Review Novel — The Midnight Library (2020)

Januari 28, 2023

The Midnight Library Cover

The Midnight Library -- Kesempatan Lain Dalam Hidup

Judul : The Midnight Library (Perpustakaan Tengah Malam)

Penulis : Matt Haig

Genre : Kontemporari-Fantasi

Tebal buku : 368 hlm; 20 cm

Tahun terbit : 2020, GPU

Blurb :

 

Di antara kehidupan dan kematian terdapat sebuah perpustakaan yang jumlah bukunya tak terhingga. Tiap-tiap buku menyediakan satu kesempatan untuk mencoba kehidupan lain yang bisa dijalani sehingga kau bisa melihat apa yang terjadi kalau kau mengambil keputusan-keputusan berbeda... Akankah kau melakukan apa pun secara berbeda jika kau mendapat kesempatan untuk membatalkan penyesalan-penyesalanmu? Benarkah kehidupan lain akan jauh lebih baik?


Nora Seed harus membuat keputusan. Ia dihadapkan pada kemungkinan bisa mengubah hidupnya, memiliki karier yang berbeda, tidak putus dari mantan kekasih, dan mewujudkan mimpinya sebagai glasiolog. Ia menjelajahi Perpustakaan Tengah Malam untuk memutuskan apa sebenarnya yang menjadikan hidup pantas dijalani. Setelah kehidupan yang diisi berbagai penyesalan dan kegagalan, akankah Nora Seed akhirnya mendapatkan kehidupan yang bisa memberinya kebahagiaan sejati?

 

Sinopsis

The Midnight Library bercerita soal perempuan berusia 35 tahun bernama Nora Seed, yang terus mengalami kegagalan demi kegagalan dalam hidup. Ia gagal menjadi perenang profesional seperti yang diinginkan ayahnya, gagal menjadi glasiolog dan malah berakhir kuliah dengan jurusan filsafat, batal menikah dengan kekasihnya dua hari menjelang tanggal pernikahan, mengecewakan kakaknya dengan keluar dari The Labyrinths, band yang mereka bentuk bersama dan berakhir dimusuhi rekan band lain, hubungannya dengan sahabat baiknya, Izzy, merenggang, dan sejumlah panjang daftar kegagalan lainnya.

 

Seolah belum cukup, suatu hari ia dipecat dari pekerjaan yang telah lama dilakoninya di toko penjual alat bermusik, murid les pianonya memutuskan berhenti, kemudian ia menemukan kucing peliharaannya ternyata mati tertabrak mobil. Saat itulah Nora merasa, tak ada lagi yang membutuhkannya. Maka, Nora pun mencoba mengakhiri hidupnya dengan overdosis obat.

 

Ia kira ia akan mati seperti keinginannya, nyatanya, ia terbangun di sebuah perpustakaan yang dipenuhi banyak sekali buku. Penjaga perpustakaan tersebut adalah Mrs. Elm, seorang pustakawati di sekolahnya dulu. Mrs. Elm menjelaskan bahwa di antara hidup dan mati, hadir sebuah perpustakaan tengah malam. Dalam salah satu buku, ada sebuah Buku Penyesalan, tempat semua penyesalan Nora dituliskan. Tiap-tiap buku dalam perpustakaan tersebut, menyediakan satu kesempatan bagi Nora untuk membatalkan penyesalannya dan mencicipi kehidupan lain untuk melihat apa yang terjadi jika Nora mengambil keputusan yang berbeda. Nora bebas memilih yang manapun, hingga ia menemukan kehidupan yang benar-benar diinginkannya dan tinggal selamanya dalam kehidupan itu. Setidaknya, itulah yang dikatakan Mrs. Elm. Asalkan, Midnight Library masih menunjukkan pukul 00.00.

 

Review

I’ve got a great time reading this!

 

Sejujurnya, The Midnight Library punya cerita yang sederhana, dan sebagian besar pasti bisa menebak bagaimana ending-nya dengan tepat (I did!), tapi bagaimana kita akan sampai di kesimpulan akhirlah dan bagaimana penulis menuliskan pesan moral tersirat yang membuat kita merefleksi hidup adalah alasan buku ini sangat, sangat layak dibaca.

 

“Sembilan belas tahun sebelum ia memutuskan untuk mati, Nora Seed duduk dalam kehangatan perpustakaan kecil di sekolah Hazeldene di kota Bedford.”

 

Itu adalah kalimat pembuka novel ini, yang sukses mencuri atensi saya dan bikin saya penasaran. Kebetulan juga, saya baca tanpa melihat blurb ataupun mencari-cari review buku ini lebih dulu. Jadi, sepanjang membaca saya bertanya-tanya, apa yang terjadi dengan tokoh utama novel ini? Bab-bab selanjutnya pun dibuka dengan kalimat serupa: Dua puluh tujuh jam sebelum ia memutuskan untuk mati…, Dua belas jam sebelum…, Sembilan jam…,

 

Lalu kita dibawa mengenal situasi Nora, dalam bab-bab awal, kita tahu bahwa Nora itu depresi. Paruh pertama buku juga cukup triggering untuk orang-orang yang memiliki masalah mental atau punya suicidal thoughts, sejujurnya, karena kita seolah menyaksikan bagaimana satu per satu alasan Nora untuk tetap hidup seolah menghilang. Mulai dari pemecatannya dari pekerjaan di The Strings, kucingnya mati, murid lesnya berhenti berlangganan les, bahkan tetangga sebelah rumahnya tidak membutuhkannya lagi untuk mengambil obat di apotek. Alasan demi alasan sederhana Nora untuk bertahan lenyap satu per satu, sementara tak ada orang-orang yang dapat dihubunginya. Hingga Nora memutuskan untuk mengakhiri hidup. Secara ironis, semua itu dituliskan dengan sangat baik, dan bakal menjadi bagian favorit saya di novel ini.

 

Tidak ada konflik yang begitu kompleks dalam novel ini, tapi justru, dengan perjalanan Nora di Midnight Library, penulis dengan konsisten memasukkan pesan moral, yang membuat kita juga merefleksikan hidup. Nora ada dalam diri setiap orang.

 

Di Midnight Library, Mrs. Elm meminta Nora membuka Buku Penyesalan, yang berisi setiap penyesalan yang pernah dan sedang dirasakan Nora selama hidup. Mulai dari penyesalan-penyesalan kecil seperti tidak jadi belajar, sampai pada rangkaian penyesalan lain yang cukup besar hingga mengubah hidup. Buku Penyesalan Nora sangat berat, dengan banyaknya penyesalan yang ia miliki.

 

Lalu, dari buku penyesalan itu Nora diminta untuk memilih salah satu buku untuk menjalani kehidupan lain di mana ia mengambil keputusan yang berbeda dan membatalkan salah satu penyesalannya. Mula-mula, Nora ingin kehidupan di mana ia tidak membatalkan pernikahannya dengan kekasihnya, Dan.

 

Lalu kehidupan di mana ia mengiyakan permintaan sahabatnya, Izzy, untuk bersama-sama pergi ke Australia.

 

Kehidupan tempat ia tetap melanjutkan renang dan menjadi pemenang olimpiade.

 

Kehidupan tempat ia masih menjadi anggota The Labyrinths dengan kakaknya dan band mereka menjadi terkenal.

 

Kehidupan di mana ia berhasil menjadi glasiolog dan menempuh perjalanan ke Arktik.

 

Satu per satu, dalam tiap kehidupan yang Nora jalani, ia menyadari bahwa sesuatu berjalan salah. Sesuatu tidak seharusnya. Bahkan meski dalam beberapa kehidupan ia sukses, memiliki ketenaran, dalam beberapa kehidupan ia sama tidak bahagianya dan sama depresinya dengan kehidupan lamanya. Beberapa kehidupan di mana ia mengambil keputusan yang berbeda menyebabkan orang terdekatnya justru tiada. Beberapa kehidupan mengajarkan Nora hal-hal yang tak disadarinya, satu per satu kehidupan mengajarinya sesuatu, tapi tak satu pun kehidupan ia rasa cocok untuknya. Ia terus mencoba satu demi satu kehidupan, sampa akhirnya ia menemukan satu kehidupan lain yang ia kira cocok….

 

Hehe, sudah sampai situ saja spoilernya. Uniknya, dalam setiap kehidupan yang dicoba Nora, seperti Nora, kita juga dibuat menebak-nebak apa yang sedang terjadi di kehidupan itu, atau bagaimana Nora menjalani hidup dalam kehidupan itu.

 

Well, singkatnya menurut saya, kisah Nora dituliskan dengan baik, dan pesan moralnya tersampaikan. Nggak ada masalah dengan penulisan karakter, pun karakternya nggak begitu banyak. Tiap bab juga pendek-pendek, membuat kita merasa keterusan karena; ah, satu bab lagi, pendek ini. Page turner abis! Meski entah kenapa di pertengahan, saya lumayan bosan, tapi, layak kok dibaca sampai tamat!

 

4.5/5 bintang!

 

 

 

 

You Might Also Like

0 komentar