NIMBY dan Toleransi
Mei 01, 2020Beberapa hari yang lalu, saya habis baca postingan sebuah akun facebook. Beliau membahas soal rumor Sherlock Holmes yang akan diganti orientasi seksualnya jadi gay. Saya bukan penggemar, pembaca novelnya, maupun penikmat konten-konten Sherlock Holmes. Jadi, ya, saya cuma baca-baca aja, enggak ikutan tersulut atau peduli-peduli amat. Poin beliau di thread-nya kurang lebih adalah : perubahan yang, menurut beliau, radikal ini adalah ulah SJW (Social Justice Warrior). Dan bahwa, beliau enggak ada masalah dengan gay maupun kaum marjinal dan queer, hanya saja tindakan mengubah konten asli orang (yang beliau sebut IP) ini enggak benar. Sebagai penikmat, ia tidak bisa menerima perubahan ini. Dan bahwa, jika saja Sir Arthur Conan Dyle (pencipta karakter Sherlock Holmes) masih hidup ia juga pasti tidak akan terima karyanya diubah sedemikian rupa. Beliau juga menggarisbawahi kalau mau membuat konten untuk kaum marjinal, kenala harus nebeng karya populer dan bukannya bikin karya baru sendiri? Lalu kolom kementar diisi dengan asumsi bahwa mungkin, para pekerja kreatifnya sendirilah SJW itu.
Hal ini lumayan mengingatkan saya
sewaktu Disney mengubah karaker little mermaid menjadi berkulit hitam.
Banyak yang pro juga kontra. Mereka berdebat dengan alasannya sendiri-sendiri.
Sekali lagi, kala itu saya juga cuma penyimak yang enggak peduli-peduli amat,
saya tidak tumbuh besar dengan film-film disney.
Saya juga ingat, beberapa yang kontra membawa-bawa SJW sebagai penyebab
perubahan ini.
Hari berikutnya, saya enggak sengaja
baca postingan lain yang isinya seperti (disengaja
atau tidak) balasan dari postingan si beliau yang dipihak kontra tersebut. Poin
postingannya : sejak awal Sherlock sudah
domain publik (yang artinya karya itu sudah menjadi milik umum) sejak lama. Dan
bahwa, sudah begitu banyak versi lain dari Sherlock termasuk Sherlock
perempuan, lalu kenapa Sherlock gay diprotes? Apakah jangan-jangan, kita—dan
siapa pun yang suka menuding-nuding segala representasi minoritas sebagai
akal-akalan SJW—sebenarnya tidak setoleran itu? Sebenarnya, apa yang diprotes?
Adanya minoritas itu sendiri yang mengambil spot utama (Little Mermaid dimainkan orang berkulit hitam dan Sherlock adalah
seorang gay, misalnya) atau simply yang dipermasalahkan adalah bagaimana karya
yang hanya berfokus pada representasi minoritas sehingga jalan ceritanya
sendiri tidak begitu dipentingkan? Dengan kata lain, akar masalahnya adalah bad
writing, naskah film-nya ditulis dengan jelek, atau aktor yang dipilih tidak
memainkan perannya dengan baik. Sehingga melimpahkan kesalahan pada SJW, dalam
hal ini, adalah kekeliruan.
Atau memang, sejak awal masalahnya
adalah kita tidak suka spot utama dimiliki kaum marjinal? Kita enggak masalah
adanya perubahan radikal asal tidak di ranah milik kita? Seperti mengaku kita tidak ada masalah dan
menerima orang China di Indonesia asal mereka enggak ganggu atau bukan tetangga
kita. Atau enggak masalah ada film dengan detektif gay asal bukan Sherlock? Atau mungkin tidak masalah putri duyung
berkulit hitam asal bukan Little Mermaid?
Lalu, ada salah satu komentar
singkat yang menulus NIMBY. Not in my
backyard. Dia kira-kira menjelaskan secara singkat dengan memberi contoh,
"Saya enggak masalah sama gay asal anak saya bukan gay."
Daaan, kalimat itu yang bikin saya
repot-repot nulis ini panjang-lebar. Cari tahu apa sebenernya NIMBY itu dan bla
bla bla. NIMBY. Not in my backyard.
Frasa ini awalnya digunakan untuk membahas fenomena penduduk yang
enggan/menolak adanya perubahan pembangunan. Tidak masalah adanya pembangunan
asal itu bukan di wilayah mereka. Asal mereka tetap tenang tak terusik.
Lama-lama, frasa ini difunakan secara luas untuk banyak konteks.
Dalam konteks postingan beliau yang
pro, poinnya menyinggung NIMBY. Komentar itu bikin saya merenung karena selama ini,
saya merasa dan menganggap diri saya cukup toleran. Saya mulai meperhatikan
isu-isu para kaum marjinal. Saya mulai belajar membuang pemikiran bahwa orang-orang
berkulit hitam itu tidak terlihat cantik. Saya tidak kontra LGBTQ+ dan tidak
menganggap mereka menjijikkan atau menyeleweng. Karena semua hal itu, dan
karena saya merasa saya bisa menerima para gay, bi, dan lesbian dengan
orientasi seksual mereka, sebab itu pula saya pikir ... saya cukup toleran.
Tapi satu contoh itu bikin saya
berpikir lagi. "Saya enggak masalah
sama gay asal anak saya bukan gay." Karena sejujurnya saya pernah
berpikir begini. Enggak masalah dengan gay, tapi di masa depan nanti jika saya
pada akhirnya mau punya anak, saya enggak mau anak saya gay. Saya enggak yakin
bisa menerima dia. Iya, itu pikiran yang kejauhan bahkan waktu umur saya belum
tujuh belas.
Saya paham beda sex dengan gender dan
bahwa gender itu konstrukai sosial, tetapi ajaran dari kecil terus melekat di otak
saya yang tetap memberitahukan mobil-mobilan
untuk cowok dan boneka barbie untuk cewek.
Bahwa tidak ada yang salah dengan lelaki menjadi bapak rumah tangga dan perempuan
yang bekerja, tapi saya tidak yakin tidak akan menganggap rendah lelaki yang memilih
pilihan itu. Saya mengerti bahwa ekspresi gender dan orientasi seksual itu tidak
berhubungan. Bahwa mungkin lelaki lemah gemulai masih tetap menyukai perempuan,
tapi yang saya pikir pertama tetap: apa dia tidak suka perempuan? Tidak ada yang
salah dengan laki-laki yang memakai make-up
(dalam hal ini bukan idol/aktor yang harus bermake-up karena tuntutan peran di dunia
hiburan, melainkan cowok biasa yang memakai make
up di kehidupan sehari-hari), tapi otak saya otomatis memutuskan itu salah dan
mungkin menganggap aneh dan menjauhi cowok yang melakukannya di kehidupan nyata.
Sejujurnya saya juga enggak yakin
bahwa misalnya saya mengenal orang gay atau lesbian, saya enggak akan bergidik
saat mereka (mungkin saja) flirting
di depan saya. Contoh gampang lainnya adalah, saya bahkan enggak mau baca
fanfiksi idola saya yang bermuatan boys love, selain karena sepengatan saya mereka
straight, deep down saja juga enggak
mau baca romansa cowok dengan cowok. Benar bahwa saya punya simpati pada
komunitas LGBTQ, tapi sebatas itu.
Ternyata saya tidak setoleran yang
saya kira. Saya, cuma contoh lain dari NIMBY. Saya enggak masalah dengan gay,
selama itu tidak di ranah saya. Selama hal itu tidak terjadi di sekitar saya. Jika
itu hanya sebatas wacana, tapi tidak di kehidupan nyata. Jauh dalam hati saya,
saya masih tidak bisa menoleransi itu. Ternyata, saya tidak setoleran yang saya
kira.

0 komentar