Cara Lain Merayakan Hari Ulang Tahun
Agustus 25, 2024Kemarin, aku hampir lupa kalau hari ini adalah hari
ulang tahunku. Memang bukan kali pertama, beberapa tahun lalu dan barangkali
pula tahun-tahun sebelumnya aku juga pernah lupa. Mungkin karena aku tumbuh besar
tanpa pernah merayakan ulang tahun. Orang tuaku bahkan tak pernah ingat hari
lahir anak-anak mereka—ataupun hari lahir mereka sendiri. Begitu juga dua kakakku.
Jadi, hari ulang tahun tidak pernah menjadi suatu hal yang
spesial bagiku. Bagiku, hari ulang tahun sama seperti hari-hari lainnya. Hanya saja
fakta bahwa pada tanggal itu kebetulan kau lahir x tahun yang lalu. Intinya kau
hanya bertambah tua—atau dewasa, yang
mana sajalah.
Aku tidak merasa marah saat teman-temanku melupakannya—karena
toh, aku sendiri tidak mengingat-ingat hari lahir mereka. Bukan karena aku
tidak peduli, aku hanya tidak memahami konsep perayaan dan kemewahan di hari
ulang tahun. Aku tidak memahami perayaan “sweet seventeen” dan mengapa
berumur 17 tahun begitu istimewa.
Suatu kali, pernah aku memberi pendapatku soal hari
ulang tahun pada seorang teman dekat, dan ia terkejut. Kurasa aku juga menyakiti
hatinya karena tidak mengucapkan “selamat ulang tahun” pada ahri ulang tahunnya
padahal kami dekat. Dahulu, aku pernah mengkritisi orang-orang yang
memposting setiap ucapan selamat ulang tahun yang ia dapat pada status whatAppnya
dan menganggap mereka haus validasi dan
ingin lebih banyak orang mengucapkan kalimat selamat itu pada mereka.
Pada saat itu aku tidak tahu bahwa kalimat yang
kuanggap remeh ternyata begitu penting bagi sebagian orang. Kalau dipikir-pikir lagi, mungkin jauh di dasar hati, aku begitu
sinis karena sedikit banyak merasa iri karena satu-satunya yang selalu
mengingat hari ulang tahunku hanyalah notifikasi singkat dari Facebook. Tidak pernah
ada kejutan ulang tahun maupun hadiah berisi barang yang diam-diam
kuidam-idamkan. Bahkan tidak ada pula ucapan manis “Selamat ulang tahun, Tri!”.
Beberapa tahun setelahnya, aku memiliki teman-teman
baik yang memberiku hadiah pada ulang tahunku. Dan rasanya ternyata menyenangkan.
Hadiah mereka masih kusimpan hingga sekarang.
So, I used to wonder: my family was too poor to afford
birthday cakes and presents, but how could we also be too poor to say a simple
“happy birthday!” to each other? Honestly, it would be nice if we did. But well,
I’ve made peace with that, because I know my parents never celebrated their
birthdays either and no one ever taught them that a simple “happy birthday!”
can sometimes mean a lot.
Kalau dipikir-pikir lagi, semua orang mungkin punya
cara mereka sendiri untuk merayakan hari ulang tahun—ataupun tidak
merayakannya. Sekarang, bagiku ulang tahun masih bukanlah hari yang
begitu spesial untuk sebuah perayaan khusus, tetapi hari yang cukup spesial
untuk didedikasikan hanya untukku.
Aku tidak melakukan banyak hal di hari ini. Tidak banyak
yang mengingat ataupun mengucapkan selamat ulang tahun padaku, tetapi itu bukan
masalah. Karena hari ini bukan tentang mereka atau siapa pun. Hari ini tentang
sebuah hari untukku. Jadi aku menjalaninya sesuai mauku:
Aku tidak memaksa diri menjadi produktif untuk bekerja
maupun belajar, khusus hari ini. Aku bermalas-malasan di kamar dan menonton setengah
season anime yang baru-baru ini kuikuti. Aku menyetel musik keras-keras dan
bernyanyi dengan suara fals sembari mengerjakan pekerjaan rumahan. Malam ini
aku berkendara motor sembari mendengarkan lagu favoritku untuk mengunjungi warung kopi dan mendoan. Makan di sana kemudian
nongkrong di kursi depan minimarket sembari menyendok es krim sekaligus menyesap
minuman bersoda—hanya karena aku merasa ingin melakukannya.
Semua itu adalah hal-hal kecil. Hal kecil yang membuatku senang dan merasa hidup layak dijalani.
Hal-hal kecil yang kulakukan,
di hari yang kudedikasikan untukku.

0 komentar