Nate! Bronwyn si pintar, dari keluarga kaya, nggak suka melanggar aturan. Dan Nate si berandal, dari keluarga miskin, pengedar ganja, dan segala reputasi buruknya. Seems like opposite attract, isn't it? Dan saya suka mereka dan hubungannya juga lika-likunya!
Novel ini sepadat itu, dengan banyak konflik, tapi penyelesainnya memuaskan. Aah, kan, saya malah jadi kayak lagi fangirling. Saya bisa menghabiskan seluruh postingan buat ngomongin bagusnya novel ini—paling nggak menurut saya.
Jadi, saya mau ngomongin kurangnya, mungkin. Hal yang mengganggu adalah bagaimana keterlibatan pihak polisi juga detektif yang kayak ... nggak berguna gitu. Toh pada akhirnya, yang menyelesaikan kasus kematian ini bukan mereka (Yah, spoiler! tapi telanjur). Masa mereka nggak mengusut kejanggalan ponsel yang bukan milik keempat anak—selain Simon—di tas mereka yang menyebabkan mereka didetensi bareng Simon? Atau kecelakaan mobil yang terjadi sebelum Simon mati yang janggal? Terus mereka ngapain, gitu?
Dan, hmm, di akhir, novel ini pake teknik klise: satu tokoh—yang bukan satu pun dari mereka berempat, Bronwyn dkk—menjelaskan segalanya soal pertanyaan-pertanyaan yang butuh kejelasan. Soal motif si pembunuh sebenarnya dan kenapa ia melakukannya. Meski, ya, nggak apa-apa sih, tapi bakal lebih enak aja gitu kalo segalanya diselesaikan tanpa teknik klise ini.
Well, ya, itu aja sih, yang menurut saya kurang. Tapi secara keseluruhan, novel ini bagus dan saya suka semua tokohnya, plus ini katanya novel debut penulis (Huhu, kok, novel debut udah bagus gini, sih?).
Jadi, saya kasih 4 dari 5 bintang buat Nate dan Bronwyn (kusuka kalian), Addy dan gaya rambut barunya, Cooper dengan *piip* ... yeah, seseorang-nya!


0 komentar