Pages

facebook linkedin twitter youtube

A Dreamer

If you can't explain it simply, you don't understand it well enough - Albert Einstein

    • Home
    • Review
    • Opini
    • Prakerin
    • Karya


    Judul Drama        : Start-Up

    Jumlah Episode    : 16 Episode (17 Oktober - 6 Desember 2020)

    Genre                   : Drama, Romance

    Penulis Naskah    : Park Hye-Ryung

    Pemain                 :

    Bae Suzy sebagai Seo dal Mi

    Nam Joo Hyuk sebagai Nam Do San

    Kim Seon Ho sebagai Han Ji Pyeong

    Kang Han Na sebagai Won In Jae


    Jadi, ini salah satu drama yang saya tonton karena hype-nya. Sebelum saya nonton dramanya saya bahkan udah hafal nama pemerannya. Dan tentu, saya sadar banget terhadap adanya dua kubu macam cebong dan kampret di drakor ini. Ya gimana enggak, coba, setiap saya buka timeline twitter dan facebook paling enggak ada thread atau post yang bahas saya tim anu dan ini nih alasannya. Si pemeran utama cewek bagusnya sama anu karena anu begini dan begitu.

    Episode awal drama ini dibuka dengan cukup solid. Back story para karakternya memikat hati dan bikin terenyuh. Cerita dibuka dengan Han Ji Pyeong, yang sudah dikeluarkan dari panti asuhan karena dianggap sudah cukup dewasa, dan diberi uang dua juta won (sekitar 24 juta di Indonesia, atau mungkin kurang karena dalam cerita itu tahunan lalu saat Ji Pyeong masih remaja). Naasnya, kalau ia menghabiskan uang itu untuk menyewa tempat tinggal, ia tidak punya uang lebih untuk makan dan membayar sewa untuk bulan selanjutnya. Memang, deh, ya, standar kehidupan di sana tinggi banget. Coba uang segitu di Indonesia, bisa sewa setahun kalau dapat kost daerah Yogyakarta. Ji Pyeong ini sejak muda melek finansial dan ngerti caranya investasi. Ia bahkan menjuarai kompetisi simulasi investasi. Sayangnya, ia juga tidak bisa membuka rekening bank untuk mulai berinvestasi, sebagaimana keinginannya, karena usianya belum legal dan tidak punya orangtua sebagai jaminan.

    Di tengah hujan, saat dirinya luntang lantung di jalan, Han Ji Pyeong bertemu dengan Nenek  Seo Dal Mi. Sang nenek menawarinya tempat tinggal di toko miliknya. Meski awalnya menolak, Ji Pyeong yang tidak punya pilihan lain pun akhirnya tinggal bersama Nenek Seo Dal Mi.

    Di sisi lain, perceraian dalam rumah tangga orangtua Seo Dal Mi tak dapat dihindarkan. Ibu Dal Mi menentang keputusan Ayah Dal Mi yang keluar dari kantor dan ingin berbisnis sendiri. Pada akhirnya, Dal Mi ikut dengan ayahnya dan sang kakak, Seo In Jae ikut dengan ibunya yang kemudian menikah lagi dengan seorang CEO Morning Group. Seo In Jae kemudian mengganti marganya menjadi Won. Inilah awal pertikaian kakak beradik tersebut.

    Selama setahun berbisnis, bisnis ayah Dal Mi tidak menunjukkan hasil yang signifikan. Ia bahkan dibiayai oleh nenek Dal Mi. Nenek Dal Mi yang tahu Dal Mi kesepian kemudian berinisiatif mencarikan Dal Mi seorang teman. Ia menyuruh Ji Pyeong menulis surat kepada Dal Mi untuk menjadi temannya. Mereka meminjam nama Nam Do San, seorang anak yang mereka lihat namanya di berita bahwa ia memenangkan olimpiade matematika di usia termuda. Selama setahun, itulah satu satunya penghiburan bagi Dal Mi.

    Suatu hari, bisnis ayah Dal Mi mendapatkan seorang investor. Naas, di perjalanan ia mengalami kecelakaan meski ia terus memaksakan diri untuk datang dalam presentasi. Presentasi itu menemukan kata deal. Sayang, ayah Seo Dal Mi meninggal di perjalanan pulang. Semua itu terjadi pada episode pertama. Jadi, bisa dibilang episode pertama cukup padat juga solid. Ada momen haru, sedih, dan bahagia.

    Fast forward, terus kenapa judulnya Start- Up? Start up adalah perusahaan rintisan yang berbasis teknologi digital. Kalau di Indonesia ya semacam bukalapak, tokopedia, gojek, dan kawan-kawannya. 

    Bertahun-tahun kemudian, cerita berputar pada masing-masing karakter yang berjuang untuk masuk ke Sand Box. Sand box adalah tempat di mana orang-orang yang ingin membangun perusahaan rintisan tanpa punya koneksi dan uang. Di sinilah juga kisah cinta (bukan segitiga) yang sampai membentuk tim-timan bermula.

    Dal Mi yang ingin mengalahkan kakaknya dan membuktikan bahwa keputusan kakaknya untuk ikut sang ibu bukannya ayah mereka itu salah, mencoba mengungguli kakaknya dengan masuk ke Sand Box. Dal Mi kemudian mencari Nam Do San (yang sebenarnya adalah Han Ji Pyeong), untuk datang ke pesta relasi yang diselenggarakan kakaknya, berpura-pura mereka sukses dan pasangan bahagia.

    Dan Ji Pyeong, setelah sekian lama, menemui nenek Dal Mi. Karena merasa telah berhutang budi, ia yang sudah sukses (dan kaya dan tampan dan menawan) membantu menemukan Nam Do San asli yang ia comot namanya untuk berpura-pura sebagai Do San yang menulis surat. Dal Mi dan Dosan asli (tapi palsu, ngerti kan maksudnya?) pun bertemu.

    Akhirnya, Dal Mi masuk ke sand box. Tanpa tahu Do San dan juga dua temannya masuk Sandbox. Juga kakaknya, Won In Jae yang telah ditendang oleh ayah tirinya dari perusahaan yang ia besarkan sendiri juga masuk Sand Box. Lalu Ji  Pyeong? Kan, dia udah mapan dan kaya, ya enggak ikut masuk sandbox, dong. Malahan ia jadi mentornya tim Dal Mi. Yang terdiri dari Dal Mi sebagai CEO, Dosan dan dua temannya sebagai pengembang perangkat lunak, dan satu lagi karakter, Se Ha, sebagai desainer grafis. Perusahaan mereka bernama Samsan Tech.

    Jadi, seperti yang saya bilang, episode awal dibuka dengan solid dan captivating, tapi sebagaimana drama korea pada umumnya yang punya kecenderungan untuk bikin bosan dan zonk di akhir, menurut saya, ini jugalah yang terjadi pada Start Up. Meski enggak separah zonk sampai saya berhenti nonton, sih.

    Alur cerita ini berkutat pada Seo Dal Mi yang ingin membangun Start-Up. Setelah saya pikir-pikir, justru alasan kebosanan saya di tengah drama hingga menjelang akhir itu adalah karena kombinasi plot dan dua main lead-nya.

    The thing with Start Up is, saya merasa Start Up bukanlah drama yang wow sampai-sampai akan saya rekomendasikan atau bicarakan sama orang-orang, tapi saya juga kurang bisa menunjuk dari segi apa Start Up sebenarnya kurang dan karenanya bukanlah drama terbaik yang bakal saya rekomendasikan jika orang bertanya pada saya apa drama korea yang bagus. Simply karena alasan-alasan saya barangkali, agak terlalu personal.

    Jadi, masalahnya adalah saya kurang bisa bersimpati pada dua karakter utamanya. Baik Seo Dal Mi maupun Nam Do San. Seo Dal Mi sebagai karakter utama justru hanyalah Si Keras Kepala yang sukanya berlayar tanpa peta, alias enggak bikin rencana yang jelas terhadap hidupnya. Sebagai karakter utama, Seo Dal Mi juga entah bagaimana, terlihat kurang berusaha dan kurang "menderita". Tahu kan maksud saya?

    Dal Mi bisa masuk Sandbox dan lolos karena ia punya tiga pengembang, yang salah satunya jenius, dan desainer berpengalaman. Apa yang Dal Mi punya? Tekad, digambarkan begitu sepanjang cerita. Terlihat dari bagaimana ia mengirimi 400 pertanyaan yang harus dijawab oleh Han Ji Pyeong selaku mentornya pada hari-hari awal ia masuk Sandbox. Do San menyukai Dal Mi karena apa? Dalmi cantik. Oke deh, sakarepmu. Pada akhirnya Dal Mi bisa menjadi CEO, bahkan setelah Samsan Tech bubar karena apa? Karena ia adik dari Seo In Jae. Entahlah, dari perguliran cerita di awal, Dal Mi dapat mencapai semua yang diinginkannya seolah hanya karena ialah karakter utamanya dan begitulah plot yang dirancang untuknya.

    Rasanya, sebagai karakter utama, Dal Mi juga tidak pernah benar-benar mengalami kegagalan. Ambilah contoh cerita dengan tema perjuangan serupa, Saeroyi dalam Itaewon Class, ada masa di mana Saeroyi dan bisnisnya gagal, ditipu lawan, karyawannya inkompeten dalam bidangnya, dan kegagalan-kegagalan lain. Dalam Start Up, plot cerita tidak bergulir begitu, jatuh bangun yang terjadi hanya perkara asmara tokoh utama, sedangkan Samsan Tech sebagai perusahaan tidak pernah benar-benar gagal.


    [Warning: SPOILER!!]

    Tapi, kan, pada akhirnya Samsan Tech bubar? Bukannya itu juga kegagalan? Iya, memang, tapi itu, menurut saya, bukan benar-benar kegagalan. Karena pada akhirnya, setelah itu, Do San dan dua temannya digambarkan kaya, naik kapal pesiar, dan penuh pengalaman kan? Dal Mi juga jadi CEO andal untuk anak perusahaan kakaknya. Apakah itu kegagalan?

    [END OF SPOILER!]


    Dibanding Dal Mi, pada pertengahan episode saya malah lebih suka kakaknya, Seo In Jae. Saya malah merasa, keputusan In Jae untuk ikut ibunya adalah hal yang tepat, karena dia pada akhirnya bisa mendapatkan akses pendidikan dan sumber daya yang cukup untuk belajar dan berkembang. Meski pada akhirnya In Jae harus didepak oleh ayah tirinya dari perusahaan yang ia besarkan sendiri, ia bukannya menangis atau meratapi nasibnya, ia justru bangkit dan mencoba masuk Sand Box untuk membuktikan ia mampu membangun bisnis dengan keringatnya sendiri sekaligus membungkam mulut orang-orang yang selalu berkata ia bisa sukses hanya berkat ayah tirinya.

    Lalu Nam Do San. Ia digambarkan pribadi yang kaku dan sangat, sangat logis. Tidak pernah berkencan dan tidak tahu caranya flirting ke cewek. Bagi saya, kehidupan Do San ini sangat sempurna, tapi ia acapkali merasa ia paling menderita.

    Mari kita jabarkan: Do San punya orang tua yang harmonis, yang walaupun suka memarahinya, sebenarnya sangat, sangat menyayangi dan memedulikannya. Terbukti dari bagaimana ayahnya menjadi investor untuk bisnis yang ia rintis yang tidak jelas juntrungannya selama hampir satu (atau dua?) tahun. Do San punya dua sahabat yang setia dan selalu ada untuknya. Do San digambarkan orang yang genius, yang bahkan sudah duduk di bangku perkuliahan di umur 12 tahun (kalau saya enggak salah). Lastly, dia juga dicintai gadis yang ia cinta.

    Pada dasarnya, menurut saya, kedua main lead dalam drama ini sangatlah beruntung dan kurang terlihat menderita (bahasa apa ini) hingga bikin kita sulit bersimpati. Permasalahan mereka yang paling urgent ya soal percintaan.

    Bahkan sekalipun saya menyukai Han Ji Pyeong, saya akui ia juga tidak lepas dari faktor keberuntungan. Ji Pyeong yang yatim piatu, kekurangan uang untuk bertahan hidup, kebetulan bertemu nenek Seo Dal Mi yang menawarinya tinggal di tokonya. Han Ji Pyeong, yang memang tertarik pada investasi, menginvestasikan uang milik Nenek Seo Dal Mi yang awalnya 8 juta won, menjadi 80 juta won dalam satu tahun. Lalu, saat Ji Pyeong berpisah dari Nenek Dal Mi, ia membawa pergi uang itu bersamanya. Masalahnya adalah, di kehidupan nyata, jarang sekali ada kebetulan seperti yang dialami Ji Pyeong. Tidak semua yatim piatu dapat bertemu dengan sosok seperti nenek Dal Mi.

    Lalu, hal lain yang mengganggu saya adalah: penggambaran perintisan Start Up. Saya tahu ini drama sih, jadi saya enggak berharap ini akan realistis. Tapi, ya, ini tuh super enggak realistis HAHAH. Jadi, kesannya segampang itu bikin Start Up, bikin bisnis dari nol. CEO-nya bahkan cuma lulusan SMA. Sudahlah, Samsan Tech selalu jaya.

    Terlebih lagi, di antara kelima pendirinya, empat di antaranya berhubungan secara romantis satu sama lain. Bayangkan di dunia nyata, jika salah satu pasangan saja berkonflik, ini tentunya akan mempengaruhi performa kerja dan keberlangsungan perusahaan. Kalau salah satu berpisah, masa iya perusahaannya ikut collapse? Kayaknya saya akhirnya beneran ngerti kenapa tercipta peraturan jika dua orang dalam satu perusahaan, terlebih satu bagian, terbukti ada dalam hubungan romantis, apalagi sampai nikah, salah satunya harus resign. Melihat bagaimana sebuah Start Up dirintis di drama ini, seolah membuat kita percaya diri dengan hanya satu kunci: faktor keberuntungan. Jujur, saya agak kurang sreg soal ini. Iya, sih, ini drama yang memang menitikberatkan ke romance-nya, tapi, kok, saya jadi merasa di episode menjelang akhir Start Up ini cuma kayak tempelan belaka untuk mempersulit hubungan romansa yang terjadi.

    Hal lainnya adalah : bagaimana akhirnya Han Ji Pyeong yang yatim piatu dan miskin setelah berpisah dari nenek, meski membawa 80 juta won, menjadi begitu kaya raya? Di kehidupan nyata, kemungkinan hal ini terjadi kayaknya nol koma nol sekian persen. Meski begitu, saya paham ini mungkin tidak disinggung, karena cerita bergulir soal bagaimana Seo Dal Mi dkk membangun Start Up.

    Biasanya, saya enggak bahas soal akting pemainnya, tapi, tapi, entah kenapa saya gatal aja kepingin nulis. Saya aware kok soal stigma idol yang main drama biasanya aktingnya kurang bagus dan kurang bisa menjiwai. Saya akui, kebanyakan idol yang terjun ke dunia akting, memang aktingnya buruk, kalaupun ia akhirnya mendapat pengakuan soal aktingnya, itu hanya akan terjadi setelah bertahun-tahun dan wara wiri membintangi drama. Hal ini yang terjadi pada idol-aktris seperti IU, Yoona, dkk. Bae Suzy termasuk idol yang malah lebih aktif di dunia akting ketimbang menyanyi, yang juga sudah lama debut di dunia seni peran. Kalau saya lihat komennya, Suzy sendiri cukup diakui aktingnya, meski tidak wow, dan kadang-kadang masih kaku, tapi ia dipuji mengalami banyak peningkatan.

    Sejujurnya, baru kali ini saya nonton dramanya Suzy, jadi saya enggak bisa bikin perbandingan. Bagi saya, akting Bae Suzy sudah oke, dan ia kelihatan sangat berusaha menjiwai karakternya. Saya rasa aktingnya juga bagus. Tapi, entah bagaimana, saat scene nangis, kok, bukannya ikut sedih atau minimal kayak: ooh, oke, saya malah mengernyitkan dahi, kayak : kok? How to put it into words? Saya ngerasa aktingnya aneh aja dan enggak natural gitu waktu scene ia nangis.

    Terlepas dari beberapa hal di atas, saya akui, sedikit banyak kita bisa dapat gambaran seperti apa itu Start Up dari drama ini. Ada sedikit gambaran soal pemegang saham di sebuah perusahaan, investor, model bisnis, dan lain sebagainya.

    Tim Nam Do San atau Han Ji Pyeong?

    Ini pertanyaan penting, memangnya? Ih, iya, dong! Super penting bagi rakyat penghuni burung biru dan muka buku, yang tiap saya buka timeline setidaknya ada keributan keributan yang disebabkan bentrok kedua tim ini.

    Jadi, saya tim siapa? Jawaban saya bakalan mainstream, pilihan saya jatuh pada scene stealer kita: Han Ji Pyeong. HAHAH. Ya gimana dong, saya sudah kena second lead syndrom sejak episode pertama. Iya, awal banget! Selain karena Kim Seon Ho ganteng, dan kaya raya, tampan dan menawan, tentu saja karena back storynya yang sangat menyentuh. Dan jujur saja, yang paling solid di antara karakter lain. Ji Pyeong juga tidak terkesan seperti karakter yang merasa dirinya adalah yang paling menderita, sebagaimana saya melihat karakter Nam Do San.

    Ji Pyeong is definitely a good boy. Meski sering diabaikan, kesepian, dan sendirian dari kecil, ia tetap menjadi Anak Baik, sebagaimana panggilan Nenek Dalmi padanya. Yang terpenting, juga, karena Ji Pyeong tahu apa yang akan dan harus dilakukannya. Ia logis tapi penuh perhitungan. Kaya pengalaman.

    Sebenarnya, saya setuju sama komentar di atas. Kalau saya adalah Dal Mi, dan saya enggak tahu gimana Han Ji Pyeong, saya mungin bakal pilih Do San. Karena, yang cuma memerhatikan dan jagain dari jauh pasti kalah sama yang selalu ada, lah, ya. Saya juga maunya sama orang yang satu level, sama-sama berjuang dan ada satu sama lain ketika dibutuhkan, hingga hubungannya setara. Tidak seperti bersama Han Ji Pyeong yang sudah memiliki segalanya dan bertahun-tahun di bisnis yang sudah ia hafal polanya. Tapi, ini kan, drama HAHAH, dan saya juga bukan Dal Mi, maka tentunya saya Tim Ji Pyeong. Bukan untuk Dal Mi, tapi biar Ji Pyeong bahagia.

    Nih, saya bonusin! Kalau saya buka-buka youtube dan cari Start Up, memang lebih banyak ya, yang jadi tim HJP ini. Enggak tanggung tanggung, kepopuleran karakternya juga bikin nama Kim Seon Ho melambung. Saya iseng dong, nge cek followers IG nya dan terakhir kali sudah 3 juta sekian, sudara-sudara. Padahal, katanya, sebelum dramanya tayang followersnya baru ratusan ribu. Daebak!

    Terakhir, meski dengan segala komentar kurang mengenakkan di atas, drama ini masih worth it kok buat kalian tonton. Apalagi yang suka karakter bertekad kuat dan pejuang, yada yada. Yang suka konflik sederhana, ini juga cocok untuk kalian. Tetapi drama ini enggak cocok untuk kalian yang cenderung kena second lead syndrome, cause you will experience the worst heartbreak ever.

    7.5 dari 10 untuk drama ini!

    Continue Reading

     

    Hal yang dapat kita sepakati bersama, saat kita beranjak dewasa, lingkaran pertemanan semakin mengecil. Dan orang-orang rasanya sibuk dengan kehidupannya masing-masing. Juga, pasangannya masing-masing.

    Bahkan anak paling pendiam di sekolah, setelah lama tak terdengar kabar, tiba-tiba mau dipersunting seseorang. Ini yang kata orang, diam-diam menghanyutkan. Sementara orang-orang lain kelihatannya telah menemukan "seseorang"nya. Kecuali kamu.

    Atau setidaknya, kalau kamu adalah orang yang nyaris jomblo sejak embrio kayak saya--ups. Kisah percintaan saya datar-datar saja. Menyukai seseorang, orang itu tidak menyukai saya. Disukai seseorang, saya tidak ada rasa sama orang tersebut.

    Normalnya, saya bukan orang yang gampang iri pada postingan (meminjam bahasa beken tapi menggelikan) ke-uwu-an teman-teman saya dan pacarnya atau pasangan-pasangan lain di media sosial. Lebih sering daripada tidak, bukannya menganggap romantis, saya malah menganggap postingan pamer dengan tag relationship goals dan semacamnya itu cringe. Cringe abis.

    Tapi, dengan semakin sibuknya orang-orang yang dulu akrab, makin sempitnya social circle, terutama karena sudah tidak bersekolah, kadangkala saya menginginkan teman diskusi, bertukar pikiran, bercanda, yang kadangkala tidak bisa dipenuhi oleh sahabat saya sebab kesibukan masing-masing. Tidak juga dapat diakomodasi orang terdekat, karena perbedaan pola pikir dan gap pendidikan. Maka itu, atas dasar penarikan kesimpulan ngawur, saya yang berumur sembilan belas tahun merasa, sudah saatnya. Tahu, kan? Memiliki pacar.

    "Kenapa enggak? Apa, sih, hal terburuk yang bakal terjadi setelah pacaran? Patah hati? Ya sudah, buat pembelajaran. Toh hubungannya enggak bakal serius-serius amat. Mungkin beberapa bulan, dan kalau kami enggak cocok, ya putus dengan baik-baik. Coba aja dulu."

    Begitu kira-kira pikiran saya.

    Bertepatan dengan itu, atau sialnya, ada orang yang menyatakan perasaan sukanya pada saya. Saya, yang kala itu berprinsip coba-aja-dulu dan atas dasar sama sama pernah naksir dulu, dengan bimbang, terjebak begitu saja dalam sebuah hubungan yang berawal dari, "Ya, coba aja dulu, sebulan gimana."

    Ternyata, hubungan yang tidak diniatkan serius juga berakhir kompleks dan tidak sesederhana bayangan saya. Hubungan itu lalu berjalan, awalnya biasa saja. Tersenyum saat menerima pesan darinya. Tertawa kecil. Chat dan membahas hal-hal absurd dan tidak penting. Kadang bertelepon.

    Lalu, saya mulai merasa tidak nyaman. Tidak nyaman dengan intensitas chat, yang bagi seseorang yang butuh space tinggi untuk diri sendiri macam saya, terlalu sering. Jenuh dengan rutinitas chat dengan pertanyaan yang itu-itu saja. Malas membalas. Tidak nyaman karena merasa terbebani harus mengabari pasangan untuk hal-hal kecil yang bahkan tidak saya lakukan pada orang tua. Mendadak, membalas chat-nya pun terasa berat, diajak bertemu enggan. Saya sampai pernah bertanya-tanya, memangnya pacaran itu harus chat setiap hari, ya?

    Ternyata ketidaknyamanan itu makin parah. Saya, yang dari sananya sudah cuek, tidak pernah menanyakan: apa kamu sudah makan? sudah beribadah? sudah pulang? kehujanan tidak? Bawa mantel? Dan pertanyaan semacam itu lainnya. Kecuali mungkin, saya bakal kadangkala bertanya balik, jika orang itu menanyakan pada saya sebagai wujud, yah, basa-basi. Karena bagi logika saya; kami toh sudah cukup sama-sama besar, sudah seharusnya bisa menjaga diri masing-masing. Perlukah melakukan itu?

    Untuk seseorang yang bergidik keika disuguhkan konten-konten romantis bertagar relationship goals, saya pun tidak bisa membayangkan diri saya berkata atau bahkan sekadar mengetik: aku cinta kamu, i love you, atau mengirim emoticon love, atau memanggil dengan kata, sayang.

    Oke yang terakhir mungkin agak berlebihan. Kayaknya cuma saya yang begitu. Dan ternyata, semua hal di atas adalah masalah besar dalam sebuah hubungan.

    Masalah lainnya adalah : hal-hal yang seharusnya terasa romantis, malah cringe bagi saya. Gombalan receh yang harusnya mengukir senyum kecil, malah mendapat gidikan dari saya. Perhatian yang berlebihan membuat saya mengerutkan kening. Keseriusannya membuat saya takut.

    Pada akhirnya, saya tidak bisa mengakomodasi hal yang ia inginkan dalam sebuah hubungan: ungkapan romantis, perhatian, berkabar setiap hari, dan ... pada dasarnya, hal-hal yang biasa orang lakukan ketika pacaran.

    Begitu pula ia tidak dapat mengakomodasi hal yang saya mau dalam hubungan;

    Diskusi soal ... apa pun,  mungkin, apa yang dipikirkannya soal merokok dan kesehatan, soal budaya patriarkis di masyarakat kami, soal kesehatan mental dan self-development,  soal musik musik yang ia suka dan mengapa ia menyukainya, soal prinsip hidupnya, value yang ia pegang, apa saja, yang membuat obrolan kami tidak terasa kosong dan sepintas basa basi. Saya kira, kami bisa bicara soal itu.

    Nyatanya tidak. Kami sungguh berbeda. Saya sampai pada kesimpulan, kami "tidak satu frekuensi".

    Belum lagi, saya maunya hubungan yang tidak serius, dia mau yang sebaliknya. Saya, yang atas dasar ah-coba-aja-dulu tiba-tiba diajak berkomitmen serius? Tentu saja jawabannya: enggak siap, it's a big no.

     

    Perhatian, romatisme, dan segala keseriusan yang ia tunjukan malah membuat saya merasa sangat tidak nyaman. Namun, bahkan setelah semua hal itu, memikirkannya baik-baik, ternyata keluar dari sebuah hubungan tidak segampang bilang: "Hei, kita putus aja, ya."

    Ternyata ada rasa tidak enak hati di dalamnya, rasa bersalah karena merasa telah mempermainkan perasaan seseorang dan menyia-nyiakannya, dan rasa takut akan berbalik karma suatu saat nanti.

    Ironisnya adalah, saya sudah memprediksi kami tidak bakalan langgeng, mungkin hubungan itu hanya akan bertahan beberapa bulan lalu kami putus, toh, saya maunya biasa-biasa saja, bukannya komitmen serius, tapi saya tidak mengira prosesnya ketika dijalani ternyata membuat saya benar-benar tidak nyaman. Ternyata setidak-mengenakkan itu.

    Hubungan romantis yang pernah saya jalani kemungkinan juga dijalani banyak orang lain, mungkin, dengan alasan-alasan yang berbeda; mungkin, dengan alasan :

    Karena social circle-nya sudah punya pasangan semua. Lalu ia bertemu cewek atau cowok lain, belum terlalu mengenal, tapi dia ngajak pacaran. Lalu diiyakan begitu saja, atas dasar, yah, daripada gue jomblo terus. Saya sering menemui orang-orang seperti ini, yang langsung dapat pengganti baru setelah tak lama putus. Herannya, kelihatannya enjoy saja. Semoga aslinya benar-benar menikmati.

    Atau karena,

    Merasa kesepian. Teman-teman sebaya sibuk dengan kehidupannya masing-masing. Merasa canggung berbicara dengan orang tua dan kerabat. Sosial media semakin membuat sesak dengan pameran kebahagiaan orang lain. Semakin bertambahlah rasa kesepian. Apalagi jika berada di umur yang matang, saat teman-teman sebaya perlahan sudah memiliki keluarga kecilnya sendiri, atau kekihatannya telah menemukan "the right one"-nya.

     Lalu, munculah sebuah pemikiran : bahwa kesepian itu bisa hilang dengan bertemu seseorang, yang akan mendengarkan keluh kesahnya, masalah-masalahnya, menemaninya, memberinya kasih dan cinta dalam hubungan romantis.

    Atau juga, ya, kayak saya ini :

    Butuh teman diskusi, yang tidak bisa diakomodasi oleh orang-orang terdekat, dan, yah, kepingin coba-coba saja.

    Akhirnya kita terjebak, dalam hubungan yang sebenarnya tidak benar-benar kita inginkan. Dalam kasus saya, saya tidak butuh diperlakukan romantis dan sebagainya, perlakuan seperti itu malah membuat saya mengernyit dan bergidik. Saya juga tidak mau terus-terusan intense chat yang tidak jelas bahasannya apa. Saya hanya butuh didenger dan berdiskusi, butuh teman ngobrol, yang nyatanya ketika hal itu tidak terakomodasi, saya langsung memvonis : wah, saya sama dia enggak cocok!

    Yang tidak saya pahami waktu itu adalah, sejak awal saya tidak menginginkan hubungan romantis, saya tidak butuh pacar, saya malah memerangkap diri saya dengan pikiran, ah kelihatannya, saya juga menyukainya. Salah besar.

    Kalau, mungkin, kamu sedang mengalami hubungan atas dasar-dasar di atas atau pernah mengalaminya, maka, no, you don't need boyfriend (or girlfriend), you just need  companionship.

    Kamu bukannya butuh pasangan hidup, kekasih, pacar, whatever you name it, kamu hanya butuh companion. Atau, kondisi di mana kamu bersama seseorang (atau beberapa) in a way that provides friendship and enjoyment. Company itu tidak harus lawan jenis dalam konteks romantis. Rasa aman dan nyaman, rasa dikasihi dan disayangi, bisa didapat dari hubungan yang platonis. Itu bisa saja berasal dari keluarga, teman, atau orang-orang baru yang kamu temui. Jika sama sekali tidak ada? Make yourself the one. Be a good friend to yourself. Ini klise banget, tapi benar adanya: love yourself first before you love others.

    Ada quote seperti ini, dan saya pikir, ini benar banget :

    If you arent ready falling in love, so don’t do it.

    Bukan hanya kamu akan merasa "tidak nyaman" saat bersamanya, atau tetap merasakan kesepian, tapi ini juga tidak adil baginya. Kita tidak berniat mempermainkan perasaannya, but actually we did it. So, just don't. Ini tidak adil baginya.

    Melepasnya mungkin susah pada awalnya. Kamu merasa bersalah, sekaligus tidak menginginkan hubungan yang kamu jalani. Kamu akan kehilangan orang yang peduli padamu. Kamu akan kadang-kadang mengingatnya. Tidak ada lagi yang mengucapkanmu selamat pagi,  goodnight, dan i love you. Notifikasi pesanmu akan jarang berbunyi. Lalu, kamu merasa kehilangan dia.

    Tapi, itu jebakan kedua. Kamu merasa seolah, mungkin, kamu perlahan telah menyukainya. Kamu membutuhkannya, dan kamu menyesal. Tapi jika kamu benar-benar menyukainya, kenapa ada perasaan tidak nyaman itu ketika bersama? Kenapa kamu berpikir untuk mengakhirinya?

    Orang seringkali begitu, terjebak lagi. Jika kamu terjebak lagi, dan memberi kesempatan pada hubunganmu, kamu akan mengalami siklus yang sama. Tidak nyaman lagi. Merasa bersalah lagi. Ingin mengakhirinya lagi. How would I know? 'Cause I did. So, please, don't take the path I've ever chosen. Semoga, kamu tidak terjebak, dan akan menemukan significant other-mu di waktu yang tepat.

     

     

    Continue Reading


    Media sosial dan kecepatan bertukar informasi membuat kita gampang hilang fokus. Semenit lalu, beranda twitter penuh dengan update skandal seorang selebgram, lalu dengan sekali refresh, berita berganti soal kabar perpolitikan negeri tercinta. Menit berikutnya beda lagi, dan lagi. Lima menit setelahnya, kamu sudah lupa apa yang kamu baca.

    Kecepatan bertukar informasi membuat kita dijejali banyak sekali informasi-informasi penting sampai super-tidak-penting, setiap waktu, dan tanpa jeda. Hal tersebut membuat fokus kita layaknya ikan emas. Banyaknya informasi malah membuat kita--meminjam istilah kekinian--overwhelmed. Bingung dengan banjir informasi. Bingung memilah mana yang sebenarnya dibutuhkan dan tidak.

    Fenomena ini, short attention span, menjadi hal yang lumrah di era sekarang. Tapi, bukan soal banjir informasi yang membuat saya menulis artikel ini. Melainkan, soal, bagaimana jika short attention span ini merambah hal-hal esensial? Karena, sejujurnya, saya sendiri saat ini sudah dan sedang mengalaminya. Dan, tentu, bagi saya ini masalah besar.

    Saya gampang sekali kehilangan fokus. Saya juga hobi multitasking. Saya orangnya mudah bosan. Saya cepat sekali mengalami penurunan motivasi. Saya mudah overwhelmed dengan arus informasi era kiwari ini. Akumulasi hal-hal di atas adalah alasan saya menulis hal ini di blog. Menuliskan kekhawatiran saya adalah bentuk katarsis.

    Rasanya, tidak ada hal becus yang selesai saya kerjakan karena saya terus tergoda melakukan dan mempelajari hal lain ketika satu yang saya kerjakan belum tercapai. Saya bikin resolusi untuk rutin bujo (bullet journal) awal tahun 2020 dan apa yang terjadi? Terbengkalai setelah satu bulan, barangkali. Saya tidak rajin lagi membuat daily log, saya malas-malasan mengisi habit tracker, sampai akhirnya, bujo saya tidak terurus. Padahal, saya masih ingat betapa excited-nya saya pada awalnya membaca dan menonton konten seputar bullet journalling.

    Lalu, saya menonton suatu video soal morning pages, yang pada dasarnya adalah menulis apa saja yang sedang kamu pikirkan, keresahan dan kekhawatiranmu, atau sekadar tulisan tidak jelas di pagi hari. Kabarnya? Saya bahkan bangun telat tiap pagi. Wacana morning pages hanya terealisasi tidak lebih dari seminggu. Padahal, awalnya ide itu terasa menyenangkan dan sederhana dibanding bullet journalling. Jadi, pikir saya: oke, layak dicoba.

    Berikutnya, saya mulai tertarik dengan konten soal skincare. Karena, rasanya, zaman sekarang itu sebuah keharusan. Jadi saya membaca dan menonton konten soal basic skincare, jenis kulit dan skincare yang tepat, cara mengetahui jenis kulit hingga review skincare yang bagus dengan budget minim. Tebak apa yang terjadi? Iya, saya kehilangan minat dan pindah fokus pada hal lain. Sekarang, saya tidak pakai skincare apa-apa (padahal saya tahu betul kulit saya membutuhkannya) kecuali lip balm karena bibir saya super pecah-pecah.

    Lalu, saya punya keinginan lain, mau fluent bahasa inggris. Sebenarnya, saya punya ketertarikan pada bahasa inggris sejak sekolah. Dulu, saya rutin belajar grammar dan vocab, latihan nulis dan baca, tapi tidak belajar pronunciation dan praktik bicara. Setelah saya punya ketertarikan itu, saya rutin dengerin podcast dan sesekali latihan speaking selama kira-kira ... setengah bulan. Lalu tahu, ‘kan, ending-nya? Iya, tidak pernah lagi dan justru saya develop ketertarikan untuk hal lain.

    Sekarang, belakangan, saya sedang tertarik investasi di reksadana. Saya menghabiskan banyak waktu, seperti biasa, mencari tahu soal reksadana. Mulai dari pengertian dan istilah di dalamnya, hingga review aplikasi reksadana dan cara belinya. Saya bahkan sudah install aplikasi Bareksa, dan akan install OVO. Saya juga membaca soal pengaturan keuangan dan belajar membuat cash flow untuk keuangan saya. Saya sudah download prospektus dan fundfact sheet suatu produk reksa dana pasar uang, tinggal menunggu dibaca.

    Sayangnya, seperti puluhan hal lain yang membuat saya tertarik pada awalnya, saya takut akan kehilangan fokus dan beralih pada hal lain. Rutin menulis blog ini dan menjadikan blog ini menghasilkan profit dari google adsense adalah salah satunya. Apa yang terjadi? Saya hanya belajar soal dasar-dasar SEO, lalu pada akhirnya blog ini malah dipenuhi sarang laba-laba.

    Ketika menuliskan hal ini, saya semakin sadar sudah buang-buang banyak sekali waktu berpindah fokus dari satu hal ke hal lain dalam hitungan beberapa hari. Hanya belajar pengetahuan di permukaan, lalu berganti mempelajari hal lain. Malahan, sepertinya hanya itulah yang saya lakukan sepanjang tahun ini.

    Saya membuat banyak sekali rencana yang tidak terealisasi. Kabar resolusi tahun ini? Yah, tahu sendiri, tidak tercapai. Saya telah merenungkan hal ini. Jadi, apa penyebabnya? Kenapa saya mudah sekali berpindah fokus


    Mungkin sebab kecepatan arus informasi dan banjir informasi dari berbagai arah membuat saya bingung dan akhirnya memilih untuk berpindah mempelajari hal lain. Mungkin juga sebab manajemen fokus saya buruk, karena pengaruh sosial media. Barangkali sebab saya gampang kehilangan motivasi dan manajemen waktu saya mengerikan. Atau, saya saja yang tidak sabaran.


    Kesimpulannya? Barangkali gabungan ke semua hal itu. Yang jelas, saya tidak mau mengulang kesalahan ini di 2021. Tahun ini, saya lelah membuat resolusi. Tahun ini, malam sebelum pergantian tahun baru saya cuma tidur dan tidak merenungkan apa goals yang ingin saya capai. Saya sadar saya tidak punya cukup waktu untuk mempelajari atau menjadi expert di ke semua hal yang membuat saya tertarik. Maka tahun ini, saya mau memilah milih hal yang pantas saya fokuskan. Untuk itu, konsistensi adalah koentji. Dan baru saja, setelah menuliskan ini, saya menemukan salah satu hal itu; menulis secara rutin di blog ini. Saya mau bikin hutang, setidaknya dua kali posting dalam sebulan. Jadi, mari anggap ini resolusi 2021 saya. Semoga saya konsisten ya, ke depannya!

     

     

     


    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    About Me

    Photo Profile
    Tri!

    Pelajar tingkat akhir SMK. Hobi membaca dan (kadangkala) menulis baik fiksi maupun nonfiksi. Blog ini adalah tempat saya menjaga kewarasan dengan mempublikasikan pemikiran-pemikiran yang sulit didiskusikan dengan orang-orang di sekitar saya.

    Contact Me

    • facebook
    • twitter
    • bloglovin
    • youtube
    • pinterest
    • instagram

    Labels

    Review cerpen opini prakerin

    Blog Archive

    • ►  2017 (1)
      • ►  Desember (1)
    • ►  2018 (19)
      • ►  Januari (2)
      • ►  Februari (2)
      • ►  Maret (4)
      • ►  April (4)
      • ►  Mei (3)
      • ►  Juni (1)
      • ►  Juli (1)
      • ►  Agustus (2)
    • ►  2019 (6)
      • ►  Mei (3)
      • ►  Juni (1)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  November (1)
    • ►  2020 (4)
      • ►  Januari (1)
      • ►  Maret (1)
      • ►  April (1)
      • ►  Mei (1)
    • ▼  2021 (17)
      • ▼  Januari (3)
        • Short Attention Span
        • No, You Don't Need A Boyfriend. You Just Need Comp...
        • Review Start-Up --Persaingan Bisnis dan Cinta
      • ►  Februari (3)
      • ►  Maret (3)
      • ►  April (2)
      • ►  Juni (1)
      • ►  Juli (2)
      • ►  Oktober (2)
      • ►  Desember (1)
    • ►  2022 (26)
      • ►  Januari (1)
      • ►  Februari (1)
      • ►  Maret (1)
      • ►  April (2)
      • ►  Mei (2)
      • ►  Juli (2)
      • ►  November (8)
      • ►  Desember (9)
    • ►  2023 (7)
      • ►  Januari (2)
      • ►  Februari (1)
      • ►  Mei (1)
      • ►  Oktober (3)
    • ►  2024 (4)
      • ►  Januari (1)
      • ►  Mei (2)
      • ►  Agustus (1)
    facebook Twitter instagram bloglovin google plus

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top