Review Drama Korea – Itaewon Class

April 03, 2020

Judul : Itaewon Class
Penulis naskah : Gwang Jin
Jumlah episode : 16
Pemain :
Park Seojoon sebagai Park Saeroyi

Kim Dami sebagai Jo Yiseo

Kwon Nara sebagai Oh Sooah


Bercerita tentang Park Saeroyi (Park Seojoon), seorang remaja yang teguh memegang pendiriannya, idealis, dan tidak suka melihat ketidakadilan. Pada hari pertamanya di sekolah baru, Park Saeroyi melihat ketidakadilan di depan matanya, seorang anak membully anak lainnya dan guru yang melihat hanya membiarkannya. Jadilah ia memukul si pembully, Jang Geunwon, yang tidak lain adalah anak dari bos ayahnya, pemilik perusahaan makanan nomor satu di Korea. CEO Jangga. Karena hal itulah, Saeroyi harus berhadapan dengan ayah Geunwon, Jang Daehee, yang menyuruhnya berlutut dengan begitu ia akan dimaafkan.

Park Saeroyi menolak berlutut, karenanya pula, ia dikeluarkan dari sekolah dan ayahnya dipecat dari perusahaannya. Ayahnya menjadi pengangguran, dirinya dikeluarkan dari sekolah, tapi mereka baik-baik saja. Lantas, di mana konflik ceritanya bermula?

Turning point-nya terjadi ketika Ayah Saeroyi meninggal dalam sebuah tabrak lari.

Pelakunya dikenali oleh teman Saeroyi, Oh Sooah (Kwon Nara), yang tidak lain adalah Geunwon. Kalap, Saeroyi memukuli dan nyaris membunuh Geunwon. Untuk itu, ia harus membayar hukuman penjara selama tiga tahun. Sementara kasus kematian ayahnya dimanipulasi sehingga Jang Geunwon dinyatakan tak bersalah dan terbebas atas segala tuduhan.

Setelah keluar dari penjara, tujuh tahun kemudian Saeroyi mendirikan sebuah kedai di daerah Itaewon. Ia bertekad untuk mengalahkan dan menghancurkan Jangga, dan menjadi perusahaan nomor satu makanan di Korea Selatan.

-

Saya nonton drama ini karena: 1) Pemerannya Park Seojoon, 2) Taehyung ngomongin soal drama ini di Weverse dan 3) tertarik setelah lihat trailernya.

Dan pada akhirnya saya bilang, ini nggak mengecewakan. It was really worth my time! Yaay!

Saya bingung mau mulai dari mana, jadi saya putuskan dari : pada saat saya nulis review ini, saya sudah nonton episode awal dua drama lain, Hotel Del Luna sama Arthdal Chronicles (iya tahu, telat banget baru nonton) dan saya bisa bilang, dibanding keduanya, Itaewon Class lebih cepat menarik perhatian saya sejak episode pertama. Bukan berarti kedua drama yang saya sebut enggak bagus. Hanya saja, dari segi plot Itaewon Class lebih bikin saya penasaran, simpati sama karakternya, dan 'masuk' ke ceritanya. Karena kedua drama pembanding yang saya sebut sebenarnya genrenya lebih ke fantasi, jadi ini enggak aple to aple, sih, tapi susah jelasinnya kalau enggak ada pembanding. Ya sudahlah. Ditambah cliffhanger alias akhiran yang gantung  bikin penasaran untuk secepetnya nonton episode selanjutnya.

Pada episode pertama, kita sudah dikenalkan dengan konfliknya dan apa tujuan protagonisnya. Plotnya berjalan dengan mulus, emosional, dan ... lumayan tragis. Ngomong-ngomong, drama ini adalah adaptasi dari sebuah komik berjudul sama. Saya enggak baca komiknya, jadi, saya bakal cuma bahas dramanya dan enggak bisa membandingkan sama versi komiknya.

Episode awal didominasi momen Saeroyi-Sooah. Sooah adalah salah satu anak panti asuhan yang dibiayai perusahaan Jangga, dengan Ayah Saeroyi sebagai orang yang menanganinya. Sooah sangat dekat dengan Ayah Saeroyi.

Di awal episode ini, kita diperlihatkan kedekatan kedua tokoh, seolah Saeroyi dan Sooah adalah main couple-nya. Saeroyi juga naksir Sooah. Tetapi di episode selanjutnya, Sooah pada akhirnya memilih bekerja di Jangga, yang tidak lain adalah perusahaan yang ingin dihancurkan Saeroyi.

Banyak yang benci karakter Sooah karena hal ini, ia dianggap berkhianat pada Saeroyi, padahal, ia melakukannya hanya untuk survive, dan menjadi realistis. Jadi, saya enggak sebel-sebel amat sama dia, sih.

Lalu, pada episode selanjutnya, kita dikenalkan dengan Jo Yiseo, protagonis wanita utama kita. Ia genius, borderline sochiopat, nggak ngampang nyerah, dan ... egois (banget). Jadi, apa perannya di sini?

Dia manager Danbam (kedai yang didirikan Saeroyi di Itaewon) dan dia suka sama Saeroyi. Saya agak kaget karena, ternyata ceritanya Saeroyi sama Yiseo ini selisih umurnya sepuluh tahun. Jadi, dalam timeline cerita itu, Saeroyi berumur 30 tahun dan Yiseo 20 tahun (baru tamat SMA kalau di Korea, dan lagi proses masuk PTN). Agak jarang untuk main couple di sebuah drama. Tentu aja Saeroyi pada awalnya cuma menganggap Yiseo enggak lebih dari partner kerja dan seorang adik. Hingga episode-episode kesekian menjelang akhir bahkan hubungan mereka enggak ada kemajuan, sampai saya ngira couple ini agak hopeless gitu.
Awalnya, Yiseo mendekati Saeroyi hanya karena tertarik, lalu sadar ia jatuh suka, dan jatuh cinta. Demi kerja jadi manager di Danbam, Yiseo rela enggak lanjut kuliah dan berselisih sama ibunya. Bucin terdeteksi!

Normalnya, saya enggak suka karakter yang driving force-nya tuh cinta, tipe-tipe yang bucin begitu, tapi karena Yiseo punya hal lain dalam karakternya yang lebih dari sekedar bucin yang enggak jelas dan dia enggak menye-menye gitu, jadi ya ... saya enggak begitu terganggu.

Sooah dan Yiseo, dua karakter ini punya kesamaan. Sama-sama menyukai Saeroyi. Sama-sama egois. Sooah melarang Saeroyi menyukainya, bekerja di perusahaan kompetitor Saeroyi, tetapi ingin bersama Saeroyi.

Ia memberi batas antara dirinya dan Saeroyi, tetapi tidak ingin Saeroyi menyukai orang lain. Ia mau hidupnya enak dengan kerja di Jangga (yang mana memang realistis), tidak mau berjuang bersama Saeroyi, tapi mau diperjuangkan oleh Saeroyi. Sementara Yiseo, seperti yang saya bilang, dia digerakkan oleh rasa cintanya. Ia berjanji membuat Saeroyi lebih dari sekedar pemilik kedai, membuat Danbam sukses, tapi caranya terkadang kejam, dan enggak peduli perasaan orang lain selagi tujuannya bisa tercapai. Ia yakin bahkan tanpa kuliah, ia bisa mendapatkan keduanya; kesuksesan dan cinta. Ada momen-momen di mana saya ngerasa egoisnya karakter Yiseo ini lumayan nyebelin, tapi itu juga poin plusnya, dia punya kelemahan yang emang beneran kelemahan. Bukan cuma dibilang kelemahannya dia adalah ini dan itu, yang jatuhnya kayak humblebbraging doang.

Sebagai dua karakter utama wanita, saya suka bagaimana mereka digambarkan dalam drama. Keduanya bukan karakter yang kayak malaikat, mereka punya cacatnya sendiri-sendiri yang bikin mereka kelihatan manusiawi. Ada scene flashback yang saya suka banget tentang mereka. Yang pertama saat flashback Sooah semasa sekolah, SMP, waktu Sooah ngerusak barang-barang temannya. Padahal temannya ini super baik ke Sooah, karena kasihan setelah tahu bahwa Sooah enggak punya orang tua dan anak panti asuhan. Sooah justru enggak menganggap itu sebagai kebaikan, ia enggak mau dikasihani. Yang kedua, flashback saat Yiseo kecil lomba lari dan ia main curang. Ia mendorong temannya sampai jatuh agar ia bisa menang. Ia adalah pribadi yang enggak mau kalah. Mereka jauh dari tipikal protagonis cewek yang baiknya kayak malaikat ataupun jahatnya keterlaluan. Saya suka bagaimana mereka digambarkan dengan sifat-sifat yang seringnya cuma dimiliki oleh antagonis dalam sebuah cerita.

Karakter adalah hal yang paling suka dari drama ini, selain plotnya yang bagus dan akting jempolan pemainnya. Bisa dibilang, bagi saya, enggak ada karakter yang bikin saya kesal atau enggak suka banget. Karakternya enggak dangkal dan punya porsi sendiri untuk bersinar. Enggak sekadar tempelan aja, lah. Bahkan antagonis utama cerita ini (Jang Daehee, ayah Geunwon) nggak segitu nyebelinnya.

Poin plus lainnya, lewat karakter-karakter ini, Itaewon Class menyisipkan topik-topik yang tabu dibahas di Korea (termasuk Indonesia, dan mungkin negara-negara Asia lainnya).

formasi awal Danbam


Karakter utamanya sendiri adalah siswa dropout, juga mantan napi. Saeroyi punya lima karyawan termasuk Yiseo di dalamnya. Yiseo adalah penderita mentall ilness, waktu SMP ia didiagnosa borderline sociopath, dan di episode paling awal, ada scene di mana dia lagi konseling sama psikiater. Lalu Ma Hyunyi, koki transgender yang menabung hasil kerjanya untuk operasi kelamin menjadi perempuan. Saya agak kaget ada drakor yang mau mengangkat isu yang sangat sensitif kayak gini. Lalu Kim Toni, blasteran Afrika-Korea, yang harus terus-terusan meyakinkan orang lain bahwa dirinya orang Korea karena ayahnya seorang Korea meski fisiknya seperti orang Afrika. Adanya aktor berkulit hitam di drama ini jadi kayak angin segar, mengingat orang korea itu pemuja kulit putih (buktinya bisa dilihat pada foto-foto idol yang tersebar kulit mereka kelihatan putih mulus, flawless banget, dan kelihatan enggak manusiawi karena fotonya di-whitewashing sama fansite) dan (enggak semua, tapi) kebanyakan rasis sama black people. Drama ini juga menyoroti bagaimana rasisme yang diterima Toni, seperti bagaimana dia tidak diperbolehkan ke bar karena ia dianggap orang asing. Atau bagaimana orang-orang menganggap semua bule pasti bisa bahasa Inggris, sedangkan ternyata Toni tidak bisa. Saya yakin kayaknya orang Indo juga selalu berpikiran sama, bule = ngomongnya Bahasa Inggris.

Banyak hal-hal bagus di drama ini, yang kalau saya sebutin jatuhnya fangirling. Salah satu yang paling saya suka waktu scene pertama kalinya Saeroyi ke Itaewon dan dia lihat banyaknya orang dari berbagai negara, budaya, ras, melebur jadi satu di jalanan dalam festival halloween. Padahal ini drama, tapi vibes-nya kayak film. Pekerja industri di sana kalau bikin drama emang effort-nya nggak nanggung-nanggung, sih.

Meski semua aspek dalam drama ini sudah bagus (banget, malah), tapi tetep aja ada yang ngeganjel. Seenggaknya bagi saya, beberapa hal ini agak ngeganjel :

Hubungan antara pendiri Jangga dan investor pertama Danbam yang ternyata adalah *tiiiit* (sensor) kurang subtle aja. Kayak sedikit dipaksakan. Lalu di episode menjelang akhir, kenapa ini kayak tiba-tiba jadi romance, ya? Bukan jelek, sih, lebih kepada ganjel aja. Jujur aja, saya juga suka kok chemistry-nya Saeroyi-Yiseo. Roman mereka enggak membosankan (sebagaimana Extraordinary You, serius).

Lalu saya mau enggak mau harus bawa-bawa ini, episode akhir cukup mainstream dan (entah gimana) mengingatkan saya pada sinetron-sinetron yang pernah saya tonton di zaman jahiliyah. Di episode akhir, ada adegan penculikan, nyelamatin orang terus diri sendiri yang ketabrak, lalu dengan kekuatan super (baca : cinta) bisa bangun dari keadaan kritis, berantem sama dalang penculikan head to head. Tentu aja pengemasannya enggak kaya sinetron, tapi, yah... mengingatkan saya sama sinetron. Mungkin ini yang bikin saya agak  ... kurang puas sama akhir cerita ini. Karena Itaewon Class dibuka dengan segala hal yang berbeda (bisa dibilang antimainstream). Sebut saja protagonis yang DO dari sekolah dan mantan napi, cewek sosiopat, dan bahkan transgender, tapi berakhir dengan hal-hal yang mainstream. Jadi, yah, ... agak disayangkan?

Overall, drama ini cocok ditonton, literally, semua kalangan yang suka drama dengan plot yang rapi, oke, karakter-karakter yang unik, dan porsi romansa yang enggak begitu banyak. Recommended!

Ps. Ini agak enggak penting si, tapi (saya baru nyadar, telat amat), sebagaimana sinetron, drama korea punya klisenya sendiri; dijotos/ditamparnya di manapun, yang luka bagian bibir. Hm... (Kayak sinetron yang ketabrak, kejungkal, atau cuma kejedot, yang diperban bagian kepala dikasih betadine biar kayak darah rembesan gitu).

Bonus :


8,75 buat drama ini!


You Might Also Like

0 komentar