My Love Language Is … [6] 30 Days Writing Blog Challenge

November 29, 2022

 


Day 6 : What is your love language?

 

Saya tahu soal love language mungkin saat masih SMK. Saya tahu ini kayak udah jadi pengetahuan umum dan basic banget, tapi ternyata banyak teman-teman saya yang “hah-heh-hoh” waktu saya tanya apa love language mereka. Jadi, saya mau membahas artinya dulu. Love Language bisa diterjemahkan ke Indonedia sebagai bahasa kasih/bahasa cinta, yang menurut saya adalah bagaimana cara kita mengekspresikan cinta dan kasih ke diri sendiri dan orang lain.

 

Iya, saya bold kata “ke diri sendiri” karena kebanyakan pembahasan mengenai love language yang pernah saya baca mengerucut hanya pada ekspresi kasih ke orang lain, khususnya dalam relasi romantis. Padahal bahasa kasih juga membantu kita untuk lebih mencintai diri dengan mengerti apa yang kita butuhkan agar merasa dikasihi dan dicintai. Dan pada orang lain sekalipun, bahasa kasih tidak terbatas hanya untuk relasi romantis, tapi juga relasi platonis antar terman atau anak dengan orang tua.

 

Ada lima bahasa kasih, dengan penjelasan sepengetahuan saya saja ya:

  1. Words of affirmation (kata-kata afirmasi) seperti memberi pujian, atau memberi kata “semangat” atau kata-kata sweet, dan ucapan validasi.
  2. Physical touch (sentuhan) nggak harus sex ya, tapi bisa lewat gandengan tangan, elus bahu, elus puncak kepala a la k-drama
  3. Quality time (menghabiskan waktu bersama) di mana kalian benar-benar fokus dan mendengarkan satu sama lain
  4. Receiving Gifts (memberi—dan juga menerima—hadiah)
  5. Acts of service, tipe yang menunjukan kasihnya dengan perbuatan nyata.

 

Dan dari kali pertama baca jenis-jenis love language, tanpa mengambil tes, saya sudah tahu apa love language saya. Saat saya benar-benar test online, hasilnya hanya seperti mengkonfirmasi dugaan saya: Quality time, barulah kemudian diikuti oleh Physical touch. Perpaduan keduanya membuat saya otomatis memproklamirkan diri kalau menyenangkan saya tuh gampang pake banget.

 

Pada orang lain dalam kaitannya dengan bahasa kasih saya, saya suka menghabiskan waktu terjadwal dengan teman dekat. Nggak perlu sering-sering, asal sama-sama dengan sadar dan mau meluangkan waktu. Ya nggak ke mana-mana, di rumah saja, kadang di rumah saya, kadang di rumahnya teman. Camilan pun seadanya, tapi bagi saya nggak penting asal bisa ngobrol dengan tenang dan nyaman. Berbagi cerita yang kami lewatkan di kehidupan satu sama lain. Benar-benar privat dan hanya teman dekat. Dulu saya rutin ngumpul dengan teman dekat tiap minggu, bergiliran di rumah kami. Benar-benar nggak keluar. Di kamar saja, tapi waktu-waktu itu bagi saya rasanya berharga.

 

Kalaupun nggak di rumah, misal ngobrol dengan teman jauh, saya lebih suka ketemu di tempat makan biasa, malah kalau bisa yang nggak begitu terkenal dan nggak terlalu ramai. Biar kami bisa ngobrol lama dan enak. Saya nggak butuh tempat yang fancy, kekinian, atau bagus buat foto-foto dan dipajang ke Instagram dengan gaya. Yang saya butuhkan adalah isi obrolannya.

 

Dari dulu saya selalu sebal dengan orang yang kalau ketemu malah sibuk dengan HP-nya. Makanya saya cenderung pilah-pilih kalau diajak ketemuan teman, kalau sekiranya nggak begitu dekat, saya pilih untuk menolak saja. Daripada saya dongkol sendiri tanpa bisa menegur juga. Kebalikannya, saya respect banget ke orang yang kalau ketemu sama sekali meninggalkan HP-nya kecuali untuk keadaan genting. Foto-foto ya sewajarnya saja.

 

Bahasa kasih ini juga berlaku untuk diri saya sendiri. Iya, tidak salah. Love language tidak hanya berlaku dari kita ke orang lain dan sebaliknya—saya tegaskan lagi--tapi juga dari kita ke diri kita sendiri. Cara saya mengasihi diri adalah meluangkan waktu untuk diri saya sendiri. Me time. Di mana cuma ada saya, melakukan hal-hal yang saya suka. Tempat favorit saya adalah kamar saya sendiri, di mana saya seringnya mengultimatum untuk jangan ganggu saya dan jangan biarkan ada yang masuk begitu saja, bikin orang tua saya geleng-geleng kepala. Perpaduan introvert dan love language saya ini memang kayaknya membuat saya jadi pribadi yang butuh banyak ruang untuk sendiri; lebih dari semua orang yang pernah saya kenal.

 

Yang kedua, physical touch. Well, yang satu ini saya awalnya nggak nyadar. Karena saya pikir, saya nggak suka kok dengan sentuhan. Saya aja bergidik jijik kalau teman cewek saya ada yang berusaha peluk atau clingy ke saya. Tapi, saat saya pikir-pikir kembali semua itu karena 1) gengsi, dan 2) saya orangnya kaku abis di real life, dan 3) antara saya nggak nyaman aja karena saya emang perlu semacam kedekatan emosional khusus sebelum saya bisa merasa nyaman dengan sentuhan.

 

Tapi gengsi memang alasan terkuatnya. Iya, saya gengsi tau dipeluk dan balas balik peluk, sekalipun oleh ibu saya sendiri—yang mana selalu ibu lakukan setiap saya pulang ke rumah dan mau balik ke kost-an, padahal saya pulang hampir tiap minggu. Keponakan cowok saya (12 tahun) tuh anaknya clingy, suka nempel, peluk, bahkan cium-ciumin orang terdekatnya termasuk saya, dan saya tuh selalu bilang saya nggak suka, tapi ya udah gitu saya pasrah aja. Keponakan cowok saya yang lain, yang beda umurnya cuma satu tahun lebih tua saya, juga clingy sama saya. Kami dulu biasa tiduran bareng, gendong-gendongan, dan kalau kami lagi ketemu kami juga masih melakukan hal itu kayak waktu kecil.

 

Akhirnya saya terpaksa menerima deh, memang love language saya yang kedua itu physical touch. Saya kan bisa aja bilang dengan tegas kalau saya merasa terganggu, tapi ya saya justru lebih ke pasrah dan kalau orang terdekat, saya nggak masalah. So … ya udah lah ya, nggak usah dibahas lagi. 

 

--

 

Katanya, kalau kita punya bahasa cinta yang beda dengan pasangan—nggak harus pasangan, sih, bisa saja antar ortu dan anak atau antar teman—kalau kita nggak tahu dan nggak bisa memahami perbedaan bahasa cinta satu sama lain itu, bisa aja ada banyak miskomunikasi dan pasangan mungkin menganggap “oh, dia udah nggak cinta ke saya”.

 

Well, saya menyaksikan sendiri sih. Nggak sampai pada tahap ekstrim, tapi yaa … tetap aja salah tangkap. Bahasa cinta ibu saya (menurut observasi saya) itu adalah words of affirmation dan receiving gifts. Dia suka dipuji, atau kita bilang hal sederhana kaya “aku sayang ibu”. Sementara bahasa cinta bapak saya tuh act of service. Bapak saya tipe orang yang kaku dan pendiam, nggak bisa banget berkata-kata manis, tapi kepeduliannya besar. Dan itu ditunjukan dalam cara-cara yang seringkali nggak kita tahu. Jadi, ibu saya sering merasa kalau bapak tuh nggak ada peduli-pedulinya sama dia. Simply karena bahasa cinta mereka nggak terkomunikasikan dengan baik.

 

Jangankan mereka berdua, saya sendiri dulu nggak paham dan menyalahartikan diamnya bapak sebagai bentuk ketidakpedulian, sama seperti ibu. Figur bapak di mata saya waktu kecil dulu harusnya yang penyayang dan sering ajak main anaknya, belikan mainan, atau sering bikin ketawa. Tapi dari dulu bapak nggak begitu dan saya sebagai anak kecil nggak pernah tahu apa yang dia lakukan diam-diam buat saya.

 

Bahkan setelah saya tahu ada lima bahasa kasih dan bagaimana kelimanya itu berbeda, saya tetap belum bisa mempraktikannya, membuat ibu saya juga terkadang menyalahpahami saya. Dalam banyak hal, saya memang lebih mirip bapak, yang kaku dan pendiam. Dan saya bukan tipe orang yang akan bilang hal-hal sweet ke ibunya, memuji, atau secara harfiah bilang menyayangi ibunya. Saya paling nggak bisa, sementara bahasa kasih utama ibu saya adalah words of affirmation. Bagi saya, menghabiskan hari dengan berada dekat orang tua saya sudah cukup, rupanya bukan begitu menurut ibu saya. 

 

--

 

It's really long, waw! I just wanna say I am so sorry untuk inkonsistensi penggunaan “aku” dan “saya” di postingan sebelumnya. Saya lagi memilah-milih nih mana yang lebih enak aja.

You Might Also Like

0 komentar