Pages

facebook linkedin twitter youtube

A Dreamer

If you can't explain it simply, you don't understand it well enough - Albert Einstein

    • Home
    • Review
    • Opini
    • Prakerin
    • Karya


    Beberapa hari yang lalu, saya habis baca postingan sebuah akun facebook. Beliau membahas soal rumor Sherlock Holmes yang akan diganti orientasi seksualnya jadi gay. Saya bukan penggemar, pembaca novelnya, maupun penikmat konten-konten Sherlock Holmes. Jadi, ya, saya cuma baca-baca aja, enggak ikutan tersulut atau peduli-peduli amat. Poin beliau di thread-nya kurang lebih adalah : perubahan yang, menurut beliau, radikal ini adalah ulah SJW (Social Justice Warrior). Dan bahwa, beliau enggak ada masalah dengan gay maupun kaum marjinal dan queer, hanya saja tindakan mengubah konten asli orang (yang beliau sebut IP)  ini enggak benar. Sebagai penikmat, ia tidak bisa menerima perubahan ini. Dan bahwa, jika saja Sir Arthur Conan Dyle (pencipta karakter Sherlock Holmes) masih hidup ia juga pasti tidak akan terima karyanya diubah sedemikian rupa. Beliau juga menggarisbawahi kalau mau membuat konten untuk kaum marjinal, kenala harus nebeng karya populer dan bukannya bikin karya baru sendiri? Lalu kolom kementar diisi dengan asumsi bahwa mungkin, para pekerja kreatifnya sendirilah SJW itu.

    Hal ini lumayan mengingatkan saya sewaktu Disney mengubah karaker little mermaid menjadi berkulit hitam. Banyak yang pro juga kontra. Mereka berdebat dengan alasannya sendiri-sendiri. Sekali lagi, kala itu saya juga cuma penyimak yang enggak peduli-peduli amat, saya tidak tumbuh besar dengan film-film disney. Saya juga ingat, beberapa yang kontra membawa-bawa SJW sebagai penyebab perubahan ini.

    Hari berikutnya, saya enggak sengaja baca postingan lain yang isinya seperti  (disengaja atau tidak) balasan dari postingan si beliau yang dipihak kontra tersebut. Poin postingannya  : sejak awal Sherlock sudah domain publik (yang artinya karya itu sudah menjadi milik umum) sejak lama. Dan bahwa, sudah begitu banyak versi lain dari Sherlock termasuk Sherlock perempuan, lalu kenapa Sherlock gay diprotes? Apakah jangan-jangan, kita—dan siapa pun yang suka menuding-nuding segala representasi minoritas sebagai akal-akalan SJW—sebenarnya tidak setoleran itu? Sebenarnya, apa yang diprotes? Adanya minoritas itu sendiri yang mengambil spot utama (Little Mermaid dimainkan orang berkulit hitam dan Sherlock adalah seorang gay, misalnya) atau simply yang dipermasalahkan adalah bagaimana karya yang hanya berfokus pada representasi minoritas sehingga jalan ceritanya sendiri tidak begitu dipentingkan? Dengan kata lain, akar masalahnya adalah bad writing, naskah film-nya ditulis dengan jelek, atau aktor yang dipilih tidak memainkan perannya dengan baik. Sehingga melimpahkan kesalahan pada SJW, dalam hal ini, adalah kekeliruan.

    Atau memang, sejak awal masalahnya adalah kita tidak suka spot utama dimiliki kaum marjinal? Kita enggak masalah adanya perubahan radikal asal tidak di ranah milik kita? Seperti mengaku kita tidak ada masalah dan menerima orang China di Indonesia asal mereka enggak ganggu atau bukan tetangga kita. Atau enggak masalah ada film dengan detektif gay asal bukan Sherlock? Atau mungkin tidak masalah putri duyung berkulit hitam asal bukan Little Mermaid?

    Lalu, ada salah satu komentar singkat yang menulus NIMBY. Not in my backyard. Dia kira-kira menjelaskan secara singkat dengan memberi contoh, "Saya enggak masalah sama gay asal anak saya bukan gay."

    Daaan, kalimat itu yang bikin saya repot-repot nulis ini panjang-lebar. Cari tahu apa sebenernya NIMBY itu dan bla bla bla. NIMBY. Not in my backyard. Frasa ini awalnya digunakan untuk membahas fenomena penduduk yang enggan/menolak adanya perubahan pembangunan. Tidak masalah adanya pembangunan asal itu bukan di wilayah mereka. Asal mereka tetap tenang tak terusik. Lama-lama, frasa ini difunakan secara luas untuk banyak konteks.

    Dalam konteks postingan beliau yang pro, poinnya menyinggung NIMBY. Komentar itu bikin saya merenung karena selama ini, saya merasa dan menganggap diri saya cukup toleran. Saya mulai meperhatikan isu-isu para kaum marjinal. Saya mulai belajar membuang pemikiran bahwa orang-orang berkulit hitam itu tidak terlihat cantik. Saya tidak kontra LGBTQ+ dan tidak menganggap mereka menjijikkan atau menyeleweng. Karena semua hal itu, dan karena saya merasa saya bisa menerima para gay, bi, dan lesbian dengan orientasi seksual mereka, sebab itu pula saya pikir ... saya cukup toleran.

    Tapi satu contoh itu bikin saya berpikir lagi. "Saya enggak masalah sama gay asal anak saya bukan gay." Karena sejujurnya saya pernah berpikir begini. Enggak masalah dengan gay, tapi di masa depan nanti jika saya pada akhirnya mau punya anak, saya enggak mau anak saya gay. Saya enggak yakin bisa menerima dia. Iya, itu pikiran yang kejauhan bahkan waktu umur saya belum tujuh belas.
    Saya paham beda sex dengan gender dan bahwa gender itu konstrukai sosial, tetapi ajaran dari kecil terus melekat di otak saya yang  tetap memberitahukan mobil-mobilan untuk cowok dan boneka barbie untuk cewek. Bahwa tidak ada yang salah dengan lelaki menjadi bapak rumah tangga dan perempuan yang bekerja, tapi saya tidak yakin tidak akan menganggap rendah lelaki yang memilih pilihan itu. Saya mengerti bahwa ekspresi gender dan orientasi seksual itu tidak berhubungan. Bahwa mungkin lelaki lemah gemulai masih tetap menyukai perempuan, tapi yang saya pikir pertama tetap: apa dia tidak suka perempuan? Tidak ada yang salah dengan laki-laki yang memakai make-up (dalam hal ini bukan idol/aktor yang harus bermake-up karena tuntutan peran di dunia hiburan, melainkan cowok biasa yang memakai make up di kehidupan sehari-hari), tapi otak saya otomatis memutuskan itu salah dan mungkin menganggap aneh dan menjauhi cowok yang melakukannya di kehidupan nyata.

    Sejujurnya saya juga enggak yakin bahwa misalnya saya mengenal orang gay atau lesbian, saya enggak akan bergidik saat mereka (mungkin saja) flirting di depan saya. Contoh gampang lainnya adalah, saya bahkan enggak mau baca fanfiksi idola saya yang bermuatan boys love, selain karena sepengatan saya mereka straight, deep down saja juga enggak mau baca romansa cowok dengan cowok. Benar bahwa saya punya simpati pada komunitas LGBTQ, tapi sebatas itu.

    Ternyata saya tidak setoleran yang saya kira. Saya, cuma contoh lain dari NIMBY. Saya enggak masalah dengan gay, selama itu tidak di ranah saya. Selama hal itu tidak terjadi di sekitar saya. Jika itu hanya sebatas wacana, tapi tidak di kehidupan nyata. Jauh dalam hati saya, saya masih tidak bisa menoleransi itu. Ternyata, saya tidak setoleran yang saya kira.


    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    About Me

    Photo Profile
    Tri!

    Pelajar tingkat akhir SMK. Hobi membaca dan (kadangkala) menulis baik fiksi maupun nonfiksi. Blog ini adalah tempat saya menjaga kewarasan dengan mempublikasikan pemikiran-pemikiran yang sulit didiskusikan dengan orang-orang di sekitar saya.

    Contact Me

    • facebook
    • twitter
    • bloglovin
    • youtube
    • pinterest
    • instagram

    Labels

    Review cerpen opini prakerin

    Blog Archive

    • ►  2017 (1)
      • ►  Desember (1)
    • ►  2018 (19)
      • ►  Januari (2)
      • ►  Februari (2)
      • ►  Maret (4)
      • ►  April (4)
      • ►  Mei (3)
      • ►  Juni (1)
      • ►  Juli (1)
      • ►  Agustus (2)
    • ►  2019 (6)
      • ►  Mei (3)
      • ►  Juni (1)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  November (1)
    • ▼  2020 (4)
      • ►  Januari (1)
      • ►  Maret (1)
      • ►  April (1)
      • ▼  Mei (1)
        • NIMBY dan Toleransi
    • ►  2021 (17)
      • ►  Januari (3)
      • ►  Februari (3)
      • ►  Maret (3)
      • ►  April (2)
      • ►  Juni (1)
      • ►  Juli (2)
      • ►  Oktober (2)
      • ►  Desember (1)
    • ►  2022 (26)
      • ►  Januari (1)
      • ►  Februari (1)
      • ►  Maret (1)
      • ►  April (2)
      • ►  Mei (2)
      • ►  Juli (2)
      • ►  November (8)
      • ►  Desember (9)
    • ►  2023 (7)
      • ►  Januari (2)
      • ►  Februari (1)
      • ►  Mei (1)
      • ►  Oktober (3)
    • ►  2024 (4)
      • ►  Januari (1)
      • ►  Mei (2)
      • ►  Agustus (1)
    facebook Twitter instagram bloglovin google plus

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top