20 Random Facts Abut Me [5] 30 Days Blog Challenge

November 27, 2022


Day 5 : List 20 Random Facts About Yourself

 

20. Waw, that’s a lot. Meski aku merasa ini agak narsistik untuk terus bicara soal diriku—yang jarang kulakukan, soalnya daripada pembicara, aku lebih dominan pendengar. I still wanna try. So here we go:

 

  1. One thing about me: I’m definitely an introvert. Your tipical introvert. Tahu kan? Introvert menurut definisi yang seringnya keliru itu; yang digambarkan sedikit bicara di depan banyak orang, cenderung pendiam, awkward, kaku, pemalu, nggak punya banyak teman, dan menghabiskan sebagian besar waktu di rumah. Terakhir kali aku tes, aku INTJ. Kalau aku ambil tes MBTI, persentase introversion dan extroversion-ku pasti jomplang banget. Persentase introversionku selalu di atas 85 %.
  2. Lebih mengandalkan logika dibanding perasaan. Jadi, terkadang, orang mengira aku nggak berperasaan. Tapi karena ini pula teman dekatku sering mengandalkanku karena aku bakal lebih objektif memandang suatu masalah.
  3. Mungkin karena poin nomor dua, aku juga jadi lebih mempercayai sesuatu yang udah terbukti secara saintifik dan skeptis banget sama apa yang baru "kata orang". Aku nggak mudah percaya mitos, seperti misalnya: nggak boleh keramas kalau sedang haid, nggak boleh juga minum es karena katanya nanti darah kita kental, dan mitos-mitos lainnya.
  4. I don’t like sugarcoating. Jadi, kalau ada yang tanya pendapatku dan aku bilang bagus artinya ya bagus, kalau enggak ya enggak, atau aku simply diam aja biar nggak melukai perasaan. Kalau aku random bilang “make up kamu bagus” tanpa kamu minta, it means I really mean it.
  5. I love dark jokes. Makanya kalau orang baru mulai dekat denganku, mereka pasti lumayan kaget karena yang keluar dari mulutku kebanyakan hal-hal suram, walaupun aku ngomongnya sambal senyam-senyum.
  6. My main love language is quality time. Followed by physical touch.
  7. Aku pecinta semua jenis drama kayaknya, asal drama itu punya cerita yang menarik, dan acting pemerannya nggak bikin sakit mata. Aku bisa nonton drama Korea, Jepang, Thailand, China, Amerika. Semuanya, bagiku nggak masalah asal ceritanya jelas, kok.
  8. I prefer subtitle over dubbing. Definitely. Aku nggak bermaksud untuk meremehkan para dubber, tapi menurutku tetap lebih enak dan lebih tersampaikan emosinya jika menggunakan suara aktornya langsung. Meskipun dengan adanya para dubber, fokus kita nggak perlu kebagi antara lihat aktingnya dan baca subtitle, tetap aja aku lebih pilih dengarin mereka ngomong bahasa ibu mereka, meskipun kalau baru pertama dengar berasa aneh di telinga. Aku masih bisa nerima kalau dubbing kartun, tapi untuk dubbing dengan pemeran real orang, nope. Jadi aku heran banget sama orang bule (re; Amerika) sana yang apa-apa tuh harus di-dubbing. Dan mereka malah nggak bisa multitask nonton sambal baca subtitle. Like, how come?
  9. I never really fall in love. Naksir, tentu pernah, tapi sampai jatuh cinta? Sampai saat ini belum pernah.
  10. And so, I never really dated anyone. Mentok hanya dekat sekilas.
  11. Dating and getting married is not on my top priority. Karena aku tinggal dengan kultur desa di mana pernikahan dini itu wajar sekali, usiaku sekarang dianggap sudah matang untuk berkeluarga dan punya anak. Beberapa temanku sudah punya anak, ada yang sudah berusia satu tahun lebih, bahkan ada yang sudah beranak dua. Dan yang lain kebanyakan sudah bertunangan. Beruntungnya, pressure dari keluargaku sendiri untuk cepat-cepat nikah nggak ada. Dan aku nggak ngurusin tekanan dari orang lain. Jadi, aku masih santai aja sampai sekarang.
  12. Aku tipe night owl—orang yang bakal lebih produktif di malam hari. Aku udah sadar sejak masih sekolah. Aku selalu produktif belajar di malam hari, terutama jam-jam saat orang di rumah udah pada tidur. Saat aku rajin nulis, aku juga bakal lancar nulis malam hari.
  13. Tipe orang yang paling susah bangun pagi. Jadi, aku selalu menyiapkan kebutuhanku—entah saat sekolah atau kerja—malam sebelumnya, biar paginya aku bisa bangun semolor mungkin dan tinggal mandi dan pergi aja. Alarmku di pagi hari bisa sampai tiga dan biasanya aku snooze terus. Oke, itu kebiasaan buruk, sih.
  14. Aku tipe perencana. Dulu, aku rajin bikin to-do list yang bakal aku lakuin seharian itu. Sekarang, karena aku keseringan lembur, dan jadwalku biasanya cuma kerja dan tidur, aku nggak lagi bikin to-do list. Dalam hal finansial, aku juga selalu bikin perkiraan budget yang aku perluin dalam sebulan. Aku juga selalu catat berapa pengeluaranku tiap hari.
  15. Kebiasaan mengelola uang sudah kulakukan sejak kecil. Kalau anak kecil diberi uang oleh kerabat lainnya, kebanyakan dari mereka akan memberikannya ke orang lain, tapi buatku, aku bakal simpan sendiri. Aku biasa nabung di celengan ayam sejak SD, dan beli sesuatu yang kumau sendiri.
  16. I enjoy being alone. Aku tipe yang baik-baik aja nggak ketemu orang seharian full, atau di rumah aja sendirian. Aku juga bukan orang yang ke mana-mana perlu teman. Aku merasa biasa aja nonton di bioskop sendirian, sementara teman-temanku pada heran. Aku nggak masalah ke tempat makan sendirian, jalan-jalan sendiri, belanja sendiri, meski aku bisa aja ajak temanku. I enjoy my own company. Dan aku rasa hal ini harusnya dinormalisasi biar kita nggak ketergantungan dengan keberadaan orang lain.
  17. I think it’s okay to not get married. Ide untuk harus punya pendamping hidup buatku itu … terlalu dipaksakan. Hanya karena ada 8 miliar orang di bumi ini bukan berarti kita akan bertemu semuanya, dan karenanya bukan berarti harus ada satu orang yang jadi pasangan kita. Kadang, orang-orang terlalu takut untuk tidak mengikuti arus mayoritas, dan malah menikah dengan siapapun, walau tidak merasa cocok.
  18. And, so it’s okay to choose not to have a child. Sampai saat ini, kalau nantinya aku menemukan orang yang tepat dan menikah; aku tidak  ingin memiliki anak. Aku punya alasanku sendiri. Aku tahu banyak orang yang mempermalukan orang-orang yang memilih childfree, banyak banget alasan mereka mencemooh, hingga bawa-bawa agama. Tapi menurutku, mempunyai keturunan harusnya bukanlah satu-satunya tujuan orang menikah.
  19. Prioritasku adalah diriku sendiri. Bukan orang tuaku, atau siapapun yang dekat denganku. Aku tahu kedengarannya ini cukup egois, tapi ide bahwa aku harus memprioritaskan orang lain di atas diriku terasa absurd. Gimana aku bisa membahagiakan dan mencukupi orang lain kalau aku tidak bisa membahagiakan diriku dan mencukupi diriku sendiri dulu?
  20. Jarak umurku dengan dua kakak perempuanku sangat jauh, 13 tahun dan 17 tahun. Dengan orang tuaku, aku sering dikira cucu mereka.

 

It’s done, yay! Ternyata susah juga untuk bisa ngisi sampai 20 list. Tapi aku berhasil.

 

You Might Also Like

0 komentar