[Review Drakor] Live On (2020)

Maret 05, 2021

Poster drama Live On
 

Profil Drama Live On

Judul Drama : Live On
Genre : Drama, School-Life
Jumlah Episode : 8 (November 2020 - Januari 2021)
Penulis Naskah : Bang Yoo-Jung
Sutradara : Kim Sang-Woo

Jadi, sembari menunggu episode lain Penthouses, saya teringat salah satu drama di watch list saya, yaitu Live On. Ceritanya saya sama teman saya bertukar drama, saya rekomendasikan dia Love Alarm dan dia rekomendasikan saya Live On karena masih sama-sama ada school vibes-nya. Akhirnya setelah saya kepoin dan ternyata cuma 8 episode, lalu baca-baca review dan nonton trailernya—iya, saya selalu ribet gitu kalau mau nonton drama—akhirnya saya memutuskan untuk menonton drama ini.

Live On bercerita soal Baek Ho-Rang, siswi dengan 170.000 pengikut di sosial media (di Korea sana pengikut segini itu termasuk banyak, mungkin setara kayak selebgram dengan rentang followers 3-5 juta kalau di Indo kali, yak) yang terkenal berperangai angkuh dan sombong. Kehidupan Baek Ho-Rang terganggu ketika seseorang mengirim cerita anonim soal rahasianya yang dibacakan di klub penyiaran sekolah. Ia juga terus diancam bahwa rahasianya akan dibongkar.

Untuk mengetahui dalang dibalik cerita anonim itu, ia bertekad memasuki klub penyiaran. Di sana, ia bertemu Ko Eun-Taek, ketua tim penyiaran yang terkenal tegas dan tepat waktu. Setelah masuk klub tersebut, Baek Ho-Rang mulai mencoba berteman dan membuka diri. Dan bersama Ko Eun-Taek mereka menyembuhkan luka satu sama lain.

Jadi, ini adalah drama yang sangat underrated. Kabarnya, Live On adalah drama dengan rating terendah sepanjang penayangan JTBC. Saking tidak terkenalnya, waktu saya cari FMV mereka di youtube, adanya hanya beberapa dan isi kolom komentarnya bisa dihitung jari. Tapi, apakah dramanya memang tidak semenarik itu sampai tidak banyak yang nonton?

 


Kesan Pertama menonton Live On, ketika saya masih satu dua episode: ini drama yang bagus tapi tidak untuk semua orang.

Kok gitu? Soalnya, Live On tidak memiliki sesuatu yang "ekstra" atau sesuatu yang digandrungi penonton dewasa ini: second lead character yang membuat penonton bersimpati, konflik penuh plot twist, hal-hal baru, etc. Atau kisah cinta klise yang dibalut hal-hal tidak biasa: alarm yang bisa memberi tahumu kau menyukai siapa, atau karakter-karakter yang menyadari mereka sebenarnya hanyalah tokoh dalam sebuah komik. Hal-hal semacam itu.

Sebagai contoh lain, Start-Up. Apakah Start-Up terkenal hanya karena plotnya mengangkat hal kekinian, pembangunan sebuah Start-Up itu sendiri? Oh tidak Ferguso, Start Up lebih terkenal karena kubu-kubuan yang terbentuk. Tim Nam Do-San atau Han Ji-Pyeong. Begitu juga True Beauty, Tim Su Ho atau Seo Jun. Dan nantinya juga Love Alarm season dua.

Nah, Live On tidak punya itu: second lead character, baik second male maupun second female lead yang ditakdirkan untuk menjadi sad boy ataupun sad girl. I think that's good tho. No need to add unnecessary love triangle. Sayangnya, kayaknya tidak semua orang sependapat sama saya.

Selain itu, konflik Live On itu ringan, cepat selesai, dan, yah, tidak banyak tambahan plot ekstra, dll. Konfliknya ya diselesaikan secara cepat dan sesuai sebagaimana anak sekolahan bertindak, dan memang dramanya sebagian besar terjadi di sekolah. Yang selanjutnya bikin saya berpikir: drama ini mungkin tidak bakal relate dengan penonton dewasa ke atas yang rata-rata tontonannya kayak Penthouses, Sky Castle, Mr. Queen gitu. Karena saya rasa Live On bakal dipandang terlalu ... childish kisahnya, untuk orang dewasa ke atas? Hmm. Drama ini juga mungkin bakal membosankan untuk orang yang mendamba konflik penuh intrik.

Ya, intinya, seperti yang saya bilang sih, drama ini tidak untuk semua orang. Tapi drama ini akan sangat cocok untuk kamu yang merindukan masa-masa sekolah, dan kepingin tontonan yang school vibes-nya kental banget. Juga untuk kamu yang suka tema ringan dan sudah lelah kena second lead syndrome. Macam saya gini wkwk. Dan terlepas dari target penonton drama ini, Live On is a really good school drama, and here is why :

 

  1. Cerita berfokus pada satu tokoh, secara keseluruhan, dan menyoroti kehidupan tokoh lain secara wajar.

Kayaknya saya pernah bilang di review lain kalau saya lebih menyukai drama dengan fokus tetap pada satu dua karakter. Karakter lain ada dan menjadi sub plot, tetapi berguna untuk menyokong plot utama. Nah, Live On sangat cocok dengan ini.

Ceritanya berfokus pada Baek Ho-Rang sebagai main female lead, lalu Ko Eun-Taek sebagai main male lead. Dan secara umum, menyoroti kehidupan empat siswa lain dengan porsi wajar : Doo Woo Jae (teman Eun Taek), Lee Jae Yi (pacar Woo-Jae dan dalam perkembangannya berteman dengan Ho-Rang), Kim Yu Shin (teman Ho-Rang), dan Ji So Hyun (mantan teman Ho-Rang).


Teman-teman Baek Ho-Rang

Keenamnya secara kolektif membuat dramanya solid. Dan secara bersama, membentuk tiga couple, tanpa orang ketiga.


  1. No unnecessary love triangle

Karena drakor itu hampir tidak bisa dipisahkan dari second lead syndrome, di setiap perkenalan tokoh lain tuh saya kayak, wah, kayaknya ini suka sama ini dan bakal jadi orang ketiga. Saya kira awalnya Ji So-Hyun bakal suka sama Ko Eun-Taek gitu. Ternyata saya salah besar.

Drama ini tidak punya second lead dan, it's a bit refreshing, actually? Di tengah drama lain yang harus banget ada second lead dan bikin kesal karena nggak pernah berakhir sama main (female) lead lirik Start Up, True Beauty, Extraordinary You sejujurnya drama ini kayak angin segar.

 

  1. Anak sekolah dengan perilaku sesuai usia

Sejujurnya, saya agak lelah sama drama tema sekolahan yang perilaku anak sekolahnya tidak seperti anak sekolah. Entah mereka punya masalah hidup yang terlalu rumit, terlalu tersakiti, atau memang penggambaran perilakunya tidak sesuai dengan anak sekolahan.

Di Live On, pemerannya bertindak dan berperilaku sesuai anak sekolah. Cara mereka meng-handle masalah, menyelesaikannya, hingga konflik percintaan mereka, berada pada porsi yang wajar.

Peran orang tua dalam drama ini hampir ... tidak ada. Baik orangtua Ho-Rang maupun Eun-Taek hanya terlihat dan dibahas sambil lalu (not in a bad way).

 

  1. Konflik percintaan yang wajar, minim adegan ciuman

No kissing scene between the two main lead. Iya, kamu tidak salah baca. Tidak ada scene kisseu antara Ho-Rang dan Eun-Taek. Karena kayak jarang banget drama tanpa kissing scene antara main lead saya tuh kayak: kapan nih kisseu-nya?

Tapi sampai episode akhir memang tidak ada. Paling banter mereka cuma pelukan. Tapi, tanpa itu pun, mereka sweet banget, gengs. Saya mengapresiasi sekali lho! Satu satunya kissing scene dalam drama ini malah terjadi antara duo second lead.

Hal lain yang mau saya apresiasi adalah : karakter Ko Eun-Taek sebagai main male lead. Jadi, kita terbiasa melihat main male lead sebagai hero untuk si cewek. Pasang punggung kapanpun untuk si cewek (kalau tidak keduluan second lead), dan entah gimana caranya tiba-tiba di situ saat si cewek butuh. Atau, ngerti kan, intinya menemani di samping si cewek di saat saat terburuk, sampai bikin kita bertanya-tanya adakah cowok macam itu di dunia nyata? Halah

Nah, Ko Eun-Taek tidak begitu, sodara sudara. Dia memang ada saat Ho-Rang butuh, tapi porsinya wajar. Tidak yang selalu menemani Ho-Rang. Saya waktu nonton tuh sampai: kok lu nggak ngejar Ho-Rang waktu dia habis kayak gitu, sih?

Eun-Taek justru menunggu. Menunggu Ho-Rang siap menceritakan kebenarannya. Menunggu Ho-Rang terbuka sembari menghiburnya. Bagi saya, ini yang seringnya dilupakan kdrama dengan tema percintaan anak sekolah. Sebuah hubungan yang sehat dan setidaknya agak realistis, lah.

Ps : saya sempat merasa hubungan second lead drama ini (Do Woo Jae - Lee Jae-Yi) toxic, tapi di beberapa episode terakhir hubungan mereka berkembang jadi lebih sehat, they learned from their past mistakes, and it's such a relief.

Overall, saya tidak punya protes besar untuk drama ini kecuali bahwa terkadang saya merasa sebenarnya rahasia Ho-Rang itu terlalu ... kecil(?) hmm, bukan, terlalu dibesarkan untuk menjadi plot utama. Walau di sisi lain, it's understandable and I can relate. Lalu peran guru di sekolah mereka kayak, tidak begitu berguna? Hahah.

Protes terbesar saya mungkin adalah : APA-APAAN TATANAN RAMBUT MEREKA SELALU SE-FLAWLESS ITU PADAHAL HABIS BANGUN TIDUR, LARI-LARIAN DLL? Asli deh, waktu saya nonton Live On satu-satunya protes terbesar di benak saya adalah masa rambutnya kinyis-kinyis, kayak habis ke salon, tatanannya rapi bener walaupun habis bangun tidur, tidak peduli cuaca panas keringetan.

Secara keseluruhan, bagi saya Live On adalah drama remaja yang sangat layak ditonton dan beberapa aspeknya seharusnya juga ditiru k-drama dengan tema serupa.

Baek Ho-Rang dan Ko Eun-Taek

9 dari 10 untuk rambutnya Baek Ho-Rang dan Ko Eun-Taek yang nggak pernah kusut!

 

 

You Might Also Like

0 komentar