Pages

facebook linkedin twitter youtube

A Dreamer

If you can't explain it simply, you don't understand it well enough - Albert Einstein

    • Home
    • Review
    • Opini
    • Prakerin
    • Karya

    The Midnight Library Cover

    The Midnight Library -- Kesempatan Lain Dalam Hidup

    Judul : The Midnight Library (Perpustakaan Tengah Malam)

    Penulis : Matt Haig

    Genre : Kontemporari-Fantasi

    Tebal buku : 368 hlm; 20 cm

    Tahun terbit : 2020, GPU

    Blurb :

     

    Di antara kehidupan dan kematian terdapat sebuah perpustakaan yang jumlah bukunya tak terhingga. Tiap-tiap buku menyediakan satu kesempatan untuk mencoba kehidupan lain yang bisa dijalani sehingga kau bisa melihat apa yang terjadi kalau kau mengambil keputusan-keputusan berbeda... Akankah kau melakukan apa pun secara berbeda jika kau mendapat kesempatan untuk membatalkan penyesalan-penyesalanmu? Benarkah kehidupan lain akan jauh lebih baik?


    Nora Seed harus membuat keputusan. Ia dihadapkan pada kemungkinan bisa mengubah hidupnya, memiliki karier yang berbeda, tidak putus dari mantan kekasih, dan mewujudkan mimpinya sebagai glasiolog. Ia menjelajahi Perpustakaan Tengah Malam untuk memutuskan apa sebenarnya yang menjadikan hidup pantas dijalani. Setelah kehidupan yang diisi berbagai penyesalan dan kegagalan, akankah Nora Seed akhirnya mendapatkan kehidupan yang bisa memberinya kebahagiaan sejati?

     

    Sinopsis

    The Midnight Library bercerita soal perempuan berusia 35 tahun bernama Nora Seed, yang terus mengalami kegagalan demi kegagalan dalam hidup. Ia gagal menjadi perenang profesional seperti yang diinginkan ayahnya, gagal menjadi glasiolog dan malah berakhir kuliah dengan jurusan filsafat, batal menikah dengan kekasihnya dua hari menjelang tanggal pernikahan, mengecewakan kakaknya dengan keluar dari The Labyrinths, band yang mereka bentuk bersama dan berakhir dimusuhi rekan band lain, hubungannya dengan sahabat baiknya, Izzy, merenggang, dan sejumlah panjang daftar kegagalan lainnya.

     

    Seolah belum cukup, suatu hari ia dipecat dari pekerjaan yang telah lama dilakoninya di toko penjual alat bermusik, murid les pianonya memutuskan berhenti, kemudian ia menemukan kucing peliharaannya ternyata mati tertabrak mobil. Saat itulah Nora merasa, tak ada lagi yang membutuhkannya. Maka, Nora pun mencoba mengakhiri hidupnya dengan overdosis obat.

     

    Ia kira ia akan mati seperti keinginannya, nyatanya, ia terbangun di sebuah perpustakaan yang dipenuhi banyak sekali buku. Penjaga perpustakaan tersebut adalah Mrs. Elm, seorang pustakawati di sekolahnya dulu. Mrs. Elm menjelaskan bahwa di antara hidup dan mati, hadir sebuah perpustakaan tengah malam. Dalam salah satu buku, ada sebuah Buku Penyesalan, tempat semua penyesalan Nora dituliskan. Tiap-tiap buku dalam perpustakaan tersebut, menyediakan satu kesempatan bagi Nora untuk membatalkan penyesalannya dan mencicipi kehidupan lain untuk melihat apa yang terjadi jika Nora mengambil keputusan yang berbeda. Nora bebas memilih yang manapun, hingga ia menemukan kehidupan yang benar-benar diinginkannya dan tinggal selamanya dalam kehidupan itu. Setidaknya, itulah yang dikatakan Mrs. Elm. Asalkan, Midnight Library masih menunjukkan pukul 00.00.

     

    Review

    I’ve got a great time reading this!

     

    Sejujurnya, The Midnight Library punya cerita yang sederhana, dan sebagian besar pasti bisa menebak bagaimana ending-nya dengan tepat (I did!), tapi bagaimana kita akan sampai di kesimpulan akhirlah dan bagaimana penulis menuliskan pesan moral tersirat yang membuat kita merefleksi hidup adalah alasan buku ini sangat, sangat layak dibaca.

     

    “Sembilan belas tahun sebelum ia memutuskan untuk mati, Nora Seed duduk dalam kehangatan perpustakaan kecil di sekolah Hazeldene di kota Bedford.”

     

    Itu adalah kalimat pembuka novel ini, yang sukses mencuri atensi saya dan bikin saya penasaran. Kebetulan juga, saya baca tanpa melihat blurb ataupun mencari-cari review buku ini lebih dulu. Jadi, sepanjang membaca saya bertanya-tanya, apa yang terjadi dengan tokoh utama novel ini? Bab-bab selanjutnya pun dibuka dengan kalimat serupa: Dua puluh tujuh jam sebelum ia memutuskan untuk mati…, Dua belas jam sebelum…, Sembilan jam…,

     

    Lalu kita dibawa mengenal situasi Nora, dalam bab-bab awal, kita tahu bahwa Nora itu depresi. Paruh pertama buku juga cukup triggering untuk orang-orang yang memiliki masalah mental atau punya suicidal thoughts, sejujurnya, karena kita seolah menyaksikan bagaimana satu per satu alasan Nora untuk tetap hidup seolah menghilang. Mulai dari pemecatannya dari pekerjaan di The Strings, kucingnya mati, murid lesnya berhenti berlangganan les, bahkan tetangga sebelah rumahnya tidak membutuhkannya lagi untuk mengambil obat di apotek. Alasan demi alasan sederhana Nora untuk bertahan lenyap satu per satu, sementara tak ada orang-orang yang dapat dihubunginya. Hingga Nora memutuskan untuk mengakhiri hidup. Secara ironis, semua itu dituliskan dengan sangat baik, dan bakal menjadi bagian favorit saya di novel ini.

     

    Tidak ada konflik yang begitu kompleks dalam novel ini, tapi justru, dengan perjalanan Nora di Midnight Library, penulis dengan konsisten memasukkan pesan moral, yang membuat kita juga merefleksikan hidup. Nora ada dalam diri setiap orang.

     

    Di Midnight Library, Mrs. Elm meminta Nora membuka Buku Penyesalan, yang berisi setiap penyesalan yang pernah dan sedang dirasakan Nora selama hidup. Mulai dari penyesalan-penyesalan kecil seperti tidak jadi belajar, sampai pada rangkaian penyesalan lain yang cukup besar hingga mengubah hidup. Buku Penyesalan Nora sangat berat, dengan banyaknya penyesalan yang ia miliki.

     

    Lalu, dari buku penyesalan itu Nora diminta untuk memilih salah satu buku untuk menjalani kehidupan lain di mana ia mengambil keputusan yang berbeda dan membatalkan salah satu penyesalannya. Mula-mula, Nora ingin kehidupan di mana ia tidak membatalkan pernikahannya dengan kekasihnya, Dan.

     

    Lalu kehidupan di mana ia mengiyakan permintaan sahabatnya, Izzy, untuk bersama-sama pergi ke Australia.

     

    Kehidupan tempat ia tetap melanjutkan renang dan menjadi pemenang olimpiade.

     

    Kehidupan tempat ia masih menjadi anggota The Labyrinths dengan kakaknya dan band mereka menjadi terkenal.

     

    Kehidupan di mana ia berhasil menjadi glasiolog dan menempuh perjalanan ke Arktik.

     

    Satu per satu, dalam tiap kehidupan yang Nora jalani, ia menyadari bahwa sesuatu berjalan salah. Sesuatu tidak seharusnya. Bahkan meski dalam beberapa kehidupan ia sukses, memiliki ketenaran, dalam beberapa kehidupan ia sama tidak bahagianya dan sama depresinya dengan kehidupan lamanya. Beberapa kehidupan di mana ia mengambil keputusan yang berbeda menyebabkan orang terdekatnya justru tiada. Beberapa kehidupan mengajarkan Nora hal-hal yang tak disadarinya, satu per satu kehidupan mengajarinya sesuatu, tapi tak satu pun kehidupan ia rasa cocok untuknya. Ia terus mencoba satu demi satu kehidupan, sampa akhirnya ia menemukan satu kehidupan lain yang ia kira cocok….

     

    Hehe, sudah sampai situ saja spoilernya. Uniknya, dalam setiap kehidupan yang dicoba Nora, seperti Nora, kita juga dibuat menebak-nebak apa yang sedang terjadi di kehidupan itu, atau bagaimana Nora menjalani hidup dalam kehidupan itu.

     

    Well, singkatnya menurut saya, kisah Nora dituliskan dengan baik, dan pesan moralnya tersampaikan. Nggak ada masalah dengan penulisan karakter, pun karakternya nggak begitu banyak. Tiap bab juga pendek-pendek, membuat kita merasa keterusan karena; ah, satu bab lagi, pendek ini. Page turner abis! Meski entah kenapa di pertengahan, saya lumayan bosan, tapi, layak kok dibaca sampai tamat!

     

    4.5/5 bintang!

     

     

     

     

    Continue Reading

     


    Oke, ini memang telat banget. Sudah pertengahan Januari dan saya baru menulis soal pergantian tahun. Tapi dari pada nggak sama sekali, saya mau rutin me-review satu tahun yang saya jalani.

     

    Sama seperti bagaimana 2021 berakhir begitu saja, 2022 hampir tidak ada bedanya. Malahan, dunia saya dalam 2022 berlalu lebih cepat. Hidup saya dalam 2022 berjalan dalam ritme: kerja, pulang, kerja lagi, lalu pulang, kerja …. Begitu saja tanpa banyak hak memorable yang dapat saya ingat.

     

    2022 dan nggak banyak pula hal yang terjadi, jika tahun sebelumnya saya menuliskan beberapa poin perubahan (di sini), kali ini meski tak banyak juga yang berubah, tapi saya dapat merangkum beberapa dari sebagian tahun saya kemarin:

     

    1.   1. Saya masih di pekerjaan yang sama

    Enggak terasa, saya sudah bekerja selama satu tahun lebih satu bulan di pekerjaan yang sekarang. Kalau akhir tahun kemarin saya masih galau apakah akan tetap stay dan gimana nasib saya apakah akan dikontrak atau tidak, setahun ini saya merasakan segala roller coaster dengan pekerjaan yang sekarang.

     

    Mulai dari berkali-kali mau resign karena merasa nggak mampu beradaptasi, nggak bisa kejar target di bagian saya ditempatkan, ketidakjelasan status training dan kontrak, hingga pindah bagian lain dan akhirnya setelah setengah tahun (iya, lama banget dan jujur saya nggak tahu gimana bisa saya bertahan selama itu tanpa kejelasan) dikontrak, suka duka, kemudian jenuh di saat-saat tertentu, semua hal itu terjadi di tahun ini.

     

    Saya juga menemukan teman-teman yang—ehem—lumayan asyik. Sebelumnya, saya hanya berpikir untuk bekerja dan mendapatkan uang, tidak ambil pusing soal pertemanan dan sejujurnya, saya nggak mencoba blend in dengan rekan kerja. Lalu, saya malah bergabung dengan bagian yang berbeda dan … banyak hal berubah.

     

    Meski awalnya berat, pekerjaan ini mengajarkan kan saya cukup banyak hal, dan sejujurnya, membayar saya paling banyak di antara pekerjaan sebelumnya, meski sebagai gantinya waktu saya banyak terkuras di PT.

     

    2.   2. Saya beradaptasi dengan mulai hidup sendiri

    Well, nggak beneran sendiri juga sih, karena saya saya ngekost satu kamar bareng dengan sepupu saya dan saya bisa saja pulang satu minggu sekali kalau tidak ada lembur. Sebelumnya, saya emang pernah bermimpi untuk tinggal jauh dari keluarga dan merasakan ngekost saat bekerja, dan hal itu tercapai juga.

     

    Rasanya nggak banyak adaptasi dalam hal ini. Kalau boleh berbangga diri, saya baik-baik saja dan terbiasa melakukan segala sesuatu sendiri. Jadi, tinggal terpisah dengan orang tua bukan masalah besar. Tinggal sendiri, bahkan sebelum sepupu saya datang, seolah hal yang natural bagi saya.

     

    3.   3. Saya belajar sesuatu soal bersosialisasi dan fit in dalam sebuah grup

    Kelihatannya sepele dan skill yang dapat dikuasai “dari sananya”, tapi memang nggak berlaku bagi saya. Bersosialisasi, beradaptasi, dan membuka obrolan dengan orang-orang baru selalu jadi masalah besar bagi saya. Di sebagian besar kesempatan, saya adalah orang yang sangat, sangat pasif jika berhubungan dengan berkenalan dengan orang baru.

     

    Bahkan untuk membuka sebuah obrolan ringan pun, itu adalah hal yang bisa bikin saya stress. Sifat pemalu saya pun tidak membantu. Gabungkan semua itu; introvert, pemalu, pasif, socially awkward. Maka jadilah alasan masuk akal mengapa saya tidak punya cukup lingkaran sosial.

     

    Bergaul di PT, dengan keberagaman orang dari berbagai tingkatan umur rupanya cukup membantu. Di beberapa kesempatan, saya kaget dengan diri saya sendiri yang mampu bersosialisasi dengan cukup baik hingga membuat saya membatin, “saya yang dulu nggak bakal bisa ataupun mau melakukan ini”.

     

    Sekarang, level bersosialisasi saya dapat dikatakan “mendingan” daripada sebelumnya yang dapat dikategorikan “hampir tidak tertolong”. Saya bisa membuka beberapa obrolan—kadang-kadang obrolan panjang—dengan orang baru, bertanya lebih dulu, cracking jokes pada satu grup yang lebih dari lima orang, “bersuara” di tengah kumpulan cukup orang, mencoba masuk dalam obrolan grup, menjadi talkative dan “berisik” di waktu-waktu tertentu, dan hal-hal remeh temeh lainnya.

     

    Iya, saya tahu kelihatannya semua itu hal-hal kecil yang cukup mengherankan bagi orang-orang yang punya cukup skill bersosialisasi normal. Tapi bagi saya, hal itu selalu sulit dilakukan, dan yang terpenting, saya menjadi semakin lebih baik (hopefully) untuk seterusnya.

     

    4.   4. Saya menabung cukup banyak tahun ini

    “Cukup banyak” versi saya memang tidak benar-benar banyak, tapi untuk saya di tahun sebelumnya dengan gaji terbanyak tidak pernah mencapai UMR kabupaten saya yang bahkan di bawah 2 juta, uang yang saya kumpulkan dapat dikategorikan banyak.

     

    Saya juga mulai berinvestasi rutin di reksadana, meski saya belum mencoba selain RDPU.

     

    5.   5. I feel lost, kinda…

    Kalau empat hal di atas adalah perubahan dalam hal positif, meski saya tidak ingin, saya sepenuhnya sadar dengan perubahan negatif yang ada sepanjang tahun kemarin. Benar, saya masih merasa benar-benar tersesat dan “hilang”. Saya kehilangan “track” goals yang mau saya capai, saya menghabiskan lebih sedikit waktu—benar-benar sedikit—waktu untuk menulis. Beda dari tahun kemarin, saya jauh lebih tidak produktif tahun ini. Projek KBM saya nggak ada kelanjutan. Mandek begitu saja. Saya juga nggak pernah lagi mengikuti lomba menulis.

     

    Belum lagi, dengan makin bertambahnya umur, dan berbedanya kesibukan, saya rasa tahun ini, hubungan saya dengan orang-orang yang penting di hidup saya semakin menjauh. Dengan keluarga saya, dan terutama dengan teman-teman dekat. Saya bisa saja berkilah ini semua karena saya sibuk dan terlalu kelelahan dan kekurangan waktu untuk berkabar, meski semua itu benar dan berperan, tapi sejujurnya, itu hanyalah alasan. Sayalah yang kurang menyempatkan diri. I take the one I love for granted.

     

    Saya mulai dapat melihat jarak tak kasat mata yang terbentang antara saya dengan orang-orang penting di hidup saya, khususnya teman-teman yang sekarang jarang saya temui. Saya bukanlah orang yang terbuka, dan satu tahun kemarin, saya semakin menjadi tertutup dan hampir tidak benar-benar terbuka pada siapapun.

     

    --

     

    Tahun ini juga, saya tidak membuat resolusi apa-apa, Sebagian resolusi saya memang seringnya tidak tercapai, dan secara khusus, saya tidak ingin menambahkan beberapa lagi dalam daftar. Tahun kemarin, saya menuliskan tiga resolusi, yang kesemuanya berbau finansial;

     

    Pertama, dana darurat terkumpul. Ceklist, secara teknis, memang sudah terkumpul.

     

    Lalu, beli laptop. Tidak tercapai. Dengan uang di reksadana saya sebenarnya saya dapat membeli setidaknya satu unit laptop dengan spesifikasi yang lumayan, tapi mari coret itu karena saya lebih butuh motor untuk transportasi sekarang ini, mengingat motor lama yang bapak saya beli sudah tidak begitu layak dipakai.

     

    Lalu, bangun dua atau lebih income. Hmm, tercapai dan tidak secara bersamaan. Beberapa waktu terakhir, salah satu mantan pelanggan saya dari fotokopian dulu mengontak saya untuk beberapa pekerjaan. Freelance. Laptop disediakan olehnya—termasuk saat saya menulis blog ini.

     

    Saya cukup sangsi awalnya karena dia orang yang sama yang dulu tidak membayar saya dengan baik untuk jasa saya, tapi saya pikir, tidak ada salahnya mencoba. Jadilah, saya menjerumuskan diri dalam kesibukan lain. Bayarannya? Lumayan untuk beberapa kali projek yang kadang ada dan tidak. Tapi selain itu, saya tidak punya pemasukan lain. Makanya, jawabannya adalah tercapai dan tidak.

     

    Well, that’s all. Bagaimana saya menjalani tahun 2022 saya yang sudah berakhir. Saya berharap dan mengusahakan 2023 akan menjadi lebih baik lagi.

     

     

    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    About Me

    Photo Profile
    Tri!

    Pelajar tingkat akhir SMK. Hobi membaca dan (kadangkala) menulis baik fiksi maupun nonfiksi. Blog ini adalah tempat saya menjaga kewarasan dengan mempublikasikan pemikiran-pemikiran yang sulit didiskusikan dengan orang-orang di sekitar saya.

    Contact Me

    • facebook
    • twitter
    • bloglovin
    • youtube
    • pinterest
    • instagram

    Labels

    Review cerpen opini prakerin

    Blog Archive

    • ►  2017 (1)
      • ►  Desember (1)
    • ►  2018 (19)
      • ►  Januari (2)
      • ►  Februari (2)
      • ►  Maret (4)
      • ►  April (4)
      • ►  Mei (3)
      • ►  Juni (1)
      • ►  Juli (1)
      • ►  Agustus (2)
    • ►  2019 (6)
      • ►  Mei (3)
      • ►  Juni (1)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  November (1)
    • ►  2020 (4)
      • ►  Januari (1)
      • ►  Maret (1)
      • ►  April (1)
      • ►  Mei (1)
    • ►  2021 (17)
      • ►  Januari (3)
      • ►  Februari (3)
      • ►  Maret (3)
      • ►  April (2)
      • ►  Juni (1)
      • ►  Juli (2)
      • ►  Oktober (2)
      • ►  Desember (1)
    • ►  2022 (26)
      • ►  Januari (1)
      • ►  Februari (1)
      • ►  Maret (1)
      • ►  April (2)
      • ►  Mei (2)
      • ►  Juli (2)
      • ►  November (8)
      • ►  Desember (9)
    • ▼  2023 (7)
      • ▼  Januari (2)
        • Welcome, 2023
        • Review Novel — The Midnight Library (2020)
      • ►  Februari (1)
      • ►  Mei (1)
      • ►  Oktober (3)
    • ►  2024 (4)
      • ►  Januari (1)
      • ►  Mei (2)
      • ►  Agustus (1)
    facebook Twitter instagram bloglovin google plus

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top