[Review Novel] Resign! (2018)
Maret 20, 2021Genre : Metropop, Romance
Penulis: Almira Bastari
Editor: Claudia Von Nasution
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Kompetisi sengit terjadi di sebuah kantor konsultan di Jakarta. Pesertanya adalah para cungpret, alias kacung kampret. Yang mereka incar bukanlah penghargaan pegawai terbaik, jabatan tertinggi, atau bonus terbesar,melainkan memenangkan taruhan untuk segera resign!Cungpret #1: AlranitaPegawai termuda yang tertekan akibat perlakuan semena-mena sang bos.Cungpret #2: CarloPegawai yang baru menikah dan ingin mencari pekerjaan dengan penghasilan lebih tinggi.Cungpret #3: KareninaPegawai senior yang selalu dianggap tidak becus tapi terus-menerus dijejali proyek baru.Cungpret #4: AndrePegawai senior kesayangan sang bos yang berniat resign demi menikmati kehidupan keluarga yang lebih normal dan seimbang.Sang Bos: TigranPemimpin genius, misterius, dan arogan, tapi dipercaya untuk memimpin timnya sendiri pada usia yang masih cukup muda.Resign sebenarnya tidak sulit dilakukan. Namun kalau kamu memiliki bos yang punya radar sangat kuat seperti Tigran, semua usahamu akan terbaca olehnya. Pertanyaannya, siapakah yang akan memenangkan taruhan?
Seperti blurb-nya, Resign bercerita soal sekelompok orang yang menamai diri mereka The Cungprets alias Kacung Kampret si bos, yang berkompetisi untuk cepat-cepat Resign dari kantor mereka saat ini. Alasannya adalah bos mereka, yang perfeksionis, suka semprot dan lempar dokumen saat marah, juga antikritik.
Setelah saya baca novelnya, kesan saya adalah : menghibur dan super ngocol!
Diceritakan dalam sudut pandang orang pertama, Alranita, Resign sungguh jadi bacaan yang cocok untuk stress-relief sehabis kerja atau lagi pusing sama masalah akademik. Ceritanya ringan dan ngalir, enak diikuti.
Jujur saja, sebelum baca Resign, setelah sekian purnama saya nggak pernah lagi baca novel, saya sudah coba baca novel lain, tapi, ya, gitu, kayaknya kurang cocok atau bagi saya eksekusinya kurang menarik (dan gaya bahasanya bukan tipe bacaan saya), jadinya saya bacanya lama banget. Kurang semangat, gitu. Tapi baca Resign! ini saya cuma butuh waktu 2,5 hari. Ya, lumayan cepatlah mengingat saya sudah lama (banget) nggak baca novel lagi.
Resign punya premis sederhana yang dieksekusi dengan baik. Salut, deh, sama penulisnya! Dan kayaknya, seperti review lainnya soal novel ini, daya jual terbesar novel ini tuh humornya. Saya ngakak-ngakak sendiri atau minimal ketawa tanpa suara, lah.
Celetukan-celetukannya geng The Cungpret ini tuh memang ngocol
abis. Poin plusnya lagi, jokes mereka nggak vulgar dan nggak ada
umpatan. Iya, ada, sih, tapi cuma satu kali.
Dialognya terasa menyegarkan dan realistis. Mungkin mbak dan mas yang kerja dalam tekanan seperti The Cungpret ini bakal sangat relate dengan keluhan-keluhan mereka. Selain itu saya juga suka banget sama para karakternya dan chemistry yang terbangun antara mereka.
Dan setelah saya rampungin baca Resign, saya rasa harus mengapresiasi eksekusinya dan bagaimana cerita sesuai dengan blurb, sih. Awalnya saya mengira Resign tuh ya sebatas hubungan romantis bos sama bawahan seperti rom-com lainnya yang dibumbui plot taruhan resign ini. Walau memang iya, Resign juga mengambil tema itu, tetapi ternyata Resign mengikat cerita tetap sesuai dengan judulnya, romansa yang ada antara bos mereka, Tigran, dan Alranita tidak menjadi nafas utama dalam cerita. I really appreciate that!
Romansa kedua karakter utama, hmm, how should I put it into words? Saya menikmati, sih, pembangunan hubungan antara mereka berdua. Nggak seperti novel romansa yang pernah saya baca, yang kelihatannya sangat diniatkan jadi romantis dan malah jatuhnya berlebihan, romansa Tigran-Alranita tidak begitu. Mereka terlihat lebih realistis. Pertemuan mereka ya saat di kantor dan event kantor, tidak yang tiba-tiba kebetulan bertemu di tempat-tempat yang kelihatan dipaksakan. Tidak ada bumbu drama orang tua mereka dsb, juga tidak ada orang ketiga. Wah, tipe cerita yang saya suka. Hubungan mereka kelihatan lebih dewasa? Mungkin, itu penggambaran yang lebih tepat.
Kalau saya punya protes, itu mungkin soal karakter Tigran. Sebenarnya, bukan karakternya, tapi lebih kepada tindakan-tindakannya yang saya pikir kalau ada di dunia nyata, tuh, creepy dan nyebelin banget.
Tigran tahu Alranita sedang dan akan interview di perusahaan mana. Seriously? Tigran mengikuti Alranita, salah satu bawahannya, ke Langkawi, Malaysia dalam rangka cuti liburan. Cuti, hei! Ia juga memesan segala paket tour yang sama dengan Alranita.
Dan menurut cerita ini, semua itu normal—atau setidaknya, biasa saja. Soalnya tidak ada adegan Alranita marah sama Tigran setelah tahu atau semacamnya. Alranita hanya terkaget-kaget.
Hmm. Saya rasa sih hal seperti ini seharusnya nggak diromantisasi, ya. Hal-hal tersebut bagi saya justru menginvasi privasi, creepy, dan perilaku obsesif. Sayang sekali!
But, overall saya sangat menikmati novel ini.
4,25 dari 5 bintang!


0 komentar