Short Attention Span
Januari 01, 2021Media sosial dan kecepatan bertukar informasi membuat kita gampang hilang fokus. Semenit lalu, beranda twitter penuh dengan update skandal seorang selebgram, lalu dengan sekali refresh, berita berganti soal kabar perpolitikan negeri tercinta. Menit berikutnya beda lagi, dan lagi. Lima menit setelahnya, kamu sudah lupa apa yang kamu baca.
Kecepatan bertukar informasi membuat kita dijejali banyak sekali informasi-informasi penting sampai super-tidak-penting, setiap waktu, dan tanpa jeda. Hal tersebut membuat fokus kita layaknya ikan emas. Banyaknya informasi malah membuat kita--meminjam istilah kekinian--overwhelmed. Bingung dengan banjir informasi. Bingung memilah mana yang sebenarnya dibutuhkan dan tidak.
Fenomena ini, short attention span, menjadi hal yang lumrah di era sekarang. Tapi, bukan soal banjir informasi yang membuat saya menulis artikel ini. Melainkan, soal, bagaimana jika short attention span ini merambah hal-hal esensial? Karena, sejujurnya, saya sendiri saat ini sudah dan sedang mengalaminya. Dan, tentu, bagi saya ini masalah besar.
Saya gampang sekali kehilangan fokus. Saya juga hobi multitasking. Saya orangnya mudah bosan. Saya cepat sekali mengalami penurunan motivasi. Saya mudah overwhelmed dengan arus informasi era kiwari ini. Akumulasi hal-hal di atas adalah alasan saya menulis hal ini di blog. Menuliskan kekhawatiran saya adalah bentuk katarsis.
Rasanya, tidak ada hal becus yang selesai saya kerjakan karena saya terus tergoda melakukan dan mempelajari hal lain ketika satu yang saya kerjakan belum tercapai. Saya bikin resolusi untuk rutin bujo (bullet journal) awal tahun 2020 dan apa yang terjadi? Terbengkalai setelah satu bulan, barangkali. Saya tidak rajin lagi membuat daily log, saya malas-malasan mengisi habit tracker, sampai akhirnya, bujo saya tidak terurus. Padahal, saya masih ingat betapa excited-nya saya pada awalnya membaca dan menonton konten seputar bullet journalling.
Lalu, saya menonton suatu video soal morning pages, yang pada dasarnya adalah menulis apa saja yang sedang kamu pikirkan, keresahan dan kekhawatiranmu, atau sekadar tulisan tidak jelas di pagi hari. Kabarnya? Saya bahkan bangun telat tiap pagi. Wacana morning pages hanya terealisasi tidak lebih dari seminggu. Padahal, awalnya ide itu terasa menyenangkan dan sederhana dibanding bullet journalling. Jadi, pikir saya: oke, layak dicoba.
Berikutnya, saya mulai tertarik dengan konten soal skincare. Karena, rasanya, zaman sekarang itu sebuah keharusan. Jadi saya membaca dan menonton konten soal basic skincare, jenis kulit dan skincare yang tepat, cara mengetahui jenis kulit hingga review skincare yang bagus dengan budget minim. Tebak apa yang terjadi? Iya, saya kehilangan minat dan pindah fokus pada hal lain. Sekarang, saya tidak pakai skincare apa-apa (padahal saya tahu betul kulit saya membutuhkannya) kecuali lip balm karena bibir saya super pecah-pecah.
Lalu, saya punya keinginan lain, mau fluent bahasa inggris. Sebenarnya, saya punya ketertarikan pada bahasa inggris sejak sekolah. Dulu, saya rutin belajar grammar dan vocab, latihan nulis dan baca, tapi tidak belajar pronunciation dan praktik bicara. Setelah saya punya ketertarikan itu, saya rutin dengerin podcast dan sesekali latihan speaking selama kira-kira ... setengah bulan. Lalu tahu, ‘kan, ending-nya? Iya, tidak pernah lagi dan justru saya develop ketertarikan untuk hal lain.
Sekarang, belakangan, saya sedang tertarik investasi di reksadana. Saya menghabiskan banyak waktu, seperti biasa, mencari tahu soal reksadana. Mulai dari pengertian dan istilah di dalamnya, hingga review aplikasi reksadana dan cara belinya. Saya bahkan sudah install aplikasi Bareksa, dan akan install OVO. Saya juga membaca soal pengaturan keuangan dan belajar membuat cash flow untuk keuangan saya. Saya sudah download prospektus dan fundfact sheet suatu produk reksa dana pasar uang, tinggal menunggu dibaca.
Sayangnya,
seperti puluhan hal lain yang membuat saya tertarik pada awalnya, saya takut
akan kehilangan fokus dan beralih pada hal lain. Rutin menulis blog ini dan
menjadikan blog ini menghasilkan profit dari google adsense adalah salah
satunya. Apa yang terjadi? Saya hanya belajar soal dasar-dasar SEO, lalu pada
akhirnya blog ini malah dipenuhi sarang laba-laba.
Ketika menuliskan hal ini, saya semakin sadar sudah buang-buang banyak sekali waktu berpindah fokus dari satu hal ke hal lain dalam hitungan beberapa hari. Hanya belajar pengetahuan di permukaan, lalu berganti mempelajari hal lain. Malahan, sepertinya hanya itulah yang saya lakukan sepanjang tahun ini.
Saya membuat banyak sekali rencana yang tidak terealisasi. Kabar resolusi tahun ini? Yah, tahu sendiri, tidak tercapai. Saya telah merenungkan hal ini. Jadi, apa penyebabnya? Kenapa saya mudah sekali berpindah fokus
Mungkin sebab kecepatan arus informasi dan banjir informasi dari berbagai arah membuat saya bingung dan akhirnya memilih untuk berpindah mempelajari hal lain. Mungkin juga sebab manajemen fokus saya buruk, karena pengaruh sosial media. Barangkali sebab saya gampang kehilangan motivasi dan manajemen waktu saya mengerikan. Atau, saya saja yang tidak sabaran.
Kesimpulannya? Barangkali gabungan ke semua hal itu. Yang jelas, saya tidak mau mengulang kesalahan ini
di 2021. Tahun ini, saya lelah membuat resolusi. Tahun ini, malam sebelum
pergantian tahun baru saya cuma tidur dan tidak merenungkan apa goals yang
ingin saya capai. Saya sadar saya tidak punya cukup waktu untuk mempelajari
atau menjadi expert di ke semua hal yang membuat saya tertarik. Maka tahun ini,
saya mau memilah milih hal yang pantas saya fokuskan. Untuk itu, konsistensi
adalah koentji. Dan baru saja, setelah menuliskan ini, saya menemukan salah
satu hal itu; menulis secara rutin di blog ini. Saya mau bikin hutang,
setidaknya dua kali posting dalam sebulan. Jadi, mari anggap ini resolusi 2021
saya. Semoga saya konsisten ya, ke depannya!

0 komentar