Pages

facebook linkedin twitter youtube

A Dreamer

If you can't explain it simply, you don't understand it well enough - Albert Einstein

    • Home
    • Review
    • Opini
    • Prakerin
    • Karya


    Saat kita mulai dewasa, semua hal berubah jadi rumit. The world's getting more and more complicated. Hal-hal yang dulu kayaknya nggak kita persoalkan, tiba-tiba kita meragukannya, lalu mempertanyakannya: agama, Tuhan, norma masyarakat, apa batas baik dan buruk, tujuan hidup, bahkan siapa kita. Kita tidak lagi memandang dunia secara hitam putih lagi; kita nggak lagi bisa gampang memutuskan apakah seseorang itu dikategorikan orang baik atau buruk, karena nyatanya manusia nggak sehitam putih itu. Human beings, just like the world, are so complicated.

    Waktu kita kecil, kita menurut saja disuruh beribadah padahal kita enggak begitu ngerti maksudnya. Kita nggak bertanya dan nggak meragu. Kita hanya melakukannya. Kita meyakini apa yang orangtua kita yakini.

    Waktu kecil, tujuan hidup sama sekali nggak ada dalam pikiran. Hidup itu soal bermain dan bersenang-senang. Hidup itu soal hari ini, masa depan adalah masa lain untuk bermain.

    Semuanya berubah saat kita jadi dewasa. Hal-hal yang rasanya kecil jadi besar. Well, saya sedang di tahap itu. Merasa dunia terlalu rumit dan pikiran saya terlalu sempit dan nggak muat untuk menampungnya. Saya terus berpikir dan mempertanyakan banyak hal: keyakinan, tujuan hidup, saya sendiri, dan banyak hal lain.

    Saya memperumit banyak hal. Saya merasa butuh sekali jawaban atas pertanyaan saya dan harus segera menemukannya. Saya merasa orang lain nggak bisa memahami jalan pikiran saya sebab mereka nggak berpikir seperti saya. Saya merasa teman sebaya saya nggak memahami saya, sebab mereka nggak mempertanyakan hal-hal yang saya pertanyakan. Saya menganggap mereka berpikir terlalu sederhana. Mereka terlalu mengikuti arus.

    Akhirnya saya menarik diri. Tak lagi membahasnya dengan orang lain. Memikirkan segalanya di pikiran kecil saya. Most of the time, I got frustrated. Dan berpikir orang lain tuh nggak bisa diajak diskusi serius. Berpikir mereka nggak cukup 'deep' buat ngomongin itu sama saya. Ha ha, I used to think like that.

    Padahal ada hal lain yang saya harusnya sadar: saya terlalu fokus kepada saya dan pertanyaan-pertanyaan saya.

    Lama-lama saya sadar, saya terlalu sibuk mempertanyakan, sampai saya lupa, saya juga sesekali perlu berpikir sederhana, seperti orang-orang lain—terutama teman sebaya saya. Mungkin nggak semua pertanyaan itu harus ditemukan jawabannya seketika. Mungkin beberapa dari pertanyaan itu memang nggak seharusnya dipertanyakan. Bukan berarti saya akan ikut arus dan berhenti berpikir dan mempertanyakan. Bukan. Tetapi mungkin kadang saya harus berhenti, merefleksi diri, fokus pada hal-hal yang membuat saya nyaman walau mungkin masih terus saya pertanyakan. Saya masih terus mempertanyakan, tapi saya mencoba berdamai, dengan diri saya, juga dengan orang-orang lain yang merasa saya cuma kebanyakan mikirin hal nggak penting, yang seharusnya tidak dipikirkan.

    Pada awalnya susah mengakui, karena lebih mudah menganggap diri saya sespesial dan selangka itu sampai-sampai nggak ada orang yang dapat mengerti jalan pikir saya. Lebih mudah berpikir saya benar dan orang-orang yang berpikir sederhana dan mengikuti aruslah yang salah. Padahal merekalah yang hidupnya kelihatan lebih tenang. Lebih mudah menganggap orang-orang itu not deep enough to talk to me. Padahal, seseorang mungkin bakal jadi deep banget ngomongin hal lain yang jadi passion-nya atau kesukaannya.

    Kamu, yang mungkin pernah atau juga sedang berada di posisi saya, hei, mungkin kita harus mulai berhenti menganggap diri kita terlalu rumit dan spesial hingga nggak ada orang lain yang bisa mengerti. You're not that special, neither am I. Mungkin terkadang kita hanya perlu berpikir lebih sederhana.

    Continue Reading


    Judul                : One of Us is Lying
    Penulis              : Karen M. Mcmanus
    Penerjemah       : Angelic Zaizai
    Genre                : Misteri, Young Adult
    Penerbit             : Gramedia Pustaka Utama
    Blurb                 :
    Senin sore, lima murid memasuki ruang detensi.
    Bronwyn, si genius, nilai akademis sempurna dan tidak pernah melanggar peraturan.
    Addy, si cewek populer, gambaran sempurna pemenang kontes kecantikan.
    Nate, si bandel, dalam masa percobaan karena transaksi narkoba.
    Cooper, si atlet, pelempar bola andalan tim bisbol dan pangeran di hati semua orang.
    Dan Simon, si orang buangan, pencipta aplikasi gosip terdepan mengenai kehidupan Bayview High.
    Namun sebelum detensi berakhir, Simon tewas. Menurut para penyidik, kematiannya disengaja. Apalagi kemudian ditemukan draft artikel gosip terbaru untuk ditayangkan pada Selasa, sehari setelah kematian Simon.
    Gosip heboh tentang empat orang yang berada dalam ruangan detensi bersamanya.
    Mereka berempat dicurigai, dan semuanya punya rahasia terpendam.
    Salah satu di antara mereka pasti ada yang berbohong.

    •

    Dan ya, ini novel terjemahan. Seperti yang dijelaskan pada blurb-nya, lima orang memasuki ruang detensi. Satu mati karena mengalami reaksi alergi kacang. Orang itu adalah Simon, pencipta aplikasi gosip-tapi-fakta tentang orang-orang di Bayview High School.

    Gosip-gosip yang diunggahnya adalah hal-hal mengerikan, rahasia, yang ingin ditutup-tutupi oleh orang bersangkutan. Sehingga jika gosip itu terpampang di aplikasi milik Simon, orang yang digosipkan akan jadi pusat perhatian, diolok, menanggung malu, kehidupan sosialnya hancur, bahkan sampai ingin bunuh diri.

    Pada penyelidikan kematian Simon, dalam panel admin aplikasinya, polisi menemukan entri yang belum diunggah soal keempat anak yang didetensi bersamanya: Bronwyn, Addy, Cooper, dan Nate. Kecuali Nate si Berandalan, ketiga yang lainnya sebelumnya bersih dari gosip dan namanya tak pernah terpampang pada aplikasi Simon.

    Satu persatu, keempat anak itu mengalami apa yang dialami anak-anak lain yang namanya terpampang pada aplikasi milik Simon. Dikucilkan, dan kehidupan sosialnya nyaris hancur. Sementara pelakunya masih belum ditemukan, siapa kira-kira?

    •

    Saya butuh penyesuain yang cukup lama waktu baca novel ini. Mungkin karena narasi, gaya bahasanya, atau juga karena saya yang udah kelamaan nggak baca novel terjemahan—akhir-akhir ini saya selalu baca teenlit.

    Saya nggak tahu mau bahas apa dari novel ini, sejujurnya (yah, tapi nulis review juga), sebab kayanya yang mau saya tulis itu poin-poin bagusnya—dan mungkin kalo keterusan bisa jadi fangirling. Hehe.

    Novel ini dibawakan dengan sudut pandang orang pertama dengan empat tokoh: Bronwyn, Cooper, Addy, dan Nate. Dengan Bronwyn yang bisa dibilang punya porsi jauh lebih banyak dari yang lain—terutama di akhir. Cukup kerasa bedanya setiap ganti sudut pandang, apalagi karena yang dibahas dalam narasi tiap tokoh adalah kehidupan pribadinya (YA, IYA LAH YA!), jadi, yah, langsung kerasa aja bedanya.

    Saya suka banget gimana tiap tokoh punya latar belakang dan konflik minornya sendiri-sendiri dan gimana konflik itu terselesaikan dengan perlahan dan memuaskan.

    Kayak, Cooper dan keluarga—terutama Ayahnya—dan gimana ia pada akhirnya coming out soal *piiip*. Nate dan keluarganya yang—hampir—disfungsional. Yang, pada akhirnya, memiliki titik temu. Bronwyn, si pintar tanpa masalah yang akhirnya mau mengakui kecurangan yang pernah diperbuatnya.

    Dan tentu, Addy! Yang mampu menghadapi konfliknya sama Jake, pacarnya, yang, menurut kakaknya, maniak kontrol.  Jadi, Jake ini dalam hubungannya dengan Addy, mengontrol Addy dalam segala hal: gimana Addy harus berpakaian, bersikap, gimana ia harus mengiyakan setiap pilihan Jake. Dan pada akhirnya, Addy kehilangan dirinya sendiri. Addy nggak tahu apa yang benar-benar dia mau, dia suka. Addy nggak bisa menemukan kata yang dapat mendefinisikan dirinya, kecuali bahwa ia adalah pacar Jake.

    Well, ya, subkonflik Addy itu favorit saya! Gimana ia yang penurut, iya-iya aja, seperti nggak punya pendirian, berubah jadi seseorang yang tangguh, dan berubah menjadi *piip* gitu. (Takut spoiler). Subkonflik Cooper juga favorit saya, nomor dua (tapi).

    Dan tentu, ada romance di novel ini. We need a love stroy, after all. Dan yang berperan dalam hal ini adalah....

     (drum roll)



    Selamat Bronwyn dan Nate! Bronwyn si pintar, dari keluarga kaya, nggak suka melanggar aturan. Dan Nate si berandal, dari keluarga miskin, pengedar ganja, dan segala reputasi buruknya. Seems like opposite attract, isn't it? Dan saya suka mereka dan hubungannya juga lika-likunya!

    Novel ini sepadat itu, dengan banyak konflik, tapi penyelesainnya memuaskan. Aah, kan, saya malah jadi kayak lagi fangirling. Saya bisa menghabiskan seluruh postingan buat ngomongin bagusnya novel ini—paling nggak menurut saya.

    Jadi, saya mau ngomongin kurangnya, mungkin. Hal yang mengganggu adalah bagaimana keterlibatan pihak polisi juga detektif yang kayak ... nggak berguna gitu. Toh pada akhirnya,  yang menyelesaikan kasus kematian ini bukan mereka (Yah, spoiler! tapi telanjur). Masa mereka nggak mengusut kejanggalan ponsel yang bukan milik keempat anak—selain Simon—di tas mereka yang menyebabkan mereka didetensi bareng Simon? Atau kecelakaan mobil yang terjadi sebelum Simon mati yang janggal? Terus mereka ngapain, gitu?

    Dan, hmm, di akhir, novel ini pake teknik klise: satu tokoh—yang bukan satu pun dari mereka berempat, Bronwyn dkk—menjelaskan segalanya soal pertanyaan-pertanyaan yang butuh kejelasan. Soal motif si pembunuh sebenarnya dan kenapa ia melakukannya. Meski, ya, nggak apa-apa sih, tapi bakal lebih enak aja gitu kalo segalanya diselesaikan tanpa teknik klise ini.

    Well, ya, itu aja sih, yang menurut saya kurang. Tapi secara keseluruhan, novel ini bagus dan saya suka semua tokohnya, plus ini katanya novel debut penulis (Huhu, kok, novel debut udah bagus gini, sih?).

    Jadi, saya kasih 4 dari 5 bintang buat Nate dan Bronwyn (kusuka kalian), Addy dan gaya rambut barunya, Cooper dengan *piip* ... yeah, seseorang-nya!
    Continue Reading


    Judul           : Petjah
    Penulis         : Oda Sekar Ayu
    Penerbit       : Elex Media Komputindo
    Blurb           :
    Nadhira menyayangi Dimas, tetapi Dimas membenci Nadhira. Semesta menyayangi Nadhira dan memberinya satu permintaan untuk dikabulkan. Nadhira meminta Dimas beserta hatinya. Permintaan pun dikabulkan semesta.
    Kemudian hadir satu orang lagi dalam permainan ini. Biru. Biru menyayangi Nadhira, namun bisakah Nadhira menyayangi Biru?
    Satu dari seribu, aku mau kamu. Adalah puisi hati Nadhira untuk cinta pertamanya.
    Satu dari seribu, memang harus kamu. Adalah sepenggal puisi harapan Biru untuk masa depannya.
    Semesta mempermainkan Nadhira dan membuat hidupnya petjah.
    •
    Magis. Seperti yang dijanjikan penulisnya, dan juga review para pembaca di goodreads, novel ini memang magis. Tapi mungkin, magis yang saya rasa beda dengan magis menurut mereka. Novel ini magis, karena bikin saya suka sekaligus begitu nggak suka, pengin nerusin baca sekaligus pengin berhenti baca.

    Tapi, ya, akhirnya saya selesai baca juga.

    Ayo ngomong soal ceritanya dulu. Blurb-nya sudah cukup menjelaskan isi cerita. Tentang Nadhira dan Dimas, siswa-siswi kelas akselerasi. Nadhira yang gemar berpuisi menyukai Dimas, cowok idealis dan strict banget sama peraturan. Lalu ada Biru, kakak kelas yang jadi pentolan sekeloh, juga gemar berpuisi.

    Dimas yang biasanya lihat Nadhira aja ogah, tiba-tiba jadi lunak waktu lihat Nadhira nangis. Mereka dekat. Lalu muncul Biru, yang penuh dengan stereotip: tukang pukul, suka tawuran, nggak peduki aturan, kasar, pentolan sekolah. Tapi Biru yang berkenalan dengan Nadhira bukan Biru yang dikenal seluruh sekolah, melainkan Biru yang ngomongnya pake bahasa baku, Biru yang pintar banget bikin puisi, intinya, Biru yang baik. Sisi lain Biru yang nggak ditunjukkan ke orang lain.

    Mari ngomongin hal yang bikin saya nggak suka novel ini dan pengin berhenti baca:

    • Jalan cerita lumayan sederhana, tapi dirumit-rumitkan. Terutama hubungan Biru dan Nadhira. Serius, menurut saya sebenernya mereka tuh konfliknya biasa aja, nggak begitu terkait satu sama lain, tapi terasa dikait-kaitkan.
    • Drama. Banyak banget drama terutama di tengah novel. Apalagi Biru dan Nadhira ini. Menurut saya, ini efek dari jalan cerita sederhana yang diperumit, makanya jadilah begini, untuk membuatnya kelihatan besar, karakter Nadhira dan (terutama) Biru mendramatisasi keadaan. Tapi kadar drama-nya itu, kadang saya nggak tahan (mungkin masalah selera, sih). Mereka terlalu, terlalu, terlalu drama.
    • Sudut pandang yang gonta-ganti dari pov 1 ke pov 3. Saya selalu merasa penulis yang gonta-ganti sudut pandang, tuh, enggak konsisten. Dan saya masih bertahan sama pemikiran itu, sayangnya. Di awal, novel dibawakan dengan pov 1 Nadhira yang menggebu-gebu dan ya, remaja abis. Lalu berpindah ke pov 3 menyelami pikiran Dimas dan Biru. Menurut saya, kenapa enggak pilih salah satu aja? Pov 1 oleh Nadhira atau sekalian pov 3 dari awal?
    • Karakter. Terutama Biru yang suka banget drama ini (info nggak penting: padahal saya suka Biru di awal-awal, tapi dia kebanyakan drama, sih, jadi....).
    "Gue naif banget kayaknya. Lo lihat aja, gue mau menghentikan kekerasan dengan kekerasan. Goblok abis!"
    —dialog Biru, hal. 278
    Iya, Biru, kamu naif banget! Jalan pikir kamu juga aneh. Kekerasan dilawan kekerasan itu bodoh. Saya masih enggak ngerti gimana ceritanya Biru yakin balas dendamnya hanya bisa dilakukan kalo ia berhasil menang tawuran, dan bikin perjanjian nggak akan ada tawuran lagi untuk selanjutnya. Menurutnya, dengan itu nggak akan ada korban meninggal tawuran lagi.


    Gimana bisa? Kalo iya, paling banter itu bakal bertahan berapa tahun, sih?

    Akan selalu ada konflik, akan selalu ada penyebab (bahkan sepele banget) anak sekolah bakal tawuran lagi, meski awalnya udah damai. Dan itu, jelas banget di luar kontrol Biru.

    Maaf saya sebutin kekurangannya dulu, ya, ya, ya, saya enggak mengikuti pedoman review sandwich itu—selapis pujian, kritik, pujian, dst.

    Mari bahas hal yang bikin saya suka dan terus lanjut baca:

    1. Bahasa dan narasinya enak diikutin. Enak banget gitu. Enggak semua teenlit begini. Beneran enak. Makanya meski sudut pandangnya gonta-ganti sebenernya itu nggak begitu bermasalah, baik pov 1 atau pov 3 sama-sama enak dibaca. Perpindahan dari pov 1 ke pov 3 juga jadi smooth efek dari gaya bahasa sama narasinya itu.

    2. Puisinya bagus! Iya, saya suka, meski saya enggak ngerti-ngerti banget, sih, soal puisi.


    3. Dimas! (Harus banget, ya?)
    Dimas itu karakter favorit saya, soalnya dia enggak drama, sih. Dimas juga yang masalahnya, tuh, realistis dan beneran dekat sama remaja.

    4. Saya suka analoginya!
    Berikut contoh analoginya (ini Dimas yang ngomong, btw):

    "Cita-cita itu sesuatu hal yang abstrak. Dia itu adalah bentuk paling nggak jelas dari sebuah kata benda yang manusia buat. Sebalikya, tujuan hidup itu justru sesuatu yang real. Ibarat katrol, bebannya itu lo, tali katrolnya adalah kehidupan lo, dan gaya yang menggerakkan katrol itu, ya, tujuan hidup lo. Makanya kalo nggak ada tujuan hidup, ya, hidup lo stagnan. Kalo mau hidup, ya, harus punya tujuan meskipun tujuannya sekadar buat bertahan sampai hari besok."


    Hal-hal minor yang minta dikomentarin:

    1. Saya ngerti sih, Dimas sama Nadhira ini di kelas akselerasi, tapi emangnya kalo aksel dia jadi punya ingatan superkuat ya? Soalnya, Nadhira ini ceritanya kasih sontekan ke teman-temannya yang lain waktu dia udah keluar kelas, dan gilanya dia hafal semua jawaban pilgannya (yang ada 25 atau berapa soal gitu) dan dia kirim ke grup chat kelas.

    2. Untuk ukuran orang yang digambarkan sebelumnya benci—seperti juga dinarasikan dalam blurb-nya—sama Nadhira, agak aneh Dimas tiba-tiba berubah jadi sebegitu lunaknya melihat Nadhira nangis. Apalagi seolah tiba-tiba hubungan mereka dekat begitu. Nggak ada fase canggung-canggungan dulu.

    3. Biru kalo ngobrol sama Nadhira ngomongnya pake saya-kamu. Apa karena Biru lebih senior? Saya nggak begitu mempermasalahkan ini, sih, karena kayaknya saya yang agak miss di penjelasannya.

    Secara keseluruhan, novel ini bagus dan enak dibaca, tapi efek konflik-sederhana-diperumit yang bikin karakternya drama itu yang jadi kelemahannya. Jadi kayaknya ini bakal cocok banget sama: orang yang suka baca teenlit dan suka drama. /HAHA. Gajelas banget/

    Jadi, 3 dari 5 bintang untuk Petjah!
    Continue Reading

    Insecure



    Judul                   : Insecure
    Penulis                : Seplia
    Penerbit               : Gramedia Pustaka Utama
    Jumlah halaman    : 240 hal; 20 cm
    Blurb                    :

    - Zee -
    Jangan menatap luka dan memar di tubuhku. Jangan berani bertanya apa yang terjadi. Menjauh saja dariku. Hanya dengan begitu, aku merasa aman.
    - Sam -
    Meski orang lain menganggap otak gue nggak guna, setidaknya tubuh gue selalu siap menjadi tameng untuk melindungi orang-orang yang gue sayang. Buat gue, itu lebih dari sekadar berguna!
    Zee Rasyid dan Sam Alqori satu bangku di tahun terakhir SMA mereka. Sikap Zee yang tertutup perlahan melunak dengan kehangatan yang ditawarkan Sam.
    Apalagi ketika Zee melihat kondisi keluarga Sam yang sederhana, berbeda jauh dari kehidupannya dengan sang mama. Pelan-pelan kedekatan Zee dan Sam membuat kepribadian masing-masing berubah. Hidup yang mereka jalani tak lagi terasa aman.

    •

    Buku ini tentang Zee dan Sam yang sama-sama tinggal di lingkungan keluarga yang abusif. Ibu Zee sering menganiaya Zee hingga timbul lebam di tubuhnya. Sementara Ayah Sam adalah seorang pelaut yang main pukul pada keluarganya.

    Bedanya adalah Zee kaya raya, menutup diri, dan hanya punya ibunya. Sedangkan Sam berasal dari keluarga miskin, tapi masih punya Ibu dan kakak perempuan yang menyayanginya, dan Sam sendiri adalah anak yang ceria.

    Sam dan Zee duduk sebangku, Sam termasuk berandalan sekolah yang suka bolos dan satu-satunya hal yang membuatnya berada dekat dengan Zee adalah sebab Zee mau memberinya sontekan. Sam tahu luka lebam Zee, tapi urung peduli, sebab sikap Zee yang terlalu tertutup. Sampai suatu ketika Sam melihat Zee menangis sehabis di ruang BK, mereka perlahan dekat dan saling peduli.

    •
    Jujur, waktu baca blurb-nya saya nggak begitu tertarik. Tapi itu nggak mencerminkan ceritanya, kok!

    Mari kita bahas satu per satu.

    1. Tema cerita dan alur
    Saya suka alurnya. Saya juga suka tema yang diangkat. Walau di awal, saya butuh waktu menyesuaikan diri sama sudut pandang tokohnya. Saya menikmati ceritanya, dan bukunya juga lumayan page-turner sampai bisa saya seleisakan dalam bebepa jam baca. Novel ini pake sudut pandang orang pertama bergantian antar Zee (narasinya pake 'aku') dan Sam (pake 'gue').

    2. Karakter

    Zee: Sejujurnya saya agak nggak begitu suka sama Zee dan nggak begitu bersimpati, apalagi di awal-awal, maaf Zee!

    Soalnya, bagi saya Zee kelihatan seperti tipikal protagonis di sinetron yang kelewat baik meski sudah dijahati berulang kali. Iya, sih, itu ibunya sendiri. Iya dia pasti sayang ibunya. Tapi, lumrahnya orang disakiti—apalagi fisik dan verbal—pasti akan timbul rasa benci. Tapi saya kurang melihat ini di diri Zee. Satu-satunya hal yang diperlihatkan Zee cuma rasa terbiasanya akan ibunya yang suka main pukul lalu kemudian minta maaf, lalu mengulanginya lagi.

    Dan Zee itu Mary Sue. Dia kaya, pintar, baik, dan cantik (meski nggak dideskripsikan langsung, tapi lewat komentar-komentar orang padanya).

    Zee punya kesempatan untuk lepas dari ibunya, tapi dia nggak mau, dia tetap ingin tinggal bersama ibunya—karena menurut Zee, ibunyalah satu-satunya yang tak meninggalkannya, tak seperti ayahnya, ibunya yang merawatnya, meski dia kerap menganiaya Zee.

    Ketika saya mengharapkan perubahan sikap Zee, dia nyatanya enggak berubah sepanjang akhir cerita, bahkan pada klimaks saat Zee nyaris mati dianiaya ibunya.


    Menurut saya, Zee nggak mengalami banyak character development, kecuali bahwa akhirnya Zee punya teman, Vini.

    Sam

    Dibanding kehidupan Zee, saya merasa lebih bisa relate sama kehidupan Sam. Sam dari keluarga miskin, ibunya berjualan mie ayam.

    Mungkin juga karena bagi saya Sam terasa lebih nyata aja—meski awalnya saya juga nggak begitu suka Sam diawal-awal dan butuh penyesuaian sama karakternya yang digambarkan kayak karakter badboy SMA: suka telat, nyontek, tidur di kelas, berani membantah guru. Tapi lama-lama saya terbiasa karena karakternya konsisten begitu.

    Sam enggak sempurna, enggak digambarkan ganteng, nggak juga pintar, sudah begitu di awal-awal, ia nggak punya gambaran soal kehidupannya sehabis lulus sekolah. Tapi justru ini yang bikin saya bersimpati sama sosok Sam. Sam dan kehidupannya yang kelihatan beneran nyata.

    Beda dengan Zee, Sam punya character development yang jelas, dari yang awalnya ke sekolah cuma numpang tidur, suka telat, suka nyontek, akhirnya punya sesuatu yang mau dia kejar; cita-cita.

    Sejujurnya buat saya, kalo buku ini diceritakan cuma dari sudut pandang Zee, ada kemungkinan saya DNF, sih.

    Mama Zee (Manda Rasyid): sejujurnya saya merasa perlu membahas karakter yang satu ini karena character development-nya yang justru bagi saya agak nggak make sense.

    Ibu Zee ini menurut saya punya lebih dari sekedar sikap abusif, dia punya emosi yang nggak stabil. Dia bisa baik banget ke Zee, tapi kalo sedang ingat Ayah Zee (yang membuat ia menderita, etc) dia berubah jadi super-jahat. Bahkan cenderung nggak manusiawi gitu.

    Tapi di akhir, ya, dia berubah, dia direhabilitasi. Akhirnya Zee bertemu ibunya ini, ibunya udah jadi super-baik, seolah nggak pernah melakukan tindak apa pun sama Zee, padahal dia hampir buat Zee nyaris nggak tertolong.

    Maksud saya, paling nggak harusnya ada tahap-tahap perubahannya, mungkin mulai bisa mengontrol emosi, nggak marah-marah waktu Zee membahas ayahnya, etc. Tapi ini sama sekali nggak diperlihatkan.

    Tiba-tiba aja Zee dan ibunya begitu akrab. Normalnya, gimana pun sayangnya Zee ke ibunya, pasti mereka canggung untuk bersikap selayaknya ibu-anak yang bahagia dan akrab setelah semua yang terjadi.

    Saya merasa harus membandingkan ibunya Zee ini dengan Ayah Sam yang sama-sama abusif. Ayah Sam dipenjara, tapi ketika Sam menjenguknya, dan meminta ayahnya meminta maaf kepada ibu dan kakaknya, Ayah Sam enggan. Dia merasa, dengan dipenjara dia sudah menebus kesalahannya. Apa perlunya minta maaf?

    Dia juga berencana menikah lagi. Saya melihat ada perubahan di diri Ayah Sam, tapi nggak serta-merta dia jadi baik. Dan itu, bagi saya, lebih masuk akal dan bisa diterima.

    Saya enggak perlu bahas ini, sih, tapi ... saya punya karakter favorit di buku ini! Dia adalah Vini! Temannya Sam, sama-sama miskin, dan intinya, kehidupan Sam dan Vini inilah yang bikin saya suka banget buku ini.

    3. Kejanggalan dan logika cerita

    Saya menemukan sih, beberapa yang mengganjal waktu baca novel ini, di antaranya
    •  Sam itu langganan telat, dan dia mesti bayar lima ribu rupiah tiap kali telat. Enggak ada keterangan kenapa dia selalu telat. Dan seharusnya, (seperti Vini) Sam merasa sayang dong sama uang sakunya karena dia bukan dari keluarga yang begitu berada. Bukannya merelakan aja lima ribu-nya melayang tiap hari.
    •  Sam yang terlalu berani dan memberontak sama guru (di bagian awal). Rasanya kayak guru di situ nggak punya cukup kontrol sama kelakuan muridnya.
    • Ceritanya Ayah Zee itu dokter. Tapi, dokter ke mall dan ke mana-mana, dideskripsikan pake jas putih. Maksudnya, emang nggak ada waktu buat ganti dulu jas rumah sakitnya waktu bepergian gitu?

    Overall, saya suka cerita ini, meski saya juga mengharapkan ending yang berbeda dari Zee dan ibunya, tapi mungkin penulis ingin memberi moral value lain: bahwa penting berada dan menyadarkan orang yang kita sayang meski dia tersesat terlalu jauh, dan meski kita menanggung sakit.

    Jadi, saya kasih 4 dari 5!
    Continue Reading



    Judul: After You've Gone
    Penulis: Ardelia Karisa
    Penerbit: Bentang Belia
    Blurb: 

    Betapa hancur Samara ketika tahu bahwa Lilly, sahabat satu-satunya, termasuk salah satu korban pesawat hilang. Kini ia menghadapi hari-harinya sendirian, nggak ada lagi Lilly yang selalu cerewet dan ikut campur. Meski tak ada lagi yang merecokinya, entah kenapa masalah-masalah justru muncul sejak kepergian Lilly.
    Sam jadi mengenal Kai, cowok misterius putra pemilik yayasan sekolah. Semesta juga mendekatkan Sam dengan Arav, cinta pertama yang selama ini hanya berani dilihatnya dari jauh. Sam nggak nyangka hanya dengan dua cowok itu dalam hidupnya, sisa masa SMA-nya terasa sepelik ini.
    Dadanya terus berdebar tiap bertemu cowok itu. Perasaan tak nyaman, tapi juga menyenangkan itu belum pernah dirasakan Sam. Cewek itu jadi bingung bersikap. Sam butuh Lilly! Ia terus berharap ada keajaiban yang bisa mengembalikan Lilly kepadanya.


    |•|

    Bercerita soal Samara, cewek yang cenderung menarik diri dari pergaulan sosial, cuma punya satu teman merangkap sahabat, yaitu Lily. Namun, satu-satunya teman yang ia miliki hilang dalam penerbangan pesawat. Setelah Lily hilang, Samara begitu berduka, tapi berkebalikan dengan itu, kehidupan Samara justru semarak dengan kehadiran Arav, cowok yang ditaksirnya sejak SMP dan Kai, cowok klan Astabhrata yang begitu terkenal di sekolahnya.

    Ini cerita jebolan wattpad, dan termasuk salah satu cerita project Belia Writing Marathon. Cerita ini pernah jadi salah satu cerita favorit saya waktu awal-awal tahu wattpad. Di wattpadnya sendiri, cerita ini dibiarkan menggantung.

    Sebenarnya, sebelum baca cerita ini, saya agak merasa ... takut kecewa—uhm, enggak persis begitu juga, sih—


    —mengingat pengalaman saya sama cerita wattpad yang di wattpad-nya saya suka banget, waktu baca novelnya enggak mampu memenuhi ekspektasi saya, malah beberapa mengecewakan. Jadi, ketika saya baca cerita ini, saya nggak mau berekspektasi apa-apa, cuma pengin tahu endingnya aja. Dan entah kayaknya itu berhasil, atau memang ceritanya enggak bisa dibilang mengecewakan, intinya saya enggak kecewa.

    Saya suka gaya bahasanya penulis dan gimana penulis membawa cerita ini. Poin bagus lainnya adalah, saya bisa bilang cerita ini bebas adegan-adegan basi teenfict, atau adegan lebay juga sinetronis lainnya. Dua jempol! Hehe.


    Saya juga suka interaksi tokoh-tokohnya. Samara-Kai-Arav. Tokohnya sedikit, tapi lumayan berkesan.

    Sebenarnya saya bacanya agak lompat-lompat, yang saya masih ingat ada di wattpad, saya lompatin. Sejujurnya kayaknya saya ngelakuin ini ke semua novel jebolan wattpad yang pernah saya baca di wattpad-nya. Tapi meski begitu, saya masih bisa agak emosional waktu Samara bahas Lily, senyam-senyum sama interaksi Samara-Arav.


    Intinya, saya juga agak kaget saya masih bisa begitu, karena biasanya saya kalo baca lompat-lompat udah nggak begitu peduli sama tokohnya dan beneran berjarak sama keseluruhan cerita itu sendiri.

    Minus-nya, bagi saya adalah:
    1. Novel ini tuh tipis, cuma 150 halaman, tapi (semoga saya enggak salah, berdasarkan yang saya ingat) ada bagian di wattpad yang dipotong. Kayak, flashback masa SMP Sam-Arav. Bagi saya pemangkasan itu nggak perlu, sih. Banyak novel wattpad yang setelah terbit memangkas banyak adegan versi wattpadnya (yang padahal kadang cukup penting, dan salah-salah membuat efek novelnya kayak lompat-lompat cerita), tapi itu karena tuntutan halamannya. Sementara novel ini, tanpa perlu membuang adegan versi wattpad, udah tipis.

    2. Konflik di klimaksnya ... kurang diperdalam, pesan cerita kurang tersampaikan

    Saya sebetulnya mengerti apa pesan yang mau disampaikan, juga klimaks cerita.
    Semoga saya enggak salah, klimaksnya terletak justru pada pergolakan diri Samara: dia senang bisa bersahabat dengan Kai, dan dia juga senang bisa dekat dengan Arav bahkan saling mengakui perasaan, tapi di satu sisi dia juga merasa itu nggak pantas. Samara merasa, dia enggak pantas sebahagia itu di saat, Lily, satu-satunya teman sekaligus sahabatnya, menghilang, tak jelas apakah benar-benar sudah meninggal, sebab jasadnya pun tak ditemukan. Dia sedang bahagia, tapi merasa dia seharusnya berduka.

    Menurut saya itu jelas sekali, tapi saya rasa bagian ini kurang dieksplor, kurang digambarkan bagaimana Samara kecewa sama dirinya, kebingungan yang dialaminya, dan apa yang dirasakannya dengan pikiran-pikiran yang bertentangan itu, juga proses bagaimana Samara berdamai dengan dirinya sendiri.

    Menurut saya, bagaimana akhirnya Samara berdamai itulah yang gak lumayan kurang, seolah, tiba-tiba Samara tahu cara menyelesaikannya, ia tahu solusinya, dan cerita menuju ending. Gitu. Enggak tahu bener atau enggak, saya merasa penulis agak terburu-buru menyelesaikan novel ini, jadi di beberapa bagian yang harusnya bisa lebih kerasa, lebih menegangkan, jadi nanggung. Di wattpad-nya sendiri, After You've Gone (dibanding cerita lain project Belia Writing Marathon) termasuk yang telat banget update-nya, sampai-sampai berakhir gantung. 

    Tapi, secara keseluruhan, saya suka novel ini. Apalagi endingnya, yang penuh dengan: 
    *CINTA (haha, maksa)


    Jadi, saya kasih 3.5 dari 5 bintang!
    Continue Reading

    The Number You are Trying to Reach is Not Reachable



    Judul: The Number You are Trying to Reach is Not Reachable
    Penulis: Adara Kirana
    Penerbit: Bukune
    Blurb:

    Kata orang-orang, aku ini genius dan kelewat serius.
    Oke, memang koleksi piala dan medali olimpiadeku sedikit lebih banyak dari jumlah perempuan yang dilirik Zeus. Aku masih seusia anak kelas sepuluh, tapi sudah ikut beberapa try out SBMPTN, dan dapat nilai paling tinggi.
    Namun, Kak Zahra—guru homeschooling-ku-menganggapku perlu bersosialisasi. Katanya, biar "nyambung" sama orang-orang.
    Untuk apa? Aku punya teman kok: Mama, Kak Zahra, Hera, dan... saudara-saudara yang sering kulupa namanya.
    ***
    “The Thirteen Books of Euclid's Elements. Buku itu bisa kamu dapat asal kamu mau masuk SMA,” tantang Kak Zahra suatu hari.
    Tidak mungkin. Itu kan, buku legendaris yang ditulis sejak abad ketiga sebelum Masehi. Aku ingin sekali mengoleksi dan mempelajarinya sendiri. Rasanya pasti lebih memuaskan.
    "Oke, aku coba satu semester, ya," jawabku mantap.
    Demi buku itu, bolehlah aku jalani hidup sebagai anak SMA biasa. Lagi pula, sesulit apa "nyambung" sama orang-orang?--

    [Ya ampun! Saya sampai lupa pernah nulis review novel ini. Pokoknya saya udah baca dari lama banget]


    Awal baca cerita ini di wattpad, tapi cuma beberapa chapter karena sudah dihapus untuk kepentingan penerbitan. The Number—ah, kalau disebut kepanjangan—novel ini termasuk novel yang saya suka banget di wattpadnya. Soalnya, dibandingkan dengan novel-novel teenfiction wattpad sejenis—yang ceritanya berkisar soal badboy yang jadi the most wanted boy, badgirl, cewek cupu, ketos, dengan kisah percintaan yang seringnya terlalu berlebihan untuk ukuran remaja SMA—(waktu itu, karena saya juga termasuk masih agak baru di wattpad) menurut saya novel ini beda (karena jauh dari kisah-kisah wattpad di atas), unggul, dan yah, intinya saya suka banget sampai saya masukin ke reading list teenfic favorit dan rekomen ke orang-orang. Yah, ngelantur.

    Kisahnya soal Aira, cewek kelewat pintar (untuk anak seusianya) dan serius yang dari kecil selalu home schooling karena perbedaan kepintarannya itu antara ia sama anak sebayanya. Suatu hari—yang jadi awal mula kisah—Kak Zahra (guru homeschooling-nya) menantang Aira untuk dapetin buku The Thirteen Books of Euclids yang katanya langka itu lewat olimpiade Matematika. Tapi, syaratnya Aira harus masuk sekolah biasa untuk bisa ikut cerdas cermat (karena berkelompok dan memang ditujukan buat murid sekolah). Didorong keinginan mendapat buku itu dan desakan Mamanya, Aira mau masuk sekolah, dan coba-coba satu semester bersekolah.

    Di versi wattpadnya, tokoh Kak Zahra ini enggak ada, dan ceritanya Aira memang enggak homeschooling (kayaknya sih, saya agak lupa) tapi udah sekolah biasa. Saya agak kaget juga waktu bacanya sih (soalnya novel wattpad seringnya setelah terbit enggak beda jauh sama aslinya di wattpad, beda pun paling endingnya, malah saya ada baca yang tiap katanya sama dengan versi wattpadnya, haha).

    Saya ngerasa nggak terganggu sih sama perubahan ini, malah ... kayaknya emang lebih baik begitu.


    Alur


    Saya nikmatin sih baca alurnya, dan konflik yang disuguhkan ditambah leluconnya (apalagi enggak pake bahasa kasar gitu, yay!).


    Untuk yang terbiasa baca novel teenfict wattpad lain mungkin merasa konflik di novel ini sepele, ringan, dan yah ... gitu. Tapi saya malah lebih suka begini (sebenernya saya baca tulisan wattpad Adara yang lain, dan emang yang saya baca konfliknya enggak sampai yang berlarut-larut) lebih masuk akal aja untuk ukuran masalah remaja.

    Oh, saya agak kecewa sih, waktu bagian Aira jelasin ke Hera soal paradoks gitu di novelnya nggak ada (itu dulu bagian favorit saya), tapi yah, dipikir lagi kayaknya itu agak nggak berpengaruh sama alur dan mungkin jatuhnya malah pemborosan halaman. Jadi, mungkin emang lebih baik bagian itu dipangkas.


    Konfliknya dimulai dari ketidakjujuran Aira soal dia yang sebenernya itu pinter pake banget.  Aira bakal berkonflik sama teman pertamanya di SMA. Ah, saya suka penyelesaiannya. Juga endingnya!

    Terus, konfliknya enggak berputar sama pacaran-kecewa-orang ketiga-putus-lalu nikah. Maksud saya, enggak soal percintaan begitu. Saya suka!


    Keseluruhan, saya enggak ada masalah sih sama alurnya. Cuma (subjektif banget, asli) saya merasa enggak yang ... suka banget gitu baca novel ini (bukan berarti saya enggak suka juga, sih) kayak waktu saya baca pas di wattpad-nya. Waktu selesai baca juga udah yang kayak ... oh, selesai.  Padahal dulu saya suka sampai di tahap yang pengin banget baca kelanjutannya. Enggak tahu, mungkin karena lama-lama saya nemu banyak novel lain, bacaan dengan genre lain, atau apa. Atau mungkin karena jokes atau bagian menarik yang ada di novel ini pernah saya baca sebelumnya. Jadi, ketika saya baca lagi vetsi novel, saya udah biasa aja. Ya ... gitu.


    Karakter
    • Aira
    Saya suka sih, keenggaktahuannya Aira sama bahasa-bahasa gaul itu jadi lucu dibaca. Saya juga suka interaksinya dia sama karakter-karakter lain. Tapi ... apa ya... untuk karakter yang diceritakan kelewat pintar, jenius, saya agak nggak merasa kalau Aira ini tuh 'sepintar' itu. Mungkin karena kepintaran Aira cuma ada di narasi, maksudnya, kepintaran Aira ini cuma diceritakan, enggak ditunjukkan.

    Kepintaran Aira ini diceritakan (tell) bukan ditunjukkan (show). Di narasi ada yang menceritakan soal Aila pulang sekolah mau bahas sejarah mata uang dengan bahasa Korea, Aira mau baca sejarah ini itu, belajar bahasa anu, tapi yah, tell, cuma diceritakan begitu aja bukannya ditunjukkan bagaimana. Makanya mungkin saya ngerasa kalau nggak dikasih tahu dari awal Aira itu pintar (banget) saya bakal merasa Aira ini cuma anak yang kurang bergaul dan nggak ngerti istilah-istilah gaul.

    Sebenernya agak ditunjukkan di bagian Aira bertelepon sama Arka (dibahas di bawah), Aira ini hafal dialog novel berat (A tale of two cities karya Dickens). Tapi ... entah sih, saya merasa kurang juga. Lagian, enggak perlu jadi pintar untuk bisa hafal dialog novel.

    Ah, iya! Character development Aira di akhir, saya juga suka (kebanyakan novel wattpad nggak memerhatikan ini, dan karakternya nggak ada perubahan apa pun kecuali mungkin, pacaran dan jadi bucinnya si tokoh cowok, biasanya).

    • Arka
    Arka adalah guru pengganti sementara di SMA-nya Aira. Ngajar pelajaran tambahan buat siswa yang kurang pintar. Dan pstt, dia suka Aira (umurnya 21).

    • Rio
    Sebenernya nggak perlu bahas Rio juga sih, tapi dia ini karakter favorit saya! Hehe, dari mulai di wattpad, saya lebih suka Aira-Rio dibanding Aira-Arka.


    Nah, gitu. Saya sadar di atas saya sering banget nyerempet bandingin novel ini sama novel-novel teenfiction wattpad. Iya, meski ada beberapa hal yang kurang dari novel ini, jujur aja saya suka banget ada novel wp terbit yang nggak melulu soal.kisah cinta remaja SMA yang kadang konfliknya berlebihan gitu.


    Terakhir, saya kasih 3 dari 5 bintang buat novel ini!

    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    About Me

    Photo Profile
    Tri!

    Pelajar tingkat akhir SMK. Hobi membaca dan (kadangkala) menulis baik fiksi maupun nonfiksi. Blog ini adalah tempat saya menjaga kewarasan dengan mempublikasikan pemikiran-pemikiran yang sulit didiskusikan dengan orang-orang di sekitar saya.

    Contact Me

    • facebook
    • twitter
    • bloglovin
    • youtube
    • pinterest
    • instagram

    Labels

    Review cerpen opini prakerin

    Blog Archive

    • ►  2017 (1)
      • ►  Desember (1)
    • ►  2018 (19)
      • ►  Januari (2)
      • ►  Februari (2)
      • ►  Maret (4)
      • ►  April (4)
      • ►  Mei (3)
      • ►  Juni (1)
      • ►  Juli (1)
      • ►  Agustus (2)
    • ▼  2019 (6)
      • ►  Mei (3)
        • Review Novel The Number You're Trying to Reach is ...
        • Review Novel After You've Gone
        • Review Novel Insecure - Seplia
      • ►  Juni (1)
        • Review Novel Petjah – Oda Sekar Ayu
      • ►  Oktober (1)
        • [Resensi Buku] One of Us is Lying – Karen M. Mcmanus
      • ▼  November (1)
        • Dewasa dan Pemikiran yang Sederhana
    • ►  2020 (4)
      • ►  Januari (1)
      • ►  Maret (1)
      • ►  April (1)
      • ►  Mei (1)
    • ►  2021 (17)
      • ►  Januari (3)
      • ►  Februari (3)
      • ►  Maret (3)
      • ►  April (2)
      • ►  Juni (1)
      • ►  Juli (2)
      • ►  Oktober (2)
      • ►  Desember (1)
    • ►  2022 (26)
      • ►  Januari (1)
      • ►  Februari (1)
      • ►  Maret (1)
      • ►  April (2)
      • ►  Mei (2)
      • ►  Juli (2)
      • ►  November (8)
      • ►  Desember (9)
    • ►  2023 (7)
      • ►  Januari (2)
      • ►  Februari (1)
      • ►  Mei (1)
      • ►  Oktober (3)
    • ►  2024 (4)
      • ►  Januari (1)
      • ►  Mei (2)
      • ►  Agustus (1)
    facebook Twitter instagram bloglovin google plus

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top