[Review Drakor] All Of Us Are Dead — Kiamat Zombie di Sekolah (2022)
Februari 16, 2022Genre : Survival, Thriller
Jumlah Episode : 12 Episode
Pemeran :
| Dari kiri ke kanan, Yoo In-Soo sebagai Yoon Gwinam, Park Ji-Hoo sebagai Nam Onjo, Yoon Chan-Young sebagai Lee Cheongsan, Cho Yi-Hyun sebagai Choi Namra, Park Solomon sebagai Lee Suhyeok |
Kisah dimulai dengan Lee Byeongchan, seorang guru sains SMA yang menciptakan formula untuk memperkuat stamina tubuh yang ia percobakan pada putranya sendiri. Putranya adalah korban bullying parah di sekolah. Harapannya adalah sang putra dapat melawan para pembully-nya. Namun, formula ini menjadi tak terkendali dan mengubah putranya menjadi zombie. Rentetan kejadian wabah zombie kemudian dimulai saat seorang siswi tergigit hamster percobaan Lee Byeongchan, ia menyebabkan kasus infeksi zombie pertama di sekolah. Dan dalam sekejap, wabah zombie hampir menguasai seluruh kota. Sekelompok siswa yang terjebak di sekolah yang telah dipenuhi zombie mencoba bertahan dan keluar dari sekolah.
Beda dari kisah zombie lainnya, All Of Us Are Dead fokus pada virus zombie yang menyebar di sebuah sekolah dan bagaimana sekelompok murid berjuang untuk keluar dan bertahan hidup. Settingnya bisa dibilang 80% di sekolah, dan mereka praktis syuting dengan seragam sekolah dari episode satu sampai sebelas.
Dari segi cerita wabah zombie sendiri, All Of Us Are Dead tak menawarkan sesuatu yang baru, meski begitu nggak berarti lantas ceritanya tidak cukup bagus untuk ditonton. Worth it, kok, guys! Zombie dari cerita ini bermula dari eksperimen guru sains SMA Hyosan, yang anaknya mengalami bullying parah sampai mau bunuh diri. Ia menciptakan formula agar anaknya dapat melawan para pembully-nya, dengan hamster sebagai bahan percobaan. inilah awal mula virus yang menyebar. Jujur, ini agak maksa, sih. Seorang ilmuwan gagal yang anaknya kena bully menciptakan virus! Agak sulit dipercaya. Lalu, setelah tergigit virus ini dapat mengubah seseorang menjadi zombie dalam hitungan beberapa detik.
Well, tapi memang bagaimana awal virus bermula atau bagaimana caranya untuk menghentikan pergerakan wabah ini bukan fokus utama cerita, so yeah, dapat dimengerti kalau memang nggak begitu ditonjolkan. Nadi cerita ini ada pada perjuangan anak-anak SMA Hyosan untuk keluar dari kiamat zombie. Jadi, bisa dibilang nafas utama cerita juga karakternya.
Nah, saya mau bahas karakternya. Terutama para karakteryang kebagian banyak porsi tampil. Karakter utama All Of Us Are Dead adalah Onjo dan Cheongsan, yang sudah bersahabat dari kecil, tapi si Cheongsan-nya naksir Onjo gitu. Sementara Onjo naksir temannya Cheongsan, Suhyeok.
Saya nggak ada masalah dengan karakter Cheongsan, ia digambarkan dan diperankan dengan baik. Ia selfless, rela berkorban, berani, tetapi cukup manusiawi untuk mengalami breakdown dan bahkan menangis waktu putus asa. Sementara Onjo ini karakter yang lumayan beban, apalagi di awal-awal episode. Bucin, enggak peka. Di episode pertama dia ini tipe damsel in distress sekali, yang eksis untuk diselamatkan si tokoh cowok. Bayangkan, ada zombie bukannya lari malah planga-plongo sampai Cheongsan datang menyelamatkan dia.
Sebagai karakter utama, mereka berdua juga karakter yang hampir selalu kebagian porsi drama dan sedih-sedihan di series ini, meski jujur saja dramanya kadang salah tempat dan nggak ngena, yang akan saya bahas lebih lanjut di bawah.
Lalu ada Namra, si ketua kelas, pendiam, dan sukanya belajar. Sebagai salah satu tokoh cewek sentral, ia nggak membuat saya kesal seperti karakter Onjo. Saya nggak ada masalah sama karakternya, kecuali gimana gemasnya saya tiap kali dia nggak segera bantu teman-temannya dengan kekuatannya, dan justru di shoot belakangan.
Suhyeok, cowok yang ditaksir Onjo. Awalnya saya nggak ada masalah, sampai saya sadar Suhyeok itu semacam karakter Gary Stu di novel. Too good to be true. Dia supel, mudah bergaul, jago berkelahi, mau berkorban, pemberani, setia kawan dan setia kekasih alias bucin, macam enggak punya rasa takut, dan nggak ketinggalan fakta bahwa dia ganteng! Dari segala yang saya sebutkan, sama sekali nggak ada minusnya. Bahkan Suhyeok tidak diberi latar belakang karakter yang cukup, seperti ayah, ibu, atau keluarganya. Ia seolah ada di sana untuk dipuja-puji sebagai karakter pendukung yang sempurna.
Meski saya juga enggak akan menampik, saya menikmati porsi romance antara Namra-Suhyeok, melebihi Cheongsan-Onjo. Sejujurnya, Cheongsan dan Onjo memang nggak punya cukup kemistri untuk porsi romansa mereka.
Untuk sebuah drama zombie, visualisasinya bagus. Jika dibandingkan dengan drama bertema sama yang lebih dulu tayang, Happines, visualisasi zombie di All Of Us Are Dead jauh lebih baik dan meyakinkan. Adegan penyerangan zombie pun lebih ganas dan agak brutal. Salah satu adegan bahkan menampilkan Zombie yang memakan sampai jeroan manusianya berhamburan.
Pada setiap episode juga hampir selalu diakhiri dengan ending gantung, yang bikin kita penasaran dengan nasib karakter dan mau enggak mau lanjut nonton terus. Eksekusi adegannya bagus hingga kadang saya ikut ngos-ngosan sendiri. Hanya saja, porsi bumbu drama di series ini kadang too much dan salah tempat. Terlalu banyak karakter yang dibuat untuk pion plot: berkorban demi karakter lain untuk membuat suasana sedih dan mengharukan.
Berikut saya uraikan kekurangan series ini, tapi peringatan saja, sih, mungkin mengandung major spoiler pada plotnya.
Kekurangan All Of Us Are Dead
- Porsi Drama Salah Tempat
Kejadian? Lumayan sering. Seperti membicarakan soal perasaan sewaktu berada di luar, hanya berpegangan pada jendela.
Lalu, saya enggak ngerti kenapa harus dua karakter utama (Cheongsan-Onjo) yang selalu dapat porsi bagian sedih menyayat hati. Seperti sahabat baiknya jadi zombie, lah. Kedua orang tunya juga jadi zombie, lah.
Dari sini, skip saja langsung ke nomor dua kalau nggak mau kena major spoiler!
Terutama saya mau bicara soal bapaknya Onjo. Hadeh, bukannya ikut sedih saya malah mau maki-maki plot-nya. Ayah Onjo adalah seorang pemadam kebakaran. Untuk sampai ke sekolahnya Onjo, bapaknya perlu melawan segerombolan zombie, menyeberangi lautan, dan menghindari seribu peluru (dan ini bukan kiasan guys). Alias beneran kejadian. Dia juga hampir dibunuh, jatuh terperosok, tapi masih sanggup selamat dan ketemu Onjo, berpelukan kayak Teletubbies, hanya untuk mati tidak lama kemudian atas nama berkorban. Mending kalau pengorbanannya ini masuk akal, lah. Ini tuh berasa sekali dipaksakannya.
Bukan hanya karakter Bapaknya Onjo, tapi beberapa karakter lain tuh kematiannya seolah dipaksakan "berkorban" demi orang lain biar ada scene sedihnya. Banyaknya scene berkorban ini sendiri malah membuat celah untuk dinista--nggak, maksudnya plot hole.
Ada inkonsistensi juga pada series ini, di mana awalnya mereka berkumpul dan saling melindungi, anehnya saat dua karakter pendukung lain akhirnya berpisah jalan dengan mereka dan berujung mati, nggak ada yang mempertanyakan. Mereka nggak disebut-sebut lagi, yang mana aneh sekali. Seolah mereka karakter yang nggak begitu penting banget untuk diingat atau barangkali sutradaranya lupa ambil scene mereka.
- Kemunculan Gwinam yang Repetitif
Gwinam ini karakter antagonis utama. Awalnya ia adalah tukang hajarnya geng pembully, lalu saat wabah zombie menyerang, dia lebih mirip seperti psycopath. Saat berkelahi dengan Cheongsan, Gwinam akhirnya tergigit zombie. Tapi bukannya jadi zombie betulan, virus di tubuhnya justru berevolusi dan menjadikannya setengah manusia-setengah zombie. Ia masih sepenuhnya punya akal, hanya saja mempunyai kekebalan tubuh yang luar biasa. Masalahnya adalah Gwinam yang tiba-tiba mengincar Cheongsan untuk dibunuh setelah Cheongsan memprovokasinya sebagai pengecut pelayan bully ini terkesan lumayan dipaksakan. Bukan itu saja, perkelahiannya untuk mengincar Cheongsan ini repetitif sekali dengan scene mirip-mirip. Polanya adalah ia muncul, menemukan Cheongsan, berkelahi, lalu terlempar dari atap lah, dari ketinggian, lalu dia tidak mati, bangkit lagi, cari Cheongsan lagi. Hal itu sendiri terulang sampai tiga kali!
Dibandingkan harus mengulangi tiga kejadian yang sama, saya malah akan lebih senang jika Gwinam duel dengan Eunji, yang virusnya juga berevolusi sama sepertinya. Eunji adalah mantan siswi yang pernah dibully Gwinam. Saya mengharapkan mereka entah gimana ketemu, tapi nyatanya enggak ada.
- Kemunculan Karakter yang Tidak Relevan Dengan Cerita
Bukan sepenuhnya enggak relevan sih, tapi porsi kemunculan mereka bagi kemajuan plot itu kecil sekali atau impact-nya biasa saja, sehingga terkesan seperti buang-buang screentime. Contohnya salah satu murid yang hamil dan melahirkan, kemudian dia jadi mengikat dirinya agar tidak menggigit bayinya setelah berubah menjadi zombie. Peran untuk pergerakan plot? Tidak ada, kecuali mendukung pernyataan Guru sains yang kira-kira berkata bahwa tidak ada orang tua yang akan meninggalkan anaknya. Lalu si detektif dan rekannya. Mereka memang punya peran bagi plot, tapi dibanding satu peran itu, kehadiran mereka lebih seperti tukang ngocol alias mengisi slot komedi untuk drama suram ini. Jujur saja, backsound music yang beralih tiba-tiba ceria dan komedik saat dua orang ini muncul kadang berasa salah tempat dan dipaksakan.
Overall, All Of Us Are Dead mungkin punya banyak kekurangan di sana-sini, tidak menghadirkan sesuatu yang baru untuk tema kiamat zombie, tapi tetap sebuah tontonan yang layak untuk diikuti!
0 komentar