Melihat Dari Sisi Lain

Januari 24, 2024

 


Hari ini, saya mulai bisa melihat masalah saya dari sisi lain.

 

Saya selalu berpikir, dibandingkan dengan orang lain, masalah-masalah saya terlalu kecil dan terlalu dangkal untuk dibicarakan. Sesuatu yang hanya eksis dalam pikiran saya. Sesuatu yang seolah bukan apa-apa.

 

Memang begitulah adanya. Bahkan sejak masih usia belasan, masalah-masalah saya tidak terdiri dari persoalan asmara, pertengkaran dengan teman sebaya maupun orang tua. Sekarang, masalah saya juga tidak seberat orang-orang seusia saya yang; bibit sandwich generation, pencari nafkah utama dan harus membiayai sekolah adik-adiknya, atau sudah menikah dan mengalami pasang surut pertama rumah tangga. Semua masalah itu adalah masalah eksternal.

 

Sedangkan masalah-masalah saya adalah masalah internal yang berwujud kekhawatiran tak kasatmata, perasaan ‘lost and disconnected’ setiap waktu, juga ketakutan dan tekanan di dalam kepala. Sesuatu yang sulit dijelaskan dalam kata-kata. Masalah saya terdiri dari kekhawatiran bahwa saya tidak bisa menjadi versi diri yang saya inginkan. Kekhawatiran bahwa suatu saat saya akan bangun dan menyadari versi kehidupan yang saya impikan tidak akan pernah tercapai. Masalah-masalah saya adalah tumpukan kekalutan lain dan perang di dalam kepala, yang bahkan saat saya menuliskan ini, saya bingung bagaimana menjelaskannya agar dapat mudah dipahami tanpa terlalu banyak menelanjangi isi  pikiran saya.

 

Mau tidak mau, saya jadi merasa masalah-masalah saya adalah sesuatu yang kecil. Ini juga didukung dari reaksi orang-orang saat giliran saya bercerita. Saya gagal memvalidasi permasalahan dan perasaan saya sendiri.

 

So, I keep wondering, why do I feel this way if my problems are too small?

 

Hari ini saya menyadari, mungkin benar bahwa masalah saya terlalu kecil, insignificant bagi orang lain, karena saya terus mencari validasi dan melihatnya dari perspektif orang lain. Saya ingin mereka mengerti apa yang terjadi dalam kepala saya. Masalah-masalah saya. Tapi saya gagal melihatnya dari perspektif saya pribadi.

 

Masalah saya menjadi insignificant because it didn’t matter to them. It’s not something they should worry about. But it’s something that matter a lot to me. it means almost everything to me.

 

Saya gagal memahami bahwa sebuah masalah menjadi masalah karena hal itu berarti sesuatu bagi orang yang bersangkutan.

 

Selama bertahun-tahun, siklus menstruasi saya tidak teratur dengan durasi yang sangat lama dari normal. Ini mengindikasikan di kemudian hari, saya memiliki risiko PCOS, barangkali kesulitan mendapat keturunan, atau bahkan kemandulan. Tapi hal itu bukan masalah besar bagi saya. Saya tidak begitu peduli semua itu kecuali fakta bahwa durasi mens terlalu lama terkadang mengganggu aktivitas kerja saya.

 

Bagi sebagaian orang, khususnya sebagai perempuan, itu harusnya menjadi kekhawatiran besarn sebab ketidakmampuan memiliki keturunan dinilai membuat Wanita menjadi “tidak sempurna”. Tapi itu bahkan tidak membuat saya khawatir karena memiliki keturunan di kemudian hari tidak ada dalam daftar pertimbangan rencana hidup saya.

 

Saya hidup dalam kultur lingkungan di mana menikah muda adalah sebuah hal biasa dan umur awal dua puluhan dianggap sudah ‘matang’ atau cukup usia untuk menikah. Now I am in my early twenties, having nearly zero dating experience, the perfect age to worry about this thing, but I couldn’t care less. Simply because I don’t have any plan to get married bellow 25, or even (probably) 27. I know for some people, this is a big deal. But to me, it isn’t.

 

Hal-hal itu membuktikan bahwa apa yang terlihat sebagai masalah dan kekhawatiran besar bagi orang lain bisa jadi bukan apa-apa bagi saya. Dan apa yang penting bagi saya, belum tentu mereka merasakan yang sama.

 

Lebih dari sebagian dari rencana hidup saya dan hidup ideal versi saya berlawanan dengan apa yang lingkungan saya pandang sebagai sebuah “keharusan”. Atau juga sesuatu yang normal/lumrahnya dilakukan.

 

Maka, hari ini saya menulis untuk mengingatkan diri saya sendiri, bahwa wajar bahwa orang lain tidak memahami sebarapa besar masalah dan kekhawatiran di kepala saya. Maka, tidak seharusnya saya mencari validasi dari orang lain, ataupun terluka kalau mereka bilang, “Halah, buatku itu masih bukan apa-apa.” atau “Kamu, tuh, kebanyakan mikir, makanya ….”

 

Hari ini, untuk diriku,


Kamu seharusnya berhenti merasa bahwa masalahmu terlalu kecil, sepele, remeh. Stop invalidating your feelings. Masalah dan kekhawatiranmu juga penting. Masalahmu tidak terlalu kecil dan remeh. Hanya karena bagi orang lain itu bukan apa-apa, bukan berarti itu "bukan apa-apa" bagimu. Karena hanya kamu yang tahu betapa berartinya semua hal yang mendasari semua permasalahan itu.

You Might Also Like

0 komentar