Pages

facebook linkedin twitter youtube

A Dreamer

If you can't explain it simply, you don't understand it well enough - Albert Einstein

    • Home
    • Review
    • Opini
    • Prakerin
    • Karya

    Review Doom At Your Service

    poster doom at your service
    Continue Reading


    Beberapa hari yang lalu, saya menghadiri acara pernikahan teman. Saya pergi dengan sepupu saya sehabis kerja. Dalam acara tersebut, saya berakhir satu meja dengan salah satu orang yang pernah membuat kepercayaan diri saya terjun ke titik paling dasar di masa sekolah.

    Komentarnya soal fisik saya pernah membuat saya insecure parah. Menangis selama satu jam lebih. Dan lebih dari apapun, membenci wajah saya di kaca sekaligus berharap ada keajaiban bahwa saya dapat mengubah salah satu fitur wajah saya. Wanna know the worst part? I once had a crush on him.

    Ia adalah salah satu orang yang membuat saya hingga detik ini enggan memasang wajah saya sebagi foto profil sosia medial saya, baik platform yang terbuka seperti Facebook hingga WhatsApp. Alasan yang sama mengapa saya enggan berfoto dengan grup teman saya. Separah itulah ketidakpercayaan diri saya.

    Normalnya, jika saya entah bagaimana berpapasan dengannya di jalan, saya akan memilih pura-pura tidak melihat dan tidak mengenalnya. Atau yah, memasang wajah tidak bersahabat. Tetapi saya tidak bisa melakukannya kali ini, kan?

    Kami duduk berlima, enam dengan calon pengantin. Awalnya saya hanya bicara dengan kedua teman saya yang juga mengenalnya, berpura-pura seolah dia tidak ada dan bersikap dingin. Dia duduk dan bicara dengan satu teman lelakinya, yang juga teman sekolah saya. Aneh rasanya kami berada dalam satu meja yang sama, pernah satu sekolah dan bermain bersama, tapi canggung satu sama lain.

    Saya kemudian bertanya dan mengajak teman lelakinya bicara tapi tidak dengannya. Beberapa kali, saya tahu bahwa dia berusaha memasukkan saya dalam obrolan juga. Dia  juga berusaha melucu.

    Sampai saya menyadari, ia tidak ingat perkataanya terhadap saya. Bullying verbal yang dilakukan selama sekolah itu, yang dikatakannya saat bercanda itu, ia tidak tahu dampaknya pada saya. Barangkali, ia bahkan tidak ingat pernah mengatakannya.

    Itu sangat tidak adil, kan? Saya menderita dan masih berjuang hingga saat ini soal kepercayaan diri saya karena sebuah perkataan yang bahkan tidak lagi diingat olehnya. Untuk sekedar menatapnya, semua perkataannya muncul kembali dan saya merasa tidak berguna. Dia duduk di sana bercanda dengan kasual memainkan peran teman lama, tertawa di depan saya. Ia juga merasa biasa saja, merasa barangkali kami hanya teman masa sekolah dan dengan mudah berusaha membangun komunikasi.

    Tetapi di satu sisi, saya jadi bertanya-tanya. Apa yang sudah saya lakukan selama ini? Membenci seseorang yang bahkan tidak ingat apa-apa soal perkataannya? Menginvestasikan waktu dan energi saya mendendam kepada seseorang yang tidak ingat perbuatannya?

    Perasaan saya campur aduk. Saya terus merasa tidak adil dan dalam waktu bersamaan mulai memahami dan berdamai.

    Kami masih kecil saat itu, dan baginya, itu adalah sebuah candaan. Saya tidak membenarkan perbuatannya dahulu, tetapi saya jadi mulai memikirkan sesuatu, saya juga barangkali pernah melakukan hal yang sama. Di masa kecil, saya pernah mengolok seorang anak "banci" karena gayanya yang feminin untuk seorang anak laki-laki. Saya tidak ingat lagi kenapa saya melakukannya atau apa alasan yang mendasarinya.

    Baginya, mungkin, perkataan saya menyakitkan. Perkataan saya mungkin diingat terus olehnya. Baginya, saya mungkin adalah "orang jahat"nya. Karena ucapan yang saya katakan begitu saja.

    Malam itu, hampir di penghujung waktu saya hendak pulang. Obrolan di meja kecil kami mulai mencair. Saya memasukkannya dalam percakapan. Malam itu, saya memutuskan bahwa jika saya bertemu lagi dengannya, paling tidak saya tidak akan bertingkah seolah saya tidak melihatnya, saya barangkali akan menyapa.

    Apakah saya memaafkannya? Memaafkan rasanya bukan kata yang tepat, karena hanya sayalah yang merasa terluka dan merasa tindakannya salah. Saya mencoba berdamai. Dengan diri saya sendiri. Dengan salah satu akar dari insekuritas saya.

    Saya tidak tahu bagaimana tepatnya terlahir keputusan ini. Barangkali bahwa saya merasa mendendam akan menyia-nyiakan energi saya.

    Barangkali juga karena saya sadar bahwa dia telah berubah, begitu juga saya. Dia menjadi sopan, jauh lebih sopan dari kali terkahir saya pernah bertemu. Atau barangkali karena saya merasa bahwa saya pernah membuat kesalahan yang sama.

    Mungkin juga karena waktu telah lama berlalu. Waktu mungkin mendewasakan saya. Waktu menyembuhkan.

    Waktu juga membuat saya perlahan memperoleh kepercayaan diri. Saya masih dan terus belajar mencintai diri saya, fisik saya, kelebihan dan kekurangan saya.

     

     

     

     

     

    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    About Me

    Photo Profile
    Tri!

    Pelajar tingkat akhir SMK. Hobi membaca dan (kadangkala) menulis baik fiksi maupun nonfiksi. Blog ini adalah tempat saya menjaga kewarasan dengan mempublikasikan pemikiran-pemikiran yang sulit didiskusikan dengan orang-orang di sekitar saya.

    Contact Me

    • facebook
    • twitter
    • bloglovin
    • youtube
    • pinterest
    • instagram

    Labels

    Review cerpen opini prakerin

    Blog Archive

    • ►  2017 (1)
      • ►  Desember (1)
    • ►  2018 (19)
      • ►  Januari (2)
      • ►  Februari (2)
      • ►  Maret (4)
      • ►  April (4)
      • ►  Mei (3)
      • ►  Juni (1)
      • ►  Juli (1)
      • ►  Agustus (2)
    • ►  2019 (6)
      • ►  Mei (3)
      • ►  Juni (1)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  November (1)
    • ►  2020 (4)
      • ►  Januari (1)
      • ►  Maret (1)
      • ►  April (1)
      • ►  Mei (1)
    • ▼  2021 (17)
      • ►  Januari (3)
      • ►  Februari (3)
      • ►  Maret (3)
      • ►  April (2)
      • ►  Juni (1)
      • ▼  Juli (2)
        • Time Teaches You Some Things to Let Go
        • [Review Drakor] Doom At Your Service (2021)
      • ►  Oktober (2)
      • ►  Desember (1)
    • ►  2022 (26)
      • ►  Januari (1)
      • ►  Februari (1)
      • ►  Maret (1)
      • ►  April (2)
      • ►  Mei (2)
      • ►  Juli (2)
      • ►  November (8)
      • ►  Desember (9)
    • ►  2023 (7)
      • ►  Januari (2)
      • ►  Februari (1)
      • ►  Mei (1)
      • ►  Oktober (3)
    • ►  2024 (4)
      • ►  Januari (1)
      • ►  Mei (2)
      • ►  Agustus (1)
    facebook Twitter instagram bloglovin google plus

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top