Pages

facebook linkedin twitter youtube

A Dreamer

If you can't explain it simply, you don't understand it well enough - Albert Einstein

    • Home
    • Review
    • Opini
    • Prakerin
    • Karya



    Judul: The Big Four (Empat Besar)
    Penulis: Agatha Christie
    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
    Blurb :

    Di dalam gudang bawah tanah di east end itu, aku yakin inilah saat-saatku yang terakhir. Kusiapkan diri menghadapi shock derasnya arus air yang hitam itu.

    Aku terkejut ketika mendengar suara tawa dengan nada rendah. "Anda seorang pemberani," kata laki-laki di sofa itu. "Kami orang Timur menghargai keberanian. Anda telah berani menghadapi kematian Anda sendiri. Dapatkah anda pula menghadapi kematian orang lain?"

    Dahiku bersimbah peluh.

    "Pena sudah siap," kata laki-laki itu dengan tersenyum. "Anda tinggal menulis. Kalau tidak—"

    "Kalau tidak?" tanyaku tegang.

    "Kalau tidak, wanita yang Anda cintai akan mati - mati perlahan-lahan. Dalam waktu senggangnya, majikan kami suka menghibur diri dengan membuat ala-alat dan menciptakan cara-cara penyiksaan...."

    -

    Alih-alih menghadapi kasus pembunuhan, Poirot harus berurusan dengan organisasi bernama Empat Besar yang ada di balik banyaknya kejahatan yang terjadi. Pemimpinnya adalah Li Chan Yen dari China, si Nomor Satu. Nomor Dua adalah seorang Amerika yang memiliki banyak uang. Nomor Tiga adalah seorang wanita berkebangsaan Prancis, sementara Nomor Empat adalah si Pemusnah. 

    Bersama sahabatnya Hastings, Poirot mencoba menangkap Empat Besar dengan kecerdikannya.

    -

    Terakhir kali (dan pertama kalinya) baca buku Agatha Christie adalah sewaktu saya masih SMK. Atau SMP, ya? Buku itu adalah The Mysterious Affair of Styles, dan saya ingat, meskipun novel klasik, saya menikmatinya! 

    Tapi untuk buku ini, saya butuh waktu kira-kira ... sebulan lebih. Iya, saudara-saudara, selama itu. Sempat juga saya selingi novel lain. Dan lama-lama saya rada malas gitu lanjutinnya. Butuh waktu buat ngumpulin niat untuk akhirnya menyelesaikan novel ini.

    Alasan pertama mungkin karena ini novel klasik, saya butuh waktu buat menyesuaikan sama gaya bahasanya. Dan proporsi tidak imbang antara dialog dan narasinya juga ambil porsi dalam bikin saya jenuh. Saya nggak ingat apakah memang buku Agatha Christie yang pernah saya baca itu juga dialognya lebih mendominasi? 

    Kedua adalah karena plotnya. Mungkin kata yang tepat untuk menjelaskan keseluruhan plot novel ini dalah : kacau. Alasan antagonis (The Big Four) berkumpul sebagai organisasi juga nggak jelas. Iya memang mereka dalang dibalik pembunuhan tokoh A, B, dan melakukan kejahatan ini dan itu, tapi untuk apa akhir dari semuanya? Hanya ada penjelasan kabur: menguasai dunia. Teknologi yang dibuat dengan kecerdasan si Nomor Tiga juga tidak jelas bagaimana fungsi dan mekanismenya, tidak jelas juga sebenarnya ditargetkan untuk apa dan di mana.

    Menjelang akhir, saya berharap dapat menemukan satu titik yang menjelaskan dan menghubungkan semuanya. Termasuk bagaimana pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh Empat Besar ini merangkai satu plot dan terkait satu ama lain, tapi ternyata nihil. Pembunuhan yang terjadi seolah cuma tempelan belaka sebab ini novelnya Agatha Cristi dan tidak afdol rasanya jika tidak ada pembunuhan. Awalnya saya juga bingung sama timeline ceritanya, yang antar bab terkadang terasa seolah kita membaca kisah yang berbeda dan tidak berhubungan.

    Dan meski judulnya Empat Besar, yang sering berurusan sama Poirot cuma si Nomor Empat. Nomor Empat ini tukang nyamar, dia bisa nyamar jadi apa aja, mengelabuhi Poirot, melakukan pembunuhan, dan sebagainya. Bisa dibilang, isi plot Empat Besar sendiri seperti adu taktik dan saling mengelabuhi antara Poirot dan Nomor Empat saja. Hal ini bikin bosan. Plot twist-nya nggak wah dan biasa saja. 

    Hmm. Dan saya juga lama-lama kesal sendiri dengan karakter Hastings, yang ada seolah untuk jadi umpan Poirot tanpa tahu rencana-rencana Poirot—iya sih, ini supaya pembaca clueless dan kejutan-kejutan dalam cerita aman karena kita membaca cerita soal Poirot yang dinarasikan Hastings. Tapi ya tetap saja, saya kesal dengan ketidaktahuan dan kebodohan Hastings. 

    Hal yang paling menyebalkan dari Empat Besar? Mungkin endingnya. Sangat tidak memuaskan. 


    Warning: major spoiler!

    Jelas saja Poirotlah yang menang pada akhirnya. Tapi gimana cerita berakhir bikin saya tuh kayak: hah? Apaan sih? 

    Bisa-bisanya pada akhirnya, Empat Besar yang katanya terdiri dari si Nomor Satu, Li Chang Yen, sebagai otak dari segala rencana; Nomor Dua yang kaya raya; Nomor Tiga yang membuat teknologi mahahebat, dan Nomor Empat si penyamar sekaligus pemusnah berakhir dengan ... begitu gampangnya. Saking gampangnya terkesan bodoh. Teknologi mereka malah dipakai untuk membunuh Poirot, dengan Nomor Dua, tiga, dan Empat ikut serta. Lalu Nonor satu? Katanya bunuh diri tanpa pernah ada pertemuan antara ia dengan Poirot. Logikanya saja ih, kalau mereka orang-orang pintar, terutama Nomor Satu si otak dan dalang dari segalanya, masa iya malah memilih untuk membunuh diri endiri. Halo?? Memang nggak ada cara penyelesaian lain?

    -

    Setelah saya baca-baca review lain (Goodreads terutama) saya baru tahu kalau novel ini tuh sebenarnya kayak cerita bersambung (tapi juga bisa dibaca terpisah?) yang diterbitkan di sebuah media cetak. Barulah setelah kematian sang pengarang, semua ceritanya dijadikan satu, hingga lahirlah novel Empat Besar.

    Lebih jauh, ternyata bukan hanya saya yang kecewa. Kalau kata fans-nya Agatha Cristie sendiri, beliau nggak pintar bikin novel konspirasi macam Empat Besar, dan memang buku ini bukan yang terbaik dari banyaknya novel terbit beliau. 

    Hmmm. Tapi saya telanjur kecewa sih. Wkwkwk.


    So sorry, I'll give 2 out of 5 for this book!


    Continue Reading



    Judul: Gadis Minimarket
    Penulis: Sayaka Murata
    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
    Blurb :


    Dunia menuntut Keiko untuk menjadi normal, walau ia tidak tahu “normal” itu seperti apa. Namun di minimarket, Keiko dilahirkan dengan identitas baru sebagai “pegawai minimarket”. Kini Keiko terancam dipisahkan dari dunia minimarket yang dicintainya selama ini.

    -

    Convenience Store Woman adalah novel yang bisa dibaca dalam sekali duduk. Ya kalau yang tipe bacanya cepat dan lagi enggak sibuk, sih. Saya sendiri selesai baca dalam dua hari. 

    Ceritanya soal Keiko, seorang perempuan 36 tahun yang selama hidupnya hanya pernah bekerja sebagai pekerja paruh waktu di sebuah minimarket. Dari sini saja, premisnya sudah unik. Keiko telah bekerja selama total delapan belas tahun di minimarket tersebut sejak kali pertama minimarket dibuka. Menurut Keiko, menjadi pegawai minimarket adalah satu-satunya cara ia bisa menjadi manusia "normal" dan dapat menjadi bagian dari masyarakat. 

    Sebab menurut standar masyarakat, Keiko ini tidak normal. Ia tidak bisa merasakan sebagian besar emosi, termasuk marah atau sedih. Keiko punya jalan pikiran yang psikotik. Tidak bisa membedakan mana yang baik dan buruk. Ia juga aromantik aseksual—tidak bisa tertarik secara romantis pada seseorang dan tidak punya hasrat seksual. 

    Ada satu adegan flashback sewaktu Keiko kecil. Dua temannya berkelahi dan anak-anak lain menyuruh seseorang menghentikannya. Keiko pun datang dengan sebuah solusi yang menurutnya paling efisien: ia memukul salah satu kepala temannya dengan sekop agar perkelahian terhenti. Meski itu salah, Keiko tidak bisa mengerti di mana letak salahnya.

    Keluarganya selalu ingin Keiko sembuh. Dan Keiko mulai tumbuh besar dengan pikiran bahwa ia harus menjadi "normal" untuk dapat diterima oleh masyarakat. Dan hal itu mulai menjadi mungkin saat ia bekerja di minimarket. Karena saat bekerja di sana, tidak ada yang memedulikan background seseorang. Mereka akan dipanggil dengan cara yang sama: pegawai minimarket. Dengan menjadi bagian dari minimarket, Keiko mulai merasa normal. Ia meniru (mimicking) gaya bicara dan juga penampilan para pegawai minimarket lain. Psychopath behavior banget, kan?

    Ketika Keiko puas dengan kehidupannya, justru orang-orang di sekitarnya mulai menuntut hal lain darinya. Mereka bertanya-tanya mengapa ia masih saja bekerja paruh waktu selama puluhan tahun? Mengapa ia tidak kunjung menikah atau bahkan menjalin hubungan dengan pria manapun? Mengapa ia tak mencari pekerjaan tetap di umurnya yang sudah tidak lagi muda? Bahkan adik Keiko sendiri telah berkeluarga dan memiliki anak.

    Saat itulah ia mulai bertemu dengan Shiraha dan membentuk hubungan timbal balik. Shiraha yang pengangguran dan pemalas Keiko biarkan tinggal dan diberi makan olehnya. Sementara Keiko aman dari banyaknya tuntutan saat orang-orang dekatnya tahu bahwa ia tinggal dengan seorang pria. Mereka kira, akhirnya Keiko hidup lebih normal.

    -

    Novel ini ditulis dengan ... aneh. In a good way. Soalnya kita membaca dari sudut pandang orang pertama oleh Keiko, yang tidak "normal". Pokoknya, kita dibuat menyelami pikiran Keiko. Hal-hal yang bagi kita adalah benar dan sudah seharusnya, tidak dapat dimengerti oleh Keiko. 

    Keiko literally mengabdikan dirinya untuk minimarket. Ia tidur dengan cukup, makan makanan yang sehat, agar dapat terus bekerja di minimarket saat umurnya sudah tidak lagi muda. Bahkan di rumah sekalipun, yang ia pikirkan adalah stok barang minimarket, pesanan yang harus ia lakukan, pokoknya, segala sesuatu untuk minimarket tempatnya bekerja.

    Lalu ada Shiraha, seperti gambaran sarkastis untuk manusia-manusia yang sukanya malas-malasan tapi menuntut banyak hal dalam hidup. Sudahlah pengangguran, suka mengeluh, punya mimpi tidak realistis, suka merendahkan juga. Ia praktis jadi parasit di rumahnya Keiko, kerjanya cuma tidur dan makan. Nggak bayar sewa atau apa pun. Karakternya tuh sangat mudah dibenci, tapi (sayangnya) ditulis dengan baik. 

    Membaca interaksi antara Keiko dan Shiraha tuh kayak saya mau kesal, tapi karena ditulis dengan baik, jadinya saya menikmati juga. (EH gimana??)

    Shiraha dengan karakternya berulang kali mengejek dan merendahkan Keiko dalam perkataannya. Mengatai kalau Keiko itu manusia sampah yang nggak berharga di mata masyarakat, tidak punya masa depan karena umur segitu tidak sekalipun pernah memiliki pekerjaan tetap, ia bahkan bilang tidak bisa terangsang karena penampilan Keiko, dll. Pokoknya, ngomongnya nggak difilter. Kalau manusia normal sih jelas banget ya bakal marah besar dan ngusir Shiraha, tapi karena Keiko nggak punya emosi marah, ia sama sekali tidak terpancing dan menanggapinya dengan santai dan b aja, saudara-saudara. Kan saya awalnya jadi kayak: hah??? Tapi lama-lama kebiasa dan justru menikmatinya sih. 

    -

    Hal yang berkesan di saya tuh, gimana Keiko berpikir kalau kita ini terbentuk dari orang-orang di sekitar kita, kita adalah apa yang kita tiru dari orang yang sering kita temui. Untuk jadi normal, Keiko meniru gaya bicara hingga gaya busana para pegawai minimarket lain. Dan saya mulai merasa: hmm, benar juga. 

    Biasanya kita memang cenderung mirip-mirip orang-orang yang dekat sama kita, sih. Apalagi kalau seumuran. Yang paling kelihatan adalah dari cara mengumpatnya /apa/ Saya dan teman dekat mempengaruhi satu sama lain. Dari gaya ketikan atau cara kita ngumpat—jangan ditiru ya!—atau habit tertentu satu sama lain.


    -


    Daris segi plot sendiri, Convenience Store Woman sebenernya punya plot sederhana dan ringan. Bahkan nggak beneran ada klimaks? Jadi selama cerita ya kayak, ngalir, enggak ada masalah besar. Mungkin klimaksnya saat Keiko terancam dipisahkan dengan kehidupan minimarket, tapi yaa sebenarnya juga nggak gitu klimaks sih. Atau emang kalau novel Jepang gini ya? Makanya waktu selesai baca tuh aftertaste-nya kayak lumayan hampa bagi saya sih. Barangkali karena saya biasanya baca novel yang dari bab awal saja sudah disuguhi konflik dengan banyak sub-konflik, lalu klimaks yang memuncak di sepertiga akhir sebelum akhirnya sampai pada resolusi. 

    Saya kira novel ini bakal thought provoking karena penokohan karakternya dan ada tema soal tuntutan-tuntutan masyarakat ke kita, tapi ternyata nggak juga sih. Justru beberapa bagian bikin saya refleksi.

    Overall, saya menikmati baca novel ini. Ceritanya ringan dan gampang diikuti. Terjemahannya juga enak! Penokohannya bagus dan aneh—in a good way.

    So, 4.5 dari 5 bintang!



    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    About Me

    Photo Profile
    Tri!

    Pelajar tingkat akhir SMK. Hobi membaca dan (kadangkala) menulis baik fiksi maupun nonfiksi. Blog ini adalah tempat saya menjaga kewarasan dengan mempublikasikan pemikiran-pemikiran yang sulit didiskusikan dengan orang-orang di sekitar saya.

    Contact Me

    • facebook
    • twitter
    • bloglovin
    • youtube
    • pinterest
    • instagram

    Labels

    Review cerpen opini prakerin

    Blog Archive

    • ►  2017 (1)
      • ►  Desember (1)
    • ►  2018 (19)
      • ►  Januari (2)
      • ►  Februari (2)
      • ►  Maret (4)
      • ►  April (4)
      • ►  Mei (3)
      • ►  Juni (1)
      • ►  Juli (1)
      • ►  Agustus (2)
    • ►  2019 (6)
      • ►  Mei (3)
      • ►  Juni (1)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  November (1)
    • ►  2020 (4)
      • ►  Januari (1)
      • ►  Maret (1)
      • ►  April (1)
      • ►  Mei (1)
    • ►  2021 (17)
      • ►  Januari (3)
      • ►  Februari (3)
      • ►  Maret (3)
      • ►  April (2)
      • ►  Juni (1)
      • ►  Juli (2)
      • ►  Oktober (2)
      • ►  Desember (1)
    • ▼  2022 (26)
      • ►  Januari (1)
      • ►  Februari (1)
      • ►  Maret (1)
      • ►  April (2)
      • ►  Mei (2)
      • ▼  Juli (2)
        • [Review Buku] Convenience Store Woman
        • [Review Novel] The Big Four — Agatha Cristie
      • ►  November (8)
      • ►  Desember (9)
    • ►  2023 (7)
      • ►  Januari (2)
      • ►  Februari (1)
      • ►  Mei (1)
      • ►  Oktober (3)
    • ►  2024 (4)
      • ►  Januari (1)
      • ►  Mei (2)
      • ►  Agustus (1)
    facebook Twitter instagram bloglovin google plus

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top