Pages

facebook linkedin twitter youtube

A Dreamer

If you can't explain it simply, you don't understand it well enough - Albert Einstein

    • Home
    • Review
    • Opini
    • Prakerin
    • Karya

    Judul : The Amulet of Samarkand
    Genre : Fantasi
    Penulis : Jonathan Stroud
    Blurb : 

    Nathaniel, si penyihir muda, diam - diam memanggil jin berusia 5.000 tahun bernama Bartimaeus. Tugas untuk Bartimaeus tidak gampang — ia harus mencuri Amulet Samarkand yang berkekuatan dahsyat dari Simon Lovelace, master penyihir yang kejam dan ambisius.


    Bartimaeus dan Nathaniel pun terlibat dalam intrik sihir yang penuh darah, pemberontakan, dan pembunuhan

    --

    Karena saya lebih dulu mencicipi karya Om Stroud yang lain (Lockwood and Co. series), sedikit banyak saya sudah paham formula/gaya bercerita (?) ala beliau. Cerita langsung dibuka kepada masalah besar yang diangkat buku ini, yang juga dijadikan judul buku pertama dari triloginya: pencurian amulet samarkand oleh Bartimaeus, jin tingkat menengah. Bartimaeus dipanggil dan diperintahkan oleh seorang anak dua belas tahun yang amat berbakat, Nathaniel, yang semula berkeinginan membalas dendam pada pemilik amulet, Simon Lovelace, karena telah mempermalukannya. 


    Amulet itu mulanya juga didapatkan Simon Lovelace, penyihir yang begitu berambisi dan serakah akan kekuasan, dari tangan seseorang di bawah pemerintahan. Tak disangka, ternyata pencurian ini dan keterlibatan Nathaniel menjadi bagian sebuah intrik yang besar. Soal keselamatan para menteri, hingga keberlangsungan pemerintahan sihir.


    Formula ini juga dipakai dalam Lockwood and Co., (buku satu, persisinya) bab awal langsung membawa kita kepada awal mula permasalahan yang menjadi inti cerita, lalu tempo cerita melambat, memperkenalkan karakter dan kadangkala kilas balik masa lalu dan latar belakangnya. Kemudian, cerita bergulir, semakin banyak clue yang disebar, hingga memuncak di sepertiga akhir.


    Sayangnya, saya punya impresi yang berbeda dengan kedua buku pertama ini. Sejujurnya, pada bab-bab awal buku pertama Bartimaeus Trilogy ini, saya lumayan dibuat bosan dengan banyaknya narasi, narasi, dan narasi tanpa diimbangi dialog. Narasi untuk menggambarkan tempat, monolog, adegan demi adegan. Tanpa dijeda dengan dialog. Bab-bab awal tidak begitu memikat saya untuk bertahan sampai akhir. Karakter penyihirnya pun tidak membuat saya simpati, tidak mudah disukai. Protagonis utamanya: Nathaniel, tidak bikin saya tertarik, pada mulanya. 


    Saya perlu menunggu-nunggu, di mana letak serunya novel ini akan saya rasakan. Mungkin jika saya tak pernah membaca karya Om Stroud yang lain, saya akan berhenti membaca buku ini entah untuk sementara dengan menyelinginya untuk membaca buku lain, atau juga berhenti untuk seterusnya.


    Pada akhirnya keputusan untuk terus membaca worth it kok, mengingat buku ini berhasil saya selesaikan sampai tamat. Meski harus saya akui, kadang tempo ceritanya begitu lambat, tapi menjelang pertengahan hingga sepertiga bagian menuju akhir, bagian serunya terus dimulai.


    Buku ini ditulis dalam dua pov. Dibuka dengan pov orang pertama (aku) dari sudut pandang Bartimaeus, si jin menengah. Lalu pov orang ketiga terbatas untuk menceritakan Nathaniel. Begitu terus, berganti-gantian. Sejujurnya, kayaknya baru pertama kali ini saya baca novel cetak dengan gaya bercerita campuran pov 1 dan pov 3. 


    Pov 1 Bartimaeus mudah dinikmati. Gaya bercerita dari sudut pandangnya jenaka, juga ditulis secara egomaniak dan narsis (iya, Bartimaeus suka menyombongkan kemampuannya). Dan uniknya, kamu akan menemui banyak catatan kaki dari bagian yang diceritakan dari sudut pandangnya. Umumnya kan catatan kaki dipakai untuk menjelaskan istilah sesuatu dalam kecakapan tertentu atau penjelasan suatu bahasa asing, tapi di pov Bartimaeus itu digunakan untuk mendeskripsikan tempat, menjelaskan penampilan seseorang, atau melontarkan sarkasme dan hinaan. Karenanya, selalu terasa segar membaca sudut pandangnya setelah sebelumnya membaca dari sudut pandang Nathaniel yang cenderung lebih serius.


    Perbedaan kedua sudut pandang ini begitu terasa dalam novel. Seolah, kita bisa membaca dua buku dalam satu. Saya beberapa kali membaca buku (seringnya novel online) dalam pov orang pertama dengan tokoh beda, tapi tetap saja terasa ditulis dengan sama. Tidak halnya dengan Bartimaeus Trilogy, kita bisa langsung tahu kalau Bartiameus-lah yang bercerita meski hanya membaca sepenggal saja paragrafnya.


    Dan pstt, Bartimaeus adalah karakter favorit saya! Sementara Nathaniel, well, kayaknya saya punya love-hate relationship ke karakter ini. Sebagian besar, saya dibuat kesal dengan tindakan-tindakan Nathaniel, tapi itu mendukung latar belakangnya yang masih anak berusia 12 tahun, terlalu labil, sembrono, grasak-grusuk, dan tidak mau mendengarkan. Saya seringkali tidak bisa bersimpati untuknya, meski ia dibuang orangtuanya atau kehilangan orang-orang yang disayanginya. 


    Lalu, memang diceritakan bahwa Nathaniel adalah anak yang sangat (atau kelewat?) pintar untuk anak seumurannya, tapi kadangkala saya rasa, ia dibuat terlalu pintar dan hebat dari yang seharusnya dapat ditanggung anak 12 tahun. Pemanggilan jin menengah untuk anak seumurannya, dalam cerita, adalah hal yang menakjubkan. Belum lagi dengan banyaknya hal yang ia lakukan sendirian (kalau Bartimaeus tidak masuk hitungan). Saya sih masih bisa mengerti kalau ia pintar banget sampai bisa melakukan beberapa hal besar, tapi kok nasibnya seperti mujur banget ya sampai menghadapi lawan yang jauh lebih kuat pun ia bakal selalu menang? Kadangkala sendirian pula. Kalau Nathaniel ini tidak direkati oleh sifat sombong, gegabah, dan sembrono ala anak kecil, sudah pasti ia saya labeli Garry Stu. 


    Menyoal worldbuilding, kayaknya Om Stroud tidak pernah kesulitan. Selama membaca, kita tidak dijejali banyak informasi, melainkan kita membaca seolah kita sudah tahu dunia sihir seperti apa yang ada dalam trilogi ini. 


    Sihir yang diangkat dalam buku ini bukanlah sihir memakai tongkat, tapi lewat pemanggilan jin dari Dunia Lain. Pemanggilan dilakukan dengan menggambar pentacle. (By the way, keheranan saya adalah kenapa pentacle tidak diterjemahkan sebagaimana padanan katanya saja: pentakel, daripada ditulis pentacle dengan italic. Atau apakah pada saat buku ini diterjemahkan, di tahun itu pentakel belum masuk KBBI? Lalu ada commoner, yang ditulis sebagaimana aslinya untuk para manusia non penyihir. Mungkin lebih bagus jika ada terjemahan katanya dalam bahasa Indonesia. Karena commoner sendiri bukanlah kata-kata buatan, tak seperti istilah muggle dalam Harry Potter.) Setelah pentacle tergambar sempurna, si penyihir lalu merapalkan mantra. 


    Inggris, latar cerita saat itu adalah ibu kota dunia sihir. Pemerintahannya, yang dipimpin oleh perdana menteri, dipilih dari para penyihir. Jadi, segalanya diatur oleh para penyihir. Ada banyak detail dalam worldbuilding ini yang bagi saya menarik, dan jauh dari novel-novel bertema sihir lain (seringnya novel online, yang pernah saya baca, kebanyakan dari itu mirip dengan Harry Potter). Alih-alih memiliki kekuatan dari rapalan mantra dan tongkat sihir, ramuan, atau sejenisnya, para penyihir dalam dunia Bartimaeus Trilogy mendapatkannya dari para jin yang mereka panggil. Ada banyak jenis mereka, dari yang rendahan hingga yang terkuat. Para jin, setelah dipanggil secara tidak langsung akan menjadi budak si penyihir, dan si penyihir lantas menjadi masternya. Ada jimat (amulet), artefak sihir, dan benda-benda dalam detail kecil lainnya. Begitu meyakinkan dan dibangun dengan baik. Lalu yang menarik bagi saya, ada istilah plane (semacam tingkatan kesadaran dunia(?) yang dapat dilihat para jin). Saya tidak punya masalah dengan worldbuilding cerita ini.


    Secara keseluruhan, saya menikmati novel ini, meski harus menunggu untuk menemukan bagian serunya dan kadangkala bosan dengan tempo yang melambat dan banyaknya narasi. Apakah saya bakal melanjutkan ke buku dua?


    Kemungkinannya sih 70%. Meski kurang lebih, saya tahu apa yang ditawarkan buku kedua. Soal organisasi bernama Resistance yang membenci para penyihir, dan barangkali tambahan intrik lainnya (tidak banyak clue yang disebar), sejujurnya kalaupun tidak melanjutkan ke buku selanjutnya, saya cukup puas dengan hanya membaca buku pertama (tidak ada ending gantung, dan sayangnya, akhir yang memicu rasa penasaran atau ending gantung untuk dilanjut buku kedua). We will see, apakah akan ada kelanjutan review saya untuk buku selanjutnya.


    Overall, 3.75 dari 5 bintang!








    Continue Reading

     
    Poster tomorrow


    Judul : Tomorrow
    Genre : Fantasi, Drama
    Episode : 16 episode
    Pemeran : 

    Dari kiri ke kanan: Kim Hee-Sun sebagai Koo Ryeon, Rowoon sebagai Choi Jun-Woong, Lee Soo-Hyuk sebagai Park Jung-Gil, Yoon Ji-On sebagai Lim Ryunggu

    --

    Sejujurnya, Tomorrow memiliki alur cerita fantasi (apabila ada dalam novel) yang saya gemari. Berpusat pada Jumadeung, kantor tempat para grim reaper bekerja. Mereka tidak bekerja secara konvensional, melainkan beroperasi selayaknya manusia modern, dengan kantor bergaya megah kekinian dan tugas yang dioperasikan dengan komputer dan teknologi manusia. Dalam Jumadeung, ada banyak departemen: Editing Team (yang mengedit memori dan semacam video perpisahan para manusia), Escort Team (yang mengantarkan manusia setelah kematian), dan dari banyaknya departemen lain, ada satu departemen baru: Risk Management, yang bertugas untuk mencegah orang bunuh diri. Alasan dibentuknya departemen ini sederhana; karena neraka penuh sesak sama orang-orang yang mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Namun, departemen ini dipandang sebelah mata. Kepala Departemen Escort Team, Park Jung-Gil malah sangat membencinya.


    Reputasinya buruk dan mereka kekurangan anggota. Hanya da dua anggota: Koo Ryeon (grim reaper yang berasal dari neraka sebagai kepala departemen) dan Lim Ryunggu. Dalam misi mencegah sebuah kasus bunuh diri, seorang manusia bernama Choi Jun-Woong (pengangguran dan berkali-kali ditolak berbagai perusahaan) turut ikut campur. Karena keteledoran, ia malah berakhir jatuh dari jembatan dan berujung koma hingga tiga tahun.


    Kemudian, rohnya dipanggil ke Jumadeung. Ia ditawari pilihan untuk bekerja sebagai malaikat magang. Kalau ia menjalankan tugasnya dengan baik, dalam setengah tahun, ia akan sadar dari koma dan mendapat benefit untuk dapat diterima kerja di perusahaan manapun yang ia inginkan. Kesepakatan itu membawanya untuk bergabung ke Risk Management team.


    Tomorrow hadir dalam format setiap episode memperlihatkan kasus berbeda orang-orang yang berisiko melakukan bunuh diri dengan berbagai latar belakang. Mengangkat berbagai macam topik; ada yang depresi karena mengalami bullying, frustasi gagal masuk tes ketentaraan (kalau saya nggak salah ya), kesepian, kehilangan anak yang dilahirkan, sampai pelecehan seksual. Tiap episode menghadirkan tokoh dalam berbagai background (tapi masih satu plot yang terus berjalan pararel hingga akhir). Beberapa dieksekusi cukup baik, diantaranya ada episode favorit saya; seekor anjing tua depresif yang hampir bunuh diri dan terpisah dengan pemiliknya. (Serius deh saya nangis di episode ini). Atau episode soal pelecehan seksual, di mana penggambaran aksi pelaku pada korban terasa begitu nyata, meninggalkan kesan menyeramkan. Atau juga soal veteran perang yang berakhir hidup kesepian.


    Meski beberapa juga tak begitu berkesan atau memiliki penyelesaian yang agak ... kurang. Namun, hal itu dapat dimaklumi mengingat satu episode yang berdurasi satu jam memang tidak diperuntukkan merangkum satu cerita dari kasus yang berbeda. Kalau memperhitungkan ini malah Tomorrow melakukannya dengan baik.


    Saya juga suka dinamika karakternya, trio Koo Ryeon, Lim Ryunggu, dan Choi Jun-Woong di beberapa kesempatan sangat menghibur. Masing-masing dari mereka memiliki background yang jelas dan saya bisa merasa simpatik. Lalu, tibalah alasan saya membicarakan ini; alasan utama mengapa saya kepincut nonton selain dari tema dan genrenya adalah kegemaran saya.


    Kapalku, Koo Ryeon dan Park Jung-Gil! Aduh chemistry mereka, meski tak banyak dan juga hanya tatap mata sekilas sekalipun, bikin saya kegirangan. Gap umur yang cukup jauh antara para aktornya (11 tahun) juga tidak menjadi penghalang—lebih tua yang cewek, btw.


    Koo Ryeon pernah bekerja selama beberapa tahun di bawah Park Jung-Gil, sebelum kemudian ia dipindahtugaskan ke departemen baru. Pemindahan yang tiba-tiba itu membuat hubungan keduanya buruk. Belum lagi, Park Jung-Gil begitu membenci orang-orang yang mengakhiri nyawa mereka. Melihat Koo Ryeon berusaha menyelamatkan orang-orang itu membuatnya tak tahan. Mereka kadangkala berselisih jalan. Selama cerita bergulir kita dibuat curiga dengan tebaran clue bahwa ada sesuatu di antara mereka di masa lalu. 


    Saya nggak bisa bilang banyak karena bakal jadi major spoiler, tapi cerita merekalah yang membawa saya menonton Tomorrow.


    Meski begitu, dalam beberapa kesempatan, drama ini memang agak membosankan, terutama kalau kamu nggak tertarik dalam tema kasus yang diberikan. Ini juga bukan cerita dengan banyak bumbu romansa bertebaran. Jadi, saya mengerti, sih, mengapa cerita ini underrated dan tak banyak dibicarakan. Konfliknya (maksud saya, konflik besarnya sendiri, kalau bisa dibilang ada) juga hanya diberi clue sedikit kilas balik para karakter tiap episode, yang memuncak di dua episode akhir, jadi, kalau memang nggak tertarik untuk mengikuti kasus per kasus, mungkin memang nggak banyak yang akan nonton sampai akhir.


    Secara keseluruhan, Tomorrow worth it kok buat ditonton! Idenya sendiri segar, grim reaper yang terbagi dalam berbagai departemen dan beroperasi sebagaimana perusahaan manusia biasa dengan berbagai teknologinya? Itu ide bagus! Cocok kalau jadi novel fantasi—


    Dinamika karakternya oke, chemistry-nya dapat sekali, dan banyak pelajaran yang bisa diambil. Ceritanya sendiri ringan, mudah dicerna.


    So, 7.5 bintang untuk Tomorrow!




    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    About Me

    Photo Profile
    Tri!

    Pelajar tingkat akhir SMK. Hobi membaca dan (kadangkala) menulis baik fiksi maupun nonfiksi. Blog ini adalah tempat saya menjaga kewarasan dengan mempublikasikan pemikiran-pemikiran yang sulit didiskusikan dengan orang-orang di sekitar saya.

    Contact Me

    • facebook
    • twitter
    • bloglovin
    • youtube
    • pinterest
    • instagram

    Labels

    Review cerpen opini prakerin

    Blog Archive

    • ►  2017 (1)
      • ►  Desember (1)
    • ►  2018 (19)
      • ►  Januari (2)
      • ►  Februari (2)
      • ►  Maret (4)
      • ►  April (4)
      • ►  Mei (3)
      • ►  Juni (1)
      • ►  Juli (1)
      • ►  Agustus (2)
    • ►  2019 (6)
      • ►  Mei (3)
      • ►  Juni (1)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  November (1)
    • ►  2020 (4)
      • ►  Januari (1)
      • ►  Maret (1)
      • ►  April (1)
      • ►  Mei (1)
    • ►  2021 (17)
      • ►  Januari (3)
      • ►  Februari (3)
      • ►  Maret (3)
      • ►  April (2)
      • ►  Juni (1)
      • ►  Juli (2)
      • ►  Oktober (2)
      • ►  Desember (1)
    • ▼  2022 (26)
      • ►  Januari (1)
      • ►  Februari (1)
      • ►  Maret (1)
      • ►  April (2)
      • ▼  Mei (2)
        • [Review Drakor] Tomorrow (2022)
        • [Review Novel] The Amulet of Samarkand (#1 The Bar...
      • ►  Juli (2)
      • ►  November (8)
      • ►  Desember (9)
    • ►  2023 (7)
      • ►  Januari (2)
      • ►  Februari (1)
      • ►  Mei (1)
      • ►  Oktober (3)
    • ►  2024 (4)
      • ►  Januari (1)
      • ►  Mei (2)
      • ►  Agustus (1)
    facebook Twitter instagram bloglovin google plus

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top