Welcome, 2023

Januari 19, 2023

 


Oke, ini memang telat banget. Sudah pertengahan Januari dan saya baru menulis soal pergantian tahun. Tapi dari pada nggak sama sekali, saya mau rutin me-review satu tahun yang saya jalani.

 

Sama seperti bagaimana 2021 berakhir begitu saja, 2022 hampir tidak ada bedanya. Malahan, dunia saya dalam 2022 berlalu lebih cepat. Hidup saya dalam 2022 berjalan dalam ritme: kerja, pulang, kerja lagi, lalu pulang, kerja …. Begitu saja tanpa banyak hak memorable yang dapat saya ingat.

 

2022 dan nggak banyak pula hal yang terjadi, jika tahun sebelumnya saya menuliskan beberapa poin perubahan (di sini), kali ini meski tak banyak juga yang berubah, tapi saya dapat merangkum beberapa dari sebagian tahun saya kemarin:

 

1.   1. Saya masih di pekerjaan yang sama

Enggak terasa, saya sudah bekerja selama satu tahun lebih satu bulan di pekerjaan yang sekarang. Kalau akhir tahun kemarin saya masih galau apakah akan tetap stay dan gimana nasib saya apakah akan dikontrak atau tidak, setahun ini saya merasakan segala roller coaster dengan pekerjaan yang sekarang.

 

Mulai dari berkali-kali mau resign karena merasa nggak mampu beradaptasi, nggak bisa kejar target di bagian saya ditempatkan, ketidakjelasan status training dan kontrak, hingga pindah bagian lain dan akhirnya setelah setengah tahun (iya, lama banget dan jujur saya nggak tahu gimana bisa saya bertahan selama itu tanpa kejelasan) dikontrak, suka duka, kemudian jenuh di saat-saat tertentu, semua hal itu terjadi di tahun ini.

 

Saya juga menemukan teman-teman yang—ehem—lumayan asyik. Sebelumnya, saya hanya berpikir untuk bekerja dan mendapatkan uang, tidak ambil pusing soal pertemanan dan sejujurnya, saya nggak mencoba blend in dengan rekan kerja. Lalu, saya malah bergabung dengan bagian yang berbeda dan … banyak hal berubah.

 

Meski awalnya berat, pekerjaan ini mengajarkan kan saya cukup banyak hal, dan sejujurnya, membayar saya paling banyak di antara pekerjaan sebelumnya, meski sebagai gantinya waktu saya banyak terkuras di PT.

 

2.   2. Saya beradaptasi dengan mulai hidup sendiri

Well, nggak beneran sendiri juga sih, karena saya saya ngekost satu kamar bareng dengan sepupu saya dan saya bisa saja pulang satu minggu sekali kalau tidak ada lembur. Sebelumnya, saya emang pernah bermimpi untuk tinggal jauh dari keluarga dan merasakan ngekost saat bekerja, dan hal itu tercapai juga.

 

Rasanya nggak banyak adaptasi dalam hal ini. Kalau boleh berbangga diri, saya baik-baik saja dan terbiasa melakukan segala sesuatu sendiri. Jadi, tinggal terpisah dengan orang tua bukan masalah besar. Tinggal sendiri, bahkan sebelum sepupu saya datang, seolah hal yang natural bagi saya.

 

3.   3. Saya belajar sesuatu soal bersosialisasi dan fit in dalam sebuah grup

Kelihatannya sepele dan skill yang dapat dikuasai “dari sananya”, tapi memang nggak berlaku bagi saya. Bersosialisasi, beradaptasi, dan membuka obrolan dengan orang-orang baru selalu jadi masalah besar bagi saya. Di sebagian besar kesempatan, saya adalah orang yang sangat, sangat pasif jika berhubungan dengan berkenalan dengan orang baru.

 

Bahkan untuk membuka sebuah obrolan ringan pun, itu adalah hal yang bisa bikin saya stress. Sifat pemalu saya pun tidak membantu. Gabungkan semua itu; introvert, pemalu, pasif, socially awkward. Maka jadilah alasan masuk akal mengapa saya tidak punya cukup lingkaran sosial.

 

Bergaul di PT, dengan keberagaman orang dari berbagai tingkatan umur rupanya cukup membantu. Di beberapa kesempatan, saya kaget dengan diri saya sendiri yang mampu bersosialisasi dengan cukup baik hingga membuat saya membatin, “saya yang dulu nggak bakal bisa ataupun mau melakukan ini”.

 

Sekarang, level bersosialisasi saya dapat dikatakan “mendingan” daripada sebelumnya yang dapat dikategorikan “hampir tidak tertolong”. Saya bisa membuka beberapa obrolan—kadang-kadang obrolan panjang—dengan orang baru, bertanya lebih dulu, cracking jokes pada satu grup yang lebih dari lima orang, “bersuara” di tengah kumpulan cukup orang, mencoba masuk dalam obrolan grup, menjadi talkative dan “berisik” di waktu-waktu tertentu, dan hal-hal remeh temeh lainnya.

 

Iya, saya tahu kelihatannya semua itu hal-hal kecil yang cukup mengherankan bagi orang-orang yang punya cukup skill bersosialisasi normal. Tapi bagi saya, hal itu selalu sulit dilakukan, dan yang terpenting, saya menjadi semakin lebih baik (hopefully) untuk seterusnya.

 

4.   4. Saya menabung cukup banyak tahun ini

“Cukup banyak” versi saya memang tidak benar-benar banyak, tapi untuk saya di tahun sebelumnya dengan gaji terbanyak tidak pernah mencapai UMR kabupaten saya yang bahkan di bawah 2 juta, uang yang saya kumpulkan dapat dikategorikan banyak.

 

Saya juga mulai berinvestasi rutin di reksadana, meski saya belum mencoba selain RDPU.

 

5.   5. I feel lost, kinda…

Kalau empat hal di atas adalah perubahan dalam hal positif, meski saya tidak ingin, saya sepenuhnya sadar dengan perubahan negatif yang ada sepanjang tahun kemarin. Benar, saya masih merasa benar-benar tersesat dan “hilang”. Saya kehilangan “track” goals yang mau saya capai, saya menghabiskan lebih sedikit waktu—benar-benar sedikit—waktu untuk menulis. Beda dari tahun kemarin, saya jauh lebih tidak produktif tahun ini. Projek KBM saya nggak ada kelanjutan. Mandek begitu saja. Saya juga nggak pernah lagi mengikuti lomba menulis.

 

Belum lagi, dengan makin bertambahnya umur, dan berbedanya kesibukan, saya rasa tahun ini, hubungan saya dengan orang-orang yang penting di hidup saya semakin menjauh. Dengan keluarga saya, dan terutama dengan teman-teman dekat. Saya bisa saja berkilah ini semua karena saya sibuk dan terlalu kelelahan dan kekurangan waktu untuk berkabar, meski semua itu benar dan berperan, tapi sejujurnya, itu hanyalah alasan. Sayalah yang kurang menyempatkan diri. I take the one I love for granted.

 

Saya mulai dapat melihat jarak tak kasat mata yang terbentang antara saya dengan orang-orang penting di hidup saya, khususnya teman-teman yang sekarang jarang saya temui. Saya bukanlah orang yang terbuka, dan satu tahun kemarin, saya semakin menjadi tertutup dan hampir tidak benar-benar terbuka pada siapapun.

 

--

 

Tahun ini juga, saya tidak membuat resolusi apa-apa, Sebagian resolusi saya memang seringnya tidak tercapai, dan secara khusus, saya tidak ingin menambahkan beberapa lagi dalam daftar. Tahun kemarin, saya menuliskan tiga resolusi, yang kesemuanya berbau finansial;

 

Pertama, dana darurat terkumpul. Ceklist, secara teknis, memang sudah terkumpul.

 

Lalu, beli laptop. Tidak tercapai. Dengan uang di reksadana saya sebenarnya saya dapat membeli setidaknya satu unit laptop dengan spesifikasi yang lumayan, tapi mari coret itu karena saya lebih butuh motor untuk transportasi sekarang ini, mengingat motor lama yang bapak saya beli sudah tidak begitu layak dipakai.

 

Lalu, bangun dua atau lebih income. Hmm, tercapai dan tidak secara bersamaan. Beberapa waktu terakhir, salah satu mantan pelanggan saya dari fotokopian dulu mengontak saya untuk beberapa pekerjaan. Freelance. Laptop disediakan olehnya—termasuk saat saya menulis blog ini.

 

Saya cukup sangsi awalnya karena dia orang yang sama yang dulu tidak membayar saya dengan baik untuk jasa saya, tapi saya pikir, tidak ada salahnya mencoba. Jadilah, saya menjerumuskan diri dalam kesibukan lain. Bayarannya? Lumayan untuk beberapa kali projek yang kadang ada dan tidak. Tapi selain itu, saya tidak punya pemasukan lain. Makanya, jawabannya adalah tercapai dan tidak.

 

Well, that’s all. Bagaimana saya menjalani tahun 2022 saya yang sudah berakhir. Saya berharap dan mengusahakan 2023 akan menjadi lebih baik lagi.

 

 

You Might Also Like

0 komentar