[Review Novel] Cantik Itu Luka (2002)

Oktober 14, 2021


Judul : Cantik Itu Luka
Penulis : Eka Kurniawan
Penerbit : Gramedia pustaka Utama
Blurb :

Di akhir masa kolonial, seorang perempuan dipaksa menjadi pelacur. Kehidupan itu terus dijalaninya hingga ia memiliki tiga anak gadis yang kesemuanya cantik. Ketika mengandung anaknya yang keempat, ia berharap anak itu akan lahir buruk rupa. Itulah yang terjadi, meskipun secara ironik ia memberinya nama si Cantik.

Cantik Itu Luka adalah buku pertama yang dapat benar-benar saya selesaikan setelah reading slump berkepanjangan. Tidak terhitung berapa buku baik fiksi dan non-fiksi yang hanya berhasil saya baca bab satunya saja, dan paling mentok hingga pertengahan sebelum kemudian membaca buku lain lagi hanya untuk diperlakukan dengan sama. Kalau ada alasan mengapa saya dapat menyelesaikan buku ini, itu mungkin karena dua hal: sebab saya lebih menyempatkan waktu untuk membaca, dan karena isi dari buku ini sendiri.

Sore hari diakhir pekan bulan Maret, Dewi Ayu bangkit dari kuburannya setelah dua puluh satu tahun kematian.
 
Itu adalah kalimat pembuka novel ini. Jadi, siapa yang tidak tertarik dan mau tidak mau melanjutkan untuk membaca? Lebih-lebih lagi, gaya bahasanya! Saya suka sekali! Saya memang tipe yang betah membaca novel dengan gaya bahasa yang memikat, saya picky soal gaya bahasa, dan lebih peduli pada bagaimana novel itu ditulis, daripada soal karakternya yang begini dan begitu, worldbuilding-nya yang mantap, atau premisnya beda sendiri. Kalau saya tidak menikmati gaya bahasanya, buat apa semua itu? Cantik Itu Luka memberi apa yang saya mau.
 
Novelnya sendiri ada dalam payung genre realis, yang membaurkan hayalan dan mimpi dengan kejadian sebenarnya. Berlatar tempat di Halimunda (setelah saya googling ternyata hanyalah kota fiksi, bodohnya saya, saking melekatnya Halimunda dengan cerita ini saya pikir kota itu bisa jadi ada dan nyata), dengan latar waktu selama pendudukan Belanda hingga dijajah Jepang dan kemudian merdeka sampai era Orde Baru berakhir.
 
Diawali dari Dewi Ayu mulai dari masa kecilnya hingga menjadi pelacur, lalu mulai menceritakan beberapa tokoh, yang kemudian akan menikah dengan anak-anaknya, menceritakan anaknya, hingga cucu-cucunya.
 
Saya awalnya bingung dengan cerita yang memperkenalkan tokoh A, kemudian mulai membahas masa lalunya dan tindakan-tindakannya, lalu tokoh B dan asal-usulnya, tetapi kemudian ternyata tokoh-tokoh tersebut penting dan berhubungan satu sama lain.
 
Sebelum membaca cerita ini, saya tidak berpikiran bahwa bahasanya akan sevulgar itu. Atau memang saya saja yang baru pernah benar-benar baca novel begini. Bahasa-bahasa kasarnya tidak difilter: berahi, perkosa, ngaceng, buah dada, entot, mengentot, (saya lumayan terganggu dengan yang satu ini, karena, ini biasa dipakai oleh warga Facebook atau Twitter yang sukanya ad hominem kalau dikritik, dan ini kasar sekali kan?), dan lain-lain.
 
Terdapat beberapa adegan perkosaan yang dijelaskan secara (lumayan?) eksplisit. Saya sampai harus skip salah satu adegan di mana, jika tidak salah, adalah adegan ketika Alamanda diperkosa oleh Shodanco.
 
Tetapi di luar itu, saya menyukai banyak hal dari novel ini. Termasuk karakter-karakternya. Ya, tidak benar-benar menyukainya, sih, lebih tepatnya menyukai kesedengannya. Kalau pertama membacanya, karakter-karakter dalam buku ini sedikit (jika bisa dibilang sedikit) tidak waras. Mereka sedeng. Gadis yang mau mengawini lelaki tua seumuran kakeknya, kepingin cepat mati, laki-laki yang bersetubuh dengan ibu dari anak yang dicintainya, ibu yang menyuruh putrinya menikah dengan kekasihnya, dan sederet kegilaan pola pikir lainnya.
 
Dan lagi hubungan-hubungan dari karakternya yang sungguh-sungguh ... apa-apaan jika dituliskan. Lihat saja pohon keluarganya di akhir cerita!
 
Tetapi lama-lama saya terbiasa. Dan lama-lama saya juga berpikir, ini tidaklah segila itu. Orang zaman dulu di desa saya, kakek nenek saya juga mengalami kehidupan absurd yang kurang lebih sebagaimana digambarkan novel ini. Wanita melacurkan diri bahkan ada hingga sekarang.
 
Dulu kakek saya berselingkuh dengan banyak wanita. Mendengar cerita dari ibu saya, betapa absurd-nya kehidupan orang zaman dulu. Setelah bercerai dengan si kakak, seorang lelaki bisa saja menikahi adiknya. Tetangga yang kasual saja tidur dengan lelaki tetangga seberang rumahnya. Wanita yang menunggui dan bersih-bersih tanpa diminta di rumah lelaki incarannya padahal si istri juga ada di rumah itu.
 
Novel ini juga semakin membuka pandangan saya. Oh, jadi begitulah kehidupan dalam penjajahan Belanda. Oh, begitulah kira-kira perang saudara dengan para komunis.
 
Sebenarnya sejarah yang dimasukkan dalam novel ini jugalah salah satu daya tarik tersendiri. Kita diajak menyelami berbagai kehidupan tokohnya di antara pergantian suasana politik dan pergantian tangan dari penjajah satu dengan yang lain hingga peristiwa setelah kemerdekaan.
 
Secara keseluruhan, saya sangat menikmati membaca novel ini dan barangkali akan membaca buku-buku lain dari sang penulis!
 
4.5 bintang untuk buku ini!

You Might Also Like

0 komentar