Insecure
Judul : Insecure
Penulis : Seplia
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman : 240 hal; 20 cm
Blurb :
- Zee -Jangan menatap luka dan memar di tubuhku. Jangan berani bertanya apa yang terjadi. Menjauh saja dariku. Hanya dengan begitu, aku merasa aman.- Sam -Meski orang lain menganggap otak gue nggak guna, setidaknya tubuh gue selalu siap menjadi tameng untuk melindungi orang-orang yang gue sayang. Buat gue, itu lebih dari sekadar berguna!Zee Rasyid dan Sam Alqori satu bangku di tahun terakhir SMA mereka. Sikap Zee yang tertutup perlahan melunak dengan kehangatan yang ditawarkan Sam.Apalagi ketika Zee melihat kondisi keluarga Sam yang sederhana, berbeda jauh dari kehidupannya dengan sang mama. Pelan-pelan kedekatan Zee dan Sam membuat kepribadian masing-masing berubah. Hidup yang mereka jalani tak lagi terasa aman.
•
Buku ini tentang Zee dan Sam yang sama-sama tinggal di lingkungan keluarga yang abusif. Ibu Zee sering menganiaya Zee hingga timbul lebam di tubuhnya. Sementara Ayah Sam adalah seorang pelaut yang main pukul pada keluarganya.
Bedanya adalah Zee kaya raya, menutup diri, dan hanya punya ibunya. Sedangkan Sam berasal dari keluarga miskin, tapi masih punya Ibu dan kakak perempuan yang menyayanginya, dan Sam sendiri adalah anak yang ceria.
Sam dan Zee duduk sebangku, Sam termasuk berandalan sekolah yang suka bolos dan satu-satunya hal yang membuatnya berada dekat dengan Zee adalah sebab Zee mau memberinya sontekan. Sam tahu luka lebam Zee, tapi urung peduli, sebab sikap Zee yang terlalu tertutup. Sampai suatu ketika Sam melihat Zee menangis sehabis di ruang BK, mereka perlahan dekat dan saling peduli.
•
Jujur, waktu baca blurb-nya saya nggak begitu tertarik. Tapi itu nggak mencerminkan ceritanya, kok!
Mari kita bahas satu per satu.
1. Tema cerita dan alur
Saya suka alurnya. Saya juga suka tema yang diangkat. Walau di awal, saya butuh waktu menyesuaikan diri sama sudut pandang tokohnya. Saya menikmati ceritanya, dan bukunya juga lumayan page-turner sampai bisa saya seleisakan dalam bebepa jam baca. Novel ini pake sudut pandang orang pertama bergantian antar Zee (narasinya pake 'aku') dan Sam (pake 'gue').
2. Karakter
Zee: Sejujurnya saya agak nggak begitu suka sama Zee dan nggak begitu bersimpati, apalagi di awal-awal, maaf Zee!
Soalnya, bagi saya Zee kelihatan seperti tipikal protagonis di sinetron yang kelewat baik meski sudah dijahati berulang kali. Iya, sih, itu ibunya sendiri. Iya dia pasti sayang ibunya. Tapi, lumrahnya orang disakiti—apalagi fisik dan verbal—pasti akan timbul rasa benci. Tapi saya kurang melihat ini di diri Zee. Satu-satunya hal yang diperlihatkan Zee cuma rasa terbiasanya akan ibunya yang suka main pukul lalu kemudian minta maaf, lalu mengulanginya lagi.
Dan Zee itu Mary Sue. Dia kaya, pintar, baik, dan cantik (meski nggak dideskripsikan langsung, tapi lewat komentar-komentar orang padanya).
Zee punya kesempatan untuk lepas dari ibunya, tapi dia nggak mau, dia tetap ingin tinggal bersama ibunya—karena menurut Zee, ibunyalah satu-satunya yang tak meninggalkannya, tak seperti ayahnya, ibunya yang merawatnya, meski dia kerap menganiaya Zee.
Ketika saya mengharapkan perubahan sikap Zee, dia nyatanya enggak berubah sepanjang akhir cerita, bahkan pada klimaks saat Zee nyaris mati dianiaya ibunya.
Menurut saya, Zee nggak mengalami banyak character development, kecuali bahwa akhirnya Zee punya teman, Vini.
Sam
Dibanding kehidupan Zee, saya merasa lebih bisa relate sama kehidupan Sam. Sam dari keluarga miskin, ibunya berjualan mie ayam.
Mungkin juga karena bagi saya Sam terasa lebih nyata aja—meski awalnya saya juga nggak begitu suka Sam diawal-awal dan butuh penyesuaian sama karakternya yang digambarkan kayak karakter badboy SMA: suka telat, nyontek, tidur di kelas, berani membantah guru. Tapi lama-lama saya terbiasa karena karakternya konsisten begitu.
Sam enggak sempurna, enggak digambarkan ganteng, nggak juga pintar, sudah begitu di awal-awal, ia nggak punya gambaran soal kehidupannya sehabis lulus sekolah. Tapi justru ini yang bikin saya bersimpati sama sosok Sam. Sam dan kehidupannya yang kelihatan beneran nyata.
Beda dengan Zee, Sam punya character development yang jelas, dari yang awalnya ke sekolah cuma numpang tidur, suka telat, suka nyontek, akhirnya punya sesuatu yang mau dia kejar; cita-cita.
Sejujurnya buat saya, kalo buku ini diceritakan cuma dari sudut pandang Zee, ada kemungkinan saya DNF, sih.
Mama Zee (Manda Rasyid): sejujurnya saya merasa perlu membahas karakter yang satu ini karena character development-nya yang justru bagi saya agak nggak make sense.
Ibu Zee ini menurut saya punya lebih dari sekedar sikap abusif, dia punya emosi yang nggak stabil. Dia bisa baik banget ke Zee, tapi kalo sedang ingat Ayah Zee (yang membuat ia menderita, etc) dia berubah jadi super-jahat. Bahkan cenderung nggak manusiawi gitu.
Tapi di akhir, ya, dia berubah, dia direhabilitasi. Akhirnya Zee bertemu ibunya ini, ibunya udah jadi super-baik, seolah nggak pernah melakukan tindak apa pun sama Zee, padahal dia hampir buat Zee nyaris nggak tertolong.
Maksud saya, paling nggak harusnya ada tahap-tahap perubahannya, mungkin mulai bisa mengontrol emosi, nggak marah-marah waktu Zee membahas ayahnya, etc. Tapi ini sama sekali nggak diperlihatkan.
Tiba-tiba aja Zee dan ibunya begitu akrab. Normalnya, gimana pun sayangnya Zee ke ibunya, pasti mereka canggung untuk bersikap selayaknya ibu-anak yang bahagia dan akrab setelah semua yang terjadi.
Saya merasa harus membandingkan ibunya Zee ini dengan Ayah Sam yang sama-sama abusif. Ayah Sam dipenjara, tapi ketika Sam menjenguknya, dan meminta ayahnya meminta maaf kepada ibu dan kakaknya, Ayah Sam enggan. Dia merasa, dengan dipenjara dia sudah menebus kesalahannya. Apa perlunya minta maaf?
Dia juga berencana menikah lagi. Saya melihat ada perubahan di diri Ayah Sam, tapi nggak serta-merta dia jadi baik. Dan itu, bagi saya, lebih masuk akal dan bisa diterima.
Saya enggak perlu bahas ini, sih, tapi ... saya punya karakter favorit di buku ini! Dia adalah Vini! Temannya Sam, sama-sama miskin, dan intinya, kehidupan Sam dan Vini inilah yang bikin saya suka banget buku ini.
3. Kejanggalan dan logika cerita
Saya menemukan sih, beberapa yang mengganjal waktu baca novel ini, di antaranya
- Sam itu langganan telat, dan dia mesti bayar lima ribu rupiah tiap kali telat. Enggak ada keterangan kenapa dia selalu telat. Dan seharusnya, (seperti Vini) Sam merasa sayang dong sama uang sakunya karena dia bukan dari keluarga yang begitu berada. Bukannya merelakan aja lima ribu-nya melayang tiap hari.
- Sam yang terlalu berani dan memberontak sama guru (di bagian awal). Rasanya kayak guru di situ nggak punya cukup kontrol sama kelakuan muridnya.
- Ceritanya Ayah Zee itu dokter. Tapi, dokter ke mall dan ke mana-mana, dideskripsikan pake jas putih. Maksudnya, emang nggak ada waktu buat ganti dulu jas rumah sakitnya waktu bepergian gitu?
Overall, saya suka cerita ini, meski saya juga mengharapkan ending yang berbeda dari Zee dan ibunya, tapi mungkin penulis ingin memberi moral value lain: bahwa penting berada dan menyadarkan orang yang kita sayang meski dia tersesat terlalu jauh, dan meski kita menanggung sakit.
Jadi, saya kasih 4 dari 5!










