No, You Don't Need A Boyfriend. You Just Need Companionship

Januari 05, 2021

 

Hal yang dapat kita sepakati bersama, saat kita beranjak dewasa, lingkaran pertemanan semakin mengecil. Dan orang-orang rasanya sibuk dengan kehidupannya masing-masing. Juga, pasangannya masing-masing.

Bahkan anak paling pendiam di sekolah, setelah lama tak terdengar kabar, tiba-tiba mau dipersunting seseorang. Ini yang kata orang, diam-diam menghanyutkan. Sementara orang-orang lain kelihatannya telah menemukan "seseorang"nya. Kecuali kamu.

Atau setidaknya, kalau kamu adalah orang yang nyaris jomblo sejak embrio kayak saya--ups. Kisah percintaan saya datar-datar saja. Menyukai seseorang, orang itu tidak menyukai saya. Disukai seseorang, saya tidak ada rasa sama orang tersebut.

Normalnya, saya bukan orang yang gampang iri pada postingan (meminjam bahasa beken tapi menggelikan) ke-uwu-an teman-teman saya dan pacarnya atau pasangan-pasangan lain di media sosial. Lebih sering daripada tidak, bukannya menganggap romantis, saya malah menganggap postingan pamer dengan tag relationship goals dan semacamnya itu cringe. Cringe abis.

Tapi, dengan semakin sibuknya orang-orang yang dulu akrab, makin sempitnya social circle, terutama karena sudah tidak bersekolah, kadangkala saya menginginkan teman diskusi, bertukar pikiran, bercanda, yang kadangkala tidak bisa dipenuhi oleh sahabat saya sebab kesibukan masing-masing. Tidak juga dapat diakomodasi orang terdekat, karena perbedaan pola pikir dan gap pendidikan. Maka itu, atas dasar penarikan kesimpulan ngawur, saya yang berumur sembilan belas tahun merasa, sudah saatnya. Tahu, kan? Memiliki pacar.

"Kenapa enggak? Apa, sih, hal terburuk yang bakal terjadi setelah pacaran? Patah hati? Ya sudah, buat pembelajaran. Toh hubungannya enggak bakal serius-serius amat. Mungkin beberapa bulan, dan kalau kami enggak cocok, ya putus dengan baik-baik. Coba aja dulu."

Begitu kira-kira pikiran saya.

Bertepatan dengan itu, atau sialnya, ada orang yang menyatakan perasaan sukanya pada saya. Saya, yang kala itu berprinsip coba-aja-dulu dan atas dasar sama sama pernah naksir dulu, dengan bimbang, terjebak begitu saja dalam sebuah hubungan yang berawal dari, "Ya, coba aja dulu, sebulan gimana."

Ternyata, hubungan yang tidak diniatkan serius juga berakhir kompleks dan tidak sesederhana bayangan saya. Hubungan itu lalu berjalan, awalnya biasa saja. Tersenyum saat menerima pesan darinya. Tertawa kecil. Chat dan membahas hal-hal absurd dan tidak penting. Kadang bertelepon.

Lalu, saya mulai merasa tidak nyaman. Tidak nyaman dengan intensitas chat, yang bagi seseorang yang butuh space tinggi untuk diri sendiri macam saya, terlalu sering. Jenuh dengan rutinitas chat dengan pertanyaan yang itu-itu saja. Malas membalas. Tidak nyaman karena merasa terbebani harus mengabari pasangan untuk hal-hal kecil yang bahkan tidak saya lakukan pada orang tua. Mendadak, membalas chat-nya pun terasa berat, diajak bertemu enggan. Saya sampai pernah bertanya-tanya, memangnya pacaran itu harus chat setiap hari, ya?

Ternyata ketidaknyamanan itu makin parah. Saya, yang dari sananya sudah cuek, tidak pernah menanyakan: apa kamu sudah makan? sudah beribadah? sudah pulang? kehujanan tidak? Bawa mantel? Dan pertanyaan semacam itu lainnya. Kecuali mungkin, saya bakal kadangkala bertanya balik, jika orang itu menanyakan pada saya sebagai wujud, yah, basa-basi. Karena bagi logika saya; kami toh sudah cukup sama-sama besar, sudah seharusnya bisa menjaga diri masing-masing. Perlukah melakukan itu?

Untuk seseorang yang bergidik keika disuguhkan konten-konten romantis bertagar relationship goals, saya pun tidak bisa membayangkan diri saya berkata atau bahkan sekadar mengetik: aku cinta kamu, i love you, atau mengirim emoticon love, atau memanggil dengan kata, sayang.

Oke yang terakhir mungkin agak berlebihan. Kayaknya cuma saya yang begitu. Dan ternyata, semua hal di atas adalah masalah besar dalam sebuah hubungan.

Masalah lainnya adalah : hal-hal yang seharusnya terasa romantis, malah cringe bagi saya. Gombalan receh yang harusnya mengukir senyum kecil, malah mendapat gidikan dari saya. Perhatian yang berlebihan membuat saya mengerutkan kening. Keseriusannya membuat saya takut.

Pada akhirnya, saya tidak bisa mengakomodasi hal yang ia inginkan dalam sebuah hubungan: ungkapan romantis, perhatian, berkabar setiap hari, dan ... pada dasarnya, hal-hal yang biasa orang lakukan ketika pacaran.

Begitu pula ia tidak dapat mengakomodasi hal yang saya mau dalam hubungan;

Diskusi soal ... apa pun,  mungkin, apa yang dipikirkannya soal merokok dan kesehatan, soal budaya patriarkis di masyarakat kami, soal kesehatan mental dan self-development,  soal musik musik yang ia suka dan mengapa ia menyukainya, soal prinsip hidupnya, value yang ia pegang, apa saja, yang membuat obrolan kami tidak terasa kosong dan sepintas basa basi. Saya kira, kami bisa bicara soal itu.

Nyatanya tidak. Kami sungguh berbeda. Saya sampai pada kesimpulan, kami "tidak satu frekuensi".

Belum lagi, saya maunya hubungan yang tidak serius, dia mau yang sebaliknya. Saya, yang atas dasar ah-coba-aja-dulu tiba-tiba diajak berkomitmen serius? Tentu saja jawabannya: enggak siap, it's a big no.

 

Perhatian, romatisme, dan segala keseriusan yang ia tunjukan malah membuat saya merasa sangat tidak nyaman. Namun, bahkan setelah semua hal itu, memikirkannya baik-baik, ternyata keluar dari sebuah hubungan tidak segampang bilang: "Hei, kita putus aja, ya."

Ternyata ada rasa tidak enak hati di dalamnya, rasa bersalah karena merasa telah mempermainkan perasaan seseorang dan menyia-nyiakannya, dan rasa takut akan berbalik karma suatu saat nanti.

Ironisnya adalah, saya sudah memprediksi kami tidak bakalan langgeng, mungkin hubungan itu hanya akan bertahan beberapa bulan lalu kami putus, toh, saya maunya biasa-biasa saja, bukannya komitmen serius, tapi saya tidak mengira prosesnya ketika dijalani ternyata membuat saya benar-benar tidak nyaman. Ternyata setidak-mengenakkan itu.

Hubungan romantis yang pernah saya jalani kemungkinan juga dijalani banyak orang lain, mungkin, dengan alasan-alasan yang berbeda; mungkin, dengan alasan :

Karena social circle-nya sudah punya pasangan semua. Lalu ia bertemu cewek atau cowok lain, belum terlalu mengenal, tapi dia ngajak pacaran. Lalu diiyakan begitu saja, atas dasar, yah, daripada gue jomblo terus. Saya sering menemui orang-orang seperti ini, yang langsung dapat pengganti baru setelah tak lama putus. Herannya, kelihatannya enjoy saja. Semoga aslinya benar-benar menikmati.

Atau karena,

Merasa kesepian. Teman-teman sebaya sibuk dengan kehidupannya masing-masing. Merasa canggung berbicara dengan orang tua dan kerabat. Sosial media semakin membuat sesak dengan pameran kebahagiaan orang lain. Semakin bertambahlah rasa kesepian. Apalagi jika berada di umur yang matang, saat teman-teman sebaya perlahan sudah memiliki keluarga kecilnya sendiri, atau kekihatannya telah menemukan "the right one"-nya.

 Lalu, munculah sebuah pemikiran : bahwa kesepian itu bisa hilang dengan bertemu seseorang, yang akan mendengarkan keluh kesahnya, masalah-masalahnya, menemaninya, memberinya kasih dan cinta dalam hubungan romantis.

Atau juga, ya, kayak saya ini :

Butuh teman diskusi, yang tidak bisa diakomodasi oleh orang-orang terdekat, dan, yah, kepingin coba-coba saja.

Akhirnya kita terjebak, dalam hubungan yang sebenarnya tidak benar-benar kita inginkan. Dalam kasus saya, saya tidak butuh diperlakukan romantis dan sebagainya, perlakuan seperti itu malah membuat saya mengernyit dan bergidik. Saya juga tidak mau terus-terusan intense chat yang tidak jelas bahasannya apa. Saya hanya butuh didenger dan berdiskusi, butuh teman ngobrol, yang nyatanya ketika hal itu tidak terakomodasi, saya langsung memvonis : wah, saya sama dia enggak cocok!

Yang tidak saya pahami waktu itu adalah, sejak awal saya tidak menginginkan hubungan romantis, saya tidak butuh pacar, saya malah memerangkap diri saya dengan pikiran, ah kelihatannya, saya juga menyukainya. Salah besar.

Kalau, mungkin, kamu sedang mengalami hubungan atas dasar-dasar di atas atau pernah mengalaminya, maka, no, you don't need boyfriend (or girlfriend), you just need  companionship.

Kamu bukannya butuh pasangan hidup, kekasih, pacar, whatever you name it, kamu hanya butuh companion. Atau, kondisi di mana kamu bersama seseorang (atau beberapa) in a way that provides friendship and enjoyment. Company itu tidak harus lawan jenis dalam konteks romantis. Rasa aman dan nyaman, rasa dikasihi dan disayangi, bisa didapat dari hubungan yang platonis. Itu bisa saja berasal dari keluarga, teman, atau orang-orang baru yang kamu temui. Jika sama sekali tidak ada? Make yourself the one. Be a good friend to yourself. Ini klise banget, tapi benar adanya: love yourself first before you love others.

Ada quote seperti ini, dan saya pikir, ini benar banget :

If you arent ready falling in love, so don’t do it.

Bukan hanya kamu akan merasa "tidak nyaman" saat bersamanya, atau tetap merasakan kesepian, tapi ini juga tidak adil baginya. Kita tidak berniat mempermainkan perasaannya, but actually we did it. So, just don't. Ini tidak adil baginya.

Melepasnya mungkin susah pada awalnya. Kamu merasa bersalah, sekaligus tidak menginginkan hubungan yang kamu jalani. Kamu akan kehilangan orang yang peduli padamu. Kamu akan kadang-kadang mengingatnya. Tidak ada lagi yang mengucapkanmu selamat pagi,  goodnight, dan i love you. Notifikasi pesanmu akan jarang berbunyi. Lalu, kamu merasa kehilangan dia.

Tapi, itu jebakan kedua. Kamu merasa seolah, mungkin, kamu perlahan telah menyukainya. Kamu membutuhkannya, dan kamu menyesal. Tapi jika kamu benar-benar menyukainya, kenapa ada perasaan tidak nyaman itu ketika bersama? Kenapa kamu berpikir untuk mengakhirinya?

Orang seringkali begitu, terjebak lagi. Jika kamu terjebak lagi, dan memberi kesempatan pada hubunganmu, kamu akan mengalami siklus yang sama. Tidak nyaman lagi. Merasa bersalah lagi. Ingin mengakhirinya lagi. How would I know? 'Cause I did. So, please, don't take the path I've ever chosen. Semoga, kamu tidak terjebak, dan akan menemukan significant other-mu di waktu yang tepat.

 

 

You Might Also Like

0 komentar