Hari ini, saya mulai bisa melihat masalah saya dari
sisi lain.
Saya selalu berpikir, dibandingkan dengan orang lain,
masalah-masalah saya terlalu kecil dan terlalu dangkal untuk dibicarakan.
Sesuatu yang hanya eksis dalam pikiran saya. Sesuatu yang seolah bukan apa-apa.
Memang begitulah adanya. Bahkan sejak masih usia belasan,
masalah-masalah saya tidak terdiri dari persoalan asmara, pertengkaran dengan
teman sebaya maupun orang tua. Sekarang, masalah saya juga tidak seberat
orang-orang seusia saya yang; bibit sandwich generation, pencari nafkah utama
dan harus membiayai sekolah adik-adiknya, atau sudah menikah dan mengalami
pasang surut pertama rumah tangga. Semua masalah itu adalah masalah eksternal.
Sedangkan masalah-masalah saya adalah masalah internal
yang berwujud kekhawatiran tak kasatmata, perasaan ‘lost and disconnected’
setiap waktu, juga ketakutan dan tekanan di dalam kepala. Sesuatu yang sulit
dijelaskan dalam kata-kata. Masalah saya terdiri dari kekhawatiran bahwa saya
tidak bisa menjadi versi diri yang saya inginkan. Kekhawatiran bahwa suatu saat
saya akan bangun dan menyadari versi kehidupan yang saya impikan tidak akan
pernah tercapai. Masalah-masalah saya adalah tumpukan kekalutan lain dan perang di
dalam kepala, yang bahkan saat saya menuliskan ini, saya bingung bagaimana
menjelaskannya agar dapat mudah dipahami tanpa terlalu banyak menelanjangi isi pikiran saya.
Mau tidak mau, saya jadi merasa masalah-masalah saya
adalah sesuatu yang kecil. Ini juga didukung dari reaksi orang-orang saat
giliran saya bercerita. Saya gagal memvalidasi permasalahan dan perasaan saya
sendiri.
So, I keep wondering, why do I feel this way if my
problems are too small?
Hari ini saya menyadari, mungkin benar bahwa masalah
saya terlalu kecil, insignificant bagi orang lain, karena saya terus mencari
validasi dan melihatnya dari perspektif orang lain. Saya ingin mereka mengerti
apa yang terjadi dalam kepala saya. Masalah-masalah saya. Tapi saya gagal
melihatnya dari perspektif saya pribadi.
Masalah saya menjadi insignificant because it didn’t
matter to them. It’s not something they should worry about. But it’s something
that matter a lot to me. it means almost everything to me.
Saya gagal memahami bahwa sebuah masalah menjadi
masalah karena hal itu berarti sesuatu bagi orang yang bersangkutan.
Selama bertahun-tahun, siklus menstruasi saya tidak
teratur dengan durasi yang sangat lama dari normal. Ini mengindikasikan di
kemudian hari, saya memiliki risiko PCOS, barangkali kesulitan mendapat
keturunan, atau bahkan kemandulan. Tapi hal itu bukan masalah besar bagi saya.
Saya tidak begitu peduli semua itu kecuali fakta bahwa durasi mens terlalu lama
terkadang mengganggu aktivitas kerja saya.
Bagi sebagaian orang, khususnya sebagai perempuan, itu
harusnya menjadi kekhawatiran besarn sebab ketidakmampuan memiliki keturunan
dinilai membuat Wanita menjadi “tidak sempurna”. Tapi itu bahkan tidak membuat
saya khawatir karena memiliki keturunan di kemudian hari tidak ada dalam daftar
pertimbangan rencana hidup saya.
Saya hidup dalam kultur lingkungan di mana menikah
muda adalah sebuah hal biasa dan umur awal dua puluhan dianggap sudah ‘matang’
atau cukup usia untuk menikah. Now I am in my early twenties, having nearly
zero dating experience, the perfect age to worry about this thing, but I
couldn’t care less. Simply because I don’t have any plan to get married bellow
25, or even (probably) 27. I know for some people, this is a big deal. But to
me, it isn’t.
Hal-hal itu membuktikan bahwa apa yang terlihat
sebagai masalah dan kekhawatiran besar bagi orang lain bisa jadi bukan apa-apa
bagi saya. Dan apa yang penting bagi saya, belum tentu mereka merasakan yang
sama.
Lebih dari sebagian dari rencana hidup saya dan hidup
ideal versi saya berlawanan dengan apa yang lingkungan saya pandang sebagai
sebuah “keharusan”. Atau juga sesuatu yang normal/lumrahnya dilakukan.
Maka, hari ini saya menulis untuk mengingatkan diri
saya sendiri, bahwa wajar bahwa orang lain tidak memahami sebarapa besar masalah
dan kekhawatiran di kepala saya. Maka, tidak seharusnya saya mencari validasi
dari orang lain, ataupun terluka kalau mereka bilang, “Halah, buatku itu masih
bukan apa-apa.” atau “Kamu, tuh, kebanyakan mikir, makanya ….”
Hari ini, untuk diriku,
Kamu seharusnya berhenti merasa bahwa masalahmu
terlalu kecil, sepele, remeh. Stop invalidating your feelings. Masalah dan
kekhawatiranmu juga penting. Masalahmu tidak terlalu kecil dan remeh. Hanya karena bagi orang lain itu bukan apa-apa, bukan berarti itu "bukan apa-apa" bagimu. Karena hanya
kamu yang tahu betapa berartinya semua hal yang mendasari semua permasalahan
itu.
