Cerpen – Oasis
Oktober 12, 2023
Cerpen ini dibuat untuk diikutertakan dalam lomba bertema "Ruang Terbuka Biru Jakarta" yang diselenggarakan oleh Dinas SDA Jakarta.
OASIS
Tak ada yang berubah kali ini. Jakarta masih seramai dan
seberisik biasanya. Udara masih penuh polusi. Suara bising klakson dan
kemacetan jalan tak jauh beda. Jalan di permukimanku pun tak jadi jauh lebih
bersih. Anak-anak sekolah nongkrong di pinggir jembatan.
Saat aku lewat, salah satunya membuang plastik bekas jajan
ke sungai di bawah, hanyut bersama segala macam sampah-sampah lainnya. Airnya
keruh dan berbau. Tapi selain aku, tampaknya tak banyak yang terganggu
dengan itu—kecuali jika hujan deras lalu banjir. Itu perkara lain.
Pada hari biasa aku akan menegur anak sekolah itu, meskipun
sia-sia saja. Tetapi pagi ini sungguh aku mau menyimpan energiku untuk hal-hal
baik saja. Tetap diam dan melengos pergi.
Semua masih tetep sama. Hanya saja pagi ini, aku lebih bisa menoleransinya.
Naik bus transjakarta, aku menikmati setiap detiknya hingga
sampai pada tempat tujuanku. Waduk—tadinya disebut danau—Sunter Selatan.
Saat aku sampai, setelah mengarungi jalanan Jakarta, berada
di tempat ini hampir seperti mengunjungi realitas lain. Bukan hanya kualitas
udaranya yang tampak beda (jelas sekali di sini lebih segar dan tenang), tetapi
juga orang-orangnya. Tidak ada orang dengan raut muka kentara habis kena marah
bos atau stress dengan deadline pekerjaan
yang makin dekat. Atau juga mata tampak lelah akibat beban kerja yang berlebih.
Beberapa melakukan olahraga ringan di fasilitas yang tersedia, dan aku membuat catatan di kepalaku untuk melakukannya kapan-kapan. Kelihatannya seru. Ada juga yang bersepeda atau sekadar berswafoto di amfiteater atau taman kecil yang ada. Aku memutar dan melihat-lihat sampai puas, sebelum kemudian membeli makanan di tempat kulineran dan membawanya ke pinggir waduk. Aku memilih tempat yang kurasa paling bagus pemandangannya, kemudian menggelar kain kecil. Piknik alaku.
Ada muda-mudi yang mengambil swafoto tak jauh dariku,
beberapa yang lain hanya berjalan-jalan. Aku sendiri cukup puas hanya dengan
melihat air yang membentang dan angin yang sejuk menerpaku.
Lalu baru aku teringat bahwa sejak pagi tak kunyalakan
ponsel. Aku tidak berharap akan dicari siapa-siapa, kecuali mungkin bosku yang
mengamuk karena hari ini harusnya aku berangkat.
Saat kubuka, ada beberapa pesan yang masuk. Salah satunya dari adikku. Ia menulis: Mbak, udah kubayar uang studytour-nya. Makasih juga uang sakunya mbak! Sambil ia lampirkan bukti pembayaran.
Satu lagi pesan konfirmasi permbayaran dari pihak rumah
sakit tempat ibu dirawat. Aku hanya membacanya sekilas. Ada pesan dan panggilan
tak terjawab dari atasanku. Demi menjaga mood-ku,
aku dengan sengaja mengabaikannya. Tidak ada bedanya aku membalas sekarang atau
mendiamkannya. Besok tetap aku akan dimarahi habis- habisan.
Aku menatap ke arah gedung-gedung besar yang terlihat dari sini. Harusnya hari ini aku berada di salah satunya. Bekerja tanpa kesenangan untuk hidup dari gaji satu ke gaji berikutnya. Beginilah nasib generasi sandwich.
Aku menggulir sampai bawah dan kudapati satu pesan yang tak kusangka. Dari Mas Angga, seniorku di divisi yang sama.
Rima,
lo nggak berangkat? Are you okay?
I am okay. Aku berpikir sebelum menambahkan. Haruskah kukatakan terima kasih telah bertanya? Tapi—
Panggilan masuk
datang. Dari Mas Angga!
"Halo? Eh—iya, Mas? Gue beneran nggak papa."
"Lo
... nggak niat resign, kan, Rim?"
Aku tertawa. Tawa pertamaku hari ini. "Nggak lah, Mas.
Gini-gini gue masih butuh duit juga buat keperluan adek sama ibu. Kenapa, Bos
marah besar ya?"
"Ya gitu, lah. Dia kira kamu nggak kuat mental gara-gara kemarin."
"Nggak, kok. Cuma lagi butuh refreshing aja. Lagian, sebenarnya gue udah ajuin cuti dari kapan
tahu. Dari bulan lalu kali nggak di-approve.
Padahal kerjaan juga udah sempat beres."
"Terus
sekarang, lo di mana?"
"Waduk
Sunter. Sini, nyusul. Enak tahu di sini."
Aku menutup telepon tak berapa lama, obrolan kami berakhir
sewaktu jam istirahat kantor habis. Entah berapa lama aku menatap ke danau,
menikmati angin, melihat- lihat pengunjung lain, makan, berbaring, menatap
awan, tanpa benar-benar melakukan apa-apa. Di sini rasanya bisa bernapas dengan
bebas. Pikiranku juga terasa ringan.
Aku dikejutkan dengan dering ponselku. Panggilan dari Mas
Angga lagi. Saat aku melihat jam, tak terasa sudah sore. Bahkan sudah waktunya
pulang menurut jam kantorku.
"Masih
di situ? Tunggu ya, jangan dulu pulang."
Begitulah katanya. Tadinya aku hampir melambung tinggi
karena perkataanya menyiratkan seolah ia bakal datang. Tapi kemudian menggeleng
dan mengingatkan diri. Yah, memangnya untuk apa ia menyusulku ke sini setelah
capek bekerja? Aku tertawa pada kemungkinan itu.
Tetapi kemudian ia benar-benar datang, masih dengan setelan
kerjanya, melambai padaku dengan senyum cerah. Pada hari biasa, aku memang
mengagumi senyumnya. Kali ini, sial, ia terlihat lebih menawan. Ia bergabung
denganku kemudian. Parahnya aku hanya punya sisa makanan dingin yang kubeli
sejak pagi. Tapi tampaknya Mas Angga tak keberatan.
"Laper Mas?"
Ia tersenyum,
matanya menyipit. "Banget."
Setelahnya kami berdua terdiam, tenggelam dalam pemikiran masing-masing. Keheningan di antara kami dipecahkan saat Mas Angga bersuara, "Pantes lo pilih tempat ini, ya, Rim. Udaranya segar. Vibes-nya nenangin. Terus, enak kayaknya nih, jogging di sini?"
"Iya, ada
jogging track-nya juga, kok."
"Lo sering ke
sini, ya?"
"Yah, kadang-kadang aja, Mas. Kalau udah sumpek
banget. Eh, nyadar nggak sih, Mas, tempat ini tuh kayak universe lain di tengah-tengah ruwetnya kota Jakarta? Kayak ...
oasis. Mungkin fungsi utama tempat ini tuh buat penampungan air dan pencegah
banjir. Tapi selain itu bagi gue, tempat ini bikin gue sejenak bisa
"napas" dan lepas dari hectic-nya
kerjaan dan masalah-masalah kehidupan lainnya. Lihat, deh"—aku
menunjuk salah satu pasangan yang duduk berdua dan tertawa—"orang-
orang di sini, tuh, kelihatannya bahagia."
Mas Angga menatapku dan tersenyum kecil. "Karena itu lo rela bolos meski tahu besok bakal dimarahi habis-habisan?"
Aku terkekeh. Lalu berlagak sombong dengan menyilangkan
tangan di dada. "Kenapa enggak? Toh, Bos masih butuh jasa gue di project ini dan ke depannya. Aman."
Kami tertawa atas kelakar tidak lucuku. Semudah itu. Seolah masalah-masalah kami bisa disimpan esok. Di sini semuanya sirna sesaat. Kami membicarakan banyak hal. Dari yang penting sampai super-nggak-penting.
Mas Angga melihat pesepeda yang lewat. Ia mengedik. Tadinya
memang aku mau mencoba bersepeda sendiri. Tetapi berdua sepertinya jauh lebih
baik. Kami lalu membereskan barang bawaanku. Kemudian menyewa dua buah sepeda.
Bersepeda beriringan dan saling tatap dengan senyum geli.
Aku berharap ada lebih banyak ruang terbuka biru seperti
ini. Dan aku juga berharap, ada kali lain aku akan mengunjungi tempat semacam
ini. Berdua.

0 komentar