Judul Drama : Start-Up
Jumlah Episode : 16
Episode (17 Oktober - 6 Desember 2020)
Genre :
Drama, Romance
Penulis Naskah : Park Hye-Ryung
Pemain :
Jadi, ini salah satu drama yang saya tonton karena hype-nya. Sebelum saya nonton dramanya saya bahkan udah hafal nama pemerannya. Dan tentu, saya sadar banget terhadap adanya dua kubu macam cebong dan kampret di drakor ini. Ya gimana enggak, coba, setiap saya buka timeline twitter dan facebook paling enggak ada thread atau post yang bahas saya tim anu dan ini nih alasannya. Si pemeran utama cewek bagusnya sama anu karena anu begini dan begitu.
Episode awal drama ini dibuka
dengan cukup solid. Back story para karakternya memikat hati dan bikin
terenyuh. Cerita dibuka dengan Han Ji Pyeong, yang sudah dikeluarkan dari panti
asuhan karena dianggap sudah cukup dewasa, dan diberi uang dua juta won
(sekitar 24 juta di
Indonesia, atau mungkin kurang karena dalam cerita itu tahunan
lalu saat Ji Pyeong masih remaja).
Naasnya, kalau ia menghabiskan uang itu untuk menyewa tempat tinggal, ia tidak
punya
uang lebih untuk makan dan membayar sewa untuk bulan selanjutnya. Memang,
deh, ya, standar kehidupan di sana tinggi banget. Coba uang segitu di
Indonesia, bisa sewa setahun kalau dapat kost daerah Yogyakarta. Ji Pyeong ini sejak muda melek
finansial dan ngerti caranya investasi. Ia bahkan menjuarai kompetisi simulasi
investasi. Sayangnya, ia juga tidak bisa membuka rekening bank untuk mulai
berinvestasi, sebagaimana keinginannya, karena usianya belum legal dan tidak
punya orangtua sebagai jaminan.
Di tengah hujan, saat dirinya
luntang lantung di jalan, Han Ji Pyeong bertemu dengan Nenek Seo
Dal Mi. Sang nenek menawarinya tempat tinggal di toko miliknya. Meski awalnya
menolak, Ji Pyeong yang tidak punya pilihan lain pun akhirnya tinggal bersama
Nenek Seo Dal Mi.
Di sisi lain, perceraian dalam
rumah tangga orangtua Seo Dal Mi tak dapat dihindarkan. Ibu Dal Mi menentang
keputusan Ayah Dal Mi yang keluar dari kantor dan ingin berbisnis sendiri. Pada
akhirnya, Dal Mi ikut dengan ayahnya dan sang kakak, Seo In Jae ikut dengan
ibunya yang kemudian menikah lagi dengan seorang CEO Morning Group. Seo In Jae
kemudian mengganti marganya menjadi Won. Inilah awal pertikaian kakak beradik
tersebut.
Selama setahun berbisnis, bisnis ayah Dal Mi tidak menunjukkan hasil yang signifikan. Ia bahkan dibiayai oleh nenek Dal Mi. Nenek Dal Mi yang tahu Dal Mi kesepian kemudian berinisiatif mencarikan Dal Mi seorang teman. Ia menyuruh Ji Pyeong menulis surat kepada Dal Mi untuk menjadi temannya. Mereka meminjam nama Nam Do San, seorang anak yang mereka lihat namanya di berita bahwa ia memenangkan olimpiade matematika di usia termuda. Selama setahun, itulah satu satunya penghiburan bagi Dal Mi.
Suatu hari, bisnis ayah Dal Mi
mendapatkan seorang investor. Naas, di perjalanan ia mengalami kecelakaan meski
ia terus memaksakan diri untuk datang dalam presentasi. Presentasi itu
menemukan kata deal. Sayang, ayah Seo Dal Mi meninggal di perjalanan pulang.
Semua itu terjadi pada episode pertama. Jadi, bisa dibilang episode pertama
cukup padat juga solid. Ada momen haru, sedih, dan bahagia.
Fast forward, terus kenapa judulnya Start-
Up? Start up adalah perusahaan rintisan yang berbasis teknologi digital.
Kalau di Indonesia ya semacam bukalapak, tokopedia, gojek, dan
kawan-kawannya.
Bertahun-tahun kemudian, cerita
berputar pada masing-masing karakter yang berjuang untuk masuk ke Sand Box.
Sand box adalah tempat di mana orang-orang yang ingin membangun perusahaan
rintisan tanpa punya koneksi dan uang. Di sinilah juga kisah cinta (bukan
segitiga) yang sampai membentuk tim-timan bermula.
Dal
Mi yang ingin mengalahkan kakaknya dan membuktikan bahwa keputusan kakaknya
untuk ikut sang ibu bukannya ayah mereka itu salah, mencoba mengungguli
kakaknya dengan masuk ke Sand Box. Dal
Mi kemudian mencari Nam Do San (yang sebenarnya adalah Han Ji Pyeong), untuk
datang ke pesta relasi yang diselenggarakan kakaknya, berpura-pura mereka
sukses dan pasangan bahagia.
Dan Ji Pyeong, setelah sekian
lama, menemui nenek Dal Mi. Karena merasa telah berhutang budi, ia yang sudah
sukses (dan kaya dan tampan dan menawan) membantu menemukan Nam Do San asli
yang ia comot namanya untuk berpura-pura sebagai Do San yang menulis surat. Dal
Mi dan Dosan asli (tapi palsu, ngerti kan maksudnya?) pun bertemu.
Akhirnya, Dal Mi masuk ke sand
box. Tanpa tahu Do San dan juga dua temannya masuk Sandbox. Juga kakaknya, Won
In Jae yang telah ditendang oleh ayah tirinya dari perusahaan yang ia besarkan
sendiri juga masuk Sand Box. Lalu Ji
Pyeong? Kan, dia udah mapan dan kaya, ya enggak ikut masuk sandbox,
dong. Malahan ia jadi mentornya tim Dal Mi. Yang terdiri dari Dal Mi sebagai
CEO, Dosan dan dua temannya sebagai pengembang perangkat lunak, dan satu lagi
karakter, Se Ha, sebagai desainer grafis. Perusahaan mereka bernama Samsan
Tech.
Jadi, seperti yang saya bilang,
episode awal dibuka dengan solid dan captivating, tapi sebagaimana drama
korea pada umumnya yang punya kecenderungan untuk bikin bosan dan zonk di
akhir, menurut saya, ini jugalah yang terjadi pada Start Up. Meski enggak
separah zonk sampai saya berhenti nonton, sih.
Alur cerita ini berkutat pada Seo
Dal Mi yang ingin membangun Start-Up. Setelah saya pikir-pikir, justru alasan
kebosanan saya di tengah drama hingga menjelang akhir itu adalah karena
kombinasi plot dan dua main lead-nya.
The thing with Start Up is, saya merasa Start Up bukanlah
drama yang wow sampai-sampai akan saya
rekomendasikan atau bicarakan sama orang-orang, tapi saya juga kurang bisa
menunjuk dari segi apa Start Up sebenarnya kurang dan karenanya bukanlah drama
terbaik yang bakal saya rekomendasikan jika orang bertanya pada saya
apa drama korea yang bagus.
Simply karena alasan-alasan saya barangkali, agak terlalu personal.
Jadi, masalahnya adalah saya
kurang bisa bersimpati pada dua karakter utamanya. Baik Seo Dal Mi maupun Nam
Do San. Seo Dal Mi sebagai karakter utama justru hanyalah Si Keras Kepala yang
sukanya berlayar tanpa peta, alias enggak bikin rencana yang jelas terhadap
hidupnya. Sebagai karakter utama, Seo Dal Mi juga entah bagaimana, terlihat
kurang berusaha dan kurang "menderita". Tahu kan maksud saya?
Dal Mi bisa masuk Sandbox dan
lolos karena ia punya tiga pengembang, yang salah satunya jenius, dan desainer
berpengalaman. Apa yang Dal Mi punya? Tekad, digambarkan begitu sepanjang
cerita. Terlihat dari bagaimana ia mengirimi 400 pertanyaan yang harus dijawab
oleh Han Ji Pyeong selaku mentornya pada hari-hari awal ia masuk Sandbox. Do
San menyukai Dal Mi karena apa? Dalmi cantik. Oke deh, sakarepmu. Pada akhirnya
Dal Mi bisa menjadi CEO, bahkan setelah Samsan Tech bubar karena apa? Karena ia
adik dari Seo In Jae. Entahlah, dari perguliran cerita di awal, Dal Mi dapat
mencapai semua yang diinginkannya seolah hanya karena ialah karakter utamanya
dan begitulah plot yang dirancang untuknya.
Rasanya, sebagai karakter utama, Dal Mi juga tidak pernah benar-benar mengalami kegagalan. Ambilah contoh cerita dengan tema perjuangan serupa, Saeroyi dalam Itaewon Class, ada masa di mana Saeroyi dan bisnisnya gagal, ditipu lawan, karyawannya inkompeten dalam bidangnya, dan kegagalan-kegagalan lain. Dalam Start Up, plot cerita tidak bergulir begitu, jatuh bangun yang terjadi hanya perkara asmara tokoh utama, sedangkan Samsan Tech sebagai perusahaan tidak pernah benar-benar gagal.
[Warning: SPOILER!!]
Tapi, kan, pada akhirnya Samsan Tech bubar? Bukannya itu juga
kegagalan? Iya, memang, tapi itu, menurut saya, bukan benar-benar kegagalan.
Karena pada akhirnya, setelah itu, Do San dan dua temannya digambarkan kaya,
naik kapal pesiar, dan penuh pengalaman kan? Dal Mi juga jadi CEO andal untuk
anak perusahaan kakaknya. Apakah itu kegagalan?
[END OF SPOILER!]
Dibanding Dal Mi, pada pertengahan episode saya malah lebih suka kakaknya, Seo In Jae. Saya malah merasa, keputusan In Jae untuk ikut ibunya adalah hal yang tepat, karena dia pada akhirnya bisa mendapatkan akses pendidikan dan sumber daya yang cukup untuk belajar dan berkembang. Meski pada akhirnya In Jae harus didepak oleh ayah tirinya dari perusahaan yang ia besarkan sendiri, ia bukannya menangis atau meratapi nasibnya, ia justru bangkit dan mencoba masuk Sand Box untuk membuktikan ia mampu membangun bisnis dengan keringatnya sendiri sekaligus membungkam mulut orang-orang yang selalu berkata ia bisa sukses hanya berkat ayah tirinya.
Lalu Nam Do San. Ia digambarkan
pribadi yang kaku dan sangat, sangat logis. Tidak pernah berkencan dan tidak
tahu caranya flirting ke cewek. Bagi saya, kehidupan Do San ini sangat sempurna, tapi
ia acapkali merasa ia paling menderita.
Mari kita jabarkan: Do San punya
orang tua yang harmonis, yang walaupun suka memarahinya, sebenarnya sangat,
sangat menyayangi dan memedulikannya. Terbukti dari bagaimana ayahnya menjadi investor untuk bisnis yang ia
rintis yang tidak jelas juntrungannya selama hampir satu (atau dua?) tahun. Do
San punya dua sahabat yang setia dan selalu ada untuknya. Do San digambarkan
orang yang genius, yang bahkan sudah duduk di bangku perkuliahan di umur 12
tahun (kalau saya enggak salah). Lastly, dia juga dicintai gadis yang ia cinta.
Pada dasarnya, menurut saya,
kedua main lead dalam drama ini sangatlah beruntung dan kurang terlihat
menderita (bahasa apa ini) hingga bikin kita sulit bersimpati. Permasalahan
mereka yang paling urgent ya soal percintaan.
Bahkan sekalipun saya menyukai
Han Ji Pyeong, saya akui ia juga tidak lepas dari faktor keberuntungan. Ji
Pyeong yang yatim piatu, kekurangan uang untuk bertahan hidup, kebetulan
bertemu nenek Seo Dal Mi yang menawarinya tinggal di tokonya. Han Ji Pyeong,
yang memang tertarik pada investasi, menginvestasikan uang milik Nenek Seo Dal
Mi yang awalnya 8 juta won, menjadi 80 juta won dalam satu tahun. Lalu, saat Ji
Pyeong berpisah dari Nenek Dal Mi, ia membawa pergi uang itu bersamanya.
Masalahnya adalah, di kehidupan nyata, jarang sekali ada kebetulan seperti yang
dialami Ji Pyeong. Tidak semua yatim piatu dapat bertemu dengan sosok seperti
nenek Dal Mi.
Lalu, hal lain yang mengganggu
saya adalah: penggambaran perintisan Start Up. Saya tahu ini drama sih, jadi
saya enggak berharap ini akan realistis. Tapi, ya, ini tuh super enggak
realistis HAHAH. Jadi, kesannya segampang itu bikin Start Up, bikin bisnis dari
nol. CEO-nya bahkan cuma lulusan SMA. Sudahlah, Samsan Tech selalu jaya.
Terlebih lagi, di antara kelima pendirinya, empat di antaranya berhubungan secara romantis satu sama lain. Bayangkan di dunia nyata, jika salah satu pasangan saja berkonflik, ini tentunya akan mempengaruhi performa kerja dan keberlangsungan perusahaan. Kalau salah satu berpisah, masa iya perusahaannya ikut collapse? Kayaknya saya akhirnya beneran ngerti kenapa tercipta peraturan jika dua orang dalam satu perusahaan, terlebih satu bagian, terbukti ada dalam hubungan romantis, apalagi sampai nikah, salah satunya harus resign. Melihat bagaimana sebuah Start Up dirintis di drama ini, seolah membuat kita percaya diri dengan hanya satu kunci: faktor keberuntungan. Jujur, saya agak kurang sreg soal ini. Iya, sih, ini drama yang memang menitikberatkan ke romance-nya, tapi, kok, saya jadi merasa di episode menjelang akhir Start Up ini cuma kayak tempelan belaka untuk mempersulit hubungan romansa yang terjadi.
Hal lainnya adalah : bagaimana
akhirnya Han Ji Pyeong yang yatim piatu dan miskin setelah berpisah dari nenek,
meski membawa 80 juta won, menjadi begitu kaya raya? Di kehidupan nyata,
kemungkinan hal ini terjadi kayaknya nol koma nol sekian persen. Meski begitu,
saya paham ini mungkin tidak disinggung, karena cerita bergulir soal bagaimana
Seo Dal Mi dkk membangun Start Up.
Biasanya, saya enggak bahas soal
akting pemainnya, tapi, tapi, entah kenapa saya gatal aja kepingin nulis. Saya aware
kok soal stigma idol yang main drama biasanya aktingnya kurang bagus dan
kurang bisa menjiwai. Saya akui, kebanyakan idol yang terjun ke dunia akting,
memang aktingnya buruk, kalaupun ia akhirnya mendapat pengakuan soal aktingnya,
itu hanya akan terjadi setelah bertahun-tahun dan wara wiri membintangi drama.
Hal ini yang terjadi pada idol-aktris seperti IU, Yoona, dkk. Bae Suzy termasuk
idol yang malah lebih aktif di dunia akting ketimbang menyanyi, yang juga sudah
lama debut di dunia seni peran. Kalau saya lihat komennya, Suzy sendiri cukup
diakui aktingnya, meski tidak wow, dan kadang-kadang masih kaku, tapi ia dipuji
mengalami banyak peningkatan.
Sejujurnya, baru kali ini saya
nonton dramanya Suzy, jadi saya enggak bisa bikin perbandingan. Bagi saya,
akting Bae Suzy sudah oke, dan ia kelihatan sangat berusaha menjiwai
karakternya. Saya rasa aktingnya juga bagus. Tapi, entah bagaimana, saat scene
nangis, kok, bukannya ikut sedih atau minimal kayak: ooh, oke, saya malah
mengernyitkan dahi, kayak : kok? How to put it into words? Saya ngerasa
aktingnya aneh aja dan enggak natural gitu waktu scene ia nangis.
Terlepas dari beberapa hal di
atas, saya akui, sedikit banyak kita bisa dapat gambaran seperti apa itu Start
Up dari drama ini. Ada sedikit gambaran soal pemegang saham di sebuah
perusahaan, investor, model bisnis, dan lain sebagainya.
Tim Nam Do San atau Han Ji
Pyeong?
Ini pertanyaan penting,
memangnya? Ih, iya, dong! Super penting bagi rakyat penghuni burung biru
dan muka buku, yang tiap saya buka timeline setidaknya ada keributan
keributan yang disebabkan bentrok kedua tim ini.
Jadi, saya tim siapa? Jawaban saya bakalan mainstream, pilihan saya jatuh pada scene stealer kita: Han Ji Pyeong. HAHAH. Ya gimana dong, saya sudah kena second lead syndrom sejak episode pertama. Iya, awal banget! Selain karena Kim Seon Ho ganteng, dan kaya raya, tampan dan menawan, tentu saja karena back storynya yang sangat menyentuh. Dan jujur saja, yang paling solid di antara karakter lain. Ji Pyeong juga tidak terkesan seperti karakter yang merasa dirinya adalah yang paling menderita, sebagaimana saya melihat karakter Nam Do San.
Ji Pyeong is definitely a good
boy. Meski
sering diabaikan, kesepian, dan sendirian dari kecil, ia tetap menjadi Anak
Baik, sebagaimana panggilan Nenek Dalmi padanya. Yang terpenting, juga, karena
Ji Pyeong tahu apa yang akan dan harus dilakukannya. Ia logis tapi penuh
perhitungan. Kaya pengalaman.
Sebenarnya, saya setuju sama
komentar di atas. Kalau saya adalah Dal Mi, dan saya enggak tahu gimana Han Ji
Pyeong, saya mungin bakal pilih Do San. Karena, yang cuma memerhatikan dan
jagain dari jauh pasti kalah sama yang selalu ada, lah, ya. Saya juga maunya
sama orang yang satu level, sama-sama berjuang dan ada satu sama lain ketika
dibutuhkan, hingga hubungannya setara. Tidak seperti bersama Han Ji Pyeong yang sudah memiliki
segalanya dan bertahun-tahun di bisnis yang sudah ia hafal polanya. Tapi, ini
kan, drama HAHAH, dan saya juga bukan Dal Mi, maka tentunya saya Tim Ji Pyeong.
Bukan untuk Dal Mi, tapi biar Ji Pyeong bahagia.
Nih, saya bonusin! Kalau saya
buka-buka youtube dan cari Start Up, memang lebih banyak ya, yang jadi tim HJP
ini. Enggak tanggung tanggung, kepopuleran karakternya juga bikin nama Kim Seon
Ho melambung. Saya iseng dong, nge cek followers IG nya dan terakhir
kali sudah 3 juta sekian, sudara-sudara. Padahal, katanya, sebelum dramanya
tayang followersnya baru ratusan ribu. Daebak!
Terakhir, meski dengan
segala komentar kurang mengenakkan di atas, drama ini masih worth it kok buat
kalian tonton. Apalagi yang suka karakter bertekad kuat dan pejuang, yada yada.
Yang suka konflik sederhana, ini juga cocok untuk kalian. Tetapi drama ini
enggak cocok untuk kalian yang cenderung kena second lead syndrome, cause
you will experience the worst heartbreak ever.
7.5 dari 10 untuk drama ini!









