[Review Drakor] Sweet Home (2020)
Februari 28, 2021Profil Drama Sweet Home
Sweet
Home bercerita soal Ca Hyun Su, Seorang remaja yang pendiam dan tidak punya
harapan hidup (dalam bahasa emo kekinian : nolife/nolep), yang harus pindah ke
sebuah apartemen kecil setelah seluruh keluarganya tewas dalam kecelakaan mobil.
Pada hari-hari awal kepindahannya, keanehan mulai terjadi.
Orang-orang
di apartemen kecil itu mulai berubah menjadi monster. Hal itu ditandai dengan
mimisan dengan keluarnya begitu banyak darah dari hidung, tidak sadarkan diri,
dan mulai mendengar suara-suara aneh yang menyuruh melakukan 'sesuatu'.
Belum lagi,
Cha Hyun Su mengalai gejala yang sama. Cha Hyun Su termasuk dalam orang yang
berpotensi berubah menjadi monster.
Penghuni
apartemen terjebak di dalam gedung yang mulai dipenuhi monster tanpa bisa
keluar hidup-hidup dan ancaman ketidaktahuan soal siapa di antara mereka yang
akan berubah menjadi monster.
Dalam keputusasaan itu, munculah orang-orang pemberani yang memimpin dengan berbagai cara untuk bertahan hidup. Salah satunya adalah Lee Eun Hyeok, yang memimpin kelompok tersisa dari Green Home, Seo Yi Kyung seorang mantan petugas pemadam kebakaran, dan seorang pria misterius bernama Pyeon Sang Wook.
Drama ini diangkat dari webtoon, karya Kim Kan-Bi dan Hwang Young-Chan, tapi kali ini, kebetulan, saya juga cukup mengikuti webtoon-nya. Meskipun saya belum baca sampai akhir—karena setelah saya kunjungi terakhir kali, webtoon ini sekarang tidak bisa dibaca secara gratis, alias harus beli koin dan jiwa gratisan saya tidak terima, hehe—saya akan mengulas sedikit soal perbedaan antara drama dan Webtoonnya. Hooray!
Sweet Home Drama VS Webtoon
1. Perbedaan Terbesar : Penambahan Karakter Seo Yi Kyung dan Perubahan Beberapa Karakter
Seo
Yi Kyung adalah seorang mantan petugas pemadam kebakaran.Dia asertif, berani,
dan (uhuk) jago gelud. Yi Kyung pada Sweet Home versi drama adalah salah satu
jajaran karakter utama, tapi siapa sangka, sebenarnya Yi Kyung tidak ada dalam
Sweet Home versi Webtoon.
Ketika
saya pertama kali nonton Sweet Home, reaksi pertama saya waktu lihat kehadiran
Yi Kyung adalah: ini siapa? Saya kok tidak ingat dia ini jadi apa di
webtoon-nya? Sebab saya sudah lama pension (lho) baca webtoon, saya kira saya
lupa para karakternya. Padahal saya ingat karakter seperti Yuri, karakter tidak
penting seperti Paman-pelit-yang-punya-toko-kelontong, sampai
istrinya-si-paman-toko-kelontong. Nyatanya, karakter Yi Kyung ini memang tidak
ada.
Untungnya,
penambahan karakter Yi Kyung ini memang diperlukan (pada versi dramanya, ya)
dan aktris yang memerankannya seolah terlahir untuk peran itu, hingga
penampilannya menjadi salah satu iconic scene di Sweet Home. If you
know what I mean. Roti sobek.
Karena
adanya penambahan karakter ini, tentunya, screentime untuk karakter lain
berkurang. Kalau Kamu mengikuti webtoon-nya, pasti kamu tahu siapa main lead-nya,
yak, Yoon Ji-Su. Yoon Ji-Su, pada drama, sayangnya hanya seperti karakter
pendukung. But, who knows? Mungkin Yoon Ji-Su akan lebih dari sekadar
pemeran pendukung di season duanya (ya kalua ada, sih) Ia juga tidak kebagian love
line dengan main lead cowoknya, Cha Hyun-Su, seperti pada webtoon.
Selain
penambahan karakter, Sweet Home versi drama juga melakukan perubahan major
untuk beberapa kepribadian karakter. Seperti misalnya, Pyeon Sang-Wook, yang
awa-awal saya pikir kemunculannya di drama, dia ini malah mau dijadikan villain.
Sang-Wook di webtoon memang digambarkan jago gelud, mainnya pake otot, tapi
bukan pribadi yang kasar dan menutup diri. Ia justru salah satu yang memimpin dan
melindungi penghuni lain untuk tetap bertahan hidup.
Karakter
lain juga mengalami perubahan, seperti Lee Eun-Yu, yang justru memiliki lebih
banyak screentime dibanding versi webtoon. Ia digambarkan kasar, punya back
story kelam, dan tidak menyukai kakaknya. Beda dari webtoon.
2. Love Line Sweet Home
![]() |
| Sweet Home Webtoon; Cha Hyun-Su dan Yoon Ji-Su |
Sweet home sendiri, baik versi drama dan webtoon memang minim adegan romantis, romansa yang ada hanya sebagai bumbu (yang dituang secukupnya saja, haha). Tetapi berdasarkan apa yang saya ingat, romansa yang terjadi adalah antara Hyun-Su dan Ji-Soo. Ji-Su adalah main female lead di webtoon, ingat? Tetapi di drama, romansa tidak terjadi antara mereka. Ji-Su justru dipasangkan dengan Jae-Heon, dan Ca Hyun-Su dengan Eun-Yu. Meski, dalam webtoon, Eun-Yu juga mengagumi Hyun-Su. (Dan psstt, di webtoon, Eun-Yu jauh lebih muda dari Hyun-Su, bukannya seumuran).
Dan ini nggak penting, sih, tapi saat saya lihat Song Kang (Cha Hyun-Su) dan Go Min-Si (Lee Eun-Yu) dipasangkan, saya ngerasa agak aneh aja karena duluan lihat mereka berdua di Love Alarm, Song Kang malah sukanya sama sepupu Go Min-Si, dan Min-Si adalah antagonis buat hubungan mereka, HAHAH...
Dalam
versi webtoon-nya, setiap manusia yang bertransformasi menjadi monster punya
keinginan terdalam, yang tak dapat mereka wujudkan atau dapatkan di dunia
nyata. Keinginan terdalam inilah yang menjadi penentu, apakah mereka akan kalah
dengan bisikan untuk terwujudnya keinginan itu dan menjadi monster, atau mereka
bertahan dan melawan gejala monsterisasi.
Cukup
disayangkan, menurut saya, Sweet Home versi drama tidak mengangkat ini.
Padahal, beberapa monster memiliki back story yang sangat menyentuh.
Seperti monster ibu yang kehilangan balitanya, bahkan ketika menjadi monster,
wujudnya adalah bayi. Sebab keinginan terdalamnya adalah dapat menyelamatkan
anaknya yang tertabrak karena kelalaiannya. Atau keinginan terdalam Han Du sik,
hingga Cha Hyun Su, serta alasan mengapa Hyun-Su bisa melawan gejala
monsterisasi dan menjadi special-infectee.
Pada
webtoon, keinginan terdalam Cha Hyun Su-lah juga alasan mengapa komiknya
berjudul Sweet Home. Well, tapi saya menyadari, karena ini adaptasi, jelas
hal-hal akan berbeda dari versi originalnya. Dan juga, mungkin akan terlalu
makan durasi apabila keinginan terdalam para monster ini disorot. But then
again, it would be great if they added it.
4. Kemungkinan Perubahan Genre
Karena
saya tidak baca webtoon Sweet Home sampai akhir, saya tidak tahu pasti bagaimana
ending-nya. Tetapi berdasarkan yang sudah saya baca, penjelasan soal
mengapa manusia bisa berubah menjadi monster diungkap dalam balutan fantasi.
Sedangkan pada versi drama, penjelasan itu barangkali akan dikemas dengan teori
yang lebih saintifik. Ini memang prediksi. Karena pada dramanya, manusia
setengah monster seperti Hyun-Su ditangkap pemerintah untuk dijadikan bahan
riset di laboratorium. Ini tidak ada dalam versi webtoon.
Namun,
terlepas dari banyak perubahan major dari versi webtoon, yang saya suka dari
dramanya adah: vibes-nya tetap sama. Yang saya rasakan saat menonton
adegan pada dramanya, apalagi adegan yang disadur langsung dari komiknya,
nuansanya sama seperti saat saya membaca webtoonnya.
Ada
salah satu adegan yang paling saya suka :
Dan juga adegan favorit saya :
![]() |
| Transformasi Cha Hyun-Su |
Kelebihan dan Kekurangan Sweet Home
Warning
: mengandung sedikit spoiler, lewati jika tidak ingin bocoran cerita sebelum
menonton!
Karena
tidak afdol rasanya untuk tidak menyinggung kekurangan drama ini, jadi saya
bakal bahas minusnya drama ini dulu. Sebenernya, bagi saya, kekurangan pada
drama ini tidak fatal, malah lebih seperti, ini bisa jadi lebih baik, kalau ....
(insert perubahan adegan, alternative plot, dll) Iya, semacam itu.
Karena
saya orangnya juga enggak paham rempong soal unsur teknis semacam
pengambilan gambar, lighting, dkk hingga CGI, jadi saya oke-oke saja.
Meski beberapa penonton lain merasa untuk drama yang diklaim menghabiskan
budget terbesar, CGI-nya malu-maluin, nggak mulus, jelek, yada-yada. Saya
merasa oke-oke sadja, tuh. Maksudnya, iya, saya juga merasa di beberapa bagian,
CGI-nya bisa lebih baik, atau kurang mulus (misalnya scene dengan
pertarungan sama monster raksasa berotot di luar gedung), tapi saya tidak bakal
bilang itu jelek, malu-maluin, atau kritik keras sejenis. Karena bagi saya,
selama masih bisa dinikmati, dan tidak kayak CGI-nya channel Ikan Terbang, atau
ular-ular jadi-jadian, it's okay, bukan masalah besar.
Saya
malah lebih menyoroti plotnya, yang untuk beberapa bagian, agak dipaksakan
entah untuk efek dramatisasi dan sebagainya. Contoh yang paliiiiiiiiingg (iya,
i-nya harus dibanyakin) menyebalkan: adegan kematian Jae-Heon. Saya sudah
peringatkan bakal ada spoiler, oke?
Saat
sudah beberapa episode dan Jae-Heon belum mati-mati juga (ya maaf, soalnya di
webtoon dia termasuk karakter awal yang mati duluan), saya bertanya-tanya: kapan lu matinya?
Setelah
akhirnya disuguhkan apa yang saya tunggu, saya bergumam : ooh, they wanna
make him die a hiro. Dalam adegan kematian tersebut, terlihat sekali
sutradara mau scene kematian Jae-Heon menjadi sagat dramatis dan membuat
haru penonton. Alias, mereka maunya kematiannya dia jadi salah satu iconic
scene Sweet Home.
Saya
akui, pengambilan adegannya keren, dan memang sangat dramatis. Dia mati sehabis
confess kalau dia suka sama Ji-Su, kurang dramatis apalagi coba? Belum
lagi, tidak seperti karakter lain yang matinya cepat (pernyataan apa ini?),
adegan kematian Jae-Heon itu, duh, gimana jelasinnya...
Satu tangannya
terpotong sama lawan, tapi dia masih bisa lanjut gelud, sodara-sudara, dan dia
ambil itu pedang dari tangannya yang buntung di lantai, bertarung, lalu giring
monsternya ke lift. Lalu bertarung lagi di lift dengan efek darah terciprat di
mana-mana dan lampu yang mati-hidup-mati-hidup sambal diiringin lagu
Warriors-nya Imagin Dragon.
Masalahnya
adalah : adegan ini agak tidak make sense, sebab yang dilawan Jae-Heon
itu termasuk monster yang tidak sebegitunya berbahaya. Lawannya adalah satpam
apartemen mereka dahulunya. Dan si monster ini tidak punya banyak perbedaan
dari segi fisik, kecuali ia dilalati dan bagian tubuhnya membusuk, senjatanya
hanya mesin pemotong rumput. Logikanya, Jae-Heon telah melawan monster yang
jauh lebih berbahaya dari dia, dan dia baik-baik saja. Harusnya kali ini, dia
juga bisa mengatasinya.
Edit : Jadi waktu saya rewatch beberapa adegan Sweet Home, saya nemu informasi di kolom komentar youtube, yang setelah saya cari-cari detailnya kira-kira begini :
![]() |
| kemampuan monster yang dilawan Jae-Heon |
Pada intinya, monster yang dilawan Jae-Heon itu salah satu monster yang kuat. Si monster ini bisa menyerap berat korbannya, yang membuat dia memiliki masa tubuh sangat berat. Setelah saya ingat-ingat, sepertinya detail ini memang ada di versi webtoon-nya (juga drama?) ketika si monster turun dan orang-orang kebingungan mengira lift-nya penuh sesak dengan orang.Masalahnya, tetap saja penonton yang tidak membaca versi webtoon-nya tidak bakal tahu detail ini, sebab di drama, detail ini tidak begitu dijelaskan (?)
Kedua,
saat si monster satpam turun dari lift ke lantai bawah, Jae-Heon kan ada di
ruang operasinya Ji-Su, begitu juga karakter lain yang juga masih satu area di
lantai bawah, tapi kenapa hanya Jae-Heon yang paling duluan datang hadapin monster
itu? Kenapa karakter lain datang dengan sangat terlambat?
Dan
ini yang paling bikin, duh, apaan, nih bagi saya : Sewaktu karakter lain
sudah datang, mereka cuma lihat aja si Jae-Heon ngelawan monsternya sampai
tangannya putus, lalu tarung lagi, kenapa tidak ada yang bantu, woy? Malah cuma
lihatin saja.
Terus
ada lagi, nih, waktu sudah di lift, Jae-Heon minta dilemparkan api biar mereka
terbakar bersama, dan monsternya nggak hidup lagi, mereka yang jadi penonton
tidak tega dan bergeming. Lalu si Lee-Eun-Hyeok sebagai pemimpin mengambil
tindakan dengan akhirnya melemparkan api.
Begitulah
kisah kematian Jae-Heon yang tidak masuk akal, sodara-sudara. Niatnya mau bikin
jadi dramatis, tapi malah serasa dipaksakan dan dapat kernyitan kening. Oke,
atau cuma saya aja yang begitu?
Protes
saya selanjutnya, ini mirip-mirip sama logika bolong film-film, semacam film
zombie hollywood : kalau zombie-nya nyerang pemeran tidak begitu penting, gercep
banget, dikerubutin, dan mati, deh. Kalau zombie-nya nyerang karakter utama,
zombie nya merhatiin dulu lah, yang nyerang paling hanya satu-dua, berurutan
dan tidak langsing menggigit, akhirnya dapat segera ditumpas.
Ini
juga terjadi pada Sweet Home. Sewaktu karakter kurang penting mau menyelamatkan
anak dari salah satu penghuni, baru beberapa langkah ia keluar dari gedung, dia
langsung mati diserang monster yang ada di situ, begitupula si gadis yang
hendak diselamatkan. Tetapi waktu Sang-Wook yang pergi keluar dan membawa mayat
mereka berdua ke dalam, tidak ada, tuh, yang menyerangnya. Lalu saat Yi-Kyung
berkendara keluar gedung, ia juga baik-baik saja, kembali juga baik-baik saja.
Saya
suka banget semua karakter dan akting masing-masing karakter di sini. Seolah,
semua karakter terlahir untuk memainkan peran di drama tersebut. Baik dari
karakter pendukung hingga jajaran karakter utamanya. Dan barangkali, karakter
adalah kekuatan utama Sweet Home.
Untuk
drama 10 episode yang masing-masing episodenya tidak mencapai satu jam, Sweet
Home menyajikan back story dan character development yang solid,
khususnya, bagi beberapa karakter.
Memang
tidak mengherankan, karena saya rasa, Sweet Home season satu lebih banyak fokus
pada karakter. Katakanlah, satu episodenya, 80% porsinya untuk karakter, dan
20% sisanya barulah aksi para tokoh melawan monster. Sejujurnya, di beberapa
episode, banyaknya filler untuk pengembangan karakter tokoh ini membuat
dramanya agak menjemukan. Saya seperti menunggu-nunggu, duh, kapan, sih,
adegan aksinya? Masih lama, nih?
Tetapi,
ya, tidak sampai membuat saya berhenti nonton, yang artinya, masih bisa
dimaklumi. Hanya saja, saya agak berharap, porsinya menjadi setara di season
dua (sekali lagi, jika memang ada season dua-nya), atau minimal 60% dan
40% lah.
Itulah
kira-kira, kesan saya menonton Sweet Home. Di luar segala kekurangannya, Sweet
Home termasuk drama yang akan saya rekomendasikan untuk ditonton. Dan apabila ada season duanya, yang saya harap akan ada, karena Sweet Home memang menyisakan banyak sekali misteri yang belum terungkap, saya bakal nonton.
Bonus :
![]() |
| Eyeball Monster |
![]() |
| What a great lie you told us |












0 komentar