Pages

facebook linkedin twitter youtube

A Dreamer

If you can't explain it simply, you don't understand it well enough - Albert Einstein

    • Home
    • Review
    • Opini
    • Prakerin
    • Karya

     


     

    So, i have finally finished reading Lockwood and Co. series! Probably, a week ago. Such a fun and wonderful journey! Sudah lama banget dari terakhir saya bisa bergadang karena sebuah buku, saking bagus dan penasarannya. Saya juga baca series ini tanpa jeda. Tamat satu buku berlanjut ke buku berikutnya. It just explains how good these books are.

    Favorit saya adalah buku kesatu dan ketiga. Saya harus minta maaf sebelumnya, karena ini bukanlah review tapi hanya tanggapan *uhuk* fangirling *uhuk* setelah saya selesai baca series-nya. Karakternya lovable semua! Even Mr. Barnes dan Quil Kipps! Of course, Lockwood is my favorite.

    Nah, Lockwood & Co adalah sebuah agensi yang mengurusi wabah hantu, yang merupakan agensi paling kecil di London. Jumlah operatifnya hanya tiga orang. Dipimpin oleh Anthony Lockwood (sesuai nama agensinya), dengan anggotanya: Lucy Carlyle (spesialis bicara sama hantu), George Cubbins (spesialis riset), dan nantinya Holly Munro (yang muncul belakangan sebagai anggota tambahan di buku ketiga). Mereka tinggal di Portland Row, rumah tinggalan orang tua Lockwood. Kerjaan utama mereka termasuk mengamankan dan membersihkan sebuah lokasi dari hantu.

    Well, itu sinopsis versi singkatnya, karena series novel ini lebih dari sekadar itu. Dan setelah berhasil merampungkan seluruh buku ini, banyak hal baru yang bisa saya pelajari—in a way, bisa saya gunakan kalau saya menulis novel. Hehe. So here are things I've learned after reading this book:

     

    • Nggak perlu banyak karakter untuk bikin cerita yang epik! Sekaligus gimana cara bikin karakter yang lovable!

    Karakter utamanya cuma dua—tiga deh dengan George. Karakter pendukung dan yang terlibat juga enggak banyak. Dibanding series lain macam Percy Jackson atau Harry Potter atau bahkan The Reckoners trilogy-nya Om Brandon Sanderson, series ini tokoh-tokohnya dikit. Walau emang nggak banyak karakter, tapi Om Stroud ternyata membuktikan kalau justru banyak ruang untuk para karakternya dicintai pembaca. Seriously I love all the characters!

    Lockwood dan pesonanya berulang kali ditekankan pada series ini. Saya sih setuju. He is indeed charming. Ini bukan sekadar deskripsi kosong melompong lho, karena bagaimana karakter Lockwood digambarkan, pesonanya emang seolah keluar dari buku tepat di depan mata saya! Haha. He is a good leader, brave (in other word: reckless).  Kalem, sedikit manipulatif dengan senyumnya, punya energi yang bisa menulari rekan-rekannya. Tidak takut mengorbankan diri. And i can guarantee, it's not merely an empty description, penggambaran gimana ia bertindak, berpikir, memang mencerminkan sifat-sifat itu.

    Dan George! Ya ampun, saya suka banget kalau dia sudah mulai sarkas! Especially ke Lucy, apalagi Kipps! Gimana walaupun dia digambarkan not that interesting in terms of appearance, he really steals me away from Lockwood sometimes (halah!) Kecintaan dan kegilaannya pada riset dan wabah hantu juga salah satu penggerak plot. Kontribusi terbesarnya ada di buku tiga sejujurnya, salah satu favorit saya! Dia tuh nerdy secara penampilan tapi otak encer dab bukan tipe yang pendiam, malah nyalak kalau diganggu.

    And Lucy, she is so relatable (at some point, i guess, cause of course i'm not that brave like she is, and I can't use rapier). Kita dibawa menggali karakternya, emosinya yang tercermin. And i love that she has insecurity, especially about her appearance. Itu kayak normal banget untuk anak perempuan. I admire how she fight back, how brave she is, tapi tetap dia digambarkan juga punya ketakutan.

    Hanya lumayan disayangkan saya berasa kayak kadang dia tuh kurang spotlight dibandingkan George-Lockwood. Sampai saya pun bingung harus menuliskan apa. Tapi di buku keempat, saat dia dikejar-kejar untuk dibunuh, seolah di buku itu she was blooming on her character and I love that!

    Sebenarnya, kalau diteruskan saya bisa sebutin semuanya. Holly! Kipps! Mr. Barnes! Dan oh, si Skull alias Tengkorak (sebagian besar tawa readers keluar karena kontribusinya).

    Ini random banget, tapi awalnya (sebelum benar-benar baca buku ini) saya kira Lockwood itu tokoh yang sudah berusia om-om wwkwk. Yah soalnya, dia kan pemimpin agensi tempat Lucy bernaung, jadi saya kira ... paling nggak usianya dua puluhan sekian. Saya juga nggak tahu ini masuknya buku anak-anak (at least target market utamanya). Makanya, saya menunda baca seri ini dari lama (bodohnya!)

    Dan btw, saya kira buku ini akan dibawakan dari sudut pandang Lockwood, atau kalau enggak bakal gonta-ganti PoV orang pertama antara Lucy-Lockwood kayak Heroes of Olympus-nya Om Rick Riordan. Tidak lain karena judulnya sendiri Lockwood & Co, ternyata seri ini murni dibawakan dari sudut pandang Lucy. But it's a good thing. Mungkin kalau dibawakan dari sudut pandang Lockwood sendiri, saya enggak bakal secinta ini  deh (huek) sama karakter Lockwood-nya.

     

    •  Bikin narasi yang padat dan nge-feel.

    Ada alasan kenapa salah satu favorit saya itu buku satu. Karena itu pertama kalinya saya berkenalan dengan trio Lockwood-Lucy-George, dan pertama kali baca gimana penulis (dalam sudut pandang Lucy) bercerita. Narasinya padat berisi, kayak benar-benar nggak buang-buang paragraf. Dan gimana narasi waktu Lucy-Lockwood menghadapi hantu Annabelle Ward, gimana manifestasi hantunya pertama muncul, waah itu berasa dan nggak disangka-sangka bikin kita kebayang. Om Stroud punya ilmu hitam entah apa sampai mudah sekali adegan-adegan itu terbayang di otak saya. Atau waktu si hantu muncul di kamarnya Lucy, atau saat mereka dikunci di kamar merah. Ah, pokoknya saya suka banget sih narasinya—btw saya baca terjemahannya, dan translatornya juga melakukan yang terbaik. 

    Ini juga yang bikin buku favorit saya selanjutnya adalah buku ketiga, di mana dalam buku ini, kita lebih fokus untuk dibawa menjelajah emosinya Lucy. Gimana dia *uhuk* cemburu *uhuk* dengan kehadiran Holly dan *uhuk* bingung sama perasaannya Lockwood.

     

    • Poin narasi dan deskripsi yang padat juga membawa kita ke poin ketiga, yaitu gimana cara bangun worldbuilding yang kece!

    Gimana genre supernatural wabah hantu ini seolah digabungkan dengan sebuah tempat fiksi yang serasa nyata ada. Portland Row, Trafalgar Square sih menurut Om Stroud memang fiksi tapi jelas banget bisa kita bayangkan dalam realitas. Lalu gimana kultur Inggris berubah setelah wabah hantu. Saya tuh sukanya worldbuilding di sini kita nggak langsung dijejalin, atau kita enggak dikasih tahu secara langsung, melainkan dari dialog-dialog, dari narasi, dibahas sepintas seolah kita tahu apa yang terjadi pada Inggris setelah adanya wabah hantu. Bukannya kita seolah didikte apa yang sedang terjadi, tapi kita dibawa menonton lewat aksi, celetukan, dan narasi bahwa inilah yang tengah terjadi. Dan itulah yang bikin worldbuilding-nya kece, karena kita diajak mengarungi dunia mereka pelan-pelan.

    Akhirnya kita akan tahu bahwa setelah "Masalah" (penyebutan lain wabah hantu) datang, anak-anak yang memiliki sensitivitas atau "bakat" berupa daya lihat, dengar, atau sentuh untuk mengetahui adanya hantu, di sana bekerja sebagai para agen (sebutan lainnya: operatif). Mereka bertugas membasmi wabah hantu. Para orang dewasa, yang tak bisa melihat, akan bersembunyi setelah hari gelap. Tidak ada kegiatan di malam hari.

    Para agen memerangi hantu dengan mengamankan "sumber", sebuah benda yang sangat berarti atau mengikat hantu ke dunia nyata—bisa berupa tengkoraknya, benda-benda kesayangan semasa hidup. Dimusnahkan lewat cara membungkus sumber dengan jaring perak, kalau tidak langsung dihancurkan.

    Karena perlunya peralatan para agen seperti rantai, suar magnesium, rapier untuk bertarung dengan hantu, banyak bisnis tumbuh besar yang produksinya adalah peralatan untuk mengahalau hantu. Para agensi diatur oleh satu badan khusus, yaitu DEPRAC.

    Selain agen dan DEPRAC, ada juga pedagang relik, yang menjual sumber-sumber berisi hantu kepada para kolektor hingga para pedagang gelap yang melelangkan sumber berbahaya.

    Semua itu jadi believable dalam dunia Lockwood dkk. Karena ada lima buku dalam series ini, seperti yang saya bilang, kita diajak mengarungi dunia mereka perlahan. Bahkan saya mulai percaya kalau suhu menurun di sekitar kita di tempat gelap, dan ada perasaan gentar dan takut yang menyerang, itu berarti ada pengunjung (read: hantu). Halah.

    Pada buku pertamanya, kita dikenalkan dengan suasana London setelah lima puluh tahun Masalah menyerang. Lalu di buku keduanya, kita mulai berkenalan dengan pedagang relik lewat karakter baru Flo Bones dan dunia para pedagang gelap relik.

    Lalu ada juga operatif lepas, agen yang bekerja secara independen, yang dikenalkan di buku ketiga. Saya suka bagaimana seluruh informasi ini diceritakan pelan-pelan dan seperlunya.

     

    • Nggak semua misteri harus dibuka.

    Bahwa nggak apa-apa untuk meninggalkan ruang bagi pembaca untuk menebak-nebak bahkan hingga buku terakhir.

    Sejujurnya ada banyak yang tidak terjawab dalam series ini (yang disengaja oleh Om Stroud). Seperti apa yang sebenarnya dilakukan dengan ektoplasma yang diambil dari hantu, apa kaitannya *uhuk* mayat Marisa Fittes dengan ektoplasmanya? Bagaimana dokter pribadinya bisa mati? Bahkan hingga hal-hal sepele seperti apa yang terjadi pada agen Lockwood sebelum Lucy? Apa yang sebenarnya terjadi dengan ramalan untuk Lucy? Apa yang sebenarnya terjadi pada si tengkorak?

    Semua itu memuaskan sekaligus tidak memuaskan. Om Stroud seolah meninggalkan semuanya untuk dianalisa pembaca. Banyak hal yang seolah sengaja dibuat tetap misteri sampai akhir. Well, come to think of it, Om Stroud juga nggak pernah mendeskripsikan dengan jelas berapa usia para tokoh kita kecuali deskripsi di buku pertama yang membuat pembaca menebak bahwa usia mereka adalah 15 tahun untuk George-Lucy-Lockwood lalu bertambah seiring setting waktu tiao buku. Dan btw, kita juga baru tahu berapa usia sebenarnya Kipps di buku kelima! Yaitu dua puluh dua tahun (wait, it's right, isn't it?). Narasi di buku sebelumnya hanya berkata bahwa ia berada di usia awal dua puluhan. Dan tidak ada narasi tentang usia Lockwood dan George kecuali bahwa Lucy pikir (di buku satu) mereka seumuran Lucy.

    Hal yang sama juga terjadi pada tahun berapa series ini berlatar. Tidak ada tanggal pasti. Tapi tidak ada smartphone, televisi pun tidak (kayaknya). Tidak ada dunia digital. Perlu informasi soal latar belakang rumah berhantu? Hantu siapa yang mendiami suatu tempat? Denah suatu lokasi? George harus pergi ke banyak perpustakaan atau kantor arsip nasional. Kepingin tahu kabar dan berita-berita teraktual? Lockwood akan membacakan koran atau majalahnya di pagi hari.


    • Gimana cara menyelipkan romance tipis-tipis tapi bikin kita invested sama perkapalan mereka.

    Of course i'm a Lucy-Lockwood and George-Flo shipper. Saya suka gimana romansa para karakter dibangun tipis-tipis, tapi malah bikin kita craving for more. Nggak ada adegan ciuman or whatsoever—iyalah, target marketnya remaja— tapi interaksinya manis gulali! Nggak ada juga narasi jelas si anu suka anu, tapi kita tetap bisa tahu. Kalau bisa saya tuh mau bikin petisi ke Om Stroud untuk bikin satu buku khusus perkapalan kita ini. 

    Saya sampai harus baca-baca fanfic atau yah apa aja bikinan fans untuk menutupi rasa haus saya sama interaksinya Lockwood-Lucy. Dan sebenarnya sampai akhir kita enggak dikasih kejelasan dong gimana hubungan duo ini selanjutnya. Dan jangan mulai sama cara Lockwood confess ke Lucy. Argh, serasa mau jungkir balik deh, saya!

    Lalu ada juga romansanya George-Flo yang hanya dibahas sepintas, implisit, tapi bikin saya nge-shipperin mereka.

     

    Dan itu adalah sedikit dari banyak hal yang saya suka dari buku ini. Saya sangat menikmati membaca series ini. Bahkan saya bacanya tanpa jeda, kelar mungkin dalam sebulan (sebulan setengah?), kurang lebih. Kalau ada hal-hal yang saya rasa kurang, well, mungkin buku kelimanya. Soalnya saya expect bakal ada battle besar di buku kelima, tapi ... endingnya nggak serame perkiraan saya, heheh. Terus saya merasa kalau villain-nya tuh gampang dikalahin gitu, padahal dia sudah mencapai sejauh itu, unggul sejauh itu, tapi yah, berakhir juga dengan mudah.

    Tapi secara keseluruhan, saya suka banget buku ini. Dan nilai keseluruhan saya bakal 4.8 dari 5!

    Continue Reading

     



    Judul : A Business Proposal

    Genre : Romance, Drama

    Jumlah Episode : 12

    Network : SBS, Netflix

    Pemeran :

    Dari kiri ke kanan: Ahn Hyo-Seop sebagai Kang Tae-Moo, Kim Se-Jeong sebagai Shin Hari, Seol In-Ah sebagai Jin Young-Seo, Kim Min-Kyu sebagai Cha Sung-Hoon

    --

    Antara A Business Proposal dan 2521, saya tonton yang ini dulu. Ceritanya soal Shin Hari, yang menggantikan sahabatnya, Jin Young Seo dalam sebuah kencan buta. Sialnya, pria yang harus dikencaninya adalah Kang Tae-Moo, presdir di tempatnya bekerja. Klise, tapi berasal dari kencan buta itu Kang tae-Moo mulai menaruh hati pada Shin Hari. Ia meminta Shin Hari jadi pacar bohongannya. Lalu hubungan yang awalnya hanya kontrak itu membuat keduanya sama-sama saling menyukai.

    Dalam A Business Proposal, kita punya dua pasangan. Shin Hari dan Kang Tae-Moo. Jin Young-Seo (sahabatnya Hari) dan Cha Sung-Hoon (sekretaris/sahabat/saudara angkat Kang Tae-Moo). Dua perkapalan kita ini hampir sama terkenalnya. Malah, saya banyak ketemu yang lebih excited ke kapal second lead.

    Sejujurnya, A Business Proposal punya semua klise yang pernah kita tonton di drama, terutama drama-drama di bawah tahun 2017. Seperti memendam cinta pada sahabat cowok selama bertahun-tahun, romansa perkantoran antara bos dan bawahan/si kaya-si miskin. Hubungan kontrak berubah jadi saling menyukai, tidak direstui oleh orang tua si kaya, lalu bumbu masa lalu gelap si main male lead lah biarpun dia kelihatan sempurna dan kaya tujuh turunan, etc. But despite all of this cliche, this drama is surprisingly good. Mungkin karena saya nggak berekspektasi tinggi ke drama ini. Nonton karena dramanya kelihatan ringan and i have zero expectation tuh ternyata membantu sekali saya menikmati drama ini secara keseluruhan.

    Karena semua hal dalam drama ini klise, hal yang dapat mengangkat drama ini agar booming—selain teori para netizen yang menyebutkan kalau banyak yang butuh refreshing dari drama-drama keluaran sekarang yang berat/bikin mikir/romance-nya tidak uwu dan minim komedi. Maka A Business Proposal kayak oasis di tengah-tengah gurun—utamanya adalah eksekusinya. Yes, A Business Proposal is well executed. Semuanya punya kadar yang pas. Drama ini memang lebih fokus ke romansa dua pasangan kita. Konflik-konflik lain seperti ketidaksetujuan keluarga si kaya dan mantan sahabat yang ditaksir tidak jadi fokus utama. And it makes this drama so wholesome, so enjoyable to watch.

    Kang Tae-Moo diceritakan punya trauma berkendara di hari hujan karena kedua orang tuanya meninggal saat hari hujan, template banget, kan? Pria ganteng, mapan, kaya, kelihatan sempurna tapi punya trauma tertentu di masa lalu. Tapi untungnya, hal ini tidak dibahas dengan bertele-tele. Kalau kalian nonton What's Wrong With Secretary Kim dan membandingkannya dengan A Business Proposal, kalian setidaknya bakal merasa eksekusi masa lalu kelam CEO di What's Wrong With Secretary Kim cukup berlebihan—dieksekusi dengan banyak bumbu kemisteriusan, tapi jadinya too much. Bagi saya A Business Proposal mengeksekusi trope itu dengan lebih baik.

    Dan saya suka bagaimana A Business Proposal membuat karakter template dari trope si kaya si miskin dengan hubungan yang sehat! Both of the pairs have a healthy relationship. Awalnya saya cukup skeptis di episode ke sekian di mana Tae-Moo meninggalkan Hari di tengah jalan saat hujan, meski akhirnya dia sendiri merasa bersalah sih, saya pikir ini bakal jadi another romance story di mana ceritanya meromantisasi karakter toxic male lead-nya (Ex : Cemburuan, posesif, mengabaikan si cewek karena suatu hal, melontarkan kata yang bikin si cewek down but portray it as something humorous atau nggak karena si cowonya tuh terlalu gengsi buat mengakui/memuji si cewek). Nah, untungnya ABP tidak jatuh pada jebakan ini.

    Kedua male lead-nya (Tae-Moo dan Sunghoon) sangat menghargai female lead. They listen to their lovers, they validate their girls' emotions. Ini jugalah poin kuat ABP. Ya ampun, kalian harus lihat gimana Kang Tae-Moo memperlakukan Shin Hari dan sebaliknya, itu gambaran hubungan yang saling menghargai dan mendukung satu sama lain.

    Saya harap banyak drama dapat mencontoh poin satu ini. Bahwa bisa saja kok bikin drama komedi romantis klise yang sehat, yang male lead-nya nggak dilekati karakter toxic seperti cemburuan dan posesif, suka marah tanpa menjelaskan banyak hal, atau suka merendahkan si cewek dalam perkataannya.

    And that two reasons are enough to make me love this drama! Selain karena romance-nya manis dan wholesome. Chemistry kedua pasangannya juga seolah meluap keluar dari layar. Drama ini juga ringan sekali, tanpa ada teori-teori berat, tanpa banyak halangan untuk kedua pasangan bersatu. Cocok untuk melepas penat sehabis kerja.

    Hanya saja di dua episode terakhir saya merasa dramanya kayak diburu-buru tamat atau sekian banyak adegan di-cut untuk dipepatkan dalam 12 episode itu. Jujur, sangat disayangkan. Kita bahkan nggak dikasih lihat dengan proper bagaimana keluarga Hari memperlakukan Tae-Moo selanjutnya, atau gimana akhirnya si kakek merestui hubungan Tae-Moo dan Hari.

    But overall, it’s a good drama. I'll give 8 out of 10

     

     

    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    About Me

    Photo Profile
    Tri!

    Pelajar tingkat akhir SMK. Hobi membaca dan (kadangkala) menulis baik fiksi maupun nonfiksi. Blog ini adalah tempat saya menjaga kewarasan dengan mempublikasikan pemikiran-pemikiran yang sulit didiskusikan dengan orang-orang di sekitar saya.

    Contact Me

    • facebook
    • twitter
    • bloglovin
    • youtube
    • pinterest
    • instagram

    Labels

    Review cerpen opini prakerin

    Blog Archive

    • ►  2017 (1)
      • ►  Desember (1)
    • ►  2018 (19)
      • ►  Januari (2)
      • ►  Februari (2)
      • ►  Maret (4)
      • ►  April (4)
      • ►  Mei (3)
      • ►  Juni (1)
      • ►  Juli (1)
      • ►  Agustus (2)
    • ►  2019 (6)
      • ►  Mei (3)
      • ►  Juni (1)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  November (1)
    • ►  2020 (4)
      • ►  Januari (1)
      • ►  Maret (1)
      • ►  April (1)
      • ►  Mei (1)
    • ►  2021 (17)
      • ►  Januari (3)
      • ►  Februari (3)
      • ►  Maret (3)
      • ►  April (2)
      • ►  Juni (1)
      • ►  Juli (2)
      • ►  Oktober (2)
      • ►  Desember (1)
    • ▼  2022 (26)
      • ►  Januari (1)
      • ►  Februari (1)
      • ►  Maret (1)
      • ▼  April (2)
        • [Review Drakor] A Business Proposal (2022)
        • (Bukan) Review Lockwood and Co.
      • ►  Mei (2)
      • ►  Juli (2)
      • ►  November (8)
      • ►  Desember (9)
    • ►  2023 (7)
      • ►  Januari (2)
      • ►  Februari (1)
      • ►  Mei (1)
      • ►  Oktober (3)
    • ►  2024 (4)
      • ►  Januari (1)
      • ►  Mei (2)
      • ►  Agustus (1)
    facebook Twitter instagram bloglovin google plus

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top