Naik ke kelas duabelas SMK, saya ngerasa hidup saya berlalu begitu cepat. Terlalu cepat sampai saya berada pada titik di mana saya merasa takut. Tiba-tiba saya udah mau lulus dan sebagaimana yang diharapkan dari lulusan SMK, langsung kerja setelahnya. Saya udah harus mulai memikirkan masa depan dan dunia kerja.
Ketakutan itu merambah ke banyak aspek di kehidupan saya. Awalnya tentang bagaimana saya akan bisa terjun ke dunia kerja. Realita yang dihadapi para lulusan SMK adalah ... mereka seringkali nggak bekerja di bidang keahlian yang mereka pelajari di SMK. Saya melihat banyak contohnya dari kakak kelas saya.
Pekerjaan yang mereka jalani seringkali jaaauh berbeda dari yang seharusnya. Nggak peduli seberapa pintar dulunya mereka di sekolah. Seringnya, mereka menjadi karyawan pabrik, penjaga toko, bahkan beberapa menjadi kuli bangunan.
Saya nggak mau begitu. Meski saya merasa jurusan saya di sekolah saat ini beda dari hobi dan keinginan saya yang sebenarnya, saya tahu dalam hati kecil, saya ingin bekerja sesuai jurusan di SMK. Karena dengan begitu saya akan merasa apa yang saya pelajari berguna, saya nggak akan merasa sia-sia atas semua tenaga yang telah saya keluarkan di sekolah. Tapi, saya sadar lebih banyak kemungkinan saya akan melepas idealisme saya ketika dihadapkan realita dunia kerja.
Pemikiran seperti itu membuat saya takut. Saya kira itu adalah pemicu dan awal dari segala pemikiran lain.
Saya jadi takut dengan konsep "menjadi tua". Saya nggak mau cepat-cepat lulus, karena itu berarti saya harus mulai menentukan arah kehidupan saya sendiri. Saya harus membuat keputusan-keputusan yang bisa saja salah dan saya sesali. Cepat lulus berarti waktu bermain-main saya sudah habis, saya harus mulai jadi pribadi yang mandiri.
Ditambah dengan pengharapan besar orang tua saya: mampu sukses dan membuat perekonomian keluarga membaik. Tidak ada yang salah dari harapan mereka, yang salah adalah pikiran saya: harapan mereka seperti beban yang menggelayut di pundak saya dan membuat saya takut nantinya mereka kecewa bila saya tak dapat memenuhinya.
Ketika teman-teman saya bilang mau cepat-cepat lulus dan kerja, saya justru bilang sebaliknya. Dan karenanya, mereka sering mengatakan pemikiran saya aneh.
"Kamu itu aneh, tau, nggak capek apa mikirin pelajaran mulu?""Kamu aneh, deh, kalo nggak mau cepet-cepet tua ya, jadi anak kecil aja terus."
Meski jawaban-jawaban itu diucapkan dengan candaan, sejujurnya saya seringkali merasa marah. Kenapa mereka nggak bisa merasa apa yang saya rasa? Kenapa mereka nggak memiliki ketakutan seperti yang saya alami? Apa mereka pikir dunia kerja semudah dunia ketika mereka sekolah?
Belum selesai dengan pemikiran-pemikiran tersebut, serangkaian pemikiran lain membanjiri otak saya: mulai dari mempertanyakan identitas diri. "Siapa, sih saya?" (Pertanyaan sederhana yang jawabannya bukan perihal nama). "Apa yang sebenarnya saya mau?".
Pertanyaan mengenai eksistensi seperti, "Apa tujuan saya diciptakan?" sampai titik di mana saya mempertanyakan keyakinan dan agama saya, menanyakan keberadaan Tuhan, pertanyaan-pertanyaan yang orang-orang nilai nggak seharusnya dipertanyakan. Segala hal rasanya kacau.
Ini terjadi cukup lama, berbulan-bulan. Puncaknya adalah selama bulan Ramadhan dan setelahnya. Barangkali sampai saat ini, hanya saja, pertanyaan-pertanyaan tersebut sudah cukup jarang mampir.
Sampai saya berkenalan dengan istilah Quarter life crisis, saya awalnya merasa aneh dengan diri saya. Mengutip Wikipedia, "A quarter-life crisis is a period of life ranging from twenties to thirties, in which a person begins to feel doubtful about their own lives due to stress associated with the transition to adulthood."
Pada intinya, kegalauan yang terjadi saat mengalami Quarter life crisis—kadang disebut juga krisis dewasa-muda—disebabkan transisi dari masa remaja ke dewasa.
Mengutip satu paragraf dari Pijarpsikologi yang mewakili 'rasa' saya:
"Krisis ini biasanya ditandai dengan perasaan cemas, ketidakpastian, dan kekacauan batin. Orang-orang yang rentan mengalami krisis ini, menurut Robinson, adalah orang-orang berpendidikan. Hal ini dikarenakan mereka dihadapkan dengan pilihan antara keinginan untuk bisa sukses di bidang yang mereka minati atau menjalani hidup sebagaimana yang telah mereka impikan sesuai dengan idealisme masing-masing. Semua hal dilematis ini diperparah dengan tuntutan dari banyak sisi kehidupan."
Quarter life crisis biasa dialami orang berusia 20-30 tahun. Umur saya bahkan baru 17, pun saya nggak begitu yakin mengidentifikasi apa yang saya alami sebagai quarter life crisis. Tapi satu-satunya hal yang mungkin dan bisa menjelaskan segala 'kekacauan' pemikiran saya adalah quarter life crisis ini.
Lagi pula saya kira, umur asli seseorang nggak menentukan umur mentalnya. Barangkali karena saya SMK, ada kecenderungan saya mengalaminya lebih cepat sebab keputusan-keputusan yang harus saya ambil dimulai lebih cepat dibanding mereka yang SMA/ SMK lalu melanjutkan kuliah.
Dan akhirnya saya tahu, quarter life crisis adalah sebuah proses. Proses mengenal diri dan menjadi pribadi dewasa yang nggak menjadi cerminan orang lain, melainkan mampu menjadi diri sendiri. Quarter life crisis juga bukan sekadar proses yang harus dilewati, tapi juga dinikmati. Di titik inilah, saya sekarang, mencoba menikmatinya sembari berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan saya. Saya yakin, saya bisa melewati dan memaknainya. Begitu juga kamu, saat kamu mulai mengalaminya.







































