Pages

facebook linkedin twitter youtube

A Dreamer

If you can't explain it simply, you don't understand it well enough - Albert Einstein

    • Home
    • Review
    • Opini
    • Prakerin
    • Karya

    Insecure



    Judul                   : Insecure
    Penulis                : Seplia
    Penerbit               : Gramedia Pustaka Utama
    Jumlah halaman    : 240 hal; 20 cm
    Blurb                    :

    - Zee -
    Jangan menatap luka dan memar di tubuhku. Jangan berani bertanya apa yang terjadi. Menjauh saja dariku. Hanya dengan begitu, aku merasa aman.
    - Sam -
    Meski orang lain menganggap otak gue nggak guna, setidaknya tubuh gue selalu siap menjadi tameng untuk melindungi orang-orang yang gue sayang. Buat gue, itu lebih dari sekadar berguna!
    Zee Rasyid dan Sam Alqori satu bangku di tahun terakhir SMA mereka. Sikap Zee yang tertutup perlahan melunak dengan kehangatan yang ditawarkan Sam.
    Apalagi ketika Zee melihat kondisi keluarga Sam yang sederhana, berbeda jauh dari kehidupannya dengan sang mama. Pelan-pelan kedekatan Zee dan Sam membuat kepribadian masing-masing berubah. Hidup yang mereka jalani tak lagi terasa aman.

    •

    Buku ini tentang Zee dan Sam yang sama-sama tinggal di lingkungan keluarga yang abusif. Ibu Zee sering menganiaya Zee hingga timbul lebam di tubuhnya. Sementara Ayah Sam adalah seorang pelaut yang main pukul pada keluarganya.

    Bedanya adalah Zee kaya raya, menutup diri, dan hanya punya ibunya. Sedangkan Sam berasal dari keluarga miskin, tapi masih punya Ibu dan kakak perempuan yang menyayanginya, dan Sam sendiri adalah anak yang ceria.

    Sam dan Zee duduk sebangku, Sam termasuk berandalan sekolah yang suka bolos dan satu-satunya hal yang membuatnya berada dekat dengan Zee adalah sebab Zee mau memberinya sontekan. Sam tahu luka lebam Zee, tapi urung peduli, sebab sikap Zee yang terlalu tertutup. Sampai suatu ketika Sam melihat Zee menangis sehabis di ruang BK, mereka perlahan dekat dan saling peduli.

    •
    Jujur, waktu baca blurb-nya saya nggak begitu tertarik. Tapi itu nggak mencerminkan ceritanya, kok!

    Mari kita bahas satu per satu.

    1. Tema cerita dan alur
    Saya suka alurnya. Saya juga suka tema yang diangkat. Walau di awal, saya butuh waktu menyesuaikan diri sama sudut pandang tokohnya. Saya menikmati ceritanya, dan bukunya juga lumayan page-turner sampai bisa saya seleisakan dalam bebepa jam baca. Novel ini pake sudut pandang orang pertama bergantian antar Zee (narasinya pake 'aku') dan Sam (pake 'gue').

    2. Karakter

    Zee: Sejujurnya saya agak nggak begitu suka sama Zee dan nggak begitu bersimpati, apalagi di awal-awal, maaf Zee!

    Soalnya, bagi saya Zee kelihatan seperti tipikal protagonis di sinetron yang kelewat baik meski sudah dijahati berulang kali. Iya, sih, itu ibunya sendiri. Iya dia pasti sayang ibunya. Tapi, lumrahnya orang disakiti—apalagi fisik dan verbal—pasti akan timbul rasa benci. Tapi saya kurang melihat ini di diri Zee. Satu-satunya hal yang diperlihatkan Zee cuma rasa terbiasanya akan ibunya yang suka main pukul lalu kemudian minta maaf, lalu mengulanginya lagi.

    Dan Zee itu Mary Sue. Dia kaya, pintar, baik, dan cantik (meski nggak dideskripsikan langsung, tapi lewat komentar-komentar orang padanya).

    Zee punya kesempatan untuk lepas dari ibunya, tapi dia nggak mau, dia tetap ingin tinggal bersama ibunya—karena menurut Zee, ibunyalah satu-satunya yang tak meninggalkannya, tak seperti ayahnya, ibunya yang merawatnya, meski dia kerap menganiaya Zee.

    Ketika saya mengharapkan perubahan sikap Zee, dia nyatanya enggak berubah sepanjang akhir cerita, bahkan pada klimaks saat Zee nyaris mati dianiaya ibunya.


    Menurut saya, Zee nggak mengalami banyak character development, kecuali bahwa akhirnya Zee punya teman, Vini.

    Sam

    Dibanding kehidupan Zee, saya merasa lebih bisa relate sama kehidupan Sam. Sam dari keluarga miskin, ibunya berjualan mie ayam.

    Mungkin juga karena bagi saya Sam terasa lebih nyata aja—meski awalnya saya juga nggak begitu suka Sam diawal-awal dan butuh penyesuaian sama karakternya yang digambarkan kayak karakter badboy SMA: suka telat, nyontek, tidur di kelas, berani membantah guru. Tapi lama-lama saya terbiasa karena karakternya konsisten begitu.

    Sam enggak sempurna, enggak digambarkan ganteng, nggak juga pintar, sudah begitu di awal-awal, ia nggak punya gambaran soal kehidupannya sehabis lulus sekolah. Tapi justru ini yang bikin saya bersimpati sama sosok Sam. Sam dan kehidupannya yang kelihatan beneran nyata.

    Beda dengan Zee, Sam punya character development yang jelas, dari yang awalnya ke sekolah cuma numpang tidur, suka telat, suka nyontek, akhirnya punya sesuatu yang mau dia kejar; cita-cita.

    Sejujurnya buat saya, kalo buku ini diceritakan cuma dari sudut pandang Zee, ada kemungkinan saya DNF, sih.

    Mama Zee (Manda Rasyid): sejujurnya saya merasa perlu membahas karakter yang satu ini karena character development-nya yang justru bagi saya agak nggak make sense.

    Ibu Zee ini menurut saya punya lebih dari sekedar sikap abusif, dia punya emosi yang nggak stabil. Dia bisa baik banget ke Zee, tapi kalo sedang ingat Ayah Zee (yang membuat ia menderita, etc) dia berubah jadi super-jahat. Bahkan cenderung nggak manusiawi gitu.

    Tapi di akhir, ya, dia berubah, dia direhabilitasi. Akhirnya Zee bertemu ibunya ini, ibunya udah jadi super-baik, seolah nggak pernah melakukan tindak apa pun sama Zee, padahal dia hampir buat Zee nyaris nggak tertolong.

    Maksud saya, paling nggak harusnya ada tahap-tahap perubahannya, mungkin mulai bisa mengontrol emosi, nggak marah-marah waktu Zee membahas ayahnya, etc. Tapi ini sama sekali nggak diperlihatkan.

    Tiba-tiba aja Zee dan ibunya begitu akrab. Normalnya, gimana pun sayangnya Zee ke ibunya, pasti mereka canggung untuk bersikap selayaknya ibu-anak yang bahagia dan akrab setelah semua yang terjadi.

    Saya merasa harus membandingkan ibunya Zee ini dengan Ayah Sam yang sama-sama abusif. Ayah Sam dipenjara, tapi ketika Sam menjenguknya, dan meminta ayahnya meminta maaf kepada ibu dan kakaknya, Ayah Sam enggan. Dia merasa, dengan dipenjara dia sudah menebus kesalahannya. Apa perlunya minta maaf?

    Dia juga berencana menikah lagi. Saya melihat ada perubahan di diri Ayah Sam, tapi nggak serta-merta dia jadi baik. Dan itu, bagi saya, lebih masuk akal dan bisa diterima.

    Saya enggak perlu bahas ini, sih, tapi ... saya punya karakter favorit di buku ini! Dia adalah Vini! Temannya Sam, sama-sama miskin, dan intinya, kehidupan Sam dan Vini inilah yang bikin saya suka banget buku ini.

    3. Kejanggalan dan logika cerita

    Saya menemukan sih, beberapa yang mengganjal waktu baca novel ini, di antaranya
    •  Sam itu langganan telat, dan dia mesti bayar lima ribu rupiah tiap kali telat. Enggak ada keterangan kenapa dia selalu telat. Dan seharusnya, (seperti Vini) Sam merasa sayang dong sama uang sakunya karena dia bukan dari keluarga yang begitu berada. Bukannya merelakan aja lima ribu-nya melayang tiap hari.
    •  Sam yang terlalu berani dan memberontak sama guru (di bagian awal). Rasanya kayak guru di situ nggak punya cukup kontrol sama kelakuan muridnya.
    • Ceritanya Ayah Zee itu dokter. Tapi, dokter ke mall dan ke mana-mana, dideskripsikan pake jas putih. Maksudnya, emang nggak ada waktu buat ganti dulu jas rumah sakitnya waktu bepergian gitu?

    Overall, saya suka cerita ini, meski saya juga mengharapkan ending yang berbeda dari Zee dan ibunya, tapi mungkin penulis ingin memberi moral value lain: bahwa penting berada dan menyadarkan orang yang kita sayang meski dia tersesat terlalu jauh, dan meski kita menanggung sakit.

    Jadi, saya kasih 4 dari 5!
    Continue Reading



    Judul: After You've Gone
    Penulis: Ardelia Karisa
    Penerbit: Bentang Belia
    Blurb: 

    Betapa hancur Samara ketika tahu bahwa Lilly, sahabat satu-satunya, termasuk salah satu korban pesawat hilang. Kini ia menghadapi hari-harinya sendirian, nggak ada lagi Lilly yang selalu cerewet dan ikut campur. Meski tak ada lagi yang merecokinya, entah kenapa masalah-masalah justru muncul sejak kepergian Lilly.
    Sam jadi mengenal Kai, cowok misterius putra pemilik yayasan sekolah. Semesta juga mendekatkan Sam dengan Arav, cinta pertama yang selama ini hanya berani dilihatnya dari jauh. Sam nggak nyangka hanya dengan dua cowok itu dalam hidupnya, sisa masa SMA-nya terasa sepelik ini.
    Dadanya terus berdebar tiap bertemu cowok itu. Perasaan tak nyaman, tapi juga menyenangkan itu belum pernah dirasakan Sam. Cewek itu jadi bingung bersikap. Sam butuh Lilly! Ia terus berharap ada keajaiban yang bisa mengembalikan Lilly kepadanya.


    |•|

    Bercerita soal Samara, cewek yang cenderung menarik diri dari pergaulan sosial, cuma punya satu teman merangkap sahabat, yaitu Lily. Namun, satu-satunya teman yang ia miliki hilang dalam penerbangan pesawat. Setelah Lily hilang, Samara begitu berduka, tapi berkebalikan dengan itu, kehidupan Samara justru semarak dengan kehadiran Arav, cowok yang ditaksirnya sejak SMP dan Kai, cowok klan Astabhrata yang begitu terkenal di sekolahnya.

    Ini cerita jebolan wattpad, dan termasuk salah satu cerita project Belia Writing Marathon. Cerita ini pernah jadi salah satu cerita favorit saya waktu awal-awal tahu wattpad. Di wattpadnya sendiri, cerita ini dibiarkan menggantung.

    Sebenarnya, sebelum baca cerita ini, saya agak merasa ... takut kecewa—uhm, enggak persis begitu juga, sih—


    —mengingat pengalaman saya sama cerita wattpad yang di wattpad-nya saya suka banget, waktu baca novelnya enggak mampu memenuhi ekspektasi saya, malah beberapa mengecewakan. Jadi, ketika saya baca cerita ini, saya nggak mau berekspektasi apa-apa, cuma pengin tahu endingnya aja. Dan entah kayaknya itu berhasil, atau memang ceritanya enggak bisa dibilang mengecewakan, intinya saya enggak kecewa.

    Saya suka gaya bahasanya penulis dan gimana penulis membawa cerita ini. Poin bagus lainnya adalah, saya bisa bilang cerita ini bebas adegan-adegan basi teenfict, atau adegan lebay juga sinetronis lainnya. Dua jempol! Hehe.


    Saya juga suka interaksi tokoh-tokohnya. Samara-Kai-Arav. Tokohnya sedikit, tapi lumayan berkesan.

    Sebenarnya saya bacanya agak lompat-lompat, yang saya masih ingat ada di wattpad, saya lompatin. Sejujurnya kayaknya saya ngelakuin ini ke semua novel jebolan wattpad yang pernah saya baca di wattpad-nya. Tapi meski begitu, saya masih bisa agak emosional waktu Samara bahas Lily, senyam-senyum sama interaksi Samara-Arav.


    Intinya, saya juga agak kaget saya masih bisa begitu, karena biasanya saya kalo baca lompat-lompat udah nggak begitu peduli sama tokohnya dan beneran berjarak sama keseluruhan cerita itu sendiri.

    Minus-nya, bagi saya adalah:
    1. Novel ini tuh tipis, cuma 150 halaman, tapi (semoga saya enggak salah, berdasarkan yang saya ingat) ada bagian di wattpad yang dipotong. Kayak, flashback masa SMP Sam-Arav. Bagi saya pemangkasan itu nggak perlu, sih. Banyak novel wattpad yang setelah terbit memangkas banyak adegan versi wattpadnya (yang padahal kadang cukup penting, dan salah-salah membuat efek novelnya kayak lompat-lompat cerita), tapi itu karena tuntutan halamannya. Sementara novel ini, tanpa perlu membuang adegan versi wattpad, udah tipis.

    2. Konflik di klimaksnya ... kurang diperdalam, pesan cerita kurang tersampaikan

    Saya sebetulnya mengerti apa pesan yang mau disampaikan, juga klimaks cerita.
    Semoga saya enggak salah, klimaksnya terletak justru pada pergolakan diri Samara: dia senang bisa bersahabat dengan Kai, dan dia juga senang bisa dekat dengan Arav bahkan saling mengakui perasaan, tapi di satu sisi dia juga merasa itu nggak pantas. Samara merasa, dia enggak pantas sebahagia itu di saat, Lily, satu-satunya teman sekaligus sahabatnya, menghilang, tak jelas apakah benar-benar sudah meninggal, sebab jasadnya pun tak ditemukan. Dia sedang bahagia, tapi merasa dia seharusnya berduka.

    Menurut saya itu jelas sekali, tapi saya rasa bagian ini kurang dieksplor, kurang digambarkan bagaimana Samara kecewa sama dirinya, kebingungan yang dialaminya, dan apa yang dirasakannya dengan pikiran-pikiran yang bertentangan itu, juga proses bagaimana Samara berdamai dengan dirinya sendiri.

    Menurut saya, bagaimana akhirnya Samara berdamai itulah yang gak lumayan kurang, seolah, tiba-tiba Samara tahu cara menyelesaikannya, ia tahu solusinya, dan cerita menuju ending. Gitu. Enggak tahu bener atau enggak, saya merasa penulis agak terburu-buru menyelesaikan novel ini, jadi di beberapa bagian yang harusnya bisa lebih kerasa, lebih menegangkan, jadi nanggung. Di wattpad-nya sendiri, After You've Gone (dibanding cerita lain project Belia Writing Marathon) termasuk yang telat banget update-nya, sampai-sampai berakhir gantung. 

    Tapi, secara keseluruhan, saya suka novel ini. Apalagi endingnya, yang penuh dengan: 
    *CINTA (haha, maksa)


    Jadi, saya kasih 3.5 dari 5 bintang!
    Continue Reading

    The Number You are Trying to Reach is Not Reachable



    Judul: The Number You are Trying to Reach is Not Reachable
    Penulis: Adara Kirana
    Penerbit: Bukune
    Blurb:

    Kata orang-orang, aku ini genius dan kelewat serius.
    Oke, memang koleksi piala dan medali olimpiadeku sedikit lebih banyak dari jumlah perempuan yang dilirik Zeus. Aku masih seusia anak kelas sepuluh, tapi sudah ikut beberapa try out SBMPTN, dan dapat nilai paling tinggi.
    Namun, Kak Zahra—guru homeschooling-ku-menganggapku perlu bersosialisasi. Katanya, biar "nyambung" sama orang-orang.
    Untuk apa? Aku punya teman kok: Mama, Kak Zahra, Hera, dan... saudara-saudara yang sering kulupa namanya.
    ***
    “The Thirteen Books of Euclid's Elements. Buku itu bisa kamu dapat asal kamu mau masuk SMA,” tantang Kak Zahra suatu hari.
    Tidak mungkin. Itu kan, buku legendaris yang ditulis sejak abad ketiga sebelum Masehi. Aku ingin sekali mengoleksi dan mempelajarinya sendiri. Rasanya pasti lebih memuaskan.
    "Oke, aku coba satu semester, ya," jawabku mantap.
    Demi buku itu, bolehlah aku jalani hidup sebagai anak SMA biasa. Lagi pula, sesulit apa "nyambung" sama orang-orang?--

    [Ya ampun! Saya sampai lupa pernah nulis review novel ini. Pokoknya saya udah baca dari lama banget]


    Awal baca cerita ini di wattpad, tapi cuma beberapa chapter karena sudah dihapus untuk kepentingan penerbitan. The Number—ah, kalau disebut kepanjangan—novel ini termasuk novel yang saya suka banget di wattpadnya. Soalnya, dibandingkan dengan novel-novel teenfiction wattpad sejenis—yang ceritanya berkisar soal badboy yang jadi the most wanted boy, badgirl, cewek cupu, ketos, dengan kisah percintaan yang seringnya terlalu berlebihan untuk ukuran remaja SMA—(waktu itu, karena saya juga termasuk masih agak baru di wattpad) menurut saya novel ini beda (karena jauh dari kisah-kisah wattpad di atas), unggul, dan yah, intinya saya suka banget sampai saya masukin ke reading list teenfic favorit dan rekomen ke orang-orang. Yah, ngelantur.

    Kisahnya soal Aira, cewek kelewat pintar (untuk anak seusianya) dan serius yang dari kecil selalu home schooling karena perbedaan kepintarannya itu antara ia sama anak sebayanya. Suatu hari—yang jadi awal mula kisah—Kak Zahra (guru homeschooling-nya) menantang Aira untuk dapetin buku The Thirteen Books of Euclids yang katanya langka itu lewat olimpiade Matematika. Tapi, syaratnya Aira harus masuk sekolah biasa untuk bisa ikut cerdas cermat (karena berkelompok dan memang ditujukan buat murid sekolah). Didorong keinginan mendapat buku itu dan desakan Mamanya, Aira mau masuk sekolah, dan coba-coba satu semester bersekolah.

    Di versi wattpadnya, tokoh Kak Zahra ini enggak ada, dan ceritanya Aira memang enggak homeschooling (kayaknya sih, saya agak lupa) tapi udah sekolah biasa. Saya agak kaget juga waktu bacanya sih (soalnya novel wattpad seringnya setelah terbit enggak beda jauh sama aslinya di wattpad, beda pun paling endingnya, malah saya ada baca yang tiap katanya sama dengan versi wattpadnya, haha).

    Saya ngerasa nggak terganggu sih sama perubahan ini, malah ... kayaknya emang lebih baik begitu.


    Alur


    Saya nikmatin sih baca alurnya, dan konflik yang disuguhkan ditambah leluconnya (apalagi enggak pake bahasa kasar gitu, yay!).


    Untuk yang terbiasa baca novel teenfict wattpad lain mungkin merasa konflik di novel ini sepele, ringan, dan yah ... gitu. Tapi saya malah lebih suka begini (sebenernya saya baca tulisan wattpad Adara yang lain, dan emang yang saya baca konfliknya enggak sampai yang berlarut-larut) lebih masuk akal aja untuk ukuran masalah remaja.

    Oh, saya agak kecewa sih, waktu bagian Aira jelasin ke Hera soal paradoks gitu di novelnya nggak ada (itu dulu bagian favorit saya), tapi yah, dipikir lagi kayaknya itu agak nggak berpengaruh sama alur dan mungkin jatuhnya malah pemborosan halaman. Jadi, mungkin emang lebih baik bagian itu dipangkas.


    Konfliknya dimulai dari ketidakjujuran Aira soal dia yang sebenernya itu pinter pake banget.  Aira bakal berkonflik sama teman pertamanya di SMA. Ah, saya suka penyelesaiannya. Juga endingnya!

    Terus, konfliknya enggak berputar sama pacaran-kecewa-orang ketiga-putus-lalu nikah. Maksud saya, enggak soal percintaan begitu. Saya suka!


    Keseluruhan, saya enggak ada masalah sih sama alurnya. Cuma (subjektif banget, asli) saya merasa enggak yang ... suka banget gitu baca novel ini (bukan berarti saya enggak suka juga, sih) kayak waktu saya baca pas di wattpad-nya. Waktu selesai baca juga udah yang kayak ... oh, selesai.  Padahal dulu saya suka sampai di tahap yang pengin banget baca kelanjutannya. Enggak tahu, mungkin karena lama-lama saya nemu banyak novel lain, bacaan dengan genre lain, atau apa. Atau mungkin karena jokes atau bagian menarik yang ada di novel ini pernah saya baca sebelumnya. Jadi, ketika saya baca lagi vetsi novel, saya udah biasa aja. Ya ... gitu.


    Karakter
    • Aira
    Saya suka sih, keenggaktahuannya Aira sama bahasa-bahasa gaul itu jadi lucu dibaca. Saya juga suka interaksinya dia sama karakter-karakter lain. Tapi ... apa ya... untuk karakter yang diceritakan kelewat pintar, jenius, saya agak nggak merasa kalau Aira ini tuh 'sepintar' itu. Mungkin karena kepintaran Aira cuma ada di narasi, maksudnya, kepintaran Aira ini cuma diceritakan, enggak ditunjukkan.

    Kepintaran Aira ini diceritakan (tell) bukan ditunjukkan (show). Di narasi ada yang menceritakan soal Aila pulang sekolah mau bahas sejarah mata uang dengan bahasa Korea, Aira mau baca sejarah ini itu, belajar bahasa anu, tapi yah, tell, cuma diceritakan begitu aja bukannya ditunjukkan bagaimana. Makanya mungkin saya ngerasa kalau nggak dikasih tahu dari awal Aira itu pintar (banget) saya bakal merasa Aira ini cuma anak yang kurang bergaul dan nggak ngerti istilah-istilah gaul.

    Sebenernya agak ditunjukkan di bagian Aira bertelepon sama Arka (dibahas di bawah), Aira ini hafal dialog novel berat (A tale of two cities karya Dickens). Tapi ... entah sih, saya merasa kurang juga. Lagian, enggak perlu jadi pintar untuk bisa hafal dialog novel.

    Ah, iya! Character development Aira di akhir, saya juga suka (kebanyakan novel wattpad nggak memerhatikan ini, dan karakternya nggak ada perubahan apa pun kecuali mungkin, pacaran dan jadi bucinnya si tokoh cowok, biasanya).

    • Arka
    Arka adalah guru pengganti sementara di SMA-nya Aira. Ngajar pelajaran tambahan buat siswa yang kurang pintar. Dan pstt, dia suka Aira (umurnya 21).

    • Rio
    Sebenernya nggak perlu bahas Rio juga sih, tapi dia ini karakter favorit saya! Hehe, dari mulai di wattpad, saya lebih suka Aira-Rio dibanding Aira-Arka.


    Nah, gitu. Saya sadar di atas saya sering banget nyerempet bandingin novel ini sama novel-novel teenfiction wattpad. Iya, meski ada beberapa hal yang kurang dari novel ini, jujur aja saya suka banget ada novel wp terbit yang nggak melulu soal.kisah cinta remaja SMA yang kadang konfliknya berlebihan gitu.


    Terakhir, saya kasih 3 dari 5 bintang buat novel ini!

    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    About Me

    Photo Profile
    Tri!

    Pelajar tingkat akhir SMK. Hobi membaca dan (kadangkala) menulis baik fiksi maupun nonfiksi. Blog ini adalah tempat saya menjaga kewarasan dengan mempublikasikan pemikiran-pemikiran yang sulit didiskusikan dengan orang-orang di sekitar saya.

    Contact Me

    • facebook
    • twitter
    • bloglovin
    • youtube
    • pinterest
    • instagram

    Labels

    Review cerpen opini prakerin

    Blog Archive

    • ►  2017 (1)
      • ►  Desember (1)
    • ►  2018 (19)
      • ►  Januari (2)
      • ►  Februari (2)
      • ►  Maret (4)
      • ►  April (4)
      • ►  Mei (3)
      • ►  Juni (1)
      • ►  Juli (1)
      • ►  Agustus (2)
    • ▼  2019 (6)
      • ▼  Mei (3)
        • Review Novel The Number You're Trying to Reach is ...
        • Review Novel After You've Gone
        • Review Novel Insecure - Seplia
      • ►  Juni (1)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  November (1)
    • ►  2020 (4)
      • ►  Januari (1)
      • ►  Maret (1)
      • ►  April (1)
      • ►  Mei (1)
    • ►  2021 (17)
      • ►  Januari (3)
      • ►  Februari (3)
      • ►  Maret (3)
      • ►  April (2)
      • ►  Juni (1)
      • ►  Juli (2)
      • ►  Oktober (2)
      • ►  Desember (1)
    • ►  2022 (26)
      • ►  Januari (1)
      • ►  Februari (1)
      • ►  Maret (1)
      • ►  April (2)
      • ►  Mei (2)
      • ►  Juli (2)
      • ►  November (8)
      • ►  Desember (9)
    • ►  2023 (7)
      • ►  Januari (2)
      • ►  Februari (1)
      • ►  Mei (1)
      • ►  Oktober (3)
    • ►  2024 (4)
      • ►  Januari (1)
      • ►  Mei (2)
      • ►  Agustus (1)
    facebook Twitter instagram bloglovin google plus

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top