[Review Novel] Love, Curse & Hocus Pocus (2008)
Oktober 21, 2021Genre: Romance, Metropop, Fantasi
Penulis: Karla M. Nashar
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
And what would you do, if I told you I have no intention to kiss you?”
“Kurasa... aku akan membuatmu mengubah keputusanmu itu.”
Ketika Troy Mardian dan Gadis Parasayu yang saling membenci harus terbangun dalam keadaan bugil dengan memori kabur akan pernikahan mereka, reaksi pertama mereka adalah berteriak histeris. Mereka curiga jika semua keanehan itu berkaitan dengan wanita gipsi tua yang mereka tertawai pada acara ulang tahun kantor mereka.
Untunglah mimpi dan realita yang tumpang tindih mempermainkan akal sehat mereka itu segera berakhir, dan membawa mereka kembali ke dunia nyata. Kali ini Troy dan Gadis yakin semua keanehan yang mereka alami itu telah berakhir. Setidaknya demikian, hingga tugas kantor membawa mereka ke negara para Duke dan Duchess, Inggris.
Dalam penerbangan yang melewati turbulensi ekstrem dan nyaris merenggut nyawa, keduanya dipaksa berpikir ulang tentang perasaan masing-masing.
Meskipun mereka saling membenci sejak pandangan pertama, mungkinkah berbagai peristiwa aneh tersebut justru mengubah rasa tidak suka mereka menjadi cinta?
Dan ketika Troy dan Gadis mengira hidup mereka sudah mencapai puncak kebahagiaan tertinggi, nun jauh di sana, sayup-sayup suara gemerencing lonceng perak kecil milik si gipsi misterius kembali membelah pekatnya malam...
Lalu apa kira-kira yang akan terjadi pada Troy dan Gadis kali ini?
Cring... cring... cring... Beware!
-----
Love, Curse, and Hocus Pocus bercerita
soal Gadis dan Troy, yang memiliki kepribadian begitu bertolak belakang. Gadis
cinta produk lokal,
dan sebisa mungkin berpenampilan serta berdandan sebagaimana wanita Indonesia. Sedangkan Troy yang besar
di Amerika lebih suka menggunakan Bahasa
Inggris dalam percakapan
sehari-hari, dan sebisa mungkin menggunakan produk keluaran merk ternama dari
perusahaan asing. Kalau kata Gadis, sih, bule wannabe. Pada intinya,
mereka sudah membenci satu sama lain sejak kali pertama bertemu.
Love-hate relationship
trope. Bedanya, dengan sedikit sentuhan fantasi.
Suatu hari Gadis dan Troy bangun dalam keadaan telanjang dan mendapati diri
mereka telah menikah, berbahagia, dan saling mencintai dalam pernikahan itu,
kemudian mendapati semuanya hanyalah mimpi, dan kembali pada realita di mana
mereka saling membenci. Hal itu terjadi karena mereka menertawakan pertunjukan
acara seorang gipsi tua.
Mimpi aneh itu terjadi lagi ketika gadis dan Troy berada dalam perjalanan pesawat ke London untuk acara kantor mereka, yang juga kota tempat si gipsi tua berada. Di sana, berbagai kejadian aneh terus mereka alami. Membuat mereka mempertanyakan perasaan mereka. untuk mendapat jawaban dari keanehan yang mereka lalui, mereka mencari tempat tinggal si gipsi di London, dan berniat menemuinya. Benarkah mereka saling mencintai? Atau realita yang benar adalah mereka saling membenci?
Dari premisnya, cerita ini menarik,
terutama bagi saya yang menyukai kisah-kisah berbumbu fantasi. Pada beberapa
bab awal, saya suka interaksi dan perdebatan kedua karakter. Bagaimana mereka
saling mengejek dan menjatuhkan. Hanya saja, saya memiliki ekpektasi berbeda
untuk bagaimana cerita ini akan disampaikan. Saya kira, akan ada scene di mana
Gadis dan Troy pertama kali terbangun dan mendapati mereka telah menikah,
tetapi ternyata cerita bergulir setelahnya. Setelah gadis dan Troy terbangun
dalam keadaan bingung dari mimpi aneh itu.
Hingga pertengahan, saya masih
menikmati cerita ini, tetapi lama-kelamaan, karakter laki-laki di cerita ini
membuat saya gedeg sendiri. Terkadang childish dan tindakannya
bikin kita mengerutkan dahi, dan kayak, “apa, sih?” kemudian digambarkan
sebagai sosok pengertian dan dapat diandalkan oleh Gadis.
Troy juga terlampau annoying
(setidaknya menurut
saya) untuk dapat dicintai sebagai karakter. Terutama pada saat ia berlaku
kasar dengan menarik dan memepetkan Gadis ke dinding dan mengatainya yang
tidak-tidak karena sebuah kesalahpahaman. Kekasaran seperti ini seolah
diwajarkan, dengan tindakan Troy berikutnya yang meminta maaf dengan membelikan
coklat. Yah, meski tidak separah novel yang meromantisasi kekerasan seperti
itu.
Lalu bagaimana Troy berencana menjebak
Putra (second lead), dan menjalankan rencana lainnya untuk memisahkan
Putra dan Gadis.
Intinya saya nggak ngerti kenapa si
karakter cewek berakhir memaafkan begitu saja dan malah jatuh cinta padanya.
Kasihan juga dengan para karakter
pendukung, yang dibikin seolah tempelan saja. Tidak punya peran khusus kecuali
jadi batu sandungan untuk protagonisnya dan menguatkan premis bahwa, oh, mereka
saling mencintai.
Karakter pendukungnya juga menggunakan pakem klise: second lead pria baik hati seperti malaikat, berbesar hati, the literal definition
of good boy. Lalu second lead ceweknya yang jahat, sukanya ikut
campur, dan annoying.
Setelah saya piker-pikir, saya beneran
nggak suka romance-nya, hehe. Bahkan bagian yang harusnya menyentuh hati dari
akhir kisah mereka, kepingin saya skip, karena saya agak cringe aja, sih. ((Lah
gimana? Tapi ini kan novel romance. Ya maap))
Sejujurnya, beberapa bab terakhir saya
mulai kehilangan antusiasme untuk membaca, dan hampir berniat untuk sudah saja,
tetapi sayang saya sudah hampir di akhir halaman. Dan terlepas dari
ketidaksukaan saya pada karakter utama dan lika-liku kisah cinta mereka, saya
mengapresiasi penulis yang benar-benar menggambarkan jalanan London secara
mendetail (ya meski saya juga nggak pernah ke sana), pemaparannya seolah saya
tuh, lagi diajak tour gide gitu menyusuri kota London. Lalu soal gipsi dan tetek
bengeknya juga dijelaskan secara simple tapi padat. Kebayang risetnya mendalam.
Secara keseluruhan, Love, Curse, and
Hocus Pocus sama sekali bukanlah novel yang buruk, meski tidak bisa juga
dibilang novel yang akan saya rekomendasikan kepada orang-orang.
3 dari 5 bintang untuk novel ini!
EDIT
EDIT
EDIT!!!!
Aduh, bodohnya saya yang mengira novel ini hanyalah satu buku dan bukannya dwilogi. Ya ampun! Setelah saya baca-baca review lain, ternyata novel yang saya baca ini adalah buku keduanya!
Jadi, saya baca akhir cerita tanpa tahu awalnya (ya meski disinggung sekilas bagaimana cerita awalnya terjadi), pantas saya merasa ada bagian yang hilang atau ada bagian yang harusnya diceritakan tapi tidak. Ya karena sudah ditulis dalam novel pertamanya. Alamak!
Jadi rate dari review saya kali ini bisa dibilang tidak valid. But, will I read the first book then? Uhm... not? Karena saya sudah cukup tahu bagaimana cerita ini berawal kemudian berakhir, dan meskipun salah satu review yang saya baca menyebutkan bahwa buku satu lebih bagus dari buku keduanya, tapi kayaknya nggak, deh, karena saya kurang suka karakternya Troy.
Akhir kata, maafkanlah kebodohan saya ini T.T



0 komentar