Cerpen – Pemilihan Raja Baru

Oktober 12, 2023

 

source: pixabay

Cerpen fabel ini diikutsertakan untuk lomba yang diselenggarakan Cosmos Indonesia untuk launching produk magic com terbaru mereka yang bergambar tiga hewan. Tema yang dilombakan adalah "Persahabatan".

Pemilihan Raja Baru

Mendekati hari pemilihan raja hutan yang baru, Tiara Si Harimau dengan berapi-api menyatakan bahwa ia akan mendaftar menjadi calon raja. Kepada dua sahabatnya, Mira Si Kucing dan Koara Si Koala, ia berkata bahwa dirinya tidak takut pada Raja Singa mereka saat ini. Sekalipun Raja Singa itu telah menjabat selama bertahun-tahun.

 

Acara pemilihan raja hutan baru berlangsung di sepanjang tepi sungai. Kandidat raja akan berdiri di garis start dan hewan-hewan pendukungnya akan berbaris berurutan secara persis di belakang kandidat raja membentuk garis lurus panjang. Siapapun yang memiliki barisan pendukung paling panjang, dialah yang akan menjadi raja. Raja Singa selalu memilih hewan-hewan besar dan kuat untuk menjadi pendukungnya dan hanya menyisakan hewan-hewan kecil untuk lawan kandidatnya. Pada akhirnya, Raja Singa selalu mampu membentuk garis pendukung yang lebih panjang.

 

"Pikirkan ini, apakah kalian mau terus-terusan ditindas oleh raja rakus itu? Dia suka menghina dan memerintah hewan-hewan yang lebih kecil seenaknya! Ia dan kawanan singanya menolak bekerja. Ia terus-terusan memerintah kita untuk membawakan makanan sesuai keinginan mereka! Dan dia juga suka memangsa rakyatnya sendiri! Huh, raja macam apa itu!" seru Tiara Si Harimau di tepi sungai tempat mereka suka berkumpul.

 

"Aku sebenarnya juga tidak suka," balas Mira Si Kucing. "Tapi mau bagaimana lagi, badanku tak cukup besar untuk berkelahi dengannya. Kalau aku menolak memilihnya di pemilihan ini, bisa-bisa aku bakal jadi mangsanya selanjutnya."

 

"Makanya, kita harus mencari cara agar Si Raja Rakus itu tak menjadi raja lagi!" balas Tiara Si Harimau.


"Tapi, bagaimana caranya?"

 

 

Lalu, mereka berdua pun menoleh pada Koara Si Koala yang sejak tadi diam saja. Karena meskipun jarang bicara dan pemalu, di antara mereka, Koaralah yang paling cerdik.

 

Koara Koala kemudian mengusulkan agar mereka membuat rencana kampanye untuk Tiara Si Harimau. Mulai dari membuat pengumuman kepada para penghuni hutan bahwa ia akan mendaftar menjadi calon raja sampai meyakinkan mereka bahwa mereka harus memilih Tiara. Langkah pertama adalah mengumpulkan cukup banyak binatang dan Tiara akan berpidato untuk meyakinkan mereka.

 

"Baiklah, aku akan mengajak beberapa binatang yang kukenal," kata Tiara, "Mira, kau kan suka menghadiri banyak pesta. Kau suka bergaul dan juga populer. Ajaklah teman-temanmu yang lain untuk datang ke sini saat aku berpidato."

 

Mira si Kucing pun mengangguk. Dalam kepalanya, ia sudah mempertimbangkan daftar teman-temannya yang dapat ia ajak. Itu pekerjaan mudah.

 

"Sedangkan aku bisa membuatkanmu pidato yang dapat membuat hewan lain mendukungmu," ujar Koara Koala. Dibandingkan bicara dan bergaul seperti Mira Si Kucing, itu adalah keahliannya.

 

Maka, mereka pun memulai tugas masing-masing. Tiara mampu meyakinkan kancil, burung nuri, dan katak untuk datang. Selebihnya, banyak yang merasa takut untuk datang sebab telah diancam oleh Raja Singa. Begitu pula dengan Mira, meskipun temannya banyak, kebanyakan dari mereka mengaku telah mendapat ancaman dari Raja Singa.

 

Pada hari pidato, tidak banyak hewan yang datang. Meski begitu, Tiara Si Harimau tetap berpidato dengan menggebu-gebu. Sesekali ia menghentakkan kaki depannya dan memperlihatkan taringnya yang runcing. Begitu bersemangat. Tetapi meski pidato yang disusun oleh Koara sangat bagus dan pembawaan Tiara meyakinkan, para hewan yang datang tetaplah ragu-ragu.

 

"Sebenarnya, aku sudah diancam oleh Raja Singa. Katanya, jika aku tak memilihnya, aku bakal dimangsa karena dagingku ini begitu menggiurkan. Aku takut!" kata Si Kancil.

 

"Aku juga!" Si Katak menimpali. "Meskipun aku tidak suka tingkah Raja Singa yang semena-mena, aku tidak bisa apa-apa."

 

Ular juga berbicara sambil menangis. "Minggu lalu, anak-anakku telah diam-diam dimakan kawanan singa. Saat aku mengadu pada Raja Singa, leherku justru hampir dicabik-cabik olehnya. Aku takut sekali!"

 

"Aku dengar, hewan-hewan besar seperti Gajah, Kerbau, dan Jerapah sudah berada di tim Raja Singa. Kau bakal kalah, Tiara! Hewan-hewan lain terlalu takut akan dimangsa Raja Singa kalau memilihmu!"

 

"Benar! Aku sendiri pun takut! Lagipula, bagaimana caramu akan mengalahkan pendukungnya yang banyak itu?"


"Urungkan saja niatmu, Tiara!"

 

Seru-seruan itu hampir membuat Tiara Si Harimau berkecil hati, tetapi tiba-tiba ada seruan nyaring lain yang terdengar, meskipun Tiara tak melihat seorang pun di depannya bicara.

 

"Jangan menyerah!" kata seruan itu lagi. Hewan-hewan lain pun ikut saling menengok, mencari keberadaan si pemilik suara. "Di sini! Di bawah sini! Nah, kau akhirnya melihatku."

 

Ternyata itu Si Semut. Tiara pun membiarkan Si Semut memanjat ke atas hidungnya agar yang lain dapat melihat dan mendengarkan semut bicara.

 

"Jangan menyerah, Teman-teman! Raja Singa sudah terlalu lama berkuasa. Ia juga sangat rakus! Aku dan koloniku selalu menderita karena Raja Singa dan kawanannya. Setiap melihat kami yang berbadan kecil, mereka sengaja menginjak-injakku dan koloniku, menghancurkan rumah-rumah yang kami bangun. Aku tidak sudi lagi ia menjadi raja. Tiara, tenang saja, aku tidak takut menentangnya! Aku akan mendukungmu! Kalau kita bersatu, kita masih punya peluang menang."

 

"Tapi, kita ini hanya hewan kecil yang lemah!" seru yang lain pesimis.

 

Melihat Si Semut kecil yang berapi-api itu, Koara Koala yang sejak tadi diam pun memiliki ide. Ia membisikkan sebuah rencana pada Mira si Kucing di sebelahnya. Mira pun mengangguk-angguk senang, kemudian ia maju memberi tahu Tiara.

 

--


Tibalah hari pemilihan raja baru. Raja Singa dan kawanannya telah datang. Mereka terlihat kuat, tangkas, dan bermata lapar. Hewan-hewan di sekitar mereka kebanyakan menunduk takut. Namun, tidak begitu dengan Tiara Si Harimau. Bersama dengan Mira Si Kucing dan Koara Koala di punggungnya, ia berjalan optimis menuju garis start.

 

"Oh, Tiara, aku tidak sabar memangsamu saat kau dinyatakan kalah nanti. Sudah lama aku tidak makan daging harimau. Pastilah enak rasanya!" ujar Raja Singa dengan liur hampir menetes. Sedangkan Tiara tetap tenang dan mengabaikannya.

 

Saat aba-aba "mulai!" diserukan, hewan-hewan pendukung dalam sekejap saling berbaris berurutan. Raja Singa dan kawanannya membentuk barisan panjang dalam waktu singkat, diikuti oleh hewan-hewan besar seperti Gajah, Kerbau, Jerapah, dan Sapi di belakangnya. Sementara di belakang Tiara berbarislah Mira si Kucing, kemudian Koara Koala, Kelinci, dan hewan-hewan kecil lainnya.

 

Raja Singa pun tertawa terbahak-bahak. "Hahaha! Apa kataku, Tiara! Lihatlah sepanjang apa barisanku dengan Si Anjing nyaris tak terlihat oleh mataku di belakang sana! Sedangkan barisanmu bahkan tak dapat mencapai separuhku!"

 

"Kenapa kau begitu yakin? Bukankah seharusnya kita memastikannya dahulu?" sahut Tiara Si Harimau tenang.

 

Raja Singa dan Tiara (dengan Mira dan Koara setia di punggungnya) berjalan ke belakang memastikan panjang barisan. Saat mencapai titik yang tadinya Raja Singa kira adalah akhir barisan Tiara, Raja Singa pun dibuat terkejut. Rupanya, barisan itu belum berakhir. Barisan tikus kecil berjejer rapi di belakang segerombol kelinci, membuatnya tidak tampak dari garis start tadi sehingga Raja Singa mengira barisannya sudah berakhir.

 

Di belakang para tikus, katak-katak berbaris tak kalah rapi, sesekali membuat suara saat dilewati rombongan Tiara. Mira si Kucing balik menyapa tiap hewan dengan riang di balik punggung Tiara. Di belakang para katak, belalang aneka jenis berjejer panjang, kemudian jangkrik-jangkrik di belakangnya bersuara nyaring sewaktu rombongan Tiara melewati mereka.


Raja Singa mulai panik saat melihat barisan pendukung Tiara yang belum kunjung habis dan hampir menyaingi barisannya. Ketika ia kira barisannya telah habis, hewan- hewan lain yang lebih kecil ternyata berbaris rapi di belakang hewan lain. Ulat-ulat daun yang kecil berjejer di belakang jangkrik. Kemudian barisan paling belakang pendukung Tiara diisi semut-semut yang berjejer begitu panjang, sampai tak terlihat lagi di mana ujungnya, mengalahkan barisan terakhir milik Raja Singa.

 

Mira Si Kucing mulai berseru, "Teman-teman, Tiaralah pemenangnya! Kita menaang!" Beriringan, seruan-seruan kemenangan terdengar hingga pada para pendukung Raja Singa yang mendukungnya karena diancam. Raja Singa yang tak terima ia dikalahkan pun murka. Ia hampir memangsa siapa saja yang paling dekat.

 

Tetapi semut-semut yang berjejer rapi memanjati tubuh Raja Singa satu demi satu dan tiap semut melayangkan setiap gigitan. Diikuti oleh tikus-tikus yang menggigitinya kakinya, ditambah katak-katak yang mencoba mengencingi matanya. Raja Singa pun kewalahan. Hewan-hewan pendukung yang ia perintahkan untuk membantunya tidak mau lagi menerima perintahnya.

 

Tiara pun tersenyum senang. Rencana Koara Koala berjalan lancar. Dengan keahlian Mira Si Kucing dalam bergaul, hewan-hewan lain akhirnya mau ikut serta dalam rencana. Persatuan hewan-hewan kecil ternyata dapat mengalahkan barisan milik Raja Singa.

 

Hari itu menjadi hari perayaan pertama penghuni hutan yang bebas dari raja mereka yang rakus dan semena-mena. Raja baru telah diangkat. Pesta diadakan untuk seluruh penghuni hutan yang sedang berbahagia. Dan hukum hutan yang baru dibuat atas nama persahabatan seluruh rakyat hutan.

You Might Also Like

0 komentar