Siapa Yang Bertanggung Jawab Atas Masa Tua Orang Tua Kita?

Mei 18, 2023


Tulisan ini berasal dari sebuah utas di twitter berikut (iya, pikiran saya kadang hanya butuh stimulasi seremeh baca utas twitter atau baca bacotan opini random orang di berbagai platform), di mana si pembuat utas menulis: 




Dalam terjemahan bebasnya: "Aku tahu orang tua bukanlah tanggung jawab kita, tapi entah bagaimana rasanya menyediakan lihat orang tua kita beranjak tua sementara kita masih kesulitan berjuang untuk punya kehidupan yang stabil, hal ini adalah tekanan besar bagi beberapa orang. Perasaan bersalah yang sangat kuat ketika kita nggak mampu memenuhi sesuatu yang diinginkan orangtua atau kita gagal memenuhi apa yang mereka perlukan...." You got the point, saya nggak bakal translate seutuhnya.


Dan, mengabaikan poin utama yang disampaikan pembuat utas, kolom komentarnya justru dipenuhi oleh perdebatan soal kalimat pertamanya. Antara yang setuju dan tidak setuju dengan kalimat "Aku tahu orangtua bukanlah tanggung jawab kita, tapi..." Beberapa mencela si pembuat utas dengan begitu defensif: gimana mungkin orang tua bukan tanggung jawab kita? Tentu saja orang tua adalah tanggung jawab kita di masa tuanya! 


Pihak kontra ini ada yang sampai mengaitkannya dengan agama, di agama saya ortu adalah bla bla. Merawat mereka di masa tua adalah tugas mulia dan akan diganjar pahala dan sebagainya. Atau, argumentasi bahwa janganlah ikut-ikutan kultur masyarakat Barat sana yang individualis sampai-sampai jadi sesat pikir menganggap orang tua bukanlah tanggung jawab seorang anak. 


Untuk waktu lama, saya—selayaknya anak keluarga Asia lainnya—dibesarkan untuk (dan barangkali) meyakini bahwa di masa tua mereka, orang tua adalah tanggung jawab saya sebagi anak. Namun, berusia dewasa berarti belajar lebih banyak hal dan mempertanyakan apa yang tadinya kita percaya, menjumpai lebih banyak ideologi, serta pemikiran-pemikiran lain yang kemudian kita adopsi. We learn and re-learn. Sekarang ini saya lebih percaya bahwa sebagai manusia, hidup kita adalah tanggung jawab kita masing-masing. Termasuk orang tua kita. Adalah tanggung jawab mereka pula hidup mereka di masa tua (seharusnya). Sayangnya, itu mungkin hanya bekerja dalam situasi yang ideal.


Kalau saya mulai berargumen soal "kita tidak meminta dihadirkan di dunia ini, melainkan orang tua kitalah yang berkeinginan", pastinya saya akan dicap durhaka atau egois—yang mana memang pernah. Orang yang tidak tahu mungkin akan berprasangka "Oh, mungkin dia tumbuh dalam keluarga disfungsional, tidak akur, atau broken home sampai-sampai punya pemikiran aneh macam itu." Faktanya, meski tidak tumbuh dalam keluarga sempurna, keluarga saya adalah keluarga fungsional yang rukun.


Maka, saya mengatakan apa yang saya yakini: tidak seorang anak pun meminta dilahirkan. Begitulah adanya. Apakah seorang anak meminta ia dilahirkan di dunia ini pada orang tua mereka? Apakah seorang anak bahkan bisa memilih orang tua mereka? Tidak. Meraka hadir ke dunia atas keinginan sadar orang tua mereka (kecuali dalam kasus kehamilan tidak diinginkan karena pemerkosaan atau paksaan salah satu pihak) tanpa bisa memilih siapa orang tua dan bagaimana status perekonomian orang tua mereka.


Saya ada di dunia ini atas kehendak sadar orang tua saya yang menginginkan satu lagi anak berharap setelah dua kali perempuan, kali ini akan terlahir laki-laki—pada akhirnya, saya terlahir sebagi perempuan. Tapi toh, sepertinya tidak mengurangi rasa kasih orang tua pada saya.


Sampai titik tertentu, saya adalah tanggung jawab orang tua saya. Mengapa? Karena merekalah yang menghadirkan saya. Atas kehendak sadar mereka, saya lahir ke dunia ini. Hidup kita memang adalah tanggung jawab masing-masing, tetapi saat memutuskan menghadirkan anak, maka tanggung jawab kita bertambah. Setiap anak adalah tanggung jawab orang tua mereka. Namun, apa itu lantas menjadikan anak juga bertanggung jawab atas hidup orang tua di masa tua? Karena telah merawat dan membesarkan si anak sejak kecil? 


Jawaban pertanyaan itu mengingatkan saya pada perdebatan saya dengan orang lain soal hak dan tanggung jawab seorang anak. Menurut saya, hak saya sebagai anak adalah dipenuhinya kebutuhan dasar saya oleh orang tua (makanan dan gizi yang cukup), rasa kasih dan sayang, rasa aman, juga pendidikan yang layak (dan sebutlah segelintir hal lain yang layak kalian dapat sebagai anak untuk tumbuh menjadi manusia yang baik). Sementara tanggung jawab saya sebagai anak adalah menjalani kehidupan saya sebaik mungkin, sebagaimana hal-hal baik yang orang tua saya ajarkan. Lalu, hal-hal seperti memberi orang tua sejumlah uang tiap bulan, memenuhi keinginan material mereka, hingga menyokong dan merawat kehidupan mereka di masa tuanya (seharusnya) bukanlah tanggung jawab saya. Kalaupun saya melakukannya, itu bukanlah sebentuk tanggung jawab atau "balas budi karena telah dirawat sejak kecil" (sekali lagi, apakah seorang anak meminta untuk dilahirkan?), tetapi bentuk kasih saya pada orang yang begitu saya kasihi. Jika saya ingin membahagiakan mereka, membelikan hal-hal material yang mereka ingin, memberi sebagian gaji bulanan saya, itu karena keinginan pribadi saya untuk menyenangkan mereka dan bukanlah bentuk dari tanggung jawab sebagai anak.


Pada titik ini, saya biasanya dikatai egois. Tapi, mari berpikir sejenak, di mana bentuk keegoisan tersebut? 


Kalau pola pikir ini egois, apa tidak lebih egois para orang tua yang menghadirkan anak dengan pemikiran bahwa; biar nanti tuanya ada yang mengurus. Biar kalau sudah besar ada yang buat "sandaran".


Beberapa (saya tidak bilang semua, oke?) orang tua justru menghadirkan anak dengan alasan yang menurut saya lebih egois. Pernahkah mendengar nasihat-nasihat untuk cepat-punya-anak dengan dalih "Kalau nggak punya anak, siapa nanti yang ngurusin pas tua?" Atau kalau kebetulan penasehat adalah orang yang mengaku saleh, "Biar mati nanti ada yang doain." Atau, "Kalau ada anak, bikin rumah tangga lebih erat. Mau pisah juga mesti pikir-pikir." Dan yang bikin lebih tepok jidat, saya pernah mendengar: "Punya anak jangan cuma satu, biar gedenya ada yang bisa dipilih-pilih." Satu bakal lebih makmur dari yang lain maksudnya. 


Apakah semua alasan itu bukan bentuk dari keegoisan juga? Ingin punya anak karena ini dan itu, tapi hampir tak mampu memenuhi hak-hak yang layak untuk anak mereka. 


Kita umumnya dikondisikan sejak kecil untuk berpikir bahwa kelak ketika besar, kita harus membalas jasa orang tua yang telah merawat kita, yang telah menghabiskan sejumlah uang mereka untuk kita. Tetapi, bukannya kita hadir atas kehendak orang tua kita? Orang tua yang menginginkan anak sepatutnya sadar bahwa menghadirkan anak ke dunia ini berarti bertanggung jawab atas kehidupan anak mereka. Atas terpenuhinya hak anak, bukan sekadar sandang dan pangan, tetapi juga hak untuk pendidikan moral dan akademis yang layak. Orang tua yang menginginkan anak sepatutnya sadar bahwa anak bukanlah penunjang ekonomi maupun calon perawat mereka kelak di masa tua. Orang tua dan calon orang tua yang menginginkan anak sepatutnya sadar atas mampu tidaknya mereka menghadirkan anak di dunia ini. Orang tua dan calon orang tua semestinya sadar bahwa menghadirkan anak ke dunia ini adalah tanggung jawab yang begitu besar.


Jika dirasa belum bisa bertanggung jawab atas hidup sendiri (baik sekarang ataupun masa tua mereka kelak), mengapa mengalihkan tanggung jawab itu dengan menghadirkan sosok seorang anak?


-


Dalam dunia ideal, seharusnya orang tua tidak begitu saja menghadirkan anak kalau mereka rasa diri mereka belum siap. Kalau suatu saat mereka merasa bahwa mereka sendiri tak dapat bertanggung jawab atas masa tua mereka. Pada akhirnya, saya katakan itu dalam dunia ideal, sebab nyatanya, bahkan dapat berpikir soal kekhawatiran tidak dapat memenuhi hak anak mereka kelak bagi banyak lapisan masyarakat adalah sebuah privilese. Masyarakat kita menganggap bahwa memiliki anak bukanlah sebuah pilihan dengan tanggung jawab besar yang harus diambil dengan pertimbangan matang-matang, melainkan sebuah keharusan dan kewajiban mutlak. Orang-orang dengan entengnya menasihati pengantin baru untuk cepat-cepat punya anak, merongrong mereka di setiap kesempatan dengan pertanyaan, "sudah isi belum?". Memutuskan tidak memiliki anak dipandang serupa dosa besar.


How ironic.


-


Saya juga jadi teringat tweet ini


Bahkan untuk seorang egois seperti saya, ketakutan melihat orang tua menua sementara saya (yang menurut masyarakat harusnya bertanggung jawab atas masa tua mereka) masih kesulitan menjalani kehidupan yang lebih stabil secara finansial, masih belum menemukan jalan menuju kehidupan yang mapan, adalah ketakutan nyata. Sebagai anak terakhir dalam kultur desa, adalah hal wajar bahwa kelak sepatutnya saya tinggal serumah dengan orang tua, untuk merawat mereka di masa tua mereka. Apalagi, orang tua saya memang tergolong sudah berumur, bahkan masuk kategori lansia.


Namun, sepertinya saya memang bukanlah gambaran anak ideal di mata masyarakat. Di usia ini seharusnya saya mulai berpikir untuk menikah dan menetap di rumah yang akan saya tinggali bersama bapak-ibu, tetapi jujur saja pemikiran itu justru mencekik saya perlahan. Kerap kali pemikiran saya yang tidak sejalan dengan apa yang diyakini mayoritas masyarakat dipandang sesat dan egois. Jika pemikiran semacam ini dianggap egois, maka biarlah saya menjadi Si Egois itu. Kelak saya mungkin akan lebih egois, mengambil keputusan-keputusan lain yang egoistis dan tidak sesuai dengan dogma tanggung jawab anak pada orang tua. Kelak saya mungkin menolak tinggal serumah dengan bapak-ibu dan lebih memilih tinggal sendiri. Barangkali saya akan lebih mementingkan keinginan dan mimpi saya. Barangkali saya akan seterusnya hidup jauh dari mereka demi mencapai kehidupan stabil yang saya kehendaki. 


Bukan berarti saya akan menelantarkan dan mengabaikan mereka di masa tuanya. Berpikir bahwa masa tua orang tua bukanlah tanggung jawab seorang anak tidak sama dengan menelantarkan mereka begitu saja. Sekali lagi; berbakti, membantu secara finansial, merawat orang tua di masa tua sepatutnya adalah bentuk kasih, bukannya sebuah tanggung jawab. Dan bentuk kasih tidak seharusnya membuat kita mengorbankan mimpi, keinginan, dan masa depan sendiri. 


You Might Also Like

0 komentar