Pages

facebook linkedin twitter youtube

A Dreamer

If you can't explain it simply, you don't understand it well enough - Albert Einstein

    • Home
    • Review
    • Opini
    • Prakerin
    • Karya




    Naik ke kelas duabelas SMK, saya ngerasa hidup saya berlalu begitu cepat. Terlalu cepat sampai saya berada pada titik di mana saya merasa takut. Tiba-tiba saya udah mau lulus dan sebagaimana yang diharapkan dari lulusan SMK, langsung kerja setelahnya. Saya udah harus mulai memikirkan masa depan dan dunia kerja.

    Ketakutan itu merambah ke banyak aspek di kehidupan saya. Awalnya tentang bagaimana saya akan bisa terjun ke dunia kerja. Realita yang dihadapi para lulusan SMK adalah ... mereka seringkali nggak bekerja di bidang keahlian yang mereka pelajari di SMK. Saya melihat banyak contohnya dari kakak kelas saya.

    Pekerjaan yang mereka jalani seringkali jaaauh berbeda dari yang seharusnya. Nggak peduli seberapa pintar dulunya mereka di sekolah. Seringnya, mereka menjadi karyawan pabrik, penjaga toko, bahkan beberapa menjadi kuli bangunan.

    Saya nggak mau begitu. Meski saya merasa jurusan saya di sekolah saat ini beda dari hobi dan keinginan saya yang sebenarnya, saya tahu dalam hati kecil, saya ingin bekerja sesuai jurusan di SMK. Karena dengan begitu saya akan merasa apa yang saya pelajari berguna, saya nggak akan merasa sia-sia atas semua tenaga yang telah saya keluarkan di sekolah. Tapi, saya sadar lebih banyak kemungkinan saya akan melepas idealisme saya ketika dihadapkan realita dunia kerja.

    Pemikiran seperti itu membuat saya takut. Saya kira itu adalah pemicu dan awal dari segala pemikiran lain.

    Saya jadi takut dengan konsep "menjadi tua". Saya nggak mau cepat-cepat lulus, karena itu berarti saya harus mulai menentukan arah kehidupan saya sendiri. Saya harus membuat keputusan-keputusan yang bisa saja salah dan saya sesali. Cepat lulus berarti waktu bermain-main saya sudah habis, saya harus mulai jadi pribadi yang mandiri.

    Ditambah dengan pengharapan besar orang tua saya: mampu sukses dan membuat perekonomian keluarga membaik. Tidak ada yang salah dari harapan mereka, yang salah adalah pikiran saya: harapan mereka seperti beban yang menggelayut di pundak saya dan membuat saya takut nantinya mereka kecewa bila saya tak dapat memenuhinya.

    Ketika teman-teman saya bilang mau cepat-cepat lulus dan kerja, saya justru bilang sebaliknya. Dan karenanya, mereka sering mengatakan pemikiran saya aneh.

    "Kamu itu aneh, tau, nggak capek apa mikirin pelajaran mulu?"
    "Kamu aneh, deh, kalo nggak mau cepet-cepet tua ya, jadi anak kecil aja terus."

    Meski jawaban-jawaban itu diucapkan dengan candaan, sejujurnya saya seringkali merasa marah. Kenapa mereka nggak bisa merasa apa yang saya rasa? Kenapa mereka nggak memiliki ketakutan seperti yang saya alami? Apa mereka pikir dunia kerja semudah dunia ketika mereka sekolah?


    Belum selesai dengan pemikiran-pemikiran tersebut, serangkaian pemikiran lain membanjiri otak saya: mulai dari mempertanyakan identitas diri. "Siapa, sih saya?" (Pertanyaan sederhana yang jawabannya bukan perihal nama). "Apa yang sebenarnya saya mau?".

    Pertanyaan mengenai eksistensi seperti, "Apa tujuan saya diciptakan?" sampai titik di mana saya mempertanyakan keyakinan dan agama saya, menanyakan keberadaan Tuhan, pertanyaan-pertanyaan yang orang-orang nilai nggak seharusnya dipertanyakan. Segala hal rasanya kacau.

    Ini terjadi cukup lama, berbulan-bulan. Puncaknya adalah selama bulan Ramadhan dan setelahnya. Barangkali sampai saat ini, hanya saja, pertanyaan-pertanyaan tersebut sudah cukup jarang mampir.

    Sampai saya berkenalan dengan istilah Quarter life crisis, saya awalnya merasa aneh dengan diri saya. Mengutip Wikipedia, "A quarter-life crisis is a period of life ranging from twenties to thirties, in which a person begins to feel doubtful about their own lives due to stress associated with the transition to adulthood."

    Pada intinya, kegalauan yang terjadi saat mengalami Quarter life crisis—kadang disebut juga krisis dewasa-muda—disebabkan transisi dari masa remaja ke dewasa.

    Mengutip satu paragraf dari Pijarpsikologi yang mewakili 'rasa' saya:

    "Krisis ini biasanya ditandai dengan perasaan cemas, ketidakpastian, dan kekacauan batin. Orang-orang yang rentan mengalami krisis ini, menurut Robinson, adalah orang-orang berpendidikan. Hal ini dikarenakan mereka dihadapkan dengan pilihan antara keinginan untuk bisa sukses di bidang yang mereka minati atau menjalani hidup sebagaimana yang telah mereka impikan sesuai dengan idealisme masing-masing. Semua hal dilematis ini diperparah dengan tuntutan dari banyak sisi kehidupan."

    Quarter life crisis biasa dialami orang berusia 20-30 tahun. Umur saya bahkan baru 17, pun saya nggak begitu yakin mengidentifikasi apa yang saya alami sebagai quarter life crisis. Tapi satu-satunya hal yang mungkin dan bisa menjelaskan segala 'kekacauan' pemikiran saya adalah quarter life crisis ini.

    Lagi pula saya kira, umur asli seseorang nggak menentukan umur mentalnya. Barangkali karena saya SMK, ada kecenderungan saya mengalaminya lebih cepat sebab keputusan-keputusan yang harus saya ambil dimulai lebih cepat dibanding mereka yang SMA/ SMK lalu melanjutkan kuliah.

    Dan akhirnya saya tahu, quarter life crisis adalah sebuah proses. Proses mengenal diri dan menjadi pribadi dewasa yang nggak menjadi cerminan orang lain, melainkan mampu menjadi diri sendiri. Quarter life crisis juga bukan sekadar proses yang harus dilewati, tapi juga dinikmati. Di titik inilah, saya sekarang, mencoba menikmatinya sembari berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan saya. Saya yakin, saya bisa melewati dan memaknainya. Begitu juga kamu, saat kamu mulai mengalaminya.

    Continue Reading


    Sebagai negara yang mayoritas penduduknya adalah muslim, ulama dan ustaz tentu membludak di negara ini. Ustaz-ustaz yang menghiasi tv, baik untuk ceramah atau nongol di infotainment membarengi gosip panas para selebritas terjerat kasus, selebritas yang jadi ustaz, dan sebagainya. Juga Ulama yang merambah ke berbagai ranah, termasuk politik.

    Bicara saya barangkali kedengaran sentimental dan kontra mereka. Ditambah apa yang menjadi judul postingan ini. Kesannya saya kayak nggak suka pada mereka-mereka, yang memang sejujurnya, iya, untuk beberapa hal. Tapi nggak, saya nggak bener-bener anti pada mereka, kok.

    Saya tahu sih ini salah. Apalagi saya muslim—jika menurut pada apa yang diajarkan oleh keluarga dan lingkungan saya sejak saya kecil. Saya tahu barangkali saya harusnya nggak menulis ini, dengan pengetahuan minim saya tentang mereka. Meski memang, saya sebenarnya nggak ingin merasa seperti ini. Saya ingin nggak harus merasa kesal dengan tingkah mereka di depan publik. Saya ingin menghormati mereka sebagaimana harusnya. Tapi saya sulit untuk bisa.

    Definisi saya tentang para ustaz seringkali kabur. Yang mana yang boleh disebut ustaz ataupun ustazah? Yang bagaimana? Jika (selebritas yang) baru berhijab saja dikatakan sudah hijrah. Jika baru berhijab saja dikatakan menjadi muslimah yang sesungguhnya lalu dakwah kepada muslimah lainnya. Bukannya saya menentang dakwah, atau seruan mereka, itu bagus kiranya, jika dibarengi niat yang benar bukan sekadar cari perhatian publik atau menunjukan "ini loh saya, sudah jadi muslim/muslimah sejati, sudah hijrah".

    Yang bagaimana? Jika (selebritas yang) baru menjalankan sunah dengan memanjangkan jenggot dan pakai sorban sudah ceramah sana-sini? Jika mereka tiba-tiba saja menyandang titel tambahan sebagai ustaz di depan nama 'artis'nya.

    Kadangkala antara selebritas dan ustaz tidak bisa dibedakan lagi. Ustaz muncul di topik hot sensasi para selebritas. Dan seleb tiba-tiba menyandang titel ustad/ustazah.

    Katakanlah saya hanya melihat 'kulit luar' dari para pendakwah (ustaz-ustaz) ini. Apa yang saya lihat—ketika bahkan saya nggak ingin menyimak atau mencari tahunya—justru kasus-kasus poligami mereka, mereka yang berdakwah dengan mendegradasi agama lain, intoleran pada umat lain, menjual ayat demi membenarkan sesuatu atau mengharamkan sesuatu, menjual ayat untuk merendahkan agama atau kelompok minoritas, dan suka mengkafir-kafirkan orang lain.

    Sejak dulu saya sudah muak dengan dakwah-dakwah yang meninggikan Islam dengan cara membandingkannya dengan agama lain dalam konteks agama tersebut dibuat lebih rendah di hadapan Islam. Saya telah menyaksikan 'pengajian umum' dengan seorang ustaz yang melakukan hal tsb, atau juga pengalaman dengan guru saya di sekolah.

    Hal yang dianggap seremeh perkataan: "Agama kitalah yang terbukti paling baik. Kita menunaikan salat lima waktu, beribadah secara jelas waktunya, coba saja bandingkan dengan agama X yang ke tempat ibadahnya saja satu minggu sekali. Bandingkan dengan agama Y yang jarang frekuensi ibadahnya." atau perkataan semacamnya justru mengusik saya. Saya pernah mendengarnya dari seseorang yang saya pikir tidak seharusnya mengatakannya.

    Saya terusik dengan pertanyaan: kenapa? Kenapa demi membangun keimanan seseorang ataupun meninggikan agama sendiri orang-orang ini harus membuat pernyataan merendahkan agama lain?

    Para orang yang 'mengerti' agama ini (ustaz dan ulama) juga kadang menjadi yang paling anti dengan perbedaan. Mereka juga sangat intoleran, konservatif, dan mencampuradukkan segalanya dengan agama. Beda aliran satu agama saja dikatai 'sesat'.

    Memang susah kalau sudah nggak suka. Saya sadar karena ketidaksukaan saya, saya cenderung menganggap gerak-gerik mereka tidak sesuai dengan apa yang seharusnya di mata saya.

    Dan berusaha menilik diri saya, saya cenderung menuntut 'kesempurnaan' mereka sebagai tokoh publik, tokoh agama dan masyarakat karena mereka menyandang titel besar yang harus dipertanggungjawabkan—ustaz dan ulama. Padahal, saya pun tahu nggak ada manusia yang sempurna, termasuk juga mereka. Itulah kesalahan saya. Lalu, saya sadar saya cenderung 'menghindari' segala sesuatu tentang mereka yang tidak saya suka karena saya telanjur muak, barangkali itulah yang membuat saya hanya menemukan kejelekan-kejelekan dari para ustaz dan ulama. Karena saya nggak mau mencari tahu. Karena saya membatasi diri sebab takut menemui lebih banyak mereka yang nggak saya suka alih-alih tokoh agama yang benar-benar bijak di mata saya.

    Meski begitu, saya nggak mau menggeneralisasi mereka. Saya tahu pasti bahwa ada dari para tokoh agama yang nggak seperti mereka dengan sifat-sifat yang saya sebutkan.

    Sampai saat ini, saya kagum pada mereka yang mencintai Islam dengan nggak intoleran pada agama lain, dengan keyakinan lain, bahkan dengan kaum minoritas seperti LGBT.

    Saya kagum dengan mereka yang sanggup mencintai Islam dengan cara mereka—ketika saya belum bisa. Dengan tenang tanpa perlu berkoar pada dunia "inilah agama saya! Yang terbaik.". Mungkin karena inilah, orang-orang yang mencintai agamanya dengan tulus justru jauh dari sorotan publik. Karena mereka nggak mau koar-koar. Karena mereka mencintai Islam yang (harusnya) mencintai perbedaan.



    Continue Reading

    Review - Flesh Out



    Judul: Flesh Out
    Penulis: Bellazmr
    Penerbit: Grasindo
    Blurb:
    Ada beberapa takdir yang sekalipun berusaha ditolak, tapi nyatanya tak pernah bisa dihindari. Bagi Reina Pamela takdir orang tuanya yang bersahabat baik dengan orang tua Frans Guntoro adalah takdir yang paling ingin ia tolak.
     Frans dan Reina saling kenal sejak kecil. Keduanya selalu bersama dan terikat. Namun sayangnya, Frans dan Reina tidak mewarisi hubungan kedua orang tua mereka yang akrab. Frans dan Reina adalah dua orang yang tidak bisa disatukan, selalu bertengkar dan tak pernah akur.
    Bagi Frans, Reina adalah perempuan yang tak mudah ia tebak. Bagi Reina, Frans adalah laki-laki yang harus ia hindari. Namun, Bagaimana jika suatu hari Frans mampu menebak Reina dan Reina tak mampu untuk menghindari Frans?


    Seperti kebanyakan fiksi remaja lainnya, Flesh Out bercerita tentang hubungan dua tokoh utama, Frans-Reina, yang mengalami pasang surut. Mereka sudah kenal sejak kecil karena orang tua mereka bersahabat. Dan, suatu hari, mereka berdua membuat pertaruhan siapa yang lebih duluan jatuh cinta dalam hubungan pacaran selama satu minggu.

    Flesh Out adalah salah satu cerita jebolan wattpad. Dan kebetulan, saya pernah baca versi wattpad-nya. Udah lama sih baca versi wattpad-nya. Dan, kalau boleh jujur, untuk beberapa (atau banyak) hal, saya lebih suka versi wattpadnya. Versi novelnya menurut saya agak teramat mengecewakan. Terutama karena .... saya paparin aja deh, satu-satu.



    Flesh Out versi novel itu kayak fragmen film yang kepotong-potong, atau novel yang lembar halamannya ada yang hilang. Kenapa saya bilang gini? Mungkin, karena keterbatasan halaman, beberapa scene di versi wattpad-nya dibuang. Tapi saya jadi menyayangkan banyak hal. Kayak, alurnya, untuk orang yang sebelumnya nggak baca versi wattpadnya, pasti akan bingung, dan ngerasa, "kok, tiba-tiba kayak gini?". Oke, saya sok tahu.

    Tapi, memang, di versi novel hubungan Frans-Reina kayak, loncat-loncat, tiba-tiba adegan ini, tiba-tiba berubah suka. Gitu, lah. Jadi, perkembangan hubungan tokoh utamanya itu kayak kurang terbangun. Jawaban dari apa, kenapa, dan hal apa yang membuat mereka akhirnya saling suka itu jadi semacam 'karena udah dirancang oleh penulisnya begitu'. Padahal, menurut saya, perkembangan hubungan Frans-Reina bisa dimaksimalkan kalau penulis mau membuang adegan nggak (atau kurang) penting lainnya. Kayak, percakapannya Frans dengan kedua orang tuanya. Atau, scene Jeje-Gatra (dua tokoh pendukung, dengan Jeje sebagai kakak kelas Reina yang akhirnya memusuhinya dan Gatra sebagai orang yang pernah Reina suka dan masih menyukai Reina), yang saya tahu dari baca versi wattpad-nya kalau itu semacam chapter tambahan khusus buat mereka (Jeje-Gatra).

    Menurut saya, kalaupun bagian Jeje-Gatra dibuang, nggak akan berpengaruh juga ke perkembangan alurnya. Malah, bagian mereka hanya menambah-nambahi halaman.




    2. Perubahan baik rangkaian kalimat, scene, sampai dialog tokohnya antara versi wattpad dan novel itu sedikiiiit banget bedanya. Alhasil, kalau ada bagian yang saya inget pernah baca di wattpad tapi ada di novel, saya langsung lewatin. Jadinya, saya baca Flesh Out cuma rampung satu jam-an. Parahnya, perubahan yang kentara antara versi wattpad dan novel cuma ditambahin awalnya, dan beda di halaman 280 sekian, bikin endingnya beda. Itu aja, selebihnya, saya rasa hampiiiiiir sama.

    Imbasnya adalah, karena saya bacanya sekilas, alias lewat-lewat, saya nggak ngerasain apa-apa pas baca. Nggak ketawa gila, nggak senyam-senyum, kayak, datar aja. Perubahan yang terbilang dikit banget (atau malah bisa kita sebut nggak ada) ini justru malah bisa bikin pembaca yang udah ngeluarin duitnya—yang saya yakin itu duit minta ortu atau nabung uang jajan, karena yeah, ini teenlit dan sebagian besar pembacanya di wp juga anak SMP-SMA—merasa kecewa. Karena yah, siapa, sih yang mau baca novel dengan rangkaian kata juga dialog yang 85% persis sama dengan yang sudah dibaca sebelumnya (versi lengkap lagi! Karena di wp lebih kerasa perkembangan hubungan Frans-Reina)? Kecuali, kalau orang itu berpikiran berkebalikan sama saya dan nggak berkeberatan ngulang baca cuma dengan ending beda.

    Untuk perbandingan:

    "Halo Kak Je." Reina lantas menoleh ke arah laki-laki yang berada di samping Kak Je atau lebih panjangnya Jesinta. Namun satu sekolah lebih mengenalnya sebagai Jeje, Ketua cheers tahun kemarin.

    "Halo Kak Gatra," sapa Reina agak canggung kepada pacar sekaligus tunangan dari senior cheerleadersnya itu. —FO, hal 9

    Flesh Out versi wattpad:



    3. Inkonsistensi, plot hole

    Inkonsistensi yang pertama, ehm, ini sebenernya sih penting-nggak-penting saya bahas.

    Frans bertanya sama Reina apa cinta dan suka itu menurut dia beda atau sama? Reina bilang, beda. Dan Frans balas, dia menyatakan dia udah suka sama Reina dan mungkin ke tahap cinta.

    Tapi, di adegan lain, Frans kasih lollypop—ps: saya nggak ngerti kenapa nggak ditulis 'lolipop' aja, dibanding diinggrisin—dan surat ke Reina yang mempertanyakan apa yang terjadi sama Frans, kenapa dia deg-degan, salting tiap berada dekat Reina. Apa dia sudah suka sama Reina? Nah, loh.

    Terus, ada adegan di mana Frans jenguk Reina yang sakit, tapi di sebelum-sebelumnya nggak disinggung Reina sakit. Saya sih paham karena di versi wattpad ada kejelasannya—yah, lagi-lagi, ini masalah keterbatasan halaman dan adegan yang terkesan loncat-loncat seperti yang sudah saya singgung.


    4. Karakter nggak konsisten

    Uh, oke, saya nggak bermaksud kasar, tapi ... err, ah, saya susah jelasin.

    Karakter-karakter yang menurut saya nggak konsisten—sebenernya, 'nggak konsisten' kurang ngena sih ke maksud saya, mungkin lebih ke 'labil, gampang berubah' gitu, lah.

    Pertama, JEJE. Jeje itu seniornya Reina, dulunya ketua Cheers dan posisinya setelah pensiun digantikan Reina. Dia ini diceritakan baik dan sayang Reina, nganggep Reina adik, lah. Eh, tau-tau pas dia ngerti kalau Reina dan Gatra (pacarnya Jeje) pernah saling suka (dan Gatra masih suka Reina), tebak apa?

    Adegan nan sinetronis. Reina dijebak di pesta dan Jeje dorong dia ke kolam. /woah/ Intinya, dari yang kakak kelas baik-baik, Jeje tiba-tiba berubah jadi antagonis! Dan pada akhirnya, Reina diselamatin Frans, dikasih napas buatan. /woah lagi/

    Terus tau-tau (lagi) pas Reina mau pertukaran pelajar ke Dubai, yang mana, artinya dia nggak sekolah lagi di situ. Reina minta maaf, dan Jeje meluk dia. What?! Segampang itu? Logisnya sih, dia masih kesel, cemburu, nggak maafin karena yah, dia sampe musuhin Reina, nendang Reina dari Cheers, buat dia jadi gunjingan. Dan hanya karena satu permintaan maaf, dia maafin. What?! Di akhir, tiba-tiba Jeje jadi protagonis lagi. Saya cuma bisa bilang:



    Oh ya, imbas dari keterbatasan halaman (mungkin) adegan Jeje bisa tau Gatra-Reina pernah saling suka itu diilangin di versi novel. Jadi, kalo ada yang nggak baca versi wattpadnya, pasti bakal hah-heh-hoh. Kok tiba-tiba gini.

    Karakter lain—yang nggak konsisten—menurut saya adalah Gatra. Gatra ini tuh kan posesif gitu, nggak ngerelain banget lah Reina dimilikin siapa-siapa sampai bikin bonyok Frans lewat orang-orang suruhannya. Lagi-lagi ya, adegan pentingnya dipotong. Hm. Nah, tapi menjelang akhir dia bisa ngerelain Reina, baik-baik gitu, udah gitu dia takut sama Jeje. What?! Buktinya, dia nggak nolongin Reina pas kecebur padahal ada di sana. What?!




    4. Ending aneh, Plot twist tidak berhasil tapi mengecewakan

    Nah. Hal terakhir dan yang paling penting yang mau saya protes adalah soal ending-nya. Sumpah, saya kepingin lempar deh buku-buku. Pengin berhenti bacanya. Geregetan (dalam wujud negatif, sayangnya).



    Oke, gini-gini, saya bingung mau cerita dari mana. Jadi, saya juga akan spoiler gimana ending-nya di penjelasan di bawah (karena, yah, saya harus). Yang nggak berkeberatan dikasih spoiler, silakan baca. Yang keberatan, silakan minggat! Omong-omong, penjelasan di bawah, bakal jadi panjang.

    Awal-awal saya baca cerita wattpad, waktu itu saya belum jenuh dengan cerita wp, Flesh Out adalah salah satu fiksi remaja yang saya suka. Bahkan saya berniat pengin beli novelnya karena penasaran gimana ending di bukunya—yang, kata penulisnya waktu itu, bakal beda—dan, sukur deh, saya nggak beneran beli bukunya. Pun saya bakal susah belinya. Oke mungkin ini agak kasar, yah, tapi ... saya punya alasan untuk bilang plot twist dan ending FO mengecewakan.

    Di wattpad, saya ngikutin juga cerita Bellazmr lainnya, yang saya ikutin sampai tamat salah satunya Hung Out (selanjutnya saya singkat HO). Dan tebak apa? Plot twist Flesh Out dan Hung Out itu sama! Iya, sama! Jadi, ketika FO versi buku pake plot twist yang SUDAH PERNAH saya baca di Hung Out, saya nggak kaget lagi, saya nggak, 'wah' lagi. Malah, saya kecewa lagi. Iya, karena sebelumnya saya sudah kecewa duluan sama plot twist HO.

    Gini, plot twistnya adalah ....


    Ternyata rangkaian cerita yang kita baca di awal itu cuma NOVEL YANG DIBUAT SALAH SATU TOKOH. Belum ngeh, belum paham? Biar saya jelasin detail.

    Parahnya, baik HO maupun FO sama-sama menganut sekte plot twist ini. Frans diceritakan MATI karena kecelakaan, begitu juga Ateng (pemeran utama cowok di HO), dan ternyata, mereka matinya cuma di CERITA yang dibuat salah satu tokoh.

    Bedanya, di FO ceritanya sepupunya Frans ini yang bikin novel dengan karakter Frans, Reina, yang mana ada di dunia nyata mereka. Kalo di HO, justru salah satu pemeran utama cewek yang ceritanya bikin novel dengan karakter dirinya sendiri, Ateng, dll.

    Gimana saya nggak kesel coba? Ini tuh, kayak dibohongin. Kalo emang sejak awal itu CERITA yang dibuat salah satu tokoh, terus selama baca rangkaian cerita dari awal itu apa?! Makanya saya berani bilang PLOT TWIST FO DAN HO ITU BERHASIL, TAPI MENGECEWAKAN. Sebenernya nggak, Plot twist FO nggak berhasil di saya, karena saya udah pernah baca di HO.



    Saya kayak, "Halo, emang nggak ada alternatif ending lain gitu?! Nggak ada plot twist lain yang lebih mendingan gitu?!" Ugh, oke, saya super kesel. Intinya, FO benar-benar mengecewakan (bagi saya).

    Terakhir, saya kasih 1.5 bintang dari 5 (yang terendah, sejauh ini).
    Continue Reading

    Review Perahu Kertas 



    Judul: Perahu Kertas
    Penulis: Dee Lestari
    Genre: Young Adult
    Editor:



    Oke, saya review bukunya Dee lagi. Perahu Kertas, beda dari Supernova, ini young adult. Kisah percintaan, gitu, lah.

    Bercerita tentang Kugy dengan mimpinya yang tak biasa: juru dongeng, dan Keenan yang bercita-cita sebagai pelukis tapi ditentang ayahnya. Merasa saling menemukan dalam perbedaan dan saling berbagi mimpi, mereka dekat dan saling memendam rasa. Hanya saja, rasa itu tak pernah bisa dikonfirmasi dengan Kugi yang berstatus pacar Ojos dan Keenan yang akhirnya berpacaran dengan Wanda. Dan masih ditambah banyak hal, juga kehadiran tokoh lain seperti Luhde dan Remi yang mengisi hari-hari keduanya saat tak lagi saling bertemu selama bertahun-tahun.

    Saya pinjam buku ini di perpus, membacanya di sekolah dengan keadaan kelas yang super bising: ada yang gosip, adu nyanyi 'Topi Bundar' dan 'Burung Kakak Tua', konser di kelas dadakan, beberapa main Ludo atau Mobile Legends. Ugh, dan akhirnya saya pun nyerah karena keadaan kelas, juga godaan menonton rilisnya episod terbaru Tokyo Ghoul dan Boruto. Oke, informasi yang sangat penting. Abaikan.

    Terhitung, saya menyelesaikan buku ini satu mingguan lebih. Lama, iya. Selain karena sedang UAS juga sebab bukunya lumayan tebal, sih, 552 halaman meski formatnya juga kecil. Sebanding dengan perjalanan Kugy-Keenan yang dimulai dari baru mau kuliah sampai mereka dewasa.

    Untuk Young Adult, alurnya sendiri lumayan, meski konfliknya yang muter-muter (oke, sebenernya, beberapa kali saya merasa kayak sinetron atau ftv) menurut saya, meski endingnya—nggak, saya bukannya mau bilang buruk—kurang ngena bagi saya. Saya, sih, lebih seneng opsi lain akhir dari cerita Kugy dan Keenan. He he.




    Terus, karena ini buku Dee. Saya mengharapkan hal yang sama dari Perahu Kertas yang juga ada pada Filosofi Kopi dan Supernova—meski saya baru selesai baca Supernova sampai yang KPBJ. Ternyata saya sadar, hal ini nggak saya temukan di Perahu Kertas.

    Itu adalah gaya penceritaan, gaya bahasa, gaya penulisan, apa pun sebutannya, yang biasanya mengalir, enak sekali diikuti, rangkaian kata yang biasanya bikin saya baca dua kali kalimatnya karena saya kagum dan suka. Bukan berarti Perahu Kertas nggak enak diikuti, dan ceritanya nggak mengalir, hanya saja ... kayak ada yang hilang. Satu-satunya yang mewakili gaya penceritaan Dee pada Perahu Kertas adalah dialog Luhde yang kurang lebih, "Kenangan itu cuma hantu di sudut pikir.".

    Oke, selain itu masih ada banyak yang mau saya bahas, salah satunya: kebetulan-kebetulan.

    Saya sadar waktu baca Supernova juga ada beberapa (atau banyak) kebetulan, tapi di Perahu Kertas lebih banyak lagi, dan itu nggak bisa ditutupi dengan gaya bercerita yang nggak seperti Supernova.

    Kebetulan-kebetulan itu ada dari awal bahkan hingga di bab akhir, penyelesaian. Nyaris sepanjang cerita. Mulai dari Kugy yang bersahabat dekat dengan Noni, juga Keenan yang bersahabat dengan Eko. Sedangkan Eko dan Noni adalah pasangan. Di titik itu, mereka bertemu. Juga—ehem, di bawah ini nyaris spoiler.

    Remi adalah pembeli lukisan pertama Keenan yang ternyata menjadi bos Kugy, juga mencintai Kugy sepenuh hati. Pertemuan Luhde dan Kugy di Bali. Kedatangan Kugy dan Keenan di Bali pada saat yang sama. Keenan yang adalah teman Bimo (kalo saya nggak salah sebut) yang direkomendasikan Bimo buat ngajar menggambar di Sakola Alit, tempat Kugy mengajar. Terus, banyak hal, kayak saat Ojos putus dari Kugy, pas juga dengan Keenan putus sama Wanda. Tapi yang bagi saya agak ganjal adalah kebetulan di bagian akhir. Kayak, saya mikir, "Hah? Segampang itu?"

    Oke, sebenarnya ini nggak begitu masalah, apalagi bagi orang yang nggak berkeberatan dengan adanya banyak (banget) kebetulan. Dan bagi saya sendiri, masih bisa saya abaikan untuk terus menikmati ceritanya. Meski kadang mengernyit-ngernyit dan tidak setuju.

    Tapi, masih ada banyak hal yang ganjal. Seperti... deskripsi Remi—tokoh yang muncul di tengah cerita, tapi punya peran penting dalam hidup Kugy— yang ugh, harus saya bilang berlebihan (setidaknya bagi saya).

    "Matanya lantas tertumbuk pada Remi. Manusia satu itu seperti madu yang dikerubungi lebah. Yang melingkarinya semua adalah perempuan. Tampak jelas mereka berusaha sekali mencuri perhatian Remi dengan mengobrol, atau melucu, atau apa pun, hanya sekedar supaya Remi mengalihkan sebentar tatapannya dan meladeni barang satu atau dua kalimat. Mereka yang baru bergabung berkesempatan untuk sejenak menyerobot, cium pipi kiri-kanan, sambil melingkarkan tangan mereka sejenak di pinggang Remi. Namun, sesudah "tiket sosial" itu berlalu, mereka kembali harus menunggu giliran. Kugy menontoni itu semua sampai akhirnya tersenyum geli."   —Perahu Kertas Halaman 343, di satu paragraf utuh.

    Familiar dengan sesuatu? Hehe, iya, ada beberapa kalimat nggak efektif.

    Atau, dengan dialog perempuan-perempuan yang mengelilingi Remi, ceritanya, mereka lagi gosipin Remi di toilet dan Kugy dengar hal itu:

    "Sialan. Makin ganteng, tuh, orang!"

    "Gua mau dikerem seminggu sama dia."

    "Gua sebulan. Hayo?"

    "Jadi, sekarang Remi lagi nggak deket sama siapa-siapa? Still eligible?"

    —Hal 345, dan masih banyak dialog yang ... yah, kayak gitu.

    Tapi, sekali lagi ini nggak masalah dengan orang yang nggak bermasalah dengan deskripsi semacam ini. Cuma masalah selera ... mungkin.

    Dan bukannya pertama kali, Dee juga melakukan hal serupa pada tokoh Diva di Supernova, hanya saja saya merasa Diva dideskripsikan dengan cara yang lebih bisa saya terima. Kalau saya bilang sih, ini pengaruh dari gaya berceritanya juga, yang lebih enak di Supernova (bagi saya).

    "Namun, selalu ada perbedaan menonjol setiap kali peragawati satu itu muncul. Satu perbedaan yang sungguh tidak sederhana. Pandangan matanya. Tidak hanya tajam, tapi juga seketika membelah. Yang lain ibarat pajangan sederet pisau yang berkilau, tapi tanpa aksi. Yang satu ini langsung menghunus. Ia tidak mencari ruang kosong. Ia mencari mata-mata lain. Sorot-sorot lain. Menelanjangi semuanya." —Supernova, hal 71

    Atau:

    "Ada seseorang di sana. Seorang perempuan, duduk menekuk, memeluk lutut, setengah menunduk. Cantik. Dengan bingkai malam yang penuh bintang, ia malah kelihatan tidak nyata. Seperti lukisan. Re mendapatinya sangat indah. Seluruh lukisan ini. Teramat lekat, ia memandanginya. Menit demi menit pun berlalu. Tanpa terasa, sudah sangat lama ini berlangsung. Namun, Re tetap tak bergerak, begitu pula lukisan itu." —Supernova, hal 177.

    Keduanya adalah deskripsi Diva. Oke, oke. Kenapa malah terus-terusan membandingkan Perahu Kertas dengan Supernova? Ck.

    Oh, iya, dialog pada Perahu Kertas pakainya lu-gua, awalnya saya butuh penyesuaian saat membaca dialognya.

    Hal yang agak ganjal lainnya ... dialog Keenan. Sebenarnya, ini nggak begitu harus dipermasalahkan, sih. Cuma ... yah, kayaknya saya ugh, susah untuk nggak membahas.

    Keenan saat berbicara dengan Kugy, orangtuanya, dan Luhde pakenya saya-kamu. Tapi sama Noni, Eko, dan temen cowoknya (Bimo) pakainya lu-gua. Serius, awalnya saya kira typo(s) atau kesilapan saya. Rasanya, saya butuh penjelasan 'kenapa', tapi sepanjang cerita nggak ada satu pun penjelasan, yah, meski saya bisa menerjemahkannya menjadi: mungkin karena awalnya nggak kenal Kugy, demi kesopanan pakenya saya-kamu, atau mungkin karena dia naksir Kugy.

    Terus ada lagi:

    "Neng Ami ... Kumaha, Neng? Damang?" Bapak itu menjulurkan ujung tangannya untuk menyalami Ami.

    "Pak Somad, kenalkan, ini teman-teman saya yang nanti ikut ngajar," Ami...

    —Perahu Kertas hal 110.

    Tanya kabar dijawabnya apa. Kayak saya tanya A kamu jawab Z. Duh, oke bisa diabaikan, lagi pula cuma satu.

    Ada satu kejadian di Perahu Kertas yang menurut saya sinetronisya kelihatan (banget): Nih, ceritanya, kan, Wanda itu kurator lukisan. Dan lukisannya Keenan dipajang di galerinya Wanda. Terus, empat lukisan Keenan dibeli sendiri sama Wanda dan dia bilang lukisan Keenan ludes terjual tanpa bilang dirinya yang sebenernya beli supaya Keenan senang. Wanda sembunyiin lukisannya di kolong tempat tidurnya. Ceritanya mereka udah pacaran.

    Nah, apa selanjutnya? Ketahuan, iya. Dan ketahuannya tuh, Wanda ceritanya mabuk, Keenan bawa dia ke kamarnya. Ada hal yang bikin Wanda kesal, terus dia marah-marah (mabuk). Dan tebak, tadaaa, dia ambil lukisan Keenan terus dilempar, dia bongkar rahasianya sendiri. Duh, udah gitu dia sadarnya cepet. Abis Keenan tahu kenyataannya, Keenan yang balik marah, lalu Wanda maaf-maaf. Mendadak sadar yang dia ucapin.

    Meski Keenan karakter utama, sebenarnya saya nggak begitu suka dia. Habisnya, satu:
    1. Ini dia gampang banget ngomong cinta ke Luhde, pas liat Kugy dia bimbang. Terus juga dia sebenarnya nggak cinta sama Wanda tapi pacaran karena, mungkin, merasa berutang. Gitu lah.
    2. Keenan digambarkan sempurna.
    3. Keenan egois, meski ayahnya juga egois, tapi ini dia keluar kuliah gitu aja demi menjadi penulis saat IP-nya 3.7 atau berapa.




    Dan endingnya sendiri, oke, saya nggak bisa nahan untuk nggak kasih spoiler. Keenan dan Kugy bersatu. Iya udah kelihatan sih.

    Tapi, konfliknya yang muter-muter itu bikin saya mikir, "Ya kalo akhirnya mau bersatu segampang itu kenapa muter-muter kejauhan dulu?!" alih-alih: "Asik! Setelah perjalanan panjang, akhirnya mereka bersatu juga!"




    Nah, yah, mungkin hanya segitu. Tapi gimanapun, Perahu Kertas bukanlah Young Adult dengan alur yang jelek. Tetap ada pelajaran yang bisa dipetik dari novel ini. Pun, saya juga bisa terkikik sama celetukan lucunya Kugy, atau moment Kugy-Noni dan Kugy-Eko. Di beberapa bagian, saya juga tersentuh, saya bisa merasakan sedihnya saat Noni-Kugy perang dingin, dan bahagianya waktu mereka baikan.

    Terakhir, saya bakal 2.5 dari 5 bintang untuk Perahu Kertas!

    Continue Reading

    Review – Danur




    Penulis: Risa Saraswati
    Editor: Syafial Rustama
    Desain sampul: Gita Mariana
    Ilustrasi: Diantra Irawan & Qori Hafiz
    Penerbit: Bukune
    Cetakan pertama, 2011

    Blurb:

    Jangan heran jika mendapatiku sedang berbicara sendirian atau tertawa tanpa seorang pun terlihat sedang bersamaku. Saat itu. mungkin saja aku sedang bersama salah satu dari lima sahabatku.

    Kalian mungkin tak melihatnya.... Wajar. Mereka memang tak kasat mata dan sering disebut... hantu. Ya, mereka adalah hantu, jiwa-jiwa penasaran atas kehidupan yang dianggap mereka tidak adil.

    Kelebihanku dapat melihat mereka adalah anugerah sekaligus kutukanku. Kelebihan ini membawaku ke dalam persahabatan unik dengan lima anak hantu Belanda. Hari-hariku dilewati dengan canda tawa Peter, pertengkaran Hans dan Hendrick—dua sahabat yang sering berkelahi—alunan lirih biola William, dan tak lupa: rengekan si Bungsu Johnsen.

    Jauh dari kehidupan "normal" adalah harga yang harus dibayar atas kebahagiaanku bersama mereka. Dan semua itu harus berubah ketika persahabatan kami meminta lebih. yaitu kebersamaan selamanya. Aku tak bisa memberi itu. Aku mulai menyadari bahwa hidupku bukan hanya milikku seorang....

    Namaku Risa. Aku bisa melihat 'mereka'. Dan 'mereka', sesungguhnya, hanya butuh didengar.

    Start: lupa
    Finish: 08-04-18

    Abaikan tanggal yang di atas itu. Jadi, ceritanya saya nemuin catatan—atau, review singkat, barangkali—sehabis baca Danur. Jadi, yeah, kenapa nggak dipublikasikan di blog.

    Danur, kukira awalnya judul tersebut mengambil nama pemeran utamanya. Namun ternyata ... salah besar! Danur adalah air yang keluar dari jasad mati yang sudah membusuk.

    Meski membuat bulu kuduk berdiri, novel ini bukan buku misteri. Novel ini sesungguhnya bercerita soal persahabatan antar dimensi dengan cara yang menyentuh. Bisa dibilang, Risa telah 'memanusiakan' makhluk-makhluk halus itu lewat novel ini.— Soleh SoLihun, Jurnalis Rolling Stone Indonesia

    Oke, itu adalah testimoni dari Soleh Solihun—dia ini salah satu seleb bukan, sih? Kayak pernah dengar namanya—tentang buku Danur yang ada di sampul belakang buku.

    Membuat bulu kuduk berdiri? Saya sih nggak setuju ya, soalnya menurut saya buku ini sama sekali nggak serem. Trus, bentar, apa hubungannya bulu kuduk berdiri dengan novel misteri? Saya gagal paham. Tapi, saya juga setuju kalimat 'memanusiakan' makhluk-makhluk halus lewat novel ini.

    Ada benernya, karena penulis, Risa Saraswati, lewat Danur nggak membuat hantu di sini seperti stereotip kita tentang hantu selama ini: serem, rambut panjang, cenderung jahat, dan kayak nggak punya lagi hati seperti manusia. Danur beda dalam hal setiap hantu dalam novel ini punya kisah masa lalunya masing-masing, apa yang menyebabkan mereka jadi hantu, dan beberapa dari mereka hanya butuh didengar. Bagi saya, ini hal yang bagus.



    Saya suka kalimat pembuka novelnya;
    "Ketika penciumanku tertutup sedang mata hati terbuka lebar untuk mereka yang biasa kalian sebut ... hantu."

    Garis besarnya, novel ini bercerita tentang persahabatan Risa dan lima anak hantu Belanda, bagaimana Risa bisa menyeimbangkan antara kehidupannya dengan makhluk-makhluk tak kasat mata dan dunia manusia.


    Isinya dibuka pov satu Risa, tapi di pertengahan, ada tuh POV-nya Peter, William, Asih dll., juga Surat hantu Samantha. Awalnya saya berasa kayak, "aneh amat sih, nggak konsisten" waktu baca penyusunan novel ini, tapi mungkin itu adalah gaya pengarang ya.

    Saya nggak tau sih, apa memang penulis bisa lihat hantu beneran. Danur itu novel fiksi yang kayak nonfiksi, berisi memoar pengarang.

    Novel ini sendiri alurnya ... saya bingung. Bukan bingung alurnya sih, tapi karena, yeah, baru pertama kali baca novel yang penyusunannya begini: ada yang bentuknya narasi, cuma dialog kayak naskah drama, surat-surat, dan pov-nya ganti-ganti.

    Ini tuh semacam buku yang berisi cerita-cerita tentang hantu-hantu yang Risa temui, yah meski, alur utamanya memang ada. Yaitu ketika para sahabatnya—lebih spesifik, Peter—meminta sesuatu yang lebih dari Risa. Hidup bersama selamanya.

    Dan pada akhirnya Risa tak dapat menepati janjinya pada Peter. Dan Peter dkk ngambek! Nggak mau lagi menampakkan diri pada Risa.

    Dan kisah-kisah selanjutnya bercerita bagaimana Risa menjalani hari-harinya tanpa sahabat terkasihnya, tentang hantu-hantu yang Risa temui. Menurut saya sendiri, yang berhubungan sama alur utama justru punya porsi yang lebih dikit dari kisah-kisah tersendiri hantu yang Risa temui.

    Ini minusnya, bisa berujung kebosanan! Hehe, saya sendiri bosan di halaman 180-an tapi akhirnya lanjut baca. Dan kalau mau baca-baca ngasal, alias nggak beneran runut pun bisa juga, kayak kisah hantu Asih, Samantha, Diah itu bisa berdiri sendiri. Nah nah, tapi saya nggak kecewa sih sampai meneguhkan diri buat namatin baca. Menurut saya, endingnya lumayan manis.


    Apa sih, ga nyambung ya, abisnya saya 
    males nge-crop gambarnya. Jadi ya udah...


    Kalau ada hal yang mau saya komplain—tapi, siapa sih saya? Wkwk—itu adalah bagian dialog kawan-kawannya Risa yang harusnya dienter tapi nggak dienter. Jadinya, antara dialognya Risa, sedikit narasi, dialog kawan-kawan Risa ada dalam satu paragraf. Dan buat saya, ini lumayan ganggu.

    Dan o-ow, ini bedaaa buaaanget dari film-nya sendiri. Fyi, saya nonton film-nya sebelum baca novelnya. Film dan novel menurutku menampilkan hal yang bener-bener beda. Kayak, karakter Asih (hantu) di filmya dibikin jahat. Dan di film sendiri kayaknya sahabat Belanda-nya Risa dikurangin, jadi empat atau malah tiga ya?

    Terakhir, saya bakal kasih 3.5 dari 5 bintang buat Danur!
    Continue Reading

    Review - Twilight



    Judul Buku: Twilight
    Genre: Fiksi – Fantasi
    Nama Penulis: Stephanie Meyer

    Blurb:
    About three things I was absolutely positive. First, Edward was a vampire. Second, there was a part of him—and I didn't know how dominant that part might be—that thirsted for my blood. And third, I was unconditionally and irrevocably in love with him.

    Saya sih, bacanya yang terjemahan. Tapi blurb-nya copas dari goodreads, karena males ngetik, wkwkw.

    Sejujurnya, saya bingung mau mulai dari mana. He he.

    Mungkin, alur dulu kali ya. Alurnya sendiri menceritakan kisah cinta antara Bella Swan, gadis biasa pindahan yang tinggal bersama Ayahnya dengan Edward Cullen seorang Vampire yang punya kemampuan membaca pikiran orang lain, kecuali Bella.

    Sebenernya, saya udah lama baca Twilight, berdasarkan yang saya ingat, saya pernah bosen bacanya di beberapa bagian. Soalnya, novel ini tergolong tebal, sedangkan konfliknya sendiri (kalau boleh saya bilang) sepele.

    Dengan Bella yang bercerita, yang dia ceritakan ya Edward-Edward-Edward. Kayak, setiap yang ia bahas, apa pun juga bakal berakhir pada Edward. Dan, lihat blurb-nya sendiri, terutama kalimat terakhir, itu cerminan novelnya sih, memang isinya kadang lebay.

    Konflik sebenarnya dimulai ketika seorang Vampire pemburu bernama James yang satu rombongan dengan Victoria dan Laurent tertarik memangsa Bella.  Dan itu baru muncul sekitar berapa halaman ... entahlah.

    Jujur, saya agak kurang ngeh, sih, sebetulnya. Apa yang membuat James sebegitu tertariknya? Kecuali alasan untuk menjadikan Bella sebagai pihak yang harus dilindungi Edward. Oke, sotoy. Atau, ada alasannya cuma saya lupa. Demi menghindari James, Bella sampai disembunyikan oleh keluarga Cullen. Dan ugh, saya agak geregetan di bagian ini. Karena, hallo, Bella pergi begitu aja dengan bilang pada Charlie (Ayah Bella) kalau intinya dia nggak tahan hidup di kota kecil itu bersama Charlie. Ugh, masa sih, harus gitu penyelesaiannya?



    Menurut saya sendiri, sih, Twilight itu konfliknya super ringan, tapi didramatisir.

    Ada beberapa bagian yang menurut saya antara di novel dan di film, lebih bagus di film. Sebut saja waktu Edward ngaku dirinya tuh Vampire, di novel sendiri kan waktu mereka kencan, kayak datar aja, sedangkan di film jauh lebih—yah, ada kesan—apa ya? Menegangkan? Nggak juga, sih. Tapi saya rasa bagian itu lebih oke di filmnya.

    Oke, cukup dulu masalah alur.

    Karakter.

    Bella
    Bella itu Marry Sue? Saya setuju, sih. Soalnya, di hari pertamanya pindahan, dia langsung dapat perhatian dari banyak orang. Cowok-cowok pada tertarik sama Bella, yang nggak dijelasin kenapa bisa. Sebut aja Mike Newton, Tyler (ini sih, karena dia hampir nabrak Bella. Okelah), dan lainnya, saya lupa. Oh! Jangan lupakan Edward, dan nantinya, Jacob. Dan, mungkin alasan saya bacanya bosan-bosan gimana gitu, karena yang dibicarain Bella tuh cuma Edward, Edward dan Edward.

    Edward
    Vampire, tampan luar biasa. Dideskripsikan oleh Bella sedemikian rupa, yang, intinya Edward tampan tiada cela, ketampanannya nggak manusiawi, membikin dia penasaran. Gitulah. Edward punya kemampuan bisa membaca pikiran orang lain, kecuali Bella. Yang kalau saya nggak salah ingat, alasannya kenapa nggak dijelaskan di Twilight.

    Kalau gimana Edward tertarik sama Bella, sih, okelah. Dia penasaran plus dia ingin melindungi Bella yang ceroboh.

    Sebenernya, mungkin banyak hal yang bakal saya komentarin dari novel satu ini, tapi karena saya males buka-buka lagi, yah, daripada salah-salah, segini aja deh. Oh, ya, saya sebenernya sudah mau baca novel keduanya, tapi udah baca bagian awalannya beberapa kali, saya kok males mulu mau lanjutin.

    Ala-ala Goodreads, saya bakal kasih 2 dari 5 bintang. 
    Continue Reading

    Review - Supernova: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh



    Hallo!


    Saat saya membuat review ini, saya baru—benar-benar baru—menyelesaikan membaca Supernova, dan berniat membaca kelanjutannya, yaitu Supernova: Akar. Saya tahu ini terhitung terlambat, banget malah. Secara, buku ini aja terbitnya tahun 2001. Ehm. Tahun lahir saya.

    Blurb:
    Dimas dan Ruben adalah dua orang mahasiswa yang tengah menuntut ilmu di negeri Paman Sam. Dhimas kuliah di Goerge Washinton University, dan Ruben di John Hopkins Medical School. Mereka bertemu dalam suatu pesta yang meriah, yang diadakan oleh perkumpulan mahasiswa yang bersekolah di Amrik. Pertama kali bertemu mereka terlibat dalam percakapan yang saling menyudutkan satu sama lain, hal tersebut dikarenakan oleh latar belakang mereka, Dhimas berasal dari kalangan The have, sedangkan Ruben, mahasiswa beasiswa. Tetapi setelah Ruben mencoba serotonin, mereka menjadi akrab membincangkan permasalahan iptek, saint, sampai acara buka-bukaan bahwa Ruben adalah seorang gay.

    Ternyata tak disangka-sangka bahwa Dhimas juga adalah seorang gay. Maka jadilah mereka sepasang kekasih, meskipun mereka tidak pernah serumah dalam satu apartemen. Bila ditanya mereka menjawab supaya bisa tetap kangen, tetap butuh usaha bila ingin bertemu satu sama lainnya. Dalam pertemuan di pesta tersebut mereka telah berikrar akan membuat satu karya. Satu masterpiece. Satu tulisan atau riset yang membantu menjembatani semua percabangan sains. Roman yang berdimensi luas dan mampu menggerakkan hati banyak orang.

    Nah.

    Sebelum baca Supernova, saya lebih dulu baca Filisofi Kopi. Dan dari kedua buku ini (atau gampangnya, tulisan Dee) ada dua hal yang saya kagumi: gaya penulisannya (duh! Mengalir, enak banget, trus diksinya, ughh. Kalau mau nambah diksi mending baca aja karya-karyanya Dee) dan ada sesuatu yang bisa direnungkan (seenggaknya buat saya).



    Kisah Supernova dibuka dengan Dimas dan Reuben. Mereka bertemu dan berbincang hingga saling mengungkapkan bahwa mereka gay. Dari situ, mereka mulai berkomitmen untuk bersama-sama membuat mahakarya (masterpiece) sebuah roman sains dalam waktu 10 tahun, sekaligus juga berkomitmen menjadi pasangan.

    Dimulailah, mereka berdua merancang tokoh-tokoh mereka: Sang Putri (Rana) wanita 28 tahun yang sudah bersuami, tapi merasa tak bahagia, hampa. Lalu Sang Kesatria (Ferre) seorang managing director berjiwa pujangga yang telah lama kehilangan jati dirinya. Pertemuan Rana dan Ferre berujung pada perselingkuhan mereka berdua. Satu lagi, Bintang Jatuh (Diva) seorang model papan atas juga pelacur yang berpengetahuan amat luas juga memiliki selera humor sadis (dalam bahasa penulis).

    Mereka semua berada pada satu jaring laba-laba (dalam istilah penulis), tokoh-tokoh yang diciptakan Dimas dan Reuben bukan fiksi belaka, mereka benar-benar ada. Dan mereka semua (termasuk juga Reuben dan Dimas) dipersatukan oleh sang Supernova yang identitasnya baru diketahui menjelang akhir. Dan ugh, saya juga nggak nyangka Supernova ternyata adalah...

    Hmm. Spoiler dong.

    Oke. Oke. Lewatin.

    Pertama saya baca, saya mengernyit-ngernyit. Hoho, soalnya dibuka dengan pembicaraan Reuben dan Dimas tentang bifurkasi, serotonin, turbulensi, yang tanpa mau sok-sok pintar dan intelek, saya nggak tahu. Nggak paham.

    Kalau bicara tentang Supernova, selentingan yang didengar pasti ada, lah, tentang novel berbalut sains, atau kisah yang dipadukan dengan sains. Pun, kalau kita buku halaman awalnya, kita yang enggak ngerti bakal dipusingkan dengan mencoba memahami sains yang disajikan di awal itu. Percayalah, saya perlu baca berulang awalnya. Entah otak saya yang kelewat bebal atau memang footnote-nya juga nggak begitu membantu. Trus saya sempat berhenti dan mampir-mampir goodreads dan iseng cari Supernova. Ada review yang bilang Supernova itu kisah biasa yang disains-sainskan, sains-nya cuma tempelan.


    Trus setelah selesai baca, saya setuju perihal 'sains-nya cuma tempelan'. Bener, kok. Sains-nya disajikan hanya saat bagiannya Dimas dan Reuben. Di bagian-bagian lain? Enggak ada. Kalaupun misal kamu lewatin bagian Sains-nya, kalo males mencerna, menurut saya, kamu bakal tetep tahu jalan ceritanya gimana.

    Dan biar pembaca yang sama sekali nggak paham sains macam itu (kayak saya), Dee mengakalinya dengan bikin tokoh Reuben sebagai si Pintar yang menjelaskan ini-itu, sedangkan Dimas kayak refleksi pembaca, dia bakal bertanya apa maksudnya ini, apa maksudnya itu, intinya menyederhanakan teori-teori rumit yang dikemukakan Reuben.


    Ya, walau tetep sih, kalau mau beneran ngerti ya bacanya diulang.

    Tambahan, kadang saya merasa, Dimas dan Reuben ini kok kayak komentator bola yang lagi ngomentarin kisah hidupnya Ferre-Rana-Diva-Arwin dengan bahasa sains.

    Terlepas dari tempelan sains-nya, Supernova tetep aja menarik diikuti karena saya suka narasi beserta dialog yang Dee sajikan. Intinya, saya suka (banget) gaya penulisannya Dee.



    Tapi dari segala kisah mereka yang dihubung-hubungkan dengan Sains, kayaknya saya paling suka waktu Ferre mau—ugh, spoiler, jangan deh—mau ... yang dihubungkan dengan Teori Kucing Schrodinger.

    Untuk tokoh-tokohnya sendiri:

    Dimas dan Reuben.

    Untuk pasangan homo, uhm, mereka sendiri yang suka menyebut diri mereka homo.

    “Dan, kita ini homo!” [hal 111]

    "Ini gawat. Kita bisa pensiun jadi homo.” [hal 199]


    Baik dalam dialog maupun narasi, yang menurut saya, kayaknya pasangan homo nggak akan berlaku kayak gitu juga. Dan mereka enggak terlihat seperti homo, bukan karena nggak ada adegan seks mereka, tapi karena, yah ... mereka lebih cocok jadi sahabat gitu. Dan saya seneng-seneng aja, karakter gay mereka nggak dieksploitasi jadi karakter yang melulu tahunya seks, atau mengedepankan seks antar mereka karena mereka homo. Menurut saya (lagi) biarpun karakter Dimas dan Reuben ini bukan homo, mereka sekedar sahabat, atau salah satu dari mereka itu perempuan. Mereka hetero, kek. Enggak ngaruh sebebernya ke alurnya sendiri.


    Ferre dan Rana
    Saya sih, suka-suka aja dengan karakter mereka. Walau, kadang puisi-puisi dalam hatinya Ferre itu bahasanya agak ... ugh, buat saya.

    Rana, tokoh Rana seolah berakhir gitu aja tanpa Ferre—yang sebenarnya nggak gitu-gitu aja si—tapi maksud saya, enggak kelihatan lagi di cerita setelah dia nggak berkaitan dengan Ferre.


    Diva
    Diva ini kayak, tanpa mencoba melebih-lebihkan, dibuat beda. Penuh paradoks (katanya), punya selera humor sadis (katanya), tapi masih punya sisi lembut. Diva merasa satu-satunya orang yang mencoba bertahan hidup dengan tidak membiarkan dirinya dimiliki siapa pun, di antara orang-orang yang mati.

    Dia cantik dan pintar, cerdas, bermulut tajam. Hanya mau dibayar dolar. Ketahuan sih, dia berusaha dibuat penuh paradoks. Meski disebut-sebut memiliki humor tsadeeest tapi ada beberapa bagian yang menurut saya nggak sadis-sadis amat.

    Alurnya sendiri, saya merasakan juga ketegangan waktu ... waktu Ferre, ugh, awas nih spoiler!


    Ferre mau bunuh diri yang pada akhirnya, yah tebak saja sendiri. He he.
    Di situ bolak-balik, Ferre-Dimas dan Reuben-Diva. Saya ikut tegang juga, ha ha.

    Ala-ala goodreads, kayaknya saya bakal kasih 3.75 (he he, bisa nggak sih?) dari 5.

    Sekian.

    Trii
    Continue Reading

    Minggu Keduabelas Prakerin


    Senin-selasa, 23-24 April 2018
    ÷ Marketting

    Rabu, 25 April 2018
    ÷ Mengganti power supply

    Kamis, 26 April 2018
    ÷ Marketting

    Jumat, 27 April 2018
    ÷ Pengumpulan laporan prakerin (di sekolah).

    Sabtu, 28 April 2018
    ÷ Makan bersama Pak Zulmi dan anak dari sekolah lain, sekaligus perpisahan.
    Continue Reading
    Minggu Kesebelas Prakerin

    Senin, 16 Apri 2018
    ÷ Membersihkan 3 PC

    Selasa, 17 Apri 2018
    ÷ Membersihkan PC


    Rabu - Sabtu, 18-21 April 2018
    ÷ Marketting
    Continue Reading
    Minggu Kesepuluh Prakerin

    Senin, 09 April 2018
    ÷ Pemasangan Harddisk.
    ÷ Pemasangan RAM DDR 3
    ÷ Menginstal windows 7

    ÷ Menginstal Adobe Reader.

    Selasa, 10 April 2018
    ÷ Menerima servis printer.
    ÷ Mengecek printer tersebut.


    Rabu, 11 April 2018
    ÷ Membersihkan 3 harddisk.

    Kamis, 12 April 2018
    ÷ Pembelian Catridge tipe 811 ke Top One Computer.

    ÷ Membongkar, membersihkan, dan merakit kembali PC.


    Jumat, 13 April 2018
    ÷ Menginstal berbagai aplikasi, seperti: 4shared Desktop, Adobe Reader, Ms. office.

    Sabtu, 14  April 2018
    ÷ L I B U R
    Continue Reading
    Prakerin Minggu Kesembilan

    Senin, 02 April 2018
    ÷ Membersihkan PC

    ÷ Menginstal Windows 7


    Selasa, 03 April 2018
    ÷ L I B U R

    Rabu, 04 April 2018
    ÷ Marketting

    Kamis, 05 April 2018
    ÷ Pembersihan PC

    ÷ Menginstal windows 7
    ÷ Menginstal berbagai aplikasi, seperti: Adobe Reader, Ms. Office

    Jumat, 05 April 2018
    ÷ Membersihkan konektor sambungan LAN

    Sabtu, 06 April 2018
    ÷ Menginstal aplikasi SARDU
    ÷ Materi: Cara mengecek rusak tidaknya power supply tanpa dihubungkan ke mainboard.
    Continue Reading
    Minggu Kedelapan Prakerin

    Selasa, 27 Maret
    ÷ Marketting

    Rabu, 28 Maret
    ÷ Marketting

    Kamis, 29 Maret
    ÷ Sevis printer


    • Masalah: Hasil print tidak keluar.
    • Diagnosa: Baik catridge hitam maupun catridge berwarna rusak. Head catridge hitam bermasalah.
    • Solusi: Mengganti catridge hitam (meski menilik kerusakannya adalah keduanya, tapi berdasar keinginan pelanggan, maka hanya kami ganti catridge hitam).



    Jumat, 30 Maret
    ÷ Marketting

    Sabtu, 31 Maret
    ÷ Marketting



    Continue Reading
    Minggu ketujuh prakerin

    Sebenarnya, sangat-sangat-sangat menyebalkan mengakui ini. Seminggu ini yang kami lakukan hanya menjaga toko atau marketting atau apa pun lah sebutnya. Sesekali paling kami melayani pelanggan yang mau menyervis PC atau printer.





    Note: Pict bonus kekesalan :'D
    Horus dari mitologi Mesir Kuno


    Continue Reading
    Minggu Keenam Prakerin


    Senin, 26 Februari
    ÷ Marketting

    Selasa, 27 Februari
    ÷ Instal windows 7 fujitsu 32 bit

    Rabu, 28 Februari 
    ÷ Instal berbagai aplikasi seperti: Winamp, Winrar, Adobe Reader, dll.
    ÷ Servis printer
    • Kerusakan: mogok kerja, ditandai dengan blinking.
    • Perbaikan : Mereset printer



    Kamis, 01 Maret
    ÷ Instal windows 7
    ÷ Servis laptop


    Jumat,02 Maret
    ÷ Marketting
    Continue Reading
    Minggu Kelima Prakerin

    Senin, 19 Februari
    ÷ Membuat kabel straight dan kabel cross

    ÷ Membersihkan komponen PC
    ÷ Instal Windows 7

    Selasa-Kamis, 20-22 Februari
    ÷ Agak menyebalkan menuliskan hal ini, tak ada kegiatan apa pun yang kami kerjakan selain melayani orang yang akan men-servis PC.

    Jumat, 23 Februari
    ÷ Konsultasi judul laporan prakerin (di sekolah).
    Continue Reading

    Minggu ke-4 PKL

    Hari ke-1 (Senin, 12 Februari 2018)
    ÷ Menginstall ulang windows 7
    ÷ Menginstall berbagai aplikasi seperti: Adobe Reader, GOM Player, Ms. Office.
    P.s = kami dapat pengetahuan baru tentang fan processor pentium 4 dan cara melepasnya!

    Hari ke-2 (Selasa, 13 Februari 2018)
    ÷ Menginstall berbagai aplikasi seperti: GOM Player, Mozilla Firefox, IDM, SMADAV.
    ÷ Saya ikut pemilik toko ke Purwokerto untuk melakukan pembelian Harddisk 500 GB. Kemudian, menyervis komputer
    dengan diagnosa masalah: tidak bisa masuk tampilan windows.
    perbaikan: mengganti motherboard.

    Hari ke-3, 4, dan 5
    ÷ Jika saya boleh bilang, tiga hari itu berjalan dengan amat sangat membosankan. Kami tidak memiliki apa pun untuk dikerjakan.

    Hari ke-6
    ÷ Kami diliburkan (libur imlek)

    Continue Reading
    MINGGU KETIGA PKL
    Senin, 05 Februari 2018
    Servis PC
    •  Mengganti motherboard rusak dengan yang baru.
    •  Mobo AMD M3 diganti AMD fin 1
    •  Mengganti processor Athlon x2 dengan AMD A8

    Selasa, 06 Februari 2018
    ∆ Merakit PC

    Rabu, 07 Februari 2018
    ∆ Membuat bootable flashdisk dengan aplikasi SARDU. Digunakannya aplikasi SARDU karena aspek keefisiennya. Dalam satu kali membuat bootable flasdisk (dengan SARDU), flasdisk tersebut dapat diisi dengan lebih dari satu sistem operasi. Sebagai contoh, kami mengisinya dengan OS Windows XP, Win 7, dan win 8.

    Kamis, 08 Februari 2018
    ∆ Servis PC
    Sebuah PC tidak dapat dihidupkan, setelah memeriksa RAM, harddisk, dan komponen lainnya tapi tak kunjung berhasil, kami mencoba melelas fan dan menggantinya dengan fan tanpa kaki-kaki. Dan komputer itu menyala.

    Jumat, 09 Februari 2018
    ∆ Servis PC

    Sabtu, 10 Februari 2018
    ∆ Servis komputer
    • Diagnosa masalah:
    • komputer mati total (kemungkinan kerusakan pada power supply). Kami menggantinya dengan power supply lain dan komputer menyala.
    ∆ Menginstall ulang windows XP

    •    komputer selalu menampilkan blue screen.
    •    kami melakukan scandisk.

    ∆ Menginstall ulang windows 10
    Ketika coba diinstall, komputer selalu mati sebelum proses installasi selesai, sehingga kami mencoba menginstalnya dwngan windowd 8 dan berhasil.
    Continue Reading

    Apa Saja yang Kami Lakukan Selama Seminggu Prakerin?

    Ya, kami, karena bukan hanya saya, tapi juga kelompok saya. Yang, selain saya—tentu saja—anggotanya adalah:
    1. Ana Putri Madaniyah
    2. Bunga Citra Dewi
    3. Helmi Alselina
    4. Widiyanti

    Saya akan menceritakannya per hari.

    Hari ke-1
    Pertama ialah orientasi, perkenalan antara satu per satu dari kami dan pemilik TM Computer—tempat kami melaksanakan prakerin—yaitu Bapak Zulmi R. Putra. Kemudian, kami ditanyai beberapa pertanyaan mengenai komponen motherboard, seperti: apa fungsi clear CMOS? Dan bagaimana cara melakukannya? Perbedaan slot AGP dan PCI; perbedaan socket processor 486 dan 775; konektor floopy, RAM, dan lainnya.



    Hari ke-2 dan ke-3
    Marketing, melayani customer yang datang untuk memperbaiki laptop, dan memeriksa kerusakannya.

    Hari ke-4
    Memperbaiki PC dan install ulang windows 7 ultimate.
    Diagnosa masalah:
    1. Habisnya baterai CMOS
    2. Komputer hidup dan mati; kerusakan pada processor
    3. Harddisk tidak terdeteksi; harddisk rusak, konektor sata, atau bisa juga setting Bios-nya yang bermasalah
    4. Mainboard tipe H61 rusak

    Perbaikan:
    1. Baterai CMOS habis, ganti dengan baterai CMOS lain. Kemudian atur tanggal dan waktu, simpan perubahan dan restart komputerkomputer


    2. Ganti processor
    3. Kencangkan kabel SATA dan periksa setting BIOS
    4. Mengganti mainboard juga dengan seri yang sama.






    Tapi, komputer masih saja tidak bisa masuk ke tampilan windows?


    Diagnosa: kerusakan pada sistem operasi
    Perbaikan: Install ulang windows dengan flassdisk

    Hari ke-5
    Memperbaiki printer canon
    Masalah: hasil cetakan printer tidak jelas


    Diagnosa masalah:
    Kerusakan pada catridge, karena catridge sendiri kegunaannya adalah  menyimpan, mengatur, dan tempat keluar masuknya tinta saat proses mencetak. Dan catridge, adalah komponen printer yg rawan rusak.
    Perbaikan: mengganti catridge canon seri 810 dan ganti karet catridge


    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    About Me

    Photo Profile
    Tri!

    Pelajar tingkat akhir SMK. Hobi membaca dan (kadangkala) menulis baik fiksi maupun nonfiksi. Blog ini adalah tempat saya menjaga kewarasan dengan mempublikasikan pemikiran-pemikiran yang sulit didiskusikan dengan orang-orang di sekitar saya.

    Contact Me

    • facebook
    • twitter
    • bloglovin
    • youtube
    • pinterest
    • instagram

    Labels

    Review cerpen opini prakerin

    Blog Archive

    • ►  2017 (1)
      • ►  Desember (1)
    • ▼  2018 (19)
      • ►  Januari (2)
        • PRAKERIN—Apa saja yang kami lakukan selama semingg...
      • ►  Februari (2)
        • PRAKERIN—Minggu Ketiga
        • Prakerin—Minggu Keempat PKL
      • ►  Maret (4)
        • PRAKERIN—Minggu Kelima
        • PRAKERIN—Minggu Keenam
        • Minggu Ketujuh Prakerin
        • Minggi Kedelapan Prakerin
      • ►  April (4)
        • Minggu Kesembilan Prakerin
        • Minggu Kesepuluh Prakerin
        • Minggu Kesebelas Prakerin
        • Minggu Keduabelas Prakerin
      • ►  Mei (3)
        • Review - Supernova: Kesatria, Putri, dan Bintang J...
        • Review - Twilight
        • Review — Danur
      • ►  Juni (1)
        • Review - Perahu Kertas
      • ►  Juli (1)
        • Review - Flesh Out
      • ▼  Agustus (2)
        • Generasi Anti-ustaz dan Ulama
        • Quarter Life Crisis Sebelum Masanya
    • ►  2019 (6)
      • ►  Mei (3)
      • ►  Juni (1)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  November (1)
    • ►  2020 (4)
      • ►  Januari (1)
      • ►  Maret (1)
      • ►  April (1)
      • ►  Mei (1)
    • ►  2021 (17)
      • ►  Januari (3)
      • ►  Februari (3)
      • ►  Maret (3)
      • ►  April (2)
      • ►  Juni (1)
      • ►  Juli (2)
      • ►  Oktober (2)
      • ►  Desember (1)
    • ►  2022 (26)
      • ►  Januari (1)
      • ►  Februari (1)
      • ►  Maret (1)
      • ►  April (2)
      • ►  Mei (2)
      • ►  Juli (2)
      • ►  November (8)
      • ►  Desember (9)
    • ►  2023 (7)
      • ►  Januari (2)
      • ►  Februari (1)
      • ►  Mei (1)
      • ►  Oktober (3)
    • ►  2024 (4)
      • ►  Januari (1)
      • ►  Mei (2)
      • ►  Agustus (1)
    facebook Twitter instagram bloglovin google plus

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top