[Review Novel] The Big Four — Agatha Cristie
Juli 11, 2022Penulis: Agatha Christie
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Blurb :
Di dalam gudang bawah tanah di east end itu, aku yakin inilah saat-saatku yang terakhir. Kusiapkan diri menghadapi shock derasnya arus air yang hitam itu.
Aku terkejut ketika mendengar suara tawa dengan nada rendah. "Anda seorang pemberani," kata laki-laki di sofa itu. "Kami orang Timur menghargai keberanian. Anda telah berani menghadapi kematian Anda sendiri. Dapatkah anda pula menghadapi kematian orang lain?"
Dahiku bersimbah peluh.
"Pena sudah siap," kata laki-laki itu dengan tersenyum. "Anda tinggal menulis. Kalau tidak—"
"Kalau tidak?" tanyaku tegang.
"Kalau tidak, wanita yang Anda cintai akan mati - mati perlahan-lahan. Dalam waktu senggangnya, majikan kami suka menghibur diri dengan membuat ala-alat dan menciptakan cara-cara penyiksaan...."
-
Alih-alih menghadapi kasus pembunuhan, Poirot harus berurusan dengan organisasi bernama Empat Besar yang ada di balik banyaknya kejahatan yang terjadi. Pemimpinnya adalah Li Chan Yen dari China, si Nomor Satu. Nomor Dua adalah seorang Amerika yang memiliki banyak uang. Nomor Tiga adalah seorang wanita berkebangsaan Prancis, sementara Nomor Empat adalah si Pemusnah.
Bersama sahabatnya Hastings, Poirot mencoba menangkap Empat Besar dengan kecerdikannya.
-
Terakhir kali (dan pertama kalinya) baca buku Agatha Christie adalah sewaktu saya masih SMK. Atau SMP, ya? Buku itu adalah The Mysterious Affair of Styles, dan saya ingat, meskipun novel klasik, saya menikmatinya!
Tapi untuk buku ini, saya butuh waktu kira-kira ... sebulan lebih. Iya, saudara-saudara, selama itu. Sempat juga saya selingi novel lain. Dan lama-lama saya rada malas gitu lanjutinnya. Butuh waktu buat ngumpulin niat untuk akhirnya menyelesaikan novel ini.
Alasan pertama mungkin karena ini novel klasik, saya butuh waktu buat menyesuaikan sama gaya bahasanya. Dan proporsi tidak imbang antara dialog dan narasinya juga ambil porsi dalam bikin saya jenuh. Saya nggak ingat apakah memang buku Agatha Christie yang pernah saya baca itu juga dialognya lebih mendominasi?
Kedua adalah karena plotnya. Mungkin kata yang tepat untuk menjelaskan keseluruhan plot novel ini dalah : kacau. Alasan antagonis (The Big Four) berkumpul sebagai organisasi juga nggak jelas. Iya memang mereka dalang dibalik pembunuhan tokoh A, B, dan melakukan kejahatan ini dan itu, tapi untuk apa akhir dari semuanya? Hanya ada penjelasan kabur: menguasai dunia. Teknologi yang dibuat dengan kecerdasan si Nomor Tiga juga tidak jelas bagaimana fungsi dan mekanismenya, tidak jelas juga sebenarnya ditargetkan untuk apa dan di mana.
Menjelang akhir, saya berharap dapat menemukan satu titik yang menjelaskan dan menghubungkan semuanya. Termasuk bagaimana pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh Empat Besar ini merangkai satu plot dan terkait satu ama lain, tapi ternyata nihil. Pembunuhan yang terjadi seolah cuma tempelan belaka sebab ini novelnya Agatha Cristi dan tidak afdol rasanya jika tidak ada pembunuhan. Awalnya saya juga bingung sama timeline ceritanya, yang antar bab terkadang terasa seolah kita membaca kisah yang berbeda dan tidak berhubungan.
Dan meski judulnya Empat Besar, yang sering berurusan sama Poirot cuma si Nomor Empat. Nomor Empat ini tukang nyamar, dia bisa nyamar jadi apa aja, mengelabuhi Poirot, melakukan pembunuhan, dan sebagainya. Bisa dibilang, isi plot Empat Besar sendiri seperti adu taktik dan saling mengelabuhi antara Poirot dan Nomor Empat saja. Hal ini bikin bosan. Plot twist-nya nggak wah dan biasa saja.
Hmm. Dan saya juga lama-lama kesal sendiri dengan karakter Hastings, yang ada seolah untuk jadi umpan Poirot tanpa tahu rencana-rencana Poirot—iya sih, ini supaya pembaca clueless dan kejutan-kejutan dalam cerita aman karena kita membaca cerita soal Poirot yang dinarasikan Hastings. Tapi ya tetap saja, saya kesal dengan ketidaktahuan dan kebodohan Hastings.
Hal yang paling menyebalkan dari Empat Besar? Mungkin endingnya. Sangat tidak memuaskan.
Warning: major spoiler!
Jelas saja Poirotlah yang menang pada akhirnya. Tapi gimana cerita berakhir bikin saya tuh kayak: hah? Apaan sih?
Bisa-bisanya pada akhirnya, Empat Besar yang katanya terdiri dari si Nomor Satu, Li Chang Yen, sebagai otak dari segala rencana; Nomor Dua yang kaya raya; Nomor Tiga yang membuat teknologi mahahebat, dan Nomor Empat si penyamar sekaligus pemusnah berakhir dengan ... begitu gampangnya. Saking gampangnya terkesan bodoh. Teknologi mereka malah dipakai untuk membunuh Poirot, dengan Nomor Dua, tiga, dan Empat ikut serta. Lalu Nonor satu? Katanya bunuh diri tanpa pernah ada pertemuan antara ia dengan Poirot. Logikanya saja ih, kalau mereka orang-orang pintar, terutama Nomor Satu si otak dan dalang dari segalanya, masa iya malah memilih untuk membunuh diri endiri. Halo?? Memang nggak ada cara penyelesaian lain?
-
Setelah saya baca-baca review lain (Goodreads terutama) saya baru tahu kalau novel ini tuh sebenarnya kayak cerita bersambung (tapi juga bisa dibaca terpisah?) yang diterbitkan di sebuah media cetak. Barulah setelah kematian sang pengarang, semua ceritanya dijadikan satu, hingga lahirlah novel Empat Besar.
Lebih jauh, ternyata bukan hanya saya yang kecewa. Kalau kata fans-nya Agatha Cristie sendiri, beliau nggak pintar bikin novel konspirasi macam Empat Besar, dan memang buku ini bukan yang terbaik dari banyaknya novel terbit beliau.
Hmmm. Tapi saya telanjur kecewa sih. Wkwkwk.
So sorry, I'll give 2 out of 5 for this book!
.jpeg)
0 komentar