Pages

facebook linkedin twitter youtube

A Dreamer

If you can't explain it simply, you don't understand it well enough - Albert Einstein

    • Home
    • Review
    • Opini
    • Prakerin
    • Karya


    Beberapa hari yang lalu, saya habis baca postingan sebuah akun facebook. Beliau membahas soal rumor Sherlock Holmes yang akan diganti orientasi seksualnya jadi gay. Saya bukan penggemar, pembaca novelnya, maupun penikmat konten-konten Sherlock Holmes. Jadi, ya, saya cuma baca-baca aja, enggak ikutan tersulut atau peduli-peduli amat. Poin beliau di thread-nya kurang lebih adalah : perubahan yang, menurut beliau, radikal ini adalah ulah SJW (Social Justice Warrior). Dan bahwa, beliau enggak ada masalah dengan gay maupun kaum marjinal dan queer, hanya saja tindakan mengubah konten asli orang (yang beliau sebut IP)  ini enggak benar. Sebagai penikmat, ia tidak bisa menerima perubahan ini. Dan bahwa, jika saja Sir Arthur Conan Dyle (pencipta karakter Sherlock Holmes) masih hidup ia juga pasti tidak akan terima karyanya diubah sedemikian rupa. Beliau juga menggarisbawahi kalau mau membuat konten untuk kaum marjinal, kenala harus nebeng karya populer dan bukannya bikin karya baru sendiri? Lalu kolom kementar diisi dengan asumsi bahwa mungkin, para pekerja kreatifnya sendirilah SJW itu.

    Hal ini lumayan mengingatkan saya sewaktu Disney mengubah karaker little mermaid menjadi berkulit hitam. Banyak yang pro juga kontra. Mereka berdebat dengan alasannya sendiri-sendiri. Sekali lagi, kala itu saya juga cuma penyimak yang enggak peduli-peduli amat, saya tidak tumbuh besar dengan film-film disney. Saya juga ingat, beberapa yang kontra membawa-bawa SJW sebagai penyebab perubahan ini.

    Hari berikutnya, saya enggak sengaja baca postingan lain yang isinya seperti  (disengaja atau tidak) balasan dari postingan si beliau yang dipihak kontra tersebut. Poin postingannya  : sejak awal Sherlock sudah domain publik (yang artinya karya itu sudah menjadi milik umum) sejak lama. Dan bahwa, sudah begitu banyak versi lain dari Sherlock termasuk Sherlock perempuan, lalu kenapa Sherlock gay diprotes? Apakah jangan-jangan, kita—dan siapa pun yang suka menuding-nuding segala representasi minoritas sebagai akal-akalan SJW—sebenarnya tidak setoleran itu? Sebenarnya, apa yang diprotes? Adanya minoritas itu sendiri yang mengambil spot utama (Little Mermaid dimainkan orang berkulit hitam dan Sherlock adalah seorang gay, misalnya) atau simply yang dipermasalahkan adalah bagaimana karya yang hanya berfokus pada representasi minoritas sehingga jalan ceritanya sendiri tidak begitu dipentingkan? Dengan kata lain, akar masalahnya adalah bad writing, naskah film-nya ditulis dengan jelek, atau aktor yang dipilih tidak memainkan perannya dengan baik. Sehingga melimpahkan kesalahan pada SJW, dalam hal ini, adalah kekeliruan.

    Atau memang, sejak awal masalahnya adalah kita tidak suka spot utama dimiliki kaum marjinal? Kita enggak masalah adanya perubahan radikal asal tidak di ranah milik kita? Seperti mengaku kita tidak ada masalah dan menerima orang China di Indonesia asal mereka enggak ganggu atau bukan tetangga kita. Atau enggak masalah ada film dengan detektif gay asal bukan Sherlock? Atau mungkin tidak masalah putri duyung berkulit hitam asal bukan Little Mermaid?

    Lalu, ada salah satu komentar singkat yang menulus NIMBY. Not in my backyard. Dia kira-kira menjelaskan secara singkat dengan memberi contoh, "Saya enggak masalah sama gay asal anak saya bukan gay."

    Daaan, kalimat itu yang bikin saya repot-repot nulis ini panjang-lebar. Cari tahu apa sebenernya NIMBY itu dan bla bla bla. NIMBY. Not in my backyard. Frasa ini awalnya digunakan untuk membahas fenomena penduduk yang enggan/menolak adanya perubahan pembangunan. Tidak masalah adanya pembangunan asal itu bukan di wilayah mereka. Asal mereka tetap tenang tak terusik. Lama-lama, frasa ini difunakan secara luas untuk banyak konteks.

    Dalam konteks postingan beliau yang pro, poinnya menyinggung NIMBY. Komentar itu bikin saya merenung karena selama ini, saya merasa dan menganggap diri saya cukup toleran. Saya mulai meperhatikan isu-isu para kaum marjinal. Saya mulai belajar membuang pemikiran bahwa orang-orang berkulit hitam itu tidak terlihat cantik. Saya tidak kontra LGBTQ+ dan tidak menganggap mereka menjijikkan atau menyeleweng. Karena semua hal itu, dan karena saya merasa saya bisa menerima para gay, bi, dan lesbian dengan orientasi seksual mereka, sebab itu pula saya pikir ... saya cukup toleran.

    Tapi satu contoh itu bikin saya berpikir lagi. "Saya enggak masalah sama gay asal anak saya bukan gay." Karena sejujurnya saya pernah berpikir begini. Enggak masalah dengan gay, tapi di masa depan nanti jika saya pada akhirnya mau punya anak, saya enggak mau anak saya gay. Saya enggak yakin bisa menerima dia. Iya, itu pikiran yang kejauhan bahkan waktu umur saya belum tujuh belas.
    Saya paham beda sex dengan gender dan bahwa gender itu konstrukai sosial, tetapi ajaran dari kecil terus melekat di otak saya yang  tetap memberitahukan mobil-mobilan untuk cowok dan boneka barbie untuk cewek. Bahwa tidak ada yang salah dengan lelaki menjadi bapak rumah tangga dan perempuan yang bekerja, tapi saya tidak yakin tidak akan menganggap rendah lelaki yang memilih pilihan itu. Saya mengerti bahwa ekspresi gender dan orientasi seksual itu tidak berhubungan. Bahwa mungkin lelaki lemah gemulai masih tetap menyukai perempuan, tapi yang saya pikir pertama tetap: apa dia tidak suka perempuan? Tidak ada yang salah dengan laki-laki yang memakai make-up (dalam hal ini bukan idol/aktor yang harus bermake-up karena tuntutan peran di dunia hiburan, melainkan cowok biasa yang memakai make up di kehidupan sehari-hari), tapi otak saya otomatis memutuskan itu salah dan mungkin menganggap aneh dan menjauhi cowok yang melakukannya di kehidupan nyata.

    Sejujurnya saya juga enggak yakin bahwa misalnya saya mengenal orang gay atau lesbian, saya enggak akan bergidik saat mereka (mungkin saja) flirting di depan saya. Contoh gampang lainnya adalah, saya bahkan enggak mau baca fanfiksi idola saya yang bermuatan boys love, selain karena sepengatan saya mereka straight, deep down saja juga enggak mau baca romansa cowok dengan cowok. Benar bahwa saya punya simpati pada komunitas LGBTQ, tapi sebatas itu.

    Ternyata saya tidak setoleran yang saya kira. Saya, cuma contoh lain dari NIMBY. Saya enggak masalah dengan gay, selama itu tidak di ranah saya. Selama hal itu tidak terjadi di sekitar saya. Jika itu hanya sebatas wacana, tapi tidak di kehidupan nyata. Jauh dalam hati saya, saya masih tidak bisa menoleransi itu. Ternyata, saya tidak setoleran yang saya kira.


    Continue Reading

    Judul : Itaewon Class
    Penulis naskah : Gwang Jin
    Jumlah episode : 16
    Pemain :
    Park Seojoon sebagai Park Saeroyi

    Kim Dami sebagai Jo Yiseo

    Kwon Nara sebagai Oh Sooah


    Bercerita tentang Park Saeroyi (Park Seojoon), seorang remaja yang teguh memegang pendiriannya, idealis, dan tidak suka melihat ketidakadilan. Pada hari pertamanya di sekolah baru, Park Saeroyi melihat ketidakadilan di depan matanya, seorang anak membully anak lainnya dan guru yang melihat hanya membiarkannya. Jadilah ia memukul si pembully, Jang Geunwon, yang tidak lain adalah anak dari bos ayahnya, pemilik perusahaan makanan nomor satu di Korea. CEO Jangga. Karena hal itulah, Saeroyi harus berhadapan dengan ayah Geunwon, Jang Daehee, yang menyuruhnya berlutut dengan begitu ia akan dimaafkan.

    Park Saeroyi menolak berlutut, karenanya pula, ia dikeluarkan dari sekolah dan ayahnya dipecat dari perusahaannya. Ayahnya menjadi pengangguran, dirinya dikeluarkan dari sekolah, tapi mereka baik-baik saja. Lantas, di mana konflik ceritanya bermula?

    Turning point-nya terjadi ketika Ayah Saeroyi meninggal dalam sebuah tabrak lari.

    Pelakunya dikenali oleh teman Saeroyi, Oh Sooah (Kwon Nara), yang tidak lain adalah Geunwon. Kalap, Saeroyi memukuli dan nyaris membunuh Geunwon. Untuk itu, ia harus membayar hukuman penjara selama tiga tahun. Sementara kasus kematian ayahnya dimanipulasi sehingga Jang Geunwon dinyatakan tak bersalah dan terbebas atas segala tuduhan.

    Setelah keluar dari penjara, tujuh tahun kemudian Saeroyi mendirikan sebuah kedai di daerah Itaewon. Ia bertekad untuk mengalahkan dan menghancurkan Jangga, dan menjadi perusahaan nomor satu makanan di Korea Selatan.

    -

    Saya nonton drama ini karena: 1) Pemerannya Park Seojoon, 2) Taehyung ngomongin soal drama ini di Weverse dan 3) tertarik setelah lihat trailernya.

    Dan pada akhirnya saya bilang, ini nggak mengecewakan. It was really worth my time! Yaay!

    Saya bingung mau mulai dari mana, jadi saya putuskan dari : pada saat saya nulis review ini, saya sudah nonton episode awal dua drama lain, Hotel Del Luna sama Arthdal Chronicles (iya tahu, telat banget baru nonton) dan saya bisa bilang, dibanding keduanya, Itaewon Class lebih cepat menarik perhatian saya sejak episode pertama. Bukan berarti kedua drama yang saya sebut enggak bagus. Hanya saja, dari segi plot Itaewon Class lebih bikin saya penasaran, simpati sama karakternya, dan 'masuk' ke ceritanya. Karena kedua drama pembanding yang saya sebut sebenarnya genrenya lebih ke fantasi, jadi ini enggak aple to aple, sih, tapi susah jelasinnya kalau enggak ada pembanding. Ya sudahlah. Ditambah cliffhanger alias akhiran yang gantung  bikin penasaran untuk secepetnya nonton episode selanjutnya.

    Pada episode pertama, kita sudah dikenalkan dengan konfliknya dan apa tujuan protagonisnya. Plotnya berjalan dengan mulus, emosional, dan ... lumayan tragis. Ngomong-ngomong, drama ini adalah adaptasi dari sebuah komik berjudul sama. Saya enggak baca komiknya, jadi, saya bakal cuma bahas dramanya dan enggak bisa membandingkan sama versi komiknya.

    Episode awal didominasi momen Saeroyi-Sooah. Sooah adalah salah satu anak panti asuhan yang dibiayai perusahaan Jangga, dengan Ayah Saeroyi sebagai orang yang menanganinya. Sooah sangat dekat dengan Ayah Saeroyi.

    Di awal episode ini, kita diperlihatkan kedekatan kedua tokoh, seolah Saeroyi dan Sooah adalah main couple-nya. Saeroyi juga naksir Sooah. Tetapi di episode selanjutnya, Sooah pada akhirnya memilih bekerja di Jangga, yang tidak lain adalah perusahaan yang ingin dihancurkan Saeroyi.

    Banyak yang benci karakter Sooah karena hal ini, ia dianggap berkhianat pada Saeroyi, padahal, ia melakukannya hanya untuk survive, dan menjadi realistis. Jadi, saya enggak sebel-sebel amat sama dia, sih.

    Lalu, pada episode selanjutnya, kita dikenalkan dengan Jo Yiseo, protagonis wanita utama kita. Ia genius, borderline sochiopat, nggak ngampang nyerah, dan ... egois (banget). Jadi, apa perannya di sini?

    Dia manager Danbam (kedai yang didirikan Saeroyi di Itaewon) dan dia suka sama Saeroyi. Saya agak kaget karena, ternyata ceritanya Saeroyi sama Yiseo ini selisih umurnya sepuluh tahun. Jadi, dalam timeline cerita itu, Saeroyi berumur 30 tahun dan Yiseo 20 tahun (baru tamat SMA kalau di Korea, dan lagi proses masuk PTN). Agak jarang untuk main couple di sebuah drama. Tentu aja Saeroyi pada awalnya cuma menganggap Yiseo enggak lebih dari partner kerja dan seorang adik. Hingga episode-episode kesekian menjelang akhir bahkan hubungan mereka enggak ada kemajuan, sampai saya ngira couple ini agak hopeless gitu.
    Awalnya, Yiseo mendekati Saeroyi hanya karena tertarik, lalu sadar ia jatuh suka, dan jatuh cinta. Demi kerja jadi manager di Danbam, Yiseo rela enggak lanjut kuliah dan berselisih sama ibunya. Bucin terdeteksi!

    Normalnya, saya enggak suka karakter yang driving force-nya tuh cinta, tipe-tipe yang bucin begitu, tapi karena Yiseo punya hal lain dalam karakternya yang lebih dari sekedar bucin yang enggak jelas dan dia enggak menye-menye gitu, jadi ya ... saya enggak begitu terganggu.

    Sooah dan Yiseo, dua karakter ini punya kesamaan. Sama-sama menyukai Saeroyi. Sama-sama egois. Sooah melarang Saeroyi menyukainya, bekerja di perusahaan kompetitor Saeroyi, tetapi ingin bersama Saeroyi.

    Ia memberi batas antara dirinya dan Saeroyi, tetapi tidak ingin Saeroyi menyukai orang lain. Ia mau hidupnya enak dengan kerja di Jangga (yang mana memang realistis), tidak mau berjuang bersama Saeroyi, tapi mau diperjuangkan oleh Saeroyi. Sementara Yiseo, seperti yang saya bilang, dia digerakkan oleh rasa cintanya. Ia berjanji membuat Saeroyi lebih dari sekedar pemilik kedai, membuat Danbam sukses, tapi caranya terkadang kejam, dan enggak peduli perasaan orang lain selagi tujuannya bisa tercapai. Ia yakin bahkan tanpa kuliah, ia bisa mendapatkan keduanya; kesuksesan dan cinta. Ada momen-momen di mana saya ngerasa egoisnya karakter Yiseo ini lumayan nyebelin, tapi itu juga poin plusnya, dia punya kelemahan yang emang beneran kelemahan. Bukan cuma dibilang kelemahannya dia adalah ini dan itu, yang jatuhnya kayak humblebbraging doang.

    Sebagai dua karakter utama wanita, saya suka bagaimana mereka digambarkan dalam drama. Keduanya bukan karakter yang kayak malaikat, mereka punya cacatnya sendiri-sendiri yang bikin mereka kelihatan manusiawi. Ada scene flashback yang saya suka banget tentang mereka. Yang pertama saat flashback Sooah semasa sekolah, SMP, waktu Sooah ngerusak barang-barang temannya. Padahal temannya ini super baik ke Sooah, karena kasihan setelah tahu bahwa Sooah enggak punya orang tua dan anak panti asuhan. Sooah justru enggak menganggap itu sebagai kebaikan, ia enggak mau dikasihani. Yang kedua, flashback saat Yiseo kecil lomba lari dan ia main curang. Ia mendorong temannya sampai jatuh agar ia bisa menang. Ia adalah pribadi yang enggak mau kalah. Mereka jauh dari tipikal protagonis cewek yang baiknya kayak malaikat ataupun jahatnya keterlaluan. Saya suka bagaimana mereka digambarkan dengan sifat-sifat yang seringnya cuma dimiliki oleh antagonis dalam sebuah cerita.

    Karakter adalah hal yang paling suka dari drama ini, selain plotnya yang bagus dan akting jempolan pemainnya. Bisa dibilang, bagi saya, enggak ada karakter yang bikin saya kesal atau enggak suka banget. Karakternya enggak dangkal dan punya porsi sendiri untuk bersinar. Enggak sekadar tempelan aja, lah. Bahkan antagonis utama cerita ini (Jang Daehee, ayah Geunwon) nggak segitu nyebelinnya.

    Poin plus lainnya, lewat karakter-karakter ini, Itaewon Class menyisipkan topik-topik yang tabu dibahas di Korea (termasuk Indonesia, dan mungkin negara-negara Asia lainnya).

    formasi awal Danbam


    Karakter utamanya sendiri adalah siswa dropout, juga mantan napi. Saeroyi punya lima karyawan termasuk Yiseo di dalamnya. Yiseo adalah penderita mentall ilness, waktu SMP ia didiagnosa borderline sociopath, dan di episode paling awal, ada scene di mana dia lagi konseling sama psikiater. Lalu Ma Hyunyi, koki transgender yang menabung hasil kerjanya untuk operasi kelamin menjadi perempuan. Saya agak kaget ada drakor yang mau mengangkat isu yang sangat sensitif kayak gini. Lalu Kim Toni, blasteran Afrika-Korea, yang harus terus-terusan meyakinkan orang lain bahwa dirinya orang Korea karena ayahnya seorang Korea meski fisiknya seperti orang Afrika. Adanya aktor berkulit hitam di drama ini jadi kayak angin segar, mengingat orang korea itu pemuja kulit putih (buktinya bisa dilihat pada foto-foto idol yang tersebar kulit mereka kelihatan putih mulus, flawless banget, dan kelihatan enggak manusiawi karena fotonya di-whitewashing sama fansite) dan (enggak semua, tapi) kebanyakan rasis sama black people. Drama ini juga menyoroti bagaimana rasisme yang diterima Toni, seperti bagaimana dia tidak diperbolehkan ke bar karena ia dianggap orang asing. Atau bagaimana orang-orang menganggap semua bule pasti bisa bahasa Inggris, sedangkan ternyata Toni tidak bisa. Saya yakin kayaknya orang Indo juga selalu berpikiran sama, bule = ngomongnya Bahasa Inggris.

    Banyak hal-hal bagus di drama ini, yang kalau saya sebutin jatuhnya fangirling. Salah satu yang paling saya suka waktu scene pertama kalinya Saeroyi ke Itaewon dan dia lihat banyaknya orang dari berbagai negara, budaya, ras, melebur jadi satu di jalanan dalam festival halloween. Padahal ini drama, tapi vibes-nya kayak film. Pekerja industri di sana kalau bikin drama emang effort-nya nggak nanggung-nanggung, sih.

    Meski semua aspek dalam drama ini sudah bagus (banget, malah), tapi tetep aja ada yang ngeganjel. Seenggaknya bagi saya, beberapa hal ini agak ngeganjel :

    Hubungan antara pendiri Jangga dan investor pertama Danbam yang ternyata adalah *tiiiit* (sensor) kurang subtle aja. Kayak sedikit dipaksakan. Lalu di episode menjelang akhir, kenapa ini kayak tiba-tiba jadi romance, ya? Bukan jelek, sih, lebih kepada ganjel aja. Jujur aja, saya juga suka kok chemistry-nya Saeroyi-Yiseo. Roman mereka enggak membosankan (sebagaimana Extraordinary You, serius).

    Lalu saya mau enggak mau harus bawa-bawa ini, episode akhir cukup mainstream dan (entah gimana) mengingatkan saya pada sinetron-sinetron yang pernah saya tonton di zaman jahiliyah. Di episode akhir, ada adegan penculikan, nyelamatin orang terus diri sendiri yang ketabrak, lalu dengan kekuatan super (baca : cinta) bisa bangun dari keadaan kritis, berantem sama dalang penculikan head to head. Tentu aja pengemasannya enggak kaya sinetron, tapi, yah... mengingatkan saya sama sinetron. Mungkin ini yang bikin saya agak  ... kurang puas sama akhir cerita ini. Karena Itaewon Class dibuka dengan segala hal yang berbeda (bisa dibilang antimainstream). Sebut saja protagonis yang DO dari sekolah dan mantan napi, cewek sosiopat, dan bahkan transgender, tapi berakhir dengan hal-hal yang mainstream. Jadi, yah, ... agak disayangkan?

    Overall, drama ini cocok ditonton, literally, semua kalangan yang suka drama dengan plot yang rapi, oke, karakter-karakter yang unik, dan porsi romansa yang enggak begitu banyak. Recommended!

    Ps. Ini agak enggak penting si, tapi (saya baru nyadar, telat amat), sebagaimana sinetron, drama korea punya klisenya sendiri; dijotos/ditamparnya di manapun, yang luka bagian bibir. Hm... (Kayak sinetron yang ketabrak, kejungkal, atau cuma kejedot, yang diperban bagian kepala dikasih betadine biar kayak darah rembesan gitu).

    Bonus :


    8,75 buat drama ini!


    Continue Reading

    Review Extra-ordinary You



    Judul : Extra-ordinary You
    Genre : Fantasi-Romansa
    Penulis : In Ji-hye, Song Ha-young
    Jumlah episode: 31 (2 Oktober – 21 November 2019)
    Blurb :

    Eun Dan Oh, seorang gadis kaya dengan jantung lemah mendapati dirinya adalah karakter dalam sebuah komik berjudul 'Secret'. Parahnya, ia ternyata hanyalah figuran biasa dengan setting karakter menyedihkan : seorang gadis dengan cinta bertepuk sebelah tangan selama sepuluh tahun kepada tunangannya, Baek Kyung, dan bisa mati kapan saja karena jantungnya yang lemah. Dan Oh yang tidak menerima begitu saja karakternya dalam komik, bertekad mengubah nasibnya. Bersama Haru, seorang figuran lain yang bahkan awalnya tidak punya nama, mereka mengubah hal-hal yang sudah digambarkan oleh penulis komik dalam panggung.

    Pemain :

    Kim Hye-Yon (sebagai Eun Dan Oh)


    Kim Roo-Won (sebagai Haru)

    Lee Jae-Wook (sebagai Baek Kyung)

    Ini pertama kalinya saya ngereview drama korea. Dan pilihan saya jatuh pada drama yang hype-nya besar banget di kalangan K-Drama Lovers. Extra-ordinary You.

    Extra-ordinary you dari ide cukup menjanjikan. Nggak pasaran dan fresh. Karakter yang sadar dirinya ada dalam dunia komik dan bertekad mengubah nasibnya dari apa yang digambarkan penulis. Premisnya bagus.

    Dalam Extra-ordinary You ada istilah 'panggung/stage', di mana karakter sedang melakukan apa yang digambar dalam komik. Mereka hanya bisa bertingkah laku sesuai adegan yang digambarkan penulis. Lalu ada 'bayangan/shadow', saat karakter tidak sedang memerankan adegan dalam komik. Dalam artian lain, mereka sedang bebas. Eun Dan Oh adalah salah satu karakter yang sadar bahwa dirinya ternyata berada di dunia komik, jadi ia dapat mengingat apa yang terjadi di stage dan di shadow. Sedangkan untuk para karakter yang tidak sadar, mereka hanya bisa ingat hal-hal yang terjadi di stage.


    Plus-Minus Drama ini :
    Pada episode-episode awal, drama ini seolah mengolok kisah dengan cerita cowok kaya yang begitu saja suka sama cewek miskin yang menurutnya 'berbeda dari seluruh cewek yang pernah ia temui'. Familiar? Iya, mirip Boys Over Flowers, The Heirs, dan sebangsanya! Terutama BOF, sih. Dan saya baru sadar betapa BOF itu plotnya patut ditertawakan (tapi pada zamannya tetep aja suka).

    Ceritanya, tokoh utama dalam komik 'Secret/Rahasia' ini adalah Oh Nam Ju (anggaplah parodi dari Gu Jun Pyo) dan Yeo Ju Da (Geum Jan Di). Nam Ju dari keluarga kaya raya yang dituntut jadi pewaris, dan Ju Da adalah siswi miskin beasiswa.

    Namju diceritakan sebagai cowok yang paling disukai seantero sekolah. Ia adalah ketua geng A3 yang berisi dirinya, Baek Kyung, dan Lee Do Hwa (mirip-mirip F4 lah, di BOF). Lee Do Hwa diceritakan juga menyukai Ju Da, tapi sebagaimana second lead character lain, pada akhirnya ia mengalah pada Nam Ju.

    Dalam ExtraOrdinary You, ada tiga plot yang berjalan. Kehidupan Dan Oh yang ingin mengubah nasibnya, plot komik Secret, dan plot komik Trumpet Flower (komik terdahulu penulis di mana Dan Oh menjadi salah satu tokohnya).

    Banyak adegan cheesy antara Ju Da dan Nam Ju (sebagimana kamu pernah nonton Boys Over Flowers). Tetapi justru, kedua tokoh inilah yang  bikin statement mereka ada di dunia komik (selain benda-benda yang ngambang di udara) jadi believable dan bikin ngakak.


    Bisa dibilang, episode awal adalah yang terbaik dari drama ini. Ceritanya masih solid, bagian komedinya banyak, dan ceritanya bikin penasaran. Tetapi di pertengahan ke akhir, saya entah gimana mulai lost interest sama ceritanya. Bahkan hampir berhenti nonton, tapi sayang karena telanjur didownload.

    Kira-kira, alasannya adalah :

    1. Saya entah gimana nggak suka bagian romance-nya. Padahal di tengah-tengah itu bagian romance-nya mendominasi. Tokoh utamanya, Dan Oh dan Haru kurang greget aja. Atau mungkin karena mereka berdua terlalu bucin (dan saya cenderung nggak suka karakter yang terlalu bucin). Saya malah kena second lead character syndrom alias saya lebih nge-ship Dan Oh x Baek Kyung. Mau dibilang, ada cinta segitiga antara Dan Oh- Baek Kyung - Haru pun sebenarnya nggak tepat. Karena dari awal, Dan Oh sudah suka sama Haru, dan baru di episode sekian di pertengahan direveal kalo Baek Kyung sebenarnya nggak benci, dan justru suka sama Dan Oh.
    2. Di pertengahan sampai akhir, ceritanya mulai nggak solid dan kesannya kayak dipanjang-panjangin. Bayangin, Haru tiba-tiba hilang dan datang lagi tapi dia nggak ingat Dan Oh, lalu di akhir giliran Dan Oh yang nggak ingat sama Haru. Sinetroniyah banget. Mungkin pada kasus Dan Oh, saya masih bisa terima kenapa dia bisa hilang ingatan, tapi tetep aja gimana ia ingat lagi sama Haru itu bikin saya kesel dong.
    3. Banyak hal nggak terjelaskan dalam drama ini. Seperti kenapa Peri Cumi Kering (serius, terjemahan Indonesianya kayak gini), juru masak di sekolah Dan Oh, dan adiknya Kyung, bisa ingat dari mereka zamannya komik Trumpet Flower, sedangkan yang lainnya nggak? Kenapa Dan Oh, Do Hwa, Haru, Baek Kyung pada akhirnya bisa sadar bahwa dirinya adalah karakter komik? Apa faktor yang bisa bikin mereka sadar?  Nihil penjelasan. Lalu kenapa saat Haru hiang ingatan dia sadar karena nyentuh lubang hitam yang muncul sedangkan Dan Oh ingat hanya karena Haru berusaha membuat Dan Oh ingat sama kenangan mereka? (Kenapa enggak sama?) Lalu, lubang misterius yang selalu muncul ini apa? Lagi, nggak ada penjelasan. Kenapa Haru bisa ingat adegan-adegan di Trumpet Flower tapi Kyung dan Dan Oh nggak? Nggak ada penjelasan. Hal-hal ini yang bikin believability cerita ini tuh terkikis. Dan bikin saya kesel sendiri. Potensi yang ada di cerita ini jadi seolah dianggurkan begitu saja untuk menyajikan romansa antara Dan Oh dan Haru yang padahal nggak memuaskan
    4. Ekspektasi saya agak ketinggian. Ditambah hype-nya yang luar biasa, saya jadi punya ekspektasi tertentu. Ternyata saat saya nonton, sebenarnya ini nggak lebih dari roman remaja dibalut sedikit fantasi. Pada adegan awal kemunculan Haru (ia baru bener-bener muncul kayaknya di episode 3? Atau 4?) yang dibikin kesannya misterius banget (saya nggak ngerti kenapa), saya sempat mengira ia itu tuh penulis komik Secret. Karena kemunculannya tuh bawa-bawa buku sketsa dan ada adegan-adegan ia menggambar trus bawa komik Secret ke mana-mana. Ekspektasi saya tuh udah tinggi, wah ceritanya bakal begini dan begitu, tapi, tapi, saya salah dan ternyata plotnya nggak memuaskan saya.


    Meskipun banyak kekurangan, ada hal-hal yang bisa diapresiasi :
    1. Seenggaknya, drama ini punya karakter-karakter pendukung yang gampang disukai. Bukan Dan Oh atau Haru, tapi saya suka sama Ju Da. Dia adalah tokoh utama di komik 'Secret', di episode menjelang akhir, ia sadar dirinya ada dalam komik. Ini karakternya keren, sih. Dia yang awalnya diam aja waktu dibully jadi balas bully pelaku yang membully dia. Terus saya ngakak dong waktu dia bilang ke Do Hwa, kira-kira : "Kenapa kita tidak pacaran bertiga saja? Kau, aku, dan Namju. Aku akan memacarimu di hari Senin, Selasa, dan Rabu. Dan mencari Namju di hari Kamis, Jumat, dan Sabtu." Epik, sih! Terus, ada Do Hwa, dia juga sadar sama dirinya, bahwa ia ada alam komik. Dia tuh kayak gulali. Manis dan lovable.
    2. Episode-episode awal itu menyenangkan untuk diikuti. Adegan-adegan cheesy seperti pada Boys Over Flowers seolah diparodikan jadi komedi yang menyenangkan untuk dinikmati.
    3.  Saya mengapresiasi benda-benda yang ngambang di dunia komik, karena itu dalah sesuatu yang belum digambarkan penulis. Haha.

    Overall, drama ini lumayan bagus di awal, agak membosankan dan seolah dipanjang-panjangkan menjelang akhir (entahlah, karena hype-nya yang besar dan ratingnya bagus?). Drama ini cocok ditonton untuk orang yang suka cerita dengan konflik ringan, komedi-romantis (walau bagian romantisnya nggak begitu memuaskan).

    Rate : 7 dari 10




    Continue Reading

    Resolusi. Hal yang mengemuka di tiap tahun baru. Ingin lebih rajin berolahraga, menurunkan berat badan, hidup sehat, belajar skill baru, dan ... segudang hal-hal yang ingin dicapai lainnya. Saya, seperti biasa, juga membuat daftar resolusi—yang entah bakal tercapai atau tidak.

    Salah satunya belajar skill baru,  hidup lebih sehat, dan ... ya, hal-hal umum dijadikan resolusi. Di samping itu, saya juga punya resolusi untuk hal-hal yang jauh lebih personal. Bikin blog ini lebih terurus ada dalam daftar. Membayangkan resolusi saya tercapai, itu menyenangkan, it excites me, tapi menjalani prosesnya ....

    Itu lain soal. Tanggal satu januari saya cuma leha-leha nonton film yang diputar di TV. Hari berikutnya, sekarang, ketika saya menulis ini, saya habis mengumpulkan segenap motivasi menulis selama kira-kira ... tiga jam, yang diisi dengan rebahan dan scrolling timeline yang isinya itu-itu saja. Menulis ini karena bosan.

    Perubahan itu susah. Niat saja tidak cukup. Saya niat, tapi saya kekurangan motivasi. Ironisnya, kadangkala, kita (termasuk saya) menonton video untuk memperoleh motivasi, padahal dengan melakukan itu, yang kita lakukan sebenarnya adalah prokrastinasi—menunda-nunda sesuatu yang seharusnya dilakukan (seperti menulis untuk blog ini, misalnya).

    Ditambah dengan dunia digital yang membuat kita menghamba keserbacepatan. Informasi tumpah ruah. Menyaksikan mimpi-mimpi orang lain mewujud dengan indah menjadi tak terelakkan. Dia-entah-siapa, katakanlah, menang lomba esai tingkat nasional, kamu jadi ingin. Atau dia-temanmu, menerbitkan bukunya di umur sekian, dia punya pekerjaan dengan gaji dua digit setelah lulus, dia mencapai ini, dan dia mencapai itu.

    Jadi, kita bermimpi hal yang sama, membayangkan kita sesukses dia, tapi prosesnya....

    Ah, itu lain soal. Mendamba hasilnya, tetapi membenci prosesnya. Saya, juga begitu. Padahal kita sama-sama tahu yang dibagikan dalam sosial media semata adalah hasilnya, prosesnya tidak diperlihatkan. Bila dia, si entah siapa, menang lomba esai atau lomba-lomba lainnya, yang dibagikan, tentu saja, hanya momen kemenangan itu. Tidak tahu mungkin sebelumnya, dia pernah ikut lomba serupa dan gagal dua, tiga, lima, banyak kali.

    Ada hal lain juga yang menyentil saya mengenai berproses. Beberapa hari lalu, saya habis lihat postingan instagram—yang jarang-jarang saya buka—salah satu penulis wattpad yang ceritanya saya suka. Pada intinya, ia menyampaikan bahwa dia sedang belajar menulis fantasi (genre yang, bedanya jauh banget dengan tulisannya saat ini). Yang menjadi perhatian saya adalah, dia bilang bahwa dia akan mempublikasikan cerita fantasi itu di media daring beberapa tahun lagi, saat skillnya sudah cukup. ((beberapa tahun lagi)). Waktu yang tidak sebentar.

    Ketika saya membaca itu, respon pertama saya, yang hanya saya katakan dalam hati adalah: "Lama banget!" Kenapa tidak, pertengahan tahun ini? Tahun depan?

    Lalu, saya jadi menyambungkannya dengan diri saya. Awal tahun lalu, saya bikin resolusi cerita fantasi pertama saya harus tamat, kenyataannya, sampai saat ini cerita itu masih jadi draft yang bahkan belum mencapai klimaks cerita. Tahun sebelum-sebelumnya, saya bikin resolusi, saya harus lebih aktif di wattpad sebagai penulis, nyatanya sampai hari ini, saya cuma jadi pembaca yang kadangkala malah lupa kasih vote. Pertengahan tahun lalu, saya meniatkan diri untuk rajin mengisi blog ini, lebih aktif mengikuti lomba-lomba menulis skala kecil dan menengah, nyatanya, tahun ini, saya kembali membuat resolusi yang persis sama. Karena tidak ada yang terjadi pada tahun lalu.

    Tahun-tahun berlalu begitu saja dan resolusi saya, ya, begitu-begitu saja. Tidak tercapai. Diulang untuk resolusi tahun berikutnya. Tidak tercapai lagi. Siklusnya sama. Padahal, goal saya adalah tercapai salam waktu dekat, tapi sekian tahun pun, tidak ada kemajuan.

    Kembali pada kasus penulis wattpad yang ceritanya saya sukai itu, saya membandingkan diri saya dengan dia, dia yang terus berproses, tetapi mematok waktu yang cukup lama untuk tercapai. Sedang saya, berproses malas-malasan, mematok waktu yang singkat, dan berharap cepat-cepat mewujud.

    Jelas, mungkin itu resepnya berhasil. Dia tahu dan sadar prosesnya tidaklah sebentar, bahwa memang dibutuhkan waktu, dan ia menyukai proses tersebut. Mungkin, ini juga resep yang terlupa dalam resolusi saya. Alasan kenapa resolusi saya selalu gagal.

    Tahun ini, saya menambahkan resep tersebut. Belajar menyukai proses, telah saya tambahkan ke dalam resolusi saya.

    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    About Me

    Photo Profile
    Tri!

    Pelajar tingkat akhir SMK. Hobi membaca dan (kadangkala) menulis baik fiksi maupun nonfiksi. Blog ini adalah tempat saya menjaga kewarasan dengan mempublikasikan pemikiran-pemikiran yang sulit didiskusikan dengan orang-orang di sekitar saya.

    Contact Me

    • facebook
    • twitter
    • bloglovin
    • youtube
    • pinterest
    • instagram

    Labels

    Review cerpen opini prakerin

    Blog Archive

    • ►  2017 (1)
      • ►  Desember (1)
    • ►  2018 (19)
      • ►  Januari (2)
      • ►  Februari (2)
      • ►  Maret (4)
      • ►  April (4)
      • ►  Mei (3)
      • ►  Juni (1)
      • ►  Juli (1)
      • ►  Agustus (2)
    • ►  2019 (6)
      • ►  Mei (3)
      • ►  Juni (1)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  November (1)
    • ▼  2020 (4)
      • ►  Januari (1)
        • Belajar Mencintai Proses
      • ►  Maret (1)
        • Review Drama Korea - Extraordinary You
      • ►  April (1)
        • Review Drama Korea – Itaewon Class
      • ▼  Mei (1)
        • NIMBY dan Toleransi
    • ►  2021 (17)
      • ►  Januari (3)
      • ►  Februari (3)
      • ►  Maret (3)
      • ►  April (2)
      • ►  Juni (1)
      • ►  Juli (2)
      • ►  Oktober (2)
      • ►  Desember (1)
    • ►  2022 (26)
      • ►  Januari (1)
      • ►  Februari (1)
      • ►  Maret (1)
      • ►  April (2)
      • ►  Mei (2)
      • ►  Juli (2)
      • ►  November (8)
      • ►  Desember (9)
    • ►  2023 (7)
      • ►  Januari (2)
      • ►  Februari (1)
      • ►  Mei (1)
      • ►  Oktober (3)
    • ►  2024 (4)
      • ►  Januari (1)
      • ►  Mei (2)
      • ►  Agustus (1)
    facebook Twitter instagram bloglovin google plus

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top