[Review Drakor] Tomorrow (2022)

Mei 31, 2022

 
Poster tomorrow


Judul : Tomorrow
Genre : Fantasi, Drama
Episode : 16 episode
Pemeran : 

Dari kiri ke kanan: Kim Hee-Sun sebagai Koo Ryeon, Rowoon sebagai Choi Jun-Woong, Lee Soo-Hyuk sebagai Park Jung-Gil, Yoon Ji-On sebagai Lim Ryunggu

--

Sejujurnya, Tomorrow memiliki alur cerita fantasi (apabila ada dalam novel) yang saya gemari. Berpusat pada Jumadeung, kantor tempat para grim reaper bekerja. Mereka tidak bekerja secara konvensional, melainkan beroperasi selayaknya manusia modern, dengan kantor bergaya megah kekinian dan tugas yang dioperasikan dengan komputer dan teknologi manusia. Dalam Jumadeung, ada banyak departemen: Editing Team (yang mengedit memori dan semacam video perpisahan para manusia), Escort Team (yang mengantarkan manusia setelah kematian), dan dari banyaknya departemen lain, ada satu departemen baru: Risk Management, yang bertugas untuk mencegah orang bunuh diri. Alasan dibentuknya departemen ini sederhana; karena neraka penuh sesak sama orang-orang yang mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Namun, departemen ini dipandang sebelah mata. Kepala Departemen Escort Team, Park Jung-Gil malah sangat membencinya.


Reputasinya buruk dan mereka kekurangan anggota. Hanya da dua anggota: Koo Ryeon (grim reaper yang berasal dari neraka sebagai kepala departemen) dan Lim Ryunggu. Dalam misi mencegah sebuah kasus bunuh diri, seorang manusia bernama Choi Jun-Woong (pengangguran dan berkali-kali ditolak berbagai perusahaan) turut ikut campur. Karena keteledoran, ia malah berakhir jatuh dari jembatan dan berujung koma hingga tiga tahun.


Kemudian, rohnya dipanggil ke Jumadeung. Ia ditawari pilihan untuk bekerja sebagai malaikat magang. Kalau ia menjalankan tugasnya dengan baik, dalam setengah tahun, ia akan sadar dari koma dan mendapat benefit untuk dapat diterima kerja di perusahaan manapun yang ia inginkan. Kesepakatan itu membawanya untuk bergabung ke Risk Management team.


Tomorrow hadir dalam format setiap episode memperlihatkan kasus berbeda orang-orang yang berisiko melakukan bunuh diri dengan berbagai latar belakang. Mengangkat berbagai macam topik; ada yang depresi karena mengalami bullying, frustasi gagal masuk tes ketentaraan (kalau saya nggak salah ya), kesepian, kehilangan anak yang dilahirkan, sampai pelecehan seksual. Tiap episode menghadirkan tokoh dalam berbagai background (tapi masih satu plot yang terus berjalan pararel hingga akhir). Beberapa dieksekusi cukup baik, diantaranya ada episode favorit saya; seekor anjing tua depresif yang hampir bunuh diri dan terpisah dengan pemiliknya. (Serius deh saya nangis di episode ini). Atau episode soal pelecehan seksual, di mana penggambaran aksi pelaku pada korban terasa begitu nyata, meninggalkan kesan menyeramkan. Atau juga soal veteran perang yang berakhir hidup kesepian.


Meski beberapa juga tak begitu berkesan atau memiliki penyelesaian yang agak ... kurang. Namun, hal itu dapat dimaklumi mengingat satu episode yang berdurasi satu jam memang tidak diperuntukkan merangkum satu cerita dari kasus yang berbeda. Kalau memperhitungkan ini malah Tomorrow melakukannya dengan baik.


Saya juga suka dinamika karakternya, trio Koo Ryeon, Lim Ryunggu, dan Choi Jun-Woong di beberapa kesempatan sangat menghibur. Masing-masing dari mereka memiliki background yang jelas dan saya bisa merasa simpatik. Lalu, tibalah alasan saya membicarakan ini; alasan utama mengapa saya kepincut nonton selain dari tema dan genrenya adalah kegemaran saya.


Kapalku, Koo Ryeon dan Park Jung-Gil! Aduh chemistry mereka, meski tak banyak dan juga hanya tatap mata sekilas sekalipun, bikin saya kegirangan. Gap umur yang cukup jauh antara para aktornya (11 tahun) juga tidak menjadi penghalang—lebih tua yang cewek, btw.


Koo Ryeon pernah bekerja selama beberapa tahun di bawah Park Jung-Gil, sebelum kemudian ia dipindahtugaskan ke departemen baru. Pemindahan yang tiba-tiba itu membuat hubungan keduanya buruk. Belum lagi, Park Jung-Gil begitu membenci orang-orang yang mengakhiri nyawa mereka. Melihat Koo Ryeon berusaha menyelamatkan orang-orang itu membuatnya tak tahan. Mereka kadangkala berselisih jalan. Selama cerita bergulir kita dibuat curiga dengan tebaran clue bahwa ada sesuatu di antara mereka di masa lalu. 


Saya nggak bisa bilang banyak karena bakal jadi major spoiler, tapi cerita merekalah yang membawa saya menonton Tomorrow.


Meski begitu, dalam beberapa kesempatan, drama ini memang agak membosankan, terutama kalau kamu nggak tertarik dalam tema kasus yang diberikan. Ini juga bukan cerita dengan banyak bumbu romansa bertebaran. Jadi, saya mengerti, sih, mengapa cerita ini underrated dan tak banyak dibicarakan. Konfliknya (maksud saya, konflik besarnya sendiri, kalau bisa dibilang ada) juga hanya diberi clue sedikit kilas balik para karakter tiap episode, yang memuncak di dua episode akhir, jadi, kalau memang nggak tertarik untuk mengikuti kasus per kasus, mungkin memang nggak banyak yang akan nonton sampai akhir.


Secara keseluruhan, Tomorrow worth it kok buat ditonton! Idenya sendiri segar, grim reaper yang terbagi dalam berbagai departemen dan beroperasi sebagaimana perusahaan manusia biasa dengan berbagai teknologinya? Itu ide bagus! Cocok kalau jadi novel fantasi—


Dinamika karakternya oke, chemistry-nya dapat sekali, dan banyak pelajaran yang bisa diambil. Ceritanya sendiri ringan, mudah dicerna.


So, 7.5 bintang untuk Tomorrow!




You Might Also Like

0 komentar