Cerpen – Sembilan

Oktober 12, 2023

 


Cerpen ini diikutsertakan dalam lomba cerpen fantasi bertema "Siluman" yang diselenggarakan oleh inthemicasa (sebuah grup kepenulisan). Cerpen ini memenangi juara 4 dan dibukukan bersama antologi cerpen terpilih lainnya.

Sembilan

Ini adalah kehidupanku dalam nyawa yang ke sembilan. Jika aku mengalami nasib buruk, entah tertabrak truk, dikeroyok kucing liar sungguhan hingga terluka parah, ditinggalkan pemilik dan menggelandang di jalanan, atau mati karena rabies dan koreng seperti yang sudah-sudah, aku bakal benar-benar mati. Aku tidak akan dengan ajaib hidup lagi, sebab sisa nyawaku telah habis.

Pada kematian delapan nyawa tersebut, aku tak pernah berhasil menunaikan misi yang kubawa sejak kali pertama dilahirkan; sebuah misi kudus. Dugaan pertamaku adalah sepertinya aku memang tak pernah ditakdirkan untuk berhasil. Dugaan kedua, sebuah kutukan maha sial seakan-akan senantiasa mengekoriku kemanapun kepergianku. Karenanya, tak satupun nyawa yang telah kubuang dengan percuma itu berhasil menunaikan misi kudus.

Sialnya bahkan bangkai tubuhku dibiarkan tergeletak mati begitu saja. O, sungguh laknat manusia itu. Ironis bagaimana berbeda bangsaku pernah diperlakukan dahulu, pada sebuah tempat lain, di Mesir Kuno sana. Bangsaku akan dipakaikan perhiasan, dipuja bagai raja-raja mereka sendiri, dan bila mati, kami dimumikan. Mereka berkabung dengan begitu khidmat hingga para pemilik kami mencukur bulu alis mereka dan terus meratap hingga alis itu tumbuh kembali. Si pengendara sungguh akan dihukum mati bila ia hidup di zaman itu. O, enaknya, bila aku benar-benar tinggal di sana.

Aku mati kala itu, belum genap berumur satu tahun dalam wujud kucing, sebelum hidup kembali dan menjemput kematian-kematian lainnya, yang hampir sama tragisnya. Kematianku yang kesembilan dan terakhir bahkan hampir terjadi, sebulan lalu tepatnya. Saat aku sedang berwujud kucing, mengais makanan di jalanan, sebab aku tidak begitu doyan makan tikus. Kalau kuingat-ingat kembali, aku memang selalu mati dalam bentuk asalku; seekor kucing yang oleh majikan pertamaku diklasifikasikan sebagai jenis maine coon.

Tiba-tiba saja waktu itu, sebuah truk oleng ke bahu jalan, hampir menindihku jika saja aku tak diselamatkan oleh seorang gadis dengan heroik. Sampai-sampai aku tidak melihat kedatangannya, tahu-tahu saja tubuhku sudah diangkat olehnya. Gadis yang begitu cantik, yang memiliki rupa seperti malaikat menjelma tubuh fana manusia. Untuk pertama kalinya kemudian, aku jatuh cinta pada gadis manusia yang kemudian kuketahui namanya adalah Ratih.

Begitulah hingga bagaimana aku bisa tinggal di rumahnya yang kecil, yang ditinggalinya seorang diri. Tak pernah ada yang mengunjunginya, tak pernah pula kudapati ayah, ibu, maupun saudaranya. Ratih ternyata seorang gadis muda yang kesepian. Aku kemudian menjadi temannya yang begitu setia. Kontras dengan kebiasaanku yang dulu dipelihara pasangan suami istri manusia, aku berakhir di rumah Ratih, tetapi aku jauh lebih bahagia di sini daripada kehidupan-kehidupanku sebelumnya.

Ratih akan bekerja dari pagi sampai sore, terkadang kembali setelah larut malam, tetapi ia tak pernah melewatkan satu hari pun tanpa mengajakku bicara. 

Ratih membawaku dalam pangkuannya, itulah posisi favoritnya. Ia mengelus-elus buluku dan kadangkala menggelitiki leherku. Aku suka sekali jika ia melakukannya.

"Kau sudah makan?" tanya Ratih. "Coba kulihat."

Ia mengangkatku sebatas wajahnya, kemudian menggelitik perutku. Aku menurut dan patuh di hadapannya. "Kau bertambah berat, Piko." Benar, ia memberiku nama, Piko, dan aku begitu menyukainya. "Apa kau juga menangkap tikus?"

Aku mengeong padanya, meski ia tidak akan tahu apakah artinya ya maupun tidak. Yang kumaksud adalah yang terakhir. Aku benci tikus, barangkali karena trauma sebab pernah sekarat makan tikus yang sudah diracun.

"Piko, apa kau tahu? Ada sebuah pepatah kuno. Ini tentangmu. A cat has nine lives. For three he plays, for three he strays, for the last three he stays. Jadi, kalau benar nyawamu ada sembilan, sekarang ada di nyawa ke berapa kau ini, Piko? Kuharap, kau berada di tiga nyawa terakhirmu, supaya kau terus menemaniku."

Aku mengeong lagi padanya, meski kali ini pun Ratih tidak akan tahu apa maksudku. Pada saat-saat semacam ini, dorongan itu muncul dariku, untuk menemui Ratih dalam wujud manusiaku. Tetapi sayang, aku hanya dapat berubah setelah senja dan tidak ada jaminan bahwa Ratih tidak akan ketakutan saat mendapatiku dalam wujud keduaku sekonyong-konyong berada di rumahnya. Ratih akan tidur sekitar pukul sebelas malam, setelah puas bermain-main denganku. Ia akan membiarkanku berbaring di dekatnya, terkadang bahkan tidur dalam pelukannya.

Pada titik itu, aku telah sepenuhnya melupakan misi kudusku yang harus kutunaikan, dengan hukuman seluruh siksaan akan menjemputku pada kematian terakhir bila aku gagal. Dulu aku begitu takut sekaligus taat pada janji siksaan itu, tetapi setelah menghabiskan nyawa dalam kesia-siaan, aku mulai lebih santai dan melupakannya. Peduli setan pada misi. Telah kuhabiskan delapan nyawaku untuk menunaikannya. Selama delapan nyawa itu, aku selalu mati tanpa sempat bercinta dengan gadis manusia maupun kucing betina sungguhan. Aku tak pernah berbahagia. Betapa malang. Kini aku mau bersenang-senang. Jatuh cinta dan kalau bisa bercinta.

Pada beberapa hari setelahnya, ada yang aneh dengan Ratih. Satu malam ia tidak pulang. Aku menunggunya semalaman, tetapi Ratih benar-benar tidak pulang. Saat ia kembali, penampilannya kacau dan ia tidak lagi mau mengajakku bicara. Aku mulai begitu khawatir padanya. Aku ingin bertanya, apa yang mengganggunya, apa yang membuatnya sedih atau siapa yang barangkali telah mengecewakannya. Tetapi aku tidak bisa dalam wujud kucingku. Aku hanya bisa mengeong dan menemani tidurnya, mengajaknya bermain-main dan menggigiti jari-jemari tangannya. Ratih hanya tersenyum tipis.

Suatu malam aku tidak tahan, kutemani ia dalam tidurnya dalam wujud manusia. Kuselimuti ia, kubelai halus rambutnya sebagaimana ia kerap membelai buluku dengan sayang. Pada saat itu, ia membuka mata. Kupikir ia akan ketakutan saat melihatku, tetapi kemudian ia hanya menatap lurus tepat pada mata manusiaku.

"Kau ... lagi," katanya. Aku tidak yakin apakah ia setengah sadar atau hanya mengigau.

Malam itu aku hanya ingin menghiburnya. Maka aku memeluknya, erat saat ia kemudian menangis lagi. Kutenangkan ia dalam dadaku. Sungguh malam itu aku hanya ingin menghiburnya, tetapi kemudian aku menciumnya, mencumbunya, dan bercinta dengannya. Begitu pula malam-malam berikutnya. Kami tak banyak berkata-kata. Ia tak bertanya dari mana asalku atau bagaimana bisa aku masuk ke rumahnya dan aku pun tak mengungkit apa penyebab malam-malam dalam kesedihan tanpa tidurnya.

Sebaliknya, ia sering kuceritakan dan kudongengkan banyak hal, hingga kemudian ia jatuh terlelap, terlihat damai.

"Ratih, apa kau tahu Dewi Bast?" tanyaku saat kami berbaring saling berhadapan di tempat tidur Ratih.

"Apa dia salah satu dewi Mesir juga? Seperti Osiris dan Isis yang kauceritakan malam kemarin, atau Atum Ra yang kaukisahkan malam sebelumnya?"

Aku mengangguk. "Ya, dan kisahnya adalah favoritku."

"Kalau begitu kisahkan padaku."

"Dewi Bast atau Bastet adalah anak dari Atum Ra, saudara Dewi Seckhmet, istri dari Dewa Ptah, dan ibu dari Mihos. Dulunya ia adalah seorang dewi yang digambarkan berwujud setengah manusia dan berkepala singa betina, tetapi kemudian ia bertranformasi sebagai seorang dewi yang digambarkan berkepala kucing."

"Mengapa begitu?"

"Kau tahu, singa direpresentasikan dengan kekuatan, keganasan, dan pembalasan dendam. Sekhmet saudaranya juga digambarkan sebagai dewi dengan tubuh wanita dan kepala singa betina. Mereka begitu mirip, tetapi tidaklah sama. Pada tahun-tahun selanjutnya, Dewi Sekhmet menjadi lebih dan lebih kuat, ia menjadi simbol dewi peperangan dan pemimpin pertempuran. Sementara Dewi Bast menjadi lebih dan lebih ke sisi yang keibuan, lembut, mengayomi, dan melindungi, seperti citra kucing domestik."

"Melindungi, seperti dirimu," kata Ratih, membelai pipiku.

"Ya, seperti diriku. Kemudian, ia mulai bertransformasi. Citranya sepenuhnya berubah menjadi wanita berkepala kucing. Lalu ia mengambil peran sebagai dewi pelindung wanita hamil atau mereka yang ingin hamil. Ia juga adalah dewi kesuburan. Ia sosok yang mengayomi, meski tidak pernah kehilangan sisi ganasnya sebagaimana sifat alamiah kucing yang agresif. Dualitas itu selalu ada padanya. Sebagai dewi berkepala kucing, ia begitu disanjung dan diagung-agungkan. Sebuah kuil yang begitu indah pun dibangun sebagai tempat pemujaannya."

Aku berhenti bercerita, sebab Ratih telah terlelap. Tangannya berada di samping wajahku, begitu hangat. Aku adalah kucing peliharaannya pada pagi hari yang menjelma sebagai kekasihnya di malam hari. Ia menerimaku tanpa banyak bertanya, tak sekalipun ia tanyai asalku atau mengapa aku hanya datang di malam hari, atau kenapa di saat yang sama kucingnya tak pernah muncul saat aku datang. Kami seperti pasangan yang tak pernah terpisah, aku hampir pasti melihatnya selama duapuluh empat jam penuh terutama karena sekarang Ratih jarang sekali keluar rumah.

Beberapa minggu berselang dan Ratih mulai menunjukkan gejala yang sangat kukenal. Ia pusing dan muntah-muntah di pagi hari. Ia sensitif dengan bebauan bahkan parfum kesukaannya sendiri. Maka aku merenungi pagi itu. Sepertinya memang benar, hidupku tak lebih dari sekadar menunaikan misi kudus. Bahkan ketika aku tak mengusahakannya, misi itu mendatangiku lewat takdir yang tak disangka-sangka.

"Kau hamil," ujarku saat kami berbaring di atas kasurnya.

Ratih tidak tampak terkejut. Ia tidak senang dengan kabar itu, tidak juga tampak sedih. Ia bahkan diam tanpa menjawabku

"Apakah ia anakku?"

"Barangkali," jawabnya.

Aku tertawa atas candaannya yang tak lucu. Tentu saja ia anakku, anak siapa lagi itu?

Kebahagiaan membanjiriku, tetapi sepertinya tidak dengan Ratih. Hari demi hari berlalu dan perut Ratih semakin membesar. Dua bulan, tiga bulan, empat bulan.

"Kau tidak akan mengadakan acara selamatan empat bulan bagi jabang bayi?"

"Aku tidak begitu peduli apakah ia akan tumbuh dan lahir dengan selamat atau tidak."

Memang begitulah bulan-bulan selanjutnya, Ratih tak peduli. Ia tidak mencoba menggugurkannya ataupun mempertahankannya. Ia beraktivitas seperti biasa bagai yang tumbuh di rahimnya hanyalah angin kosong dan bukannya bayi sungguhan. Dalam bula-bulan itu, perilaku Ratih semakin berbeda. Ia menjadi mudah marah, dingin, dan sensitif. Meski begitu, aku masih memakluminya, tetapi perlakuannya tersebut terkadang berujung membuatku bertanya-tanya: apakah mereka Ratih yang sama?

Aku kembali bertanya pada saat kandungannya berusia tujuh bulan. "Kau tidak akan membuat acara selamatan?"

"Anak ini tidak punya ayah."

"Aku ayahnya."

Menjelang kelahirannya, Ratih didatangi oleh seseorang. Aku berada dalam wujud kucing kala itu, mengusap-usapkan kepalaku di kakinya ketika Ratih membuka pintu. Seseorang yang mendatanginya adalah pria tegap, berkacamata, berkulit kuning langsat, dengan rambut ditata rapi. Jenis lelaki yang tak bakal kautemui sedang melakukan pekerjaan berat. Sebaliknya, lelaki yang akan kautemui di balik meja komputer, atau di manapun, memainkan perintah sebagai tukang suruh kepada kacung-kacungnya.

Pria itu melihat kepada Ratih, kemudian pada gundukan di perutnya dengan terkejut. Ratih segera menutup pintu, tetapi ditahan olehnya dengan satu tangan.

Ratih menghardik, "Pergi kamu, sialan!"

Pria itu menerobos masuk, mencengkeram bahu Ratih dan mengguncang-guncangkannya tidak peduli pada Ratih yang merintih kesakitan memegangi perutnya.

Ia melihat lagi pada perut Ratih. "Kenapa—apa yang kaulakukan? Kenapa kau pertahankan?! Bukankah aku sudah memintamu melakukannya?"

Aku yang melihat segala hal itu, dalam wujud kucingku mencakari si pria tinggi besar dengan kuku-kuku milikku yang tajam hnaya untuk ditendang olehnya engan gampang. Ia kemudian membantingku ke lantai dingin, dan aku yakin bunyi krek itu tanda patah tulang kaki kucingku.

Ratih terkesiap melihatku dilempar dengan begitu kasar. O, Ratihku yang malang. Dan o, aku tahu hari ini ia akan melahirkan. Ketubannya telah pecah. Dan ia mulai mengerang. Kelahirannya akan dimulai sebentar lagi.

Pria itu mulai kebingungan, sekejap tampak linglung menghadapi Ratih yang kesakitan. Ia berdiri diam tanpa sanggup melakukan apapun, sementara Ratih merangsek ke kasurnya. Di sana ia berjuang dalam hidup dan matinya.

Aku menunggu senja datang, terpincang-pincang juga merangsek ke dekatnya. Pada kelahiran anaknya yang mulai tiba. Misiku hampir ditunaikan. Dan anakku akan datang.

Napas Ratih putus-putus. Dengan mata kucingku, yang mulai menyala seperti saat gelap di malam hari bersamaan dengan senja yang merangsek datang, kulihat dua pendar berkelindan. Satu adalah nyawa si jabang bayi yang akan datang, dan satu lainnya adalah nyawa Ratih yang tampak separuh hilang. Keduanya bergantian menjadi kuat dan lemah, bagai garis putus-putus dari dua warna berbeda. Saat satu menguat, satu lain melemah. Saat kehidupan datang dan kematian menjelang.

"Aku menginginkanmu, tapi tidak dengan bayinya, Ratih. Orang tuaku akan membunuhku jika mereka tahu.

Dalam rasa sakitnya yang tanpa ampun, Ratih dengan kepayahan mendesiskan balasan, "Pergi! Aku tidak peduli. Sepertimu, aku juga tidur dengan pria lain. Kita impas."

"Apa maksudmu? Jangan-jangan anak ini pun bukan anakku!" Pria itu berdiri dengan gemetar, bila ada sesuatu yang dapat digunakan untuk melihat amarah, maka amarahnya sedang memuncak hingga batas tertingginya dan darahnya akan menggelegak, dan uap mendidih keluar dari tubuhnya.

"Mati kau!"    

Dengan kesetanan, pria itu menyerang Ratih yang sudah tak berdaya. Mencekik lehernya tanpa ampun meski Ratih telah memohon dengan lelehan air mata di pipinya. Gangguan dariku yang bertubuh kucing tidak diindahkannya.

Aku berdo'a untuk kali pertama dalam sembilan nyawaku yang lain. Dengan kematianku dahulu yang selalu sial, aku berdo'a kepada Ibu Pertama, Dewa, dan Tuhan mana saja atas nama nyawaku yang ke sembilan agar senja itu datang lebih cepat.

Tepat saat pendar kehidupan Ratih benar-benar akan memudar, senja datang saat itu pula, membuat tubuhku berubah menjadi manusia. Si pria terkaget-kaget melihatku, menggantikan posisi kucing yang semula. Ia terhuyung hingga menabrak meja dan menjatuhkan apapun yang ada di atasnya.

"Kau ini apa, sialan?!"

Kucing memiliki dualitas, sebagai hewan jinak yang penurut dan melindungi, dan dari naluri alamiah mereka yang agresif dan defensif. Sebagaimana ibu pertama kami Dewi Bast. Saat itu tubuhku tahu ke mana dualitasku memuncak. Tanganku, yang setengahnya berupa cakar dengan kuku runcing bergetar. Panasnya dapat kurasakan menjalar melalui pembuluh darahku menuju telapak tangan kucingku.

Si pria berlari tergopoh-gopoh ketakutan menuju pintu keluar. Sebelum sempat dilakukannya, kuku-kuku runcingku telah menancap pada tangannya yang berada di gagang pintu. Mengoyaknya serupa daging mentah tercincang tak beraturan, membuatnya berteriak dalam kepiluan yang begitu dalam. Tulang-tulangnya jarinya terlihat, mencuat dengan menjijikkan. Meski begitu ia masih sadar, dan aku memang tak ingin membuatnya mati begitu damai.

"Ampun," katanya dalam suara tercekat. Ia melihat pada sebagian kecil daging tangannya yang terjatuh ke lantai. Ia mengeluarkan suara serupa tersedak karena jeritan yang tak bisa keluar. "Am ... puni ... a ... ku."

"Sudah terlambat," kataku, mengoyak tangannya yang lain. Ia jatuh terduduk dalam teriakan yang juga tak keluar, meratap melihat tangannya. Suaranya tak lagi dapat keluar. Kedigdayaannya sebagai manusia semenit lalu hilang tak berbekas.

Selintas ketakutan terlihat di matanya ketika cakarku terangkat, kemudian menusuk tepat lehernya. Ia mati dengan mata melotot, bagai bola matanya akan keluar.

Aku telah membunuhnya. Seorang manusia mati di tanganku. Darahnya menciptati tubuhku dan melumuri keduaa tangan bercakarku. O, Ibu Pertama, apa kau akan menghukumku karena ini?

Sebuah suara tangis bayi menyudahi ratapanku. Bayi Ratih telah lahir. Bayinya, dan bukan anakku. Bayi itu bersimbah darah dengan tali ari masih terhubung dengan sang ibu. Mata Ratih setengah terpejam, tetapi ia bernapas dengan teratur. Dua pendar itu lalu terikat simpul di atas tali ari mereka yang terhubung, saling menguat dan memancar terang.

Aku tersenyum pada Ratih. "Kucing memang punya sembilan nyawa, Ratih. Dan ini adalah nyawaku yang ke sembilan. Kau dan anakmu akan hidup."

Aku melihat pendar lain, yang mulai memudar dan terus memudar. Menyala sebelum meredup untuk terakhir kalinya di atas kepalaku, kemudian gelap. Pada nyawaku yang ke sembilan, aku berhasil menunaikan misi kudus sekaligus melanggar sebuah larangan.

O, Ibu Pertama, apa kau akan menghukumku atau memuliakanku karenanya?

 

You Might Also Like

0 komentar