When You Start to Lose Your “Special Privileges” As A Teenager
November 21, 2022
Sekarang, umur saya sudah genap dua puluh satu tahun. Tentu, saya tidak bisa dikategorikan remaja lagi. Saya telah melewati fase itu, saya dapat dibilang sudah jadi “orang dewasa” secara umur. Dan seperti kebanyakan orang dewasa lainnya, banyak masa di mana saya ingin kembali ke masa-masa remaja itu. Banyak hal yang belum saya lakukan saat usia saya belasan, hal-hal yang tidak bisa lagi—atau rasanya berbeda saat saya melakukannya sekarang. Hal-hal yang mendorong rasa penyesalan. Saya bertaruh banyak dari kita—kalau tidak semua—merasakannya, tapi, kalau boleh jujur, saya punya penyesalan yang spesifik.
Saya menyesal tidak melakukan banyak hal meski saya memiliki special privileges pada usia remaja.
Diakui atau tidak, sebagai remaja, meski sering disepelekan dan dianggap belum cukup dewasa untuk memutuskan sesuatu atau melakukan sesuatu dengan benar; dipandang terlalu ingusan dan kebelet dewasa, remaja memiliki privileges yang saya rasa sepadan: pemakluman untuk banyak tingkah laku kita karena kita remaja dan “belum dewasa”.
Pemakluman itu bervariasi, seperti kenorakan di media sosial yang dianggap sebuah fase anak remaja saja. Kenakalan remaja; katakanlah mencoba merokok, bolos sekolah, dan berkelahi, yang mudah saja diselesaikan dengan kehadiran orang tua selaku “orang dewasa”. Mungkin karena itulah tercipta frase “kenakalan remaja”, tapi akan sangat aneh bila seseorang menciptakan frase “kenakalan orang dewasa” atau lebih spesifik, “kenakalan usia dua puluhan”. Pemakluman untuk bertingkah “gila” di depan publik, dan orang-orang hanya akan menggeleng dan berucap, “ah, remaja-remaja ini”. Atau, yang paling membuat saya iri: pemakluman untuk kegagalan, dan segala hal yang pertama kali.
Masa remaja adalah tempat banyak hal terjadi pertama kali dalam hidup kita. Sleepover di rumah teman, punya sahabat pertama, mencoba sebagian banyak hal untuk pertama kali, entah baik atau buruk: mencoba sebuah wahana, mempunyai ponsel atau motor pertama, belajar suatu hal untuk kali pertama, atau bahkan merokok, pacaran. Remaja adalah saat kita merasakan banyak emosi dan mengeskpresikannya. Tentu sebagai remaja, mereka kadang disalahpahami dan tak dianggap serius. But, when we mess up as a teenager, nobody would make it such a big deal, but when we do as a grown up, that would be … so different.
Banyak pemakluman yang akan hilang saat kita telah melewati masa remaja. Orang-orang cenderung lebih lunak pada para remaja ugal-ugalan di jalan, dan berekspektasi mereka akan berubah ketika dewasa, tapi tidak begitu halnya jika pelaku sama-sama dewasa. Dunia orang-orang dewasa yang saya rasakan sekarang adalah dunia yang berekspektasi bahwa ketika kita dewasa, kita entah bagaimana tahu cara melakukan sesuatu dengan benar. Saya juga tidak akan memungkiri, ketika saya berusia remaja, masih bersekolah dan melihat seseorang berumur dua puluh atau tiga puluhan, I expect them to know how to do everything the right way, to look cool and mature.
Orang-orang akan memaklumi remaja yang marah dan menangis melampiaskan emosinya, tapi akan menatap aneh orang yang secara umur dewasa tapi menangis di depan publik. Padahal, deep down, saya nggak merasa banyak bedanya saya di usia belasan dan saya sekarang ini.
Suatu kali, teman kerja saya yang sudah ibuk-ibuk (usia pertengahan tiga puluhan, katakanlah Mbak Y), menangis di depan saya, rekan lain, dan atasan langsung kami. Sontak, saya dan yang lainnya, menatap Mbak Y dengan keheranan. Yang ada di pikiran saya adalah: sudah ibuk-ibuk kok menangis di depan publik gini? Kekanakan banget.
Well, how wrong I was. Dunia memang membuat kita punya ekspektasi tertentu bahwa a grown up should behave the right way. Kalau orang dewasa itu harusnya terlihat calm and collected, bisa menyelesaikan masalah yang ada, menahan emosinya dan terlihat professional, semata karena “dia sudah dewasa”.
Sekarang ini, ketika saya telah kehilangan special privileges saya sebagai remaja, karena saya sudah melewati fase itu, saya menyesali banyak hal yang dulu tidak saya lakukan karena ragu, tidak berani, atau alasan-alasan lain. Saya tipikal remaja biasa yang pemalu, tidak punya banyak teman, dan tidak menghabiskan banyak kesempatan untuk melakukan baik hal-hal sederhana untuk kali pertama maupun hal-hal “gila” di masa remaja saya.
Saya cukup menyesal masa remaja saya terlewati dengan datar, tidak banyak hal yang saya coba. Ketika saya mencobanya sekarang, rasanya berbeda.
I never really dated in my junior and high school year, and when I try to do it now, unlike how I want it to be light, not too serious (which will happen, maybe, in high school), it went the other way around. Again, because we are a grown up and we are supposed to take things seriously. It just one small example.
What I wanna say is, mungkin selain dunia dan ekspektasinya, kita tidak pernah benar-benar menjadi “dewasa”. Mungkin, special privileges sebagai remaja ini yang membuat kita yang secara umur dewasa, ingin kembali ke masa anak-anak, ketika kita hanya tau bermain atau kembali ke masa SMA, kembali menjadi remaja.

0 komentar