Saya dan Majikan Anabul [7] 30 Days Blog Challenge

November 30, 2022

 


Day 7 : Share your pet

Hewan peliharaan. Sampai saya lulus SMK, saya nggak punya hewan peliharaan. Bukan karena nggak diperbolehkan oleh orang tua atau alasan lainnya, tapi karena  memang saya pikir saya nggak butuh, dan terus terang saja saya malas merawatnya. Daripada saya menelantarkan hewan peliharaan, mending saya nggak usah punya sekalian. Begitu pikir saya dahulu kala.

 

Sampai suatu saat, kakak perempuan saya mengadopsi kucing milik sepupu, dan karena waktu itu saya belum resmi lulus, belum dapat ijazah dan belum cukup umur untuk daftar kerja, dalam kata lain: pengangguran, maka saya menghabiskan banyak waktu main dengan kucingnya. Dan karena anak kakak saya juga suka, maka kami sering bertengkar rebutan waktu mau main sama si kucing. Dan terbitlah pemikiran di benak saya: ah, saya juga mau pelihara kucing.

 

Tapi saat itu nggak ada tetangga yang punya kucing kecil, dong. Jadilah ibu saya dengan inisiatifnya sendiri membawa kucing kecil, lusuh, kelihatan kelaparan dan nggak terurus dari rumah temannya. Usut punya usut, ternyata kucing itu pun bukan kucing milik teman ibu, tapi kucing jalanan yang datang sendiri.


Hobinya memang tiduran, dan kayak saya; ia mageran

Ah, sayangnya, saya nggak punya foto kucing pertama saya ketika keadaannya masih dekil. Awalnya, saya nggak suka karena dia dekil banget dan kelihatan kotor, beda dengan kucing kakak saya yang bulunya putih dan cantik. Tapi lama-lama, saya—dan keluarga saya, terutama bapak saya yang anti kucing—malah suka banget sama kucing ini.

Tidur di kasur babunya, dong. Maafkan resolusi gambarnya yang buluk abis, karena HP saya waktu itu memang nggak fungsional untuk foto
 

Saya kasih nama dia Leo, terinspirasi dari nama tokoh binatang di salah satu novel yang pernah saya tulis. Tapi lama-lama “L” nya sering hilang dan saya cuma panggil dia “Eo”. Oh, dia cowok, by the way. Bulunya halus dan lebat banget, terutama ekornya yang kayak kemoceng. Saya sih curiga dia mungkin persilangan kucing kampung sama angora.

 

Dari saya yang tadinya biasa aja sama kucing, berkat Eo saya jadi cat person. Eo berhasil bikin isi timeline sosmed saya full video anabul. Eo juga yang bikin saya punya spot kelembutan khusus waktu lihat kucing, apalagi kucing jalanan yang hidupnya sering terlunta, jarang yang kasih makan. Waktu kecil, dia nurut banget mau diapakan aja. Dia menemani saya waktu saya lagi sangat frustrasi nggak kunjung dapat kerjaan, dan juga menemani saya saat saya struggle di pekerjaan pertama. Bisa dibilang, Eo adalah hewan pertama yang bikin saya sadar kalau punya peliharaan tuh menyenangkan.

 

Sayangnya, kedekatan saya sama Eo cukup singkat. Singkat cerita, Eo pernah saya kira hilang karena dia nggak pulang bahkan setelah lebih dari tiga hari (dia nggak pernah gitu sebelumnya). Saya sampai nangis-nangis dan cari-cari dia ke mana-mana, dan tetap aja nggak ketemu. Ternyata, Eo malah dibuang oleh tetangga saya yang lain yang merasa keganggu (saya nggak tahu persisnya karena apa) dan setelah cukup lama akhirnya saya tahu, dibuangnya dekat rumah teman SD saya. 

 

Muka galaknya waktu pertama saya lihat dia di lingkungan rumah teman saya

 

Pernah saya ambil balik dia, tapi mungkin saking lamanya dia hilang dan nggak di rumah saya lagi, dia sudah terbiasa di tempat yang baru dan alhasil pulang lagi ke sana. Dan beruntungnya sih teman SD saya itu dan tetangganya yang lain juga suka sama Eo, jadi saya cukup tenang karena pasti Eo nggak ditelantarkan. Ya walaupun sedih juga sih, secara dia kucing pertama saya.

 

Ini terakhir saya ketemu Eo, dia kelihatan lebih kurus dari sebelumnya :(

Setelah nggak ada lagi Eo, saya sempat lama nggak punya kucing, dan rasanya saya masih belum bisa move on, apalagi berpikir untuk pelihara kucing baru. Sampai … seekor kucing mungil berkaki pendek datang ke rumah saya suatu malam, ngikutin teman bapak yang bertandang ke rumah.

 

Penampakannya waktu pertama tinggal sama saya

Dan seketika, ibu saya yang udah kepengaruh suka anabul mengusulkan untuk merawat kucing itu. Saya sih awalnya ragu-ragu karena masih belum bisa lupain Eo. Tapi akhirnya mengiyakan juga, dan sekarang, saya resmi jadi babu kucing ini. Namanya Timmy, dinamain langsung sama ibu saya, terinspirasi dari domba kecil di kartun Shaun the Sheep—saya juga kaget loh ibu saya tahu nama karakter itu.

Transformasi Timmy

Timmy is a meowdel

Timmy itu cewek. Dia memang tipe kucing yang berbadan mungil, jadi walaupun dia secara usia udah dewasa pun, tubuhnya nggak jauh beda banget dari dia kecil. Sekitar dua bulan lalu, majikan anabul saya pun bertambah karena Timmy lahiran.

 

Timmy dan ketiga anaknya






 

Karena nggak mungkin juga saya rawat semuanya, ibu saya lagi-lagi berinisiatif untuk menawarkan anak-anak Timmy ke temannya yang mau merawat kucing. Alhasil, dua anaknya pun diadopsi orang. Tertinggalah satu di rumah saya. 

Tommy yang sedang nemenin saya nge-blog
 

Karena dia laki-laki, dan nama ibunya adalah Timmy, maka kakak perempuan saya dengan seenaknya memanggil anak kucing itu dengan panggilan Tommy. Berhubung saya malas cari nama-nama baru, saya ikutan saja deh.

 

Dalam perjalanannya memiliki hewan peliharaan, itu bikin saya sadar kalau; oh, ternyata, saya capable untuk mencintai makhluk hidup lain sebesar itu. And my journey with my cats are wonderful. 

You Might Also Like

0 komentar