Goodbye, 2021

Desember 30, 2021



2021 hanya tinggal sekedipan mata. Rasanya kayak baru aja kemarin Januari, tutup mata, dan dengan ajaib kalender sudah keburu pindah ke Desember. Setidaknya, bagi saya 2021 berlalu dengan begitu cepat dan ... nggak begitu memorable.

Saya bahkan kesulitan menuliskan apa-apa saja hal-hal penting yang terjadi di 2021, bukan saking banyaknya, tapi karena nggak ada banyak untuk dituliskan. 2021 mengalir begitu saja. Enggak ada pencapaian berarti. Enggak ada kemajuan pasti. Tapi katanya, berhasil survive di tahun ini saja sudah pencapaian. Jadi, kayaknya itulah satu pencapaian besar saya: survive dan masih tetap waras.

Di 2021, kalau ada hal besar yang bisa dituliskan adalah:

  1. Saya ganti kerjaan.
Dari tukang fotokopi jadi karyawan pabrikan yang enggak jelas statusnya mau dikontrak atau training terus berbulan-bulan. Iya, menjelang akhir tahun saya malah resign. Tepatnya bulan Oktober, karena suatu hal tidak mengenakkan yang terjadi di pekerjaan sebelumnya.

Dari berganti kerja ini, lamar sana-sini, sampai menjalani pekerjaan saat ini, ada satu hal yang bisa saya pelajari. Waktu belum resign, saya percaya bahwa saya akan bahagia setelahnya. Setelah resign, saya justru was-was soal bagaimana jadinya kalau saya lama menganggur. Ketika saya sedang masa cari-cari pekerjaan, saya bilang ke diri sendiri, bahwa saya akan bahagia setelah nanti dapat kerjaan. Bahwa saya bisa bahagia, nanti, jika tujuan itu sudah tercapai. Seolah kebahagiaan itu bakal otomatis saya dapatkan.

Hampir dua minggu saya diam, uring-uringan cari kerja, sembari menjauh sejenak dari orang-orang terdekat dan teman takut ditanyai gimana progress cari kerjaannya. Bisa libur paling enggak seminggu sekali dan gaji UMR waktu itu bagai cita-cita bagi saya. Remeh banget, kan? Ya maklum lah, kerja di toko memang nggak kenal libur dan gaji jelas di bawah UMR. Sekarang, saat saya sudah dapat kerjaan, libur dua hari dalam seminggu, ternyata, saya nggak kunjung bahagia juga. Kebahagiaan yang saya nanti ternyata enggak datang.

Saya justru riweh dengan segala permasalahan pekerjaan ini. Dengan pekerjaan yang enggak sesuai ekspektasi, dimarah-marahi karena hasil tidak sesuai target, dengan pikiran-pikiran untuk resign atau menetap, dengan ketidaktentuan kontrak kerja. Kebahagiaan yang saya cari ternyata nggak berasa, malah digantikan segudang masalah lainnya.

Mungkin saat itu saya baru beneran sadar, kalau kebahagiaan memang nggak bisa ditunggu. Rasa bahagia bukan sesuatu yang otomatis di dapatkan. Barangkali memang harus diciptakan. Kayaknya saya nggak perlu menahan diri untuk merasa bahagia sebelum tujuan apapun yang saya kehendaki tercapai, karena toh, saat tujuan tersebut tercapai, kadangkala saya tidak serta-merta bahagia.

Mungkin saya bisa bahagia kapan saja. Dengan hal-hal kecil yang ada, dari celetukan receh teman atau kelakuan nyeleneh anggota keluarga.

  1. Hobi nulis saya kayaknya ada progress-nya

Tahun ini, saya mencoba menulis di KBM, salah satu platform dengan sistem yang membayar kita kalau pembaca membuka bab yang dikunci. Karena KBM pada mulanya berasal dari komunitas baca tulis di grup facebook yang anggotanya didominasi ibu-ibu, maka, ya... dapat dimengerti memang kalau cerita populer di platform tersebut juga terbatas. Romansa soal kehidupan rumah tangga lebih digemari. Apalagi jika ada bumbu perselingkuhan, pelakor, adegan ranjang, dan deskripsi sensual asal tak menyalahi aturan. Meski enggak semuanya, tapi utamanya memang romance. Kalau enggak, variannya ya romance religi. Itu benar-benar di luar apa yang biasa saya tulis.

Banting genre banget dari saya yang biasa nulis fantasi atau teen fiction dengan tokoh-tokoh remaja. Tapi hitung-hitung, nggak masalah untuk pengalaman.

Saya sudah menamatkan satu cerita di sana, dan menerbitkan satu cerita lain yang sayangnya enggak ada yang baca bab berbayarnya.

Perolehan kbm


Itu adalah perolehan uang saya dari cerita yang saya tulis. Iya, recehan, sudah gitu ngumpulinnya tiga bulan lagi. Tapi, yah, syukuri saja. Hitung-hitung belajar. 

Selain itu, saya ikut sebuah lomba tulis cerpen (yang kompilasi cerpen terpilihnya akan dibukukan) untuk pertama kalinya. Memang enggak menang sih, tapi untuk kali pertama, nggak buruk juga. Saya juara empat.



Di tahun ini saya sadar, saya jadi sedikit lebih terbiasa dengan menulis. Saya yang dulu ngumpulin niatnya bisa satu-dua hari, yang berujung enggak nulis-nulis juga, sekarang sudah lumayan bisa lah, untuk menargetkan nulis seenggaknya dua sesi teknik pomodoro (25 menit dengan istirahat 5 menit) dan bisa dapat sampai seribu kata lebih seharinya. Kedengarannya kecil sekali, tapi ini pencapaian buat saya! Dulu, saya susah banget nulis, ide ada tapi susah mulainya. Mungkin memang bener peribahasa kuno itu: practices makes perfect

Mungkin kalau ada hal penting yang benar-benar saya ingat di 2021, ya dua pencapaian itu paling enggak. 

Dari kedua hal di atas, saya kesulitan mengingat-ingat lagi apa kiranya yang cukup memorable untuk dituliskan. 

Tahun lalu, resolusi saya enggak tercapai (ngisi blog ini rutin paling enggak dua artikel per bulan). Dan tahun ini, saya dengan enggak tahu malunya bikin lagi, haha! Tapi resolusi tahun ini lebih kepada urusan finansial. 

Saya kepingin, sih, serealistis mungkin bikin resolusinya biar tercapai gitu. Tapi gimana ya, kadang tuh suka saja berandai-andai, ngehaluin yang sulit tercapainya.

Tahun ini, saya punya tiga resolusi :
  1. Dana darurat terkumpul (ini realistis sih, mengingat pengeluaran saya juga enggak sebanyak itu, jadi enam kali pengeluaran bulanan karena saya jomblo single, sampai Desember tahun berikutnya, mungkin saat saya review tahun 2022, yang ini sudah tercapai. Semoga. Dan mudah-mudahan saja saya punya cukup dana untuk ditabung setelah dana darurat terpenuhi.)
  2. Beli laptop. Nah yang ini, saya enggak tahu pasti. Meskipun saya butuh dan udah lama ingin. Memang laptop enggak semahal itu untuk sebagian orang, tapi kalau gajimu terus-terusan di bawah UMR untuk jangka waktu lama, ya susah bok, ngumpulin uangnya.
  3.  Bangun dua atau lebih income. Tahun ini mungkin tahun yang buka mata saya, kalau kita memang seharusnya nggak hanya punya satu macam income (sumber pemasukan) saja. Seenggaknya harus punya minimal dua, untuk menambah keran pemasukan dan jaga-jaga kalau tiba-tiba ada masalah dengan pekerjaan utama, di-PHK, atau kemungkinan-kemungkinan terburuk lainnya. Dan selama ini (sampai saya ganti pekerjaan sekalipun) satu income yang saya punya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan saja. Keinginan pun seringkali ditahan demi bisa menyisakan cukup uang untuk bisa ditabung. Jadi, tanpa sumber pemasukan lain memang susah untuk menabung, apalagi untuk berinvestasi. Karena saya bisanya cuma nulis, saya kepingin bangun income dari pekerjaan sebagai freelance writer. Sedang saya usahakan, tercapai enggaknya, itu yang bikin saya ketar-ketir. Rasanya, kadang kepercayaan diri saya melambung tinggi, semacam: wah, kayaknya emang saya lumayan ada bakat, nih, di nulis! Namun kadang, ada saat-saat di mana saya sama sekali nggak percaya diri, insecure, dan sebagainya selama saya berusaha jadi penulis nggak kunjung menghasilkan. Hari-hari terakhir ini, saya lagi berjuang dengan pemikiran-pemikiran dan insekuritas itu.

Kira-kira, itulah resolusi saya. Enggak banyak-banyak, tapi akan saya usahakan. Dan hm... kayaknya saya harus lebih sering isi blog ini, tapi saya takut bikin resolusi soal blog ini lagi. Dan harusnya saya punya tulisan untuk setiap tahun baru. Agar bisa dibandingkan kemajuannya dengan tahun sebelumnya.

Barangkali di penghujung 2022, saya akan menulis lagi soal bagaimana satu tahun lagi telah berlalu dan apakah semua resolusi saya tercapai. 2021 memang bukanlah tahun saya, tapi bukan berarti setahun ini nggak berarti. Jadi, selamat tinggal 2021.


You Might Also Like

0 komentar