Pages

facebook linkedin twitter youtube

A Dreamer

If you can't explain it simply, you don't understand it well enough - Albert Einstein

    • Home
    • Review
    • Opini
    • Prakerin
    • Karya

     Profil Drama Sweet Home

    Judul drama: Sweet Home
    Genre : Post Apokaliptik, Drama, Fantasi
    Penulis Naskah : Hong So-Ri, Kim Hyung-Min, Park So-Jung
    Sutradara : Lee Eung-Bok
    Jumlah Episode : 10 Episode

    Poster Sweet Home


    Pemeran :

    pemeran sweet home
    Atas, dari kiri ke kanan, Song Kang as Cha Hyun-Su, Lee Jin-Wook as Pyeon Sang-Wook, Lee Si-Young as  Seo Yi-Kyung, Lee Do-Hyun as Lee Eun-Hyeok
    Bawah, Kim Nam-Hee as Jung Jae-Hyeon, Go Min-Si as Lee Eun-Yu, Park Gyu-young as Yoon Ji-Su, Ko Yoon-Jung as park Yu-Ri


    Sweet Home bercerita soal Ca Hyun Su, Seorang remaja yang pendiam dan tidak punya harapan hidup (dalam bahasa emo kekinian : nolife/nolep), yang harus pindah ke sebuah apartemen kecil setelah seluruh keluarganya tewas dalam kecelakaan mobil. Pada hari-hari awal kepindahannya, keanehan mulai terjadi.

     

    Orang-orang di apartemen kecil itu mulai berubah menjadi monster. Hal itu ditandai dengan mimisan dengan keluarnya begitu banyak darah dari hidung, tidak sadarkan diri, dan mulai mendengar suara-suara aneh yang menyuruh melakukan 'sesuatu'.

     

    Belum lagi, Cha Hyun Su mengalai gejala yang sama. Cha Hyun Su termasuk dalam orang yang berpotensi berubah menjadi monster.

     

    Penghuni apartemen terjebak di dalam gedung yang mulai dipenuhi monster tanpa bisa keluar hidup-hidup dan ancaman ketidaktahuan soal siapa di antara mereka yang akan berubah menjadi monster.

     

    Dalam keputusasaan itu, munculah orang-orang pemberani yang memimpin dengan berbagai cara untuk bertahan hidup. Salah satunya adalah Lee Eun Hyeok, yang memimpin kelompok tersisa dari Green Home, Seo Yi Kyung seorang mantan petugas pemadam kebakaran, dan seorang pria misterius bernama Pyeon Sang Wook.


    Drama ini diangkat dari webtoon, karya Kim Kan-Bi dan Hwang Young-Chan, tapi kali ini, kebetulan, saya juga cukup mengikuti webtoon-nya. Meskipun saya belum baca sampai akhir—karena setelah saya kunjungi terakhir kali, webtoon ini sekarang tidak bisa dibaca secara gratis, alias harus beli koin dan jiwa gratisan saya tidak terima, hehe—saya akan mengulas sedikit soal perbedaan antara drama dan Webtoonnya. Hooray!

     

    Sweet Home Drama VS Webtoon

     

    1. Perbedaan Terbesar : Penambahan Karakter Seo Yi Kyung dan Perubahan Beberapa Karakter

    Seo Yi Kyung adalah seorang mantan petugas pemadam kebakaran.Dia asertif, berani, dan (uhuk) jago gelud. Yi Kyung pada Sweet Home versi drama adalah salah satu jajaran karakter utama, tapi siapa sangka, sebenarnya Yi Kyung tidak ada dalam Sweet Home versi Webtoon.

     

    Ketika saya pertama kali nonton Sweet Home, reaksi pertama saya waktu lihat kehadiran Yi Kyung adalah: ini siapa? Saya kok tidak ingat dia ini jadi apa di webtoon-nya? Sebab saya sudah lama pension (lho) baca webtoon, saya kira saya lupa para karakternya. Padahal saya ingat karakter seperti Yuri, karakter tidak penting seperti Paman-pelit-yang-punya-toko-kelontong, sampai istrinya-si-paman-toko-kelontong. Nyatanya, karakter Yi Kyung ini memang tidak ada.

     

    Untungnya, penambahan karakter Yi Kyung ini memang diperlukan (pada versi dramanya, ya) dan aktris yang memerankannya seolah terlahir untuk peran itu, hingga penampilannya menjadi salah satu iconic scene di Sweet Home. If you know what I mean. Roti sobek.

    Seo Yi Kyung
     

    Karena adanya penambahan karakter ini, tentunya, screentime untuk karakter lain berkurang. Kalau Kamu mengikuti webtoon-nya, pasti kamu tahu siapa main lead-nya, yak, Yoon Ji-Su. Yoon Ji-Su, pada drama, sayangnya hanya seperti karakter pendukung. But, who knows? Mungkin Yoon Ji-Su akan lebih dari sekadar pemeran pendukung di season duanya (ya kalua ada, sih) Ia juga tidak kebagian love line dengan main lead cowoknya, Cha Hyun-Su, seperti pada webtoon.

     

    Selain penambahan karakter, Sweet Home versi drama juga melakukan perubahan major untuk beberapa kepribadian karakter. Seperti misalnya, Pyeon Sang-Wook, yang awa-awal saya pikir kemunculannya di drama, dia ini malah mau dijadikan villain. Sang-Wook di webtoon memang digambarkan jago gelud, mainnya pake otot, tapi bukan pribadi yang kasar dan menutup diri. Ia justru salah satu yang memimpin dan melindungi penghuni lain untuk tetap bertahan hidup.

     

    Karakter lain juga mengalami perubahan, seperti Lee Eun-Yu, yang justru memiliki lebih banyak screentime dibanding versi webtoon. Ia digambarkan kasar, punya back story kelam, dan tidak menyukai kakaknya. Beda dari webtoon.


    2. Love Line Sweet Home

    Webtoon Sweet Home
    Sweet Home Webtoon; Cha Hyun-Su dan Yoon Ji-Su

    Sweet home sendiri, baik versi drama dan webtoon memang minim adegan romantis, romansa yang ada hanya sebagai bumbu (yang dituang secukupnya saja, haha). Tetapi berdasarkan apa yang saya ingat, romansa yang terjadi adalah antara Hyun-Su dan Ji-Soo. Ji-Su adalah main female lead di webtoon, ingat? Tetapi di drama, romansa tidak terjadi antara mereka. Ji-Su justru dipasangkan dengan Jae-Heon, dan Ca Hyun-Su dengan Eun-Yu. Meski, dalam webtoon, Eun-Yu juga mengagumi Hyun-Su. (Dan psstt, di webtoon, Eun-Yu jauh lebih muda dari Hyun-Su, bukannya seumuran).


    Dan ini nggak penting, sih, tapi saat saya lihat Song Kang (Cha Hyun-Su) dan Go Min-Si (Lee Eun-Yu) dipasangkan, saya ngerasa agak aneh aja karena duluan lihat mereka berdua di Love Alarm, Song Kang malah sukanya sama sepupu Go Min-Si, dan Min-Si adalah antagonis buat hubungan mereka, HAHAH...

    Hyun-Su dan Eun-Yu

     3. Setiap Monster (Seharusnya) Memiliki Keinginan Terdalam

     

    Dalam versi webtoon-nya, setiap manusia yang bertransformasi menjadi monster punya keinginan terdalam, yang tak dapat mereka wujudkan atau dapatkan di dunia nyata. Keinginan terdalam inilah yang menjadi penentu, apakah mereka akan kalah dengan bisikan untuk terwujudnya keinginan itu dan menjadi monster, atau mereka bertahan dan melawan gejala monsterisasi.

     

    Cukup disayangkan, menurut saya, Sweet Home versi drama tidak mengangkat ini. Padahal, beberapa monster memiliki back story yang sangat menyentuh. Seperti monster ibu yang kehilangan balitanya, bahkan ketika menjadi monster, wujudnya adalah bayi. Sebab keinginan terdalamnya adalah dapat menyelamatkan anaknya yang tertabrak karena kelalaiannya. Atau keinginan terdalam Han Du sik, hingga Cha Hyun Su, serta alasan mengapa Hyun-Su bisa melawan gejala monsterisasi dan menjadi special-infectee.

     

    Pada webtoon, keinginan terdalam Cha Hyun Su-lah juga alasan mengapa komiknya berjudul Sweet Home. Well, tapi saya menyadari, karena ini adaptasi, jelas hal-hal akan berbeda dari versi originalnya. Dan juga, mungkin akan terlalu makan durasi apabila keinginan terdalam para monster ini disorot. But then again, it would be great if they added it.

     

    4. Kemungkinan Perubahan Genre

    Karena saya tidak baca webtoon Sweet Home sampai akhir, saya tidak tahu pasti bagaimana ending-nya. Tetapi berdasarkan yang sudah saya baca, penjelasan soal mengapa manusia bisa berubah menjadi monster diungkap dalam balutan fantasi. Sedangkan pada versi drama, penjelasan itu barangkali akan dikemas dengan teori yang lebih saintifik. Ini memang prediksi. Karena pada dramanya, manusia setengah monster seperti Hyun-Su ditangkap pemerintah untuk dijadikan bahan riset di laboratorium. Ini tidak ada dalam versi webtoon.

     

    Namun, terlepas dari banyak perubahan major dari versi webtoon, yang saya suka dari dramanya adah: vibes-nya tetap sama. Yang saya rasakan saat menonton adegan pada dramanya, apalagi adegan yang disadur langsung dari komiknya, nuansanya sama seperti saat saya membaca webtoonnya.

     

    Ada salah satu adegan yang paling saya suka :

     

    Kemunculan Pertama Monster

    Kemunculan Pertama Monster 2


    Adegan tersebut sama persis dengan versi webtoon, ketika saya menontonnya, saya merinding karena mengingat nuansa inilah yang saya dapatkan ketika saya membaca Sweet Home.

     

    Dan juga adegan favorit saya :


    Transformasi Cha Hyun-Su

    Transformasi Cha Hyun-Su 2
    Transformasi Cha Hyun-Su

    Kelebihan dan Kekurangan Sweet Home

    Warning : mengandung sedikit spoiler, lewati jika tidak ingin bocoran cerita sebelum menonton!

     

    Karena tidak afdol rasanya untuk tidak menyinggung kekurangan drama ini, jadi saya bakal bahas minusnya drama ini dulu. Sebenernya, bagi saya, kekurangan pada drama ini tidak fatal, malah lebih seperti, ini bisa jadi lebih baik, kalau .... (insert perubahan adegan, alternative plot, dll)  Iya, semacam itu.

     

    Karena saya orangnya juga enggak paham rempong soal unsur teknis semacam pengambilan gambar, lighting, dkk hingga CGI, jadi saya oke-oke saja. Meski beberapa penonton lain merasa untuk drama yang diklaim menghabiskan budget terbesar, CGI-nya malu-maluin, nggak mulus, jelek, yada-yada. Saya merasa oke-oke sadja, tuh. Maksudnya, iya, saya juga merasa di beberapa bagian, CGI-nya bisa lebih baik, atau kurang mulus (misalnya scene dengan pertarungan sama monster raksasa berotot di luar gedung), tapi saya tidak bakal bilang itu jelek, malu-maluin, atau kritik keras sejenis. Karena bagi saya, selama masih bisa dinikmati, dan tidak kayak CGI-nya channel Ikan Terbang, atau ular-ular jadi-jadian, it's okay, bukan masalah besar.

     

    Saya malah lebih menyoroti plotnya, yang untuk beberapa bagian, agak dipaksakan entah untuk efek dramatisasi dan sebagainya. Contoh yang paliiiiiiiiingg (iya, i-nya harus dibanyakin) menyebalkan: adegan kematian Jae-Heon. Saya sudah peringatkan bakal ada spoiler, oke?

     

    Saat sudah beberapa episode dan Jae-Heon belum mati-mati juga (ya maaf, soalnya di webtoon dia termasuk karakter awal yang mati duluan), saya bertanya-tanya: kapan lu matinya?

     

    Setelah akhirnya disuguhkan apa yang saya tunggu, saya bergumam : ooh, they wanna make him die a hiro. Dalam adegan kematian tersebut, terlihat sekali sutradara mau scene kematian Jae-Heon menjadi sagat dramatis dan membuat haru penonton. Alias, mereka maunya kematiannya dia jadi salah satu iconic scene Sweet Home.

     

    Saya akui, pengambilan adegannya keren, dan memang sangat dramatis. Dia mati sehabis confess kalau dia suka sama Ji-Su, kurang dramatis apalagi coba? Belum lagi, tidak seperti karakter lain yang matinya cepat (pernyataan apa ini?), adegan kematian Jae-Heon itu, duh, gimana jelasinnya...

     

    Satu tangannya terpotong sama lawan, tapi dia masih bisa lanjut gelud, sodara-sudara, dan dia ambil itu pedang dari tangannya yang buntung di lantai, bertarung, lalu giring monsternya ke lift. Lalu bertarung lagi di lift dengan efek darah terciprat di mana-mana dan lampu yang mati-hidup-mati-hidup sambal diiringin lagu Warriors-nya Imagin Dragon.

     

    Masalahnya adalah : adegan ini agak tidak make sense, sebab yang dilawan Jae-Heon itu termasuk monster yang tidak sebegitunya berbahaya. Lawannya adalah satpam apartemen mereka dahulunya. Dan si monster ini tidak punya banyak perbedaan dari segi fisik, kecuali ia dilalati dan bagian tubuhnya membusuk, senjatanya hanya mesin pemotong rumput. Logikanya, Jae-Heon telah melawan monster yang jauh lebih berbahaya dari dia, dan dia baik-baik saja. Harusnya kali ini, dia juga bisa mengatasinya.

    Edit : Jadi waktu saya rewatch beberapa adegan Sweet Home, saya nemu informasi di kolom komentar youtube, yang setelah saya cari-cari detailnya kira-kira begini :


    Kemampuan monster kim
    kemampuan monster yang dilawan Jae-Heon

    Pada intinya, monster yang dilawan Jae-Heon itu salah satu monster yang kuat. Si monster ini bisa menyerap berat korbannya, yang membuat dia memiliki masa tubuh sangat berat. Setelah saya ingat-ingat, sepertinya detail ini memang ada di versi webtoon-nya (juga drama?) ketika si monster turun dan orang-orang kebingungan mengira lift-nya penuh sesak dengan orang.Masalahnya, tetap saja penonton yang tidak membaca versi webtoon-nya tidak bakal tahu detail ini, sebab di drama, detail ini tidak begitu dijelaskan (?)

     

    Kedua, saat si monster satpam turun dari lift ke lantai bawah, Jae-Heon kan ada di ruang operasinya Ji-Su, begitu juga karakter lain yang juga masih satu area di lantai bawah, tapi kenapa hanya Jae-Heon yang paling duluan datang hadapin monster itu? Kenapa karakter lain datang dengan sangat terlambat?

     

    Dan ini yang paling bikin, duh, apaan, nih bagi saya : Sewaktu karakter lain sudah datang, mereka cuma lihat aja si Jae-Heon ngelawan monsternya sampai tangannya putus, lalu tarung lagi, kenapa tidak ada yang bantu, woy? Malah cuma lihatin saja.

     

    Terus ada lagi, nih, waktu sudah di lift, Jae-Heon minta dilemparkan api biar mereka terbakar bersama, dan monsternya nggak hidup lagi, mereka yang jadi penonton tidak tega dan bergeming. Lalu si Lee-Eun-Hyeok sebagai pemimpin mengambil tindakan dengan akhirnya melemparkan api.

     

    Begitulah kisah kematian Jae-Heon yang tidak masuk akal, sodara-sudara. Niatnya mau bikin jadi dramatis, tapi malah serasa dipaksakan dan dapat kernyitan kening. Oke, atau cuma saya aja yang begitu?

     

    Protes saya selanjutnya, ini mirip-mirip sama logika bolong film-film, semacam film zombie hollywood : kalau zombie-nya nyerang pemeran tidak begitu penting, gercep banget, dikerubutin, dan mati, deh. Kalau zombie-nya nyerang karakter utama, zombie nya merhatiin dulu lah, yang nyerang paling hanya satu-dua, berurutan dan tidak langsing menggigit, akhirnya dapat segera ditumpas.

     

    Ini juga terjadi pada Sweet Home. Sewaktu karakter kurang penting mau menyelamatkan anak dari salah satu penghuni, baru beberapa langkah ia keluar dari gedung, dia langsung mati diserang monster yang ada di situ, begitupula si gadis yang hendak diselamatkan. Tetapi waktu Sang-Wook yang pergi keluar dan membawa mayat mereka berdua ke dalam, tidak ada, tuh, yang menyerangnya. Lalu saat Yi-Kyung berkendara keluar gedung, ia juga baik-baik saja, kembali juga baik-baik saja.

     

    Saya suka banget semua karakter dan akting masing-masing karakter di sini. Seolah, semua karakter terlahir untuk memainkan peran di drama tersebut. Baik dari karakter pendukung hingga jajaran karakter utamanya. Dan barangkali, karakter adalah kekuatan utama Sweet Home.

     

    Untuk drama 10 episode yang masing-masing episodenya tidak mencapai satu jam, Sweet Home menyajikan back story dan character development yang solid, khususnya, bagi beberapa karakter.

     

    Memang tidak mengherankan, karena saya rasa, Sweet Home season satu lebih banyak fokus pada karakter. Katakanlah, satu episodenya, 80% porsinya untuk karakter, dan 20% sisanya barulah aksi para tokoh melawan monster. Sejujurnya, di beberapa episode, banyaknya filler untuk pengembangan karakter tokoh ini membuat dramanya agak menjemukan. Saya seperti menunggu-nunggu, duh, kapan, sih, adegan aksinya? Masih lama, nih?

     

    Tetapi, ya, tidak sampai membuat saya berhenti nonton, yang artinya, masih bisa dimaklumi. Hanya saja, saya agak berharap, porsinya menjadi setara di season dua (sekali lagi, jika memang ada season dua-nya), atau minimal 60% dan 40% lah.

     

    Itulah kira-kira, kesan saya menonton Sweet Home. Di luar segala kekurangannya, Sweet Home termasuk drama yang akan saya rekomendasikan untuk ditonton. Dan apabila ada season duanya, yang saya harap akan ada, karena Sweet Home memang menyisakan banyak sekali misteri yang belum terungkap, saya bakal nonton.

    Bonus :


    Sweet Home Eyeball Monster
    Eyeball Monster


    Lee Eun-Hyeok
    What a great lie you told us


     Jadi, rate saya adalah 8.75 dari 10 untuk drama ini!

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    Continue Reading

    lonely-girl


    Awalnya, saya pikir kerja bareng teman dekat akan seru dan menyenangkan. Memang iya, pada awalnya, tetapi tidak selalu begitu. Banyak hal yang terjadi dan semuanya tidak selalu menyenangkan.

     

    Hampir dua bulan saya pindah kerja ke tempat kerja teman baik saya ini. Kami yang biasanya bertemu hanya sebulan sekali, kalau beruntung, ya, dua kali dalam sebulan, sekarang bertemu hampir tiap hari. Senang, dong, bisa ngobrol dan bergosip ria tiap hari? Semang, dong, tidak perlu susah-susah adaptasi? Yah, iya dan tidak.

     

    Untuk tipikal orang yang lebih menghargai kualitas dibanding kuantitas macam saya, hal ini justru lama-lama ... membosankan. Obrolan kami jadi terasa lebih dangkal, susah membicarakan hal-hal serius, bahkan di sela istirahat. Obrolan kami kurang ada isinya dan tidak menambah value apa-apa. Deep conversation tergantikan candaan basi biar tidak garing-garing amat dengan rekan lain juga.

     

    Tidak hanya itu, kerja bersama juga berarti dealing with the same shit together. Saya kira berteman selama hampir empat tahun membuat kami sudah cukup kenal satu sama lain. Baik dan buruknya kami. Kebiasaan, sifat, dan karakter masing-masing.

     

    Tetapi ternyata tidak juga. Saya jadi lebih mengerti banyak sisi lain teman baik saya ini. Yang tidak bakal dia perlihatkan pada saya ketika kami bertemu dalam keadaan yang menyenangkan di kala libur.

     

    Di mata saya, teman saya ini adalah orang paling tulus yang pernah saya temui, perhatian, penyabar, dan sukanya membuat orang lain tertawa. Setelah bekerja bersama, saya jadi lebih tahu marahnya dia, bagaimana ia merespon saat ada masalah, sifat-sifat lainnya, yang jujur saja,  tidak selalu saya suka. Kami yang biasa bertemu dalam kondisi yang "menyenangkan", kini saling melihat satu sama lain menghadapi riwehnya pekerjaan. Pelangan-pelanggan yang mau didahulukan dan tida jelas maunya apa. Gesekan-gesekan kecil dalam pengambilan keputusan. Dalam situasi yang tidak menyenangkan, orang juga tidak bisa selalu jadi menyenangkan.

     

    Hal sepele yang terjadi kadang membuat saya yang dari sananya agak bersumbu pendek, marah tidak jelas, ya meski tidak saya tunjukkan terang-terangan, sih. Kok dia begini? Kok dia begitu? Apa yang salah dengannya? Apa yang salah dengan saya? Pertanyaan itu jadi sering berkelebat. Tidak hanya pada teman baik saya, saya juga hampir tiap kali seperti itu pada orang lain.

     

    Hari ini, saya membaca kalimat ini sewaktu baca sebuah review drama korea :

     

    "Setiap orang tidak bisa selalu jadi menyenangkan"


    Setelah membacanya, saya jadi merasa tertampar. Benar, Setiap orang tidak bisa selalu jadi menyenangkan. Termasuk teman baik saya. Ada banyak hal darinya yang memberi pengaruh baik bagi saya. Ada lebih banyak hal darinya, yang saya sukai daripada tidak.

     

    Terlalu lama mengenal sisi menyenangkannya: perhatian, ceria, sabar, membuat saya lupa bahwa setiap orang memiliki sisi tidak menyenangkannya juga. Dua sisi itu selalu berdampingan.

     

    Seperti yin dan yang. Sebagaimana dunia ini selalu bekerja :  adanya kebaikan dan kejahatan, kekayaan dan kemiskinan, suka dan duka, sedih dan senang, dan setiap hal lain yang punya dua sisi bertolak belakang.

     

    Seperti bagaimana saya tidak akan selalu bahagia, ataupun selalu sedih, there are ups and downs in our life; seperti itulah setiap orang: punya sisi menyenangkan dan tidak.

     

    Sayangnya, sudah jadi hal alami untuk hanya menunjukkan sisi menyenangkan seseorang pada orang lain; hingga saat kondisi tidak lagi menyenangkan, sisi tidak menyenangkan itu yang ditampilkan, yang didapat biasanya adalah penolakan. Seperti saya, yang menolak bahwa selalu begitulah teman saya.

     

    Kontemplasi ini membuat saya berhasil menjernihkan pikiran, problemnya bukan ada apa dengan saya maupun dia. Masalahnya adalah saya harus bisa menerima adanya dua sisi itu. Karena setiap orang tidak bisa menjadi selalu menyenangkan.


    Tetapi kontemplasi malam hari ini juga membuat saya bertanya-tanya: seperti setiap orang, seberapa menyebalkannya saya saat situasi menjadi tidak menyenangkan?


    Oh, saya seratus persen yakin saya jauh lebih buruk dari banyak orang di sekitar saya. I am impatient, irritable, and pretty unfriendly. Dan saya punya wajah yang mendukung, I have what they call resting bitch face.


    Seberapa banyak orang-orang di sekitar saya harus menoleransi saya ketika saya tidak sedang jadi menyenangkan? Seberapa jauh mereka menahannya? Dan, seberapa menyebalkannya sisi tidak menyenangkan saya?

     
     

     

     

     

    Continue Reading

     

    Review Love Alarm

     Profil Drama Korea Love Alarm

    Judul Drama : Love Alarm

    Genre : Romansa, Fantasi

    Penulis Naskah: Lee Ah-Yeon, Seo Bo-ra, Kim Sae-bom

    Jumlah Episode : 8 episode (tayang Agustus 2019)

    Pemain :

    Kim Jojo Love Alarm
    Kim So Hyun sebagai Kim Jojo

    Hwang Sun Oh Love Alarm
    Song Kang sebagai Hwang Sun Oh

    Lee Hye Young Love Alarm
    Jung Ga Ram sebagai Lee Hye Young


    Blurb :

     

    Love Alarm adalah aplikasi yang bisa membuat kita tahu, ada seseorang yang menyukai kita dalam jarak 10 meter. Dengan catatan orang itu juga meng-install Love Alarm di ponselnya. Cerita berpusat pada Kim Jojo, seorang cewek yatim piatu yang tinggal dengan bibinya dengan tanggungan hutang orangtuanya. Di lain sisi, seorang cowok pendiam bernama Hye Young, menyukai Jojo, tetapi tidak mengungkapkan perasaanya sebab Jojo sudah memiliki pacar.

     

    Lalu ada Sun Oh, anak orang kaya tempat di mana ibu Hye Young bekerja, yang baru kembali dari Amerika. Sejak kecil, Sun Oh dan Hye Young telah bersahabat baik. Sun Oh yang penasaran dengan cewek yang disukai Hye Young, akhirnya malah jatuh cinta pada Jojo pada pandangan pertama. Sun Oh yang lebih berani mengungkapkan perasaannya, akhirnya mendekati Jojo dan berpacaran dengannya. Mereka mengisi rasa sepi dan menyembuhkan luka satu sama lain.

     

    Sun Oh memberikan segalanya pada Jojo. Tetapi itulah yang membuat Jojo merasa kecil di hadapan Sun Oh. Belum lagi, ia punya masa lalu kelam yang masih menghantuinya, hingga ia mencoba melindungi dirinya dengan cara apapun. Termasuk dari kemungkinan tersakiti, dan akhirnya memutuskan Sun Oh.

     

    Ia memasang perisai untuk Love Alarmnya, yang hanya bisa dinonaktifkan oleh developer. Perisai itu membuat Love Alarmnya tak akan berbunyi untuk siapapun, termasuk Sun Oh.

     

    Empat tahun berlalu setelahnya, Hye Young kembali bertemu dengan Jojo. Kali ini, ia tidak ingin melepaskan Jojo. Ia yang kini lebih berani, mulai mendekati Jojo dan berjanji akan terus membunyikan Love Alarm Jojo. Hye Young terus menemani Jojo, hingga perlahan keduanya nyaman dengan satu sama lain. Sementara Sun Oh, setelah empat tahun, masih menyukai Jojo. Alarmnya masih berbunyi untuk Jojo tiap kali mereka bertemu.

     

    Siapakah yang akan dipilih Jojo? Sun Oh, yang pernah dicintainya selama empat tahun, ataukah Hye Young yang menemaninya kini dan telah mencintainya sejak dulu?

    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    About Me

    Photo Profile
    Tri!

    Pelajar tingkat akhir SMK. Hobi membaca dan (kadangkala) menulis baik fiksi maupun nonfiksi. Blog ini adalah tempat saya menjaga kewarasan dengan mempublikasikan pemikiran-pemikiran yang sulit didiskusikan dengan orang-orang di sekitar saya.

    Contact Me

    • facebook
    • twitter
    • bloglovin
    • youtube
    • pinterest
    • instagram

    Labels

    Review cerpen opini prakerin

    Blog Archive

    • ►  2017 (1)
      • ►  Desember (1)
    • ►  2018 (19)
      • ►  Januari (2)
      • ►  Februari (2)
      • ►  Maret (4)
      • ►  April (4)
      • ►  Mei (3)
      • ►  Juni (1)
      • ►  Juli (1)
      • ►  Agustus (2)
    • ►  2019 (6)
      • ►  Mei (3)
      • ►  Juni (1)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  November (1)
    • ►  2020 (4)
      • ►  Januari (1)
      • ►  Maret (1)
      • ►  April (1)
      • ►  Mei (1)
    • ▼  2021 (17)
      • ►  Januari (3)
      • ▼  Februari (3)
        • [Review Drakor] Love Alarm — Nyatakan Cintamu Deng...
        • Setiap Orang Tidak Bisa Selalu Menjadi Menyenangkan
        • [Review Drakor] Sweet Home (2020)
      • ►  Maret (3)
      • ►  April (2)
      • ►  Juni (1)
      • ►  Juli (2)
      • ►  Oktober (2)
      • ►  Desember (1)
    • ►  2022 (26)
      • ►  Januari (1)
      • ►  Februari (1)
      • ►  Maret (1)
      • ►  April (2)
      • ►  Mei (2)
      • ►  Juli (2)
      • ►  November (8)
      • ►  Desember (9)
    • ►  2023 (7)
      • ►  Januari (2)
      • ►  Februari (1)
      • ►  Mei (1)
      • ►  Oktober (3)
    • ►  2024 (4)
      • ►  Januari (1)
      • ►  Mei (2)
      • ►  Agustus (1)
    facebook Twitter instagram bloglovin google plus

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top