Pages

facebook linkedin twitter youtube

A Dreamer

If you can't explain it simply, you don't understand it well enough - Albert Einstein

    • Home
    • Review
    • Opini
    • Prakerin
    • Karya
    Kue ulang tahun


    Kemarin, aku hampir lupa kalau hari ini adalah hari ulang tahunku. Memang bukan kali pertama, beberapa tahun lalu dan barangkali pula tahun-tahun sebelumnya aku juga pernah lupa. Mungkin karena aku tumbuh besar tanpa pernah merayakan ulang tahun. Orang tuaku bahkan tak pernah ingat hari lahir anak-anak mereka—ataupun hari lahir mereka sendiri. Begitu juga dua kakakku.

     

    Jadi, hari ulang tahun tidak pernah menjadi suatu hal yang spesial bagiku. Bagiku, hari ulang tahun sama seperti hari-hari lainnya. Hanya saja fakta bahwa pada tanggal itu kebetulan kau lahir x tahun yang lalu. Intinya kau hanya bertambah tua—atau dewasa, yang  mana sajalah.

     

    Aku tidak merasa marah saat teman-temanku melupakannya—karena toh, aku sendiri tidak mengingat-ingat hari lahir mereka. Bukan karena aku tidak peduli, aku hanya tidak memahami konsep perayaan dan kemewahan di hari ulang tahun. Aku tidak memahami perayaan “sweet seventeen” dan mengapa berumur 17 tahun begitu istimewa.

     

    Suatu kali, pernah aku memberi pendapatku soal hari ulang tahun pada seorang teman dekat, dan ia terkejut. Kurasa aku juga menyakiti hatinya karena tidak mengucapkan “selamat ulang tahun” pada ahri ulang tahunnya padahal kami dekat. Dahulu, aku pernah mengkritisi orang-orang yang memposting setiap ucapan selamat ulang tahun yang ia dapat pada status whatAppnya dan menganggap  mereka haus validasi dan ingin lebih banyak orang mengucapkan kalimat selamat itu pada mereka.

     

    Pada saat itu aku tidak tahu bahwa kalimat yang kuanggap remeh ternyata begitu penting bagi sebagian orang. Kalau dipikir-pikir  lagi, mungkin jauh di dasar hati, aku begitu sinis karena sedikit banyak merasa iri karena satu-satunya yang selalu mengingat hari ulang tahunku hanyalah notifikasi singkat dari Facebook. Tidak pernah ada kejutan ulang tahun maupun hadiah berisi barang yang diam-diam kuidam-idamkan. Bahkan tidak ada pula ucapan manis “Selamat ulang tahun, Tri!”.

     

    Beberapa tahun setelahnya, aku memiliki teman-teman baik yang memberiku hadiah pada ulang tahunku. Dan rasanya ternyata menyenangkan. Hadiah mereka masih kusimpan hingga sekarang.

     

    So, I used to wonder: my family was too poor to afford birthday cakes and presents, but how could we also be too poor to say a simple “happy birthday!” to each other? Honestly, it would be nice if we did. But well, I’ve made peace with that, because I know my parents never celebrated their birthdays either and no one ever taught them that a simple “happy birthday!” can sometimes mean a lot.

     

    Kalau dipikir-pikir lagi, semua orang mungkin punya cara mereka sendiri untuk merayakan hari ulang tahun—ataupun tidak merayakannya. Sekarang, bagiku ulang tahun masih bukanlah hari yang begitu spesial untuk sebuah perayaan khusus, tetapi hari yang cukup spesial untuk didedikasikan hanya untukku.

     

    Aku tidak melakukan banyak hal di hari ini. Tidak banyak yang mengingat ataupun mengucapkan selamat ulang tahun padaku, tetapi itu bukan masalah. Karena hari ini bukan tentang mereka atau siapa pun. Hari ini tentang sebuah hari untukku. Jadi aku menjalaninya sesuai mauku:

     

    Aku tidak memaksa diri menjadi produktif untuk bekerja maupun belajar, khusus hari ini. Aku bermalas-malasan di kamar dan menonton setengah season anime yang baru-baru ini kuikuti. Aku menyetel musik keras-keras dan bernyanyi dengan suara fals sembari mengerjakan pekerjaan rumahan. Malam ini aku berkendara motor sembari mendengarkan lagu favoritku untuk mengunjungi  warung kopi dan mendoan. Makan di sana kemudian nongkrong di kursi depan minimarket sembari menyendok es krim sekaligus menyesap minuman bersoda—hanya karena aku merasa ingin melakukannya.

     

    Semua itu adalah hal-hal kecil. Hal kecil yang membuatku senang dan merasa hidup layak dijalani. 

    Hal-hal kecil yang kulakukan,

    di hari yang kudedikasikan untukku.

     

     


    Continue Reading

     

    jo march

    Beberapa waktu lalu saya menonton film Little Woman 2019. Film yang sudah sejak lama ada dalam watch list saya. It’s a really great movie. Little Woman bercerita soal empat saudara perempuan dengan mimpi dan kehidupan mereka masing-masing. Karakter center-nya adalah Jo, si anak kedua. Saya merenung cukup lama setelah menonton Little Woman, lalu saya teringat ulasan singkat yang kurang lebih seperti ini: Menonton Little Woman adalah menyadari bagaimana Jo berpikir bahwa cinta yang platonis adalah segala yang dia butuhkan untuk hidup berbahagia, lalu dia menyaksikan orang-orang yang dicintainya lebih memprioritaskan cinta romantis (romantic love). Jo tidak bisa memahami hal itu. Kemudian ia mulai menyadari seberapa kesepiannya tanpa relasi romantis, meskipun tidak benar-benar menginginkannya.

     

    Saya melihat potret diri saya dalam Jo. Melihat Jo seperti menatap tepat pada kaca, dan di sana, isi pikiran saya seolah dikuliti.

     

    Jo yang tidak bisa membayangkan masa depan di mana ia akan menikah. Jo yang mencintai kebebasannya lebih dari apa pun dan terlalu takut untuk melepasnya. Jo yang menghargai mimpi-mimpinya, memperjuangkannya, dan berusaha keras mencapai kesuksesan independen-nya. Jo yang tidak menyukai ide bahwa satu-satunya cara membuatnya “kaya” pada zaman itu adalah menikahi pria kaya. Jo yang tidak dapat memahami mengapa kakaknya mengubur mimpi untuk dapat menjadi aktris di teater dan lebih memilih menikahi pria yang dicintainya. Jo, yang merasa bahwa semua hubungan yang dia miliki, keluarganya, sahabatnya, adalah segala hal yang dia butuhkan di sisinya.

     

    Lucu bagaimana film yang berlatar tahun 1980-an ini, yang aslinya berasal dari buku berjudul sama tahun 1868 bisa membuat saya relate dan merasa terkoneksi sedalam ini dengan karakter fiksionalnya.

     

    Pada dasarnya pernikahan memanglah sebuah penjara kecil, dan dalam pernikahan, perempuan lebih sering menjadi pihak yang berkorban lebih banyak. Jo, seperti halnya saya, barangkali berpikir demikian. Dan kami gagal memahami mengapa orang-orang menjadikan pernikahan layaknya sebuah tujuan akhir.

     

    Saya adalah Jo yang menyaksikan orang-orang di sekitarnya jatuh cinta, tetapi tak dapat memahami konsep cinta itu sendiri. Saya menyaksikan bagaimana orang-orang di sekitar saya (rekan kerja, kenalan, teman-teman, sahabat) jatuh cinta, menangis, patah hati, kadangkala juga menjadi begitu bodoh dan buta karena sebuah konsep abstrak bernama cinta. Saya membaca dan menonton bagaimana romantic love digambarkan sebagai sesuatu yang besar, penting, hangat, luar biasa, dan mengagumkan. At the end of the day, they say, love is all that matters.

     

    Tapi saya tidak pernah mengerti bagaimana rasanya. Saya tidak pernah jatuh cinta, tidak pernah patah hati, tidak pernah benar-benar begitu menyukai seseorang secara romantis. Pada suatu titik, saya menjadi penasaran, what's so amazing about falling in love and being loved by someone romantically?

     

    Ketika usia saya belasan, saya nyaris tidak peduli. Saya merasa terlalu muda dan kecil untuk memusingkan hal semacam itu. Ketika usia saya hampir menginjak dua puluh tahun, saya masih tidak peduli. Pada saat itu, orang dewasa di sekitar saya menyiratkan bahwa keinginan untuk berkomitmen dalam relasi romantis adalah hal yang datang secara natural pada suatu waktu diiringi rasa kesepian yang mencekik saat sendiri. Menurut pengalaman mereka, harusnya sekarang, pada awal usia dua puluhan perasaan semacam itu akan datang.

     

    Saya menemui orang-orang seusi saya, atau usia tertentu yang merasa begitu kesepian karena tidak pernah berada dalam sebuah relasi romantis, karena belum menemukan “seseorang” untuknya. They crave and long for romantic love, so bad that they don't really mind who they end up with as long as they get to experience romantic love once again, or maybe, for the first time.

     

    Orang-orang sering bertanya pada saya, apakah saya merasakan hal yang sama? Apakah saya pernah merasa kesepian dan menginginkan seseorang dalam relasi romantis? Apakah saya pernah membayangkan saya akan menikah di umur tertentu?

     

    Saya bilang tidak, dan jawaban saya tidak akan memuaskan mereka. Untuk seseorang yang kesulitan membayangkan pernikahan dalam kehidupan masa depannya seperti saya, tidak memiliki "seseorang", tidak pernah berada dalam relasi romantis adahal hal natural yang terasa benar. Tetapi memanglah dianggap tidak normal. Saya bahkan terbiasa mendengar pertanyaan: "Tapi kamu normal, kan?"



    Saya merasa cukup dengan diri saya. Saya merasa romantic love bukanlah segalanya. Saya telah merasa utuh tanpa harus menemukan “seseorang”. I can’t quite comprehend the idea of soulmate, your other half, or whatever you name it. Saya tidak membenci ide soal cinta dan pernikahan, bukan berarti saya tidak menginginkannya, tapi saya merasa tidak menikah juga tidak apa-apa. Saya merasa orang-orang di sekitar saya terburu-buru untuk memasuki sebuah penjara kecil bernama pernikahan dan melupakan mimpi-mimpi mereka. Saya ingin terus merasa bebas, pikiran dan fisik, dan orang-orang lalu menganggap: kalau begitu, mungkin jodohmu tidak ada. Saya bertanya-tanya apakah memang setiap orang memiliki jodoh untuknya?

     

    Saya bertanya-tanya: apakah saya harus melepas kebebasan yang saya damba untuk merasakan sebentuk ikatan bernama komitmen dan emosi bernama cinta?

     

    Seolah segalanya, orang-orang di sekitar saya, buku-buku, film, segalanya menyiratkan romantic love is all that you need.

     

    Pada satu titik saya juga bertanya-tanya. Apakah saya akan pernah jatuh cinta? Apakah sekarang hanya bukan masanya? Tetapi setidaknya delapan dari sepuluh orang yang saya temui telah jatuh cinta sebelum umur mereka mencapai usia dua puluh. Apakah ini karena pintu hati saya hanya lebih keras untuk diketuk? Ataukah ini karena saya terlalu sulit untuk dicinta sehingga saya sulit mencintai pula?

     

    Mungkin being in love sendiri adalah sebuah privilese. Orang-orang seperti saya yang mencintai kebebasan berpikirnya setengah mati kesulitan memahami konsep jatuh cinta dan berkomitmen dalam sebuah hubungan. Kadangkala, saya ingin memahami bagaimana rasanya. Perasaan menyukai seseorang dengan sangat itu. Perasaan rela berkorban yang asing itu. Kerelaan menerunkan ego demi satu sama lain itu. That strange thing called love.

     

    My longing for love doesn’t come from within me. It comes from all the people and things around me that make love seem like the most important thing. I want to feel normal too, I want to experience it too for once:  that love, that heartbreak, that joy and excitement.

     

    Saya bertanya-tanya akankah nanti, suatu saat ketika seluruh teman-teman saya telah membangun rumah mereka sendiri dan prioritas mereka telah berubah dan teralalu sibuk tanpa dapat menyisakan ruang untuk sebuah relasi pertemanan seperti sebelumnya; ketika keluarga saya mulai menua, beberapa dari mereka pergi mengejar kehidupan impian mereka dan beberapa telah tiada, apakah saya akan berakhir seperti Jo? Akankah saya merasa kosong dan kesepian lalu mendamba seseorang untuk berada dalam relasi romantis semata untuk mengisi kekosongan itu meskipun tidak benar-benar menginginkannya?


     

    Continue Reading


    Saya mengenal seorang Bocah Naif yang berekspektasi kalau tiba saatnya ia menjadi “orang dewasa”, ia akan tahu apa yang mau dia lakukan dalam hidup. Dia akan terlihat keren, asertif, bijaksana, dan penuh pengetahuan. Dia akan memiliki jalan kehidupan yang jelas. Dia akan tahu mau jadi apa kelak. Dia akan menjadi orang yang dihormati. Yah … pada intinya, ia akan terlihat “dewasa”. Karena begitulah citra dewasa di matanya: menjadi orang yang tahu apa yang sedang dan mau ia lakukan dalam hidup. Bocah Naif itu juga mengira, saat menjadi dewasa, seseorang akan secara natural tahu cara mengelola uang, cara bersosialisasi dengan benar tanpa membuatnya terlihat bodoh, cara menghadapi penolakan, atau sejumlah skill bertahan hidup lainnya. Bocah Naif itu tidak tahu saja, ekspektasinya salah besar.

     

    Saya, yang sudah mencicipi kehidupan legal menjadi “orang dewasa” selama 4 tahun menurut Undang-Undang pun menertawakan Si Bocah Naif itu. Tidak ada satu pun pemikiran Bocah Naif itu yang benar. Seseorang ternyata tidak dengan natural mengetahui segalanya saat memasuki usia dewasa.

     

    Bocah Naif itu adalah saya sendiri di usia belasan.

     

    Lucu bagaimana rasanya sewaktu kita berusia belasan, kita menganggap orang-orang di usia 20-an ke atas sebagai orang dewasa. Mereka terlihat sibuk dan lupa caranya bermain-main. Dunia mereka terasa jauh dan terlalu serius. Lucu bahwa dulunya saya berpikir proses kedewasaan akan terjadi secara magis setelah kita menginjak usia tertentu.

     

    Sekarang, ketika menginjak early twenties, apakah saya secara magis menjadi dewasa? Tentu saja tidak. Saya malah merasa saya sama kekanakannya dengan dulu. Kadang-kadang saya merasa umur mental saya berhenti berkembang di usia enam belas tahun. Saya masih sering melakukan hal-hal bodoh, membuat keputusan-keputusan mengenasakan yang akan saya sesali kemudian. Tidak terhitung seberapa sering saya ingin membolos kerja seperti dulu saya ingin membolos sekolah. Di banyak kesempatan, saya menghindari masalah dengan menunda-nunda apa yang harusnya saya lakukan.

     

    Proses beranjak dewasa ternyata adalah fase stress konstan, cemas karena ketidakpastian  masa depan, perasaan “lost” karena tidak tahu apakah keputusan yang kamu ambil itu benar. Adulting is also a constant battle with yourself. Ternyata setelah menginjak dewasa saya tidak secara natural tahu cara mengelola keuangan, cara bersosialisasi dengan benar tanpa membuat saya terlihat bodoh, cara menghadapi penolakan, atau sejumlah skill bertahan hidup lainnya. Ternyata, saya harus melatih dan memaksa diri mempelajari semua  itu.

     

    Sering waktu, tubuh ini terasa seperti cangkang yang terus membesar dan menua, sementara isi di dalamnya berhenti tumbuh, adakalanya pula menyusut. Benar, di waktu-waktu terburuk saya bahkan merasa usia mental saya menyusut menjadi bocah sepuluh tahun.

     

    Kadangkala, saya jadi bertanya-tanya, apakah hanya saya? Apakah ini tandanya saya yang gagal menjadi dewasa? Tidakkah orang lain merasakan hal yang sama?

     

    Lalu pada akhirnya, saya melihat contoh-contoh di sekitar saya. Berbagai manusia dewasa di sekitar saya dengan problem-nya masing-masing. Suatu kali, rekan kerja saya, ibu-ibu yang berusia awal 40-an menangis karena alasan sepele di tempat kerja. Saya waktu itu berpikir itu kekanak-kanakan sekali. Bocah Naif dalam diri saya dulu mengira orang dewasa berhenti menangis untuk hal-hal kecil di depan orang lain, karena hal tersebut adalah sesuatu yang hanya akan dilakukan anak kecil.

     

    Saya juga kenal seseorang di usia pertengahan 30-an yang membuat keputusan finansial krusial yang membuatnya cemas berkepanjangan dan stress berat.

     

    Saya melihat orang-orang yang saya kira ‘dewasa’, tetapi kemudian membuat keputusan tidak dewasa. Beberapa berkelahi dan melakukan hal-hal tidak dewasa.

     

    Saya tahu banyak cerita serupa dari banyak orang yang tadinya saya kira “dewasa”.

     

    Pada akhirnya, saya bertanya-tanya, memangnya apa yang membedakan orang yang dewasa dan tidak jika umur tidak bisa dijadikan acuan? Konsep dewasa menjadi begitu abstrak. Kalau begitu, apakah saya akan pernah menjadi dewasa?

     

    Mendefinisikan Arti Menjadi Dewasa

     

    Jika saya mendefinisikan kedewasaan sebagai kematangan berpikir, kebijaksanaan, suatu keadaan yang konsisten, atau apapun yang pernah saya bayangkan sebagai Bocah Naif, mungkin seseorang yang dapat dikatakan dewasa hanya berjumlah segelintir atau bahkan nyaris tidak ada.

     

    Saya jadi teringat sebuah frase dalam bahasa Inggris:

    To get the job done.

    To fulfil one's task; to do what is required to do.

     

    Mungkin menjadi dewasa adalah sesederhana mampu menyelesaikan tugasmu, pekerjaanmu; mampu melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Selama bekerja tidak terhitung berapa kali saya merasa ingin membolos kerja karena capek, tidak suka lingkungan kerja, tidak suka bosnya, tapi tidak sekalipun saya membolos, saya tetap datang bekerja dan menyelesaikan pekerjaan saya.

     

    Selama membuat keputusan-keputusan dalam hidup, terkadang saya menyesalinya, menangisinya, tapi pada akhirnya saya tetap memegang kontrol dan tidak menghibahkan masalah saya pada orang lain.

     

    Saya belajar mengatur dan mengelola keuangan saya sendiri; mengatasi kecemasan dan ketakutan saya tanpa membebani orang lain; sedikit demi sedikit mengatur hidup saya sendiri. Dan barangkali, itu cukup. Saya masih mengeluh setiap waktu, menyesali kepayahan saya dalam membuat keputusan, but as long as I get the job done, I think, little by little, I have becoming an adult.

     

    Continue Reading

     


    Hari ini, saya mulai bisa melihat masalah saya dari sisi lain.

     

    Saya selalu berpikir, dibandingkan dengan orang lain, masalah-masalah saya terlalu kecil dan terlalu dangkal untuk dibicarakan. Sesuatu yang hanya eksis dalam pikiran saya. Sesuatu yang seolah bukan apa-apa.

     

    Memang begitulah adanya. Bahkan sejak masih usia belasan, masalah-masalah saya tidak terdiri dari persoalan asmara, pertengkaran dengan teman sebaya maupun orang tua. Sekarang, masalah saya juga tidak seberat orang-orang seusia saya yang; bibit sandwich generation, pencari nafkah utama dan harus membiayai sekolah adik-adiknya, atau sudah menikah dan mengalami pasang surut pertama rumah tangga. Semua masalah itu adalah masalah eksternal.

     

    Sedangkan masalah-masalah saya adalah masalah internal yang berwujud kekhawatiran tak kasatmata, perasaan ‘lost and disconnected’ setiap waktu, juga ketakutan dan tekanan di dalam kepala. Sesuatu yang sulit dijelaskan dalam kata-kata. Masalah saya terdiri dari kekhawatiran bahwa saya tidak bisa menjadi versi diri yang saya inginkan. Kekhawatiran bahwa suatu saat saya akan bangun dan menyadari versi kehidupan yang saya impikan tidak akan pernah tercapai. Masalah-masalah saya adalah tumpukan kekalutan lain dan perang di dalam kepala, yang bahkan saat saya menuliskan ini, saya bingung bagaimana menjelaskannya agar dapat mudah dipahami tanpa terlalu banyak menelanjangi isi  pikiran saya.

     

    Mau tidak mau, saya jadi merasa masalah-masalah saya adalah sesuatu yang kecil. Ini juga didukung dari reaksi orang-orang saat giliran saya bercerita. Saya gagal memvalidasi permasalahan dan perasaan saya sendiri.

     

    So, I keep wondering, why do I feel this way if my problems are too small?

     

    Hari ini saya menyadari, mungkin benar bahwa masalah saya terlalu kecil, insignificant bagi orang lain, karena saya terus mencari validasi dan melihatnya dari perspektif orang lain. Saya ingin mereka mengerti apa yang terjadi dalam kepala saya. Masalah-masalah saya. Tapi saya gagal melihatnya dari perspektif saya pribadi.

     

    Masalah saya menjadi insignificant because it didn’t matter to them. It’s not something they should worry about. But it’s something that matter a lot to me. it means almost everything to me.

     

    Saya gagal memahami bahwa sebuah masalah menjadi masalah karena hal itu berarti sesuatu bagi orang yang bersangkutan.

     

    Selama bertahun-tahun, siklus menstruasi saya tidak teratur dengan durasi yang sangat lama dari normal. Ini mengindikasikan di kemudian hari, saya memiliki risiko PCOS, barangkali kesulitan mendapat keturunan, atau bahkan kemandulan. Tapi hal itu bukan masalah besar bagi saya. Saya tidak begitu peduli semua itu kecuali fakta bahwa durasi mens terlalu lama terkadang mengganggu aktivitas kerja saya.

     

    Bagi sebagaian orang, khususnya sebagai perempuan, itu harusnya menjadi kekhawatiran besarn sebab ketidakmampuan memiliki keturunan dinilai membuat Wanita menjadi “tidak sempurna”. Tapi itu bahkan tidak membuat saya khawatir karena memiliki keturunan di kemudian hari tidak ada dalam daftar pertimbangan rencana hidup saya.

     

    Saya hidup dalam kultur lingkungan di mana menikah muda adalah sebuah hal biasa dan umur awal dua puluhan dianggap sudah ‘matang’ atau cukup usia untuk menikah. Now I am in my early twenties, having nearly zero dating experience, the perfect age to worry about this thing, but I couldn’t care less. Simply because I don’t have any plan to get married bellow 25, or even (probably) 27. I know for some people, this is a big deal. But to me, it isn’t.

     

    Hal-hal itu membuktikan bahwa apa yang terlihat sebagai masalah dan kekhawatiran besar bagi orang lain bisa jadi bukan apa-apa bagi saya. Dan apa yang penting bagi saya, belum tentu mereka merasakan yang sama.

     

    Lebih dari sebagian dari rencana hidup saya dan hidup ideal versi saya berlawanan dengan apa yang lingkungan saya pandang sebagai sebuah “keharusan”. Atau juga sesuatu yang normal/lumrahnya dilakukan.

     

    Maka, hari ini saya menulis untuk mengingatkan diri saya sendiri, bahwa wajar bahwa orang lain tidak memahami sebarapa besar masalah dan kekhawatiran di kepala saya. Maka, tidak seharusnya saya mencari validasi dari orang lain, ataupun terluka kalau mereka bilang, “Halah, buatku itu masih bukan apa-apa.” atau “Kamu, tuh, kebanyakan mikir, makanya ….”

     

    Hari ini, untuk diriku,


    Kamu seharusnya berhenti merasa bahwa masalahmu terlalu kecil, sepele, remeh. Stop invalidating your feelings. Masalah dan kekhawatiranmu juga penting. Masalahmu tidak terlalu kecil dan remeh. Hanya karena bagi orang lain itu bukan apa-apa, bukan berarti itu "bukan apa-apa" bagimu. Karena hanya kamu yang tahu betapa berartinya semua hal yang mendasari semua permasalahan itu.

    Continue Reading

     

     Cerpen ini dibuat untuk diikutertakan dalam lomba bertema "Ruang Terbuka Biru Jakarta" yang diselenggarakan oleh Dinas SDA Jakarta.
    Continue Reading

     

    source: pixabay

    Cerpen fabel ini diikutsertakan untuk lomba yang diselenggarakan Cosmos Indonesia untuk launching produk magic com terbaru mereka yang bergambar tiga hewan. Tema yang dilombakan adalah "Persahabatan".

    Continue Reading

     


    Cerpen ini diikutsertakan dalam lomba cerpen fantasi bertema "Siluman" yang diselenggarakan oleh inthemicasa (sebuah grup kepenulisan). Cerpen ini memenangi juara 4 dan dibukukan bersama antologi cerpen terpilih lainnya.

    Continue Reading
    Older
    Stories

    About Me

    Photo Profile
    Tri!

    Pelajar tingkat akhir SMK. Hobi membaca dan (kadangkala) menulis baik fiksi maupun nonfiksi. Blog ini adalah tempat saya menjaga kewarasan dengan mempublikasikan pemikiran-pemikiran yang sulit didiskusikan dengan orang-orang di sekitar saya.

    Contact Me

    • facebook
    • twitter
    • bloglovin
    • youtube
    • pinterest
    • instagram

    Labels

    Review cerpen opini prakerin

    Blog Archive

    • ►  2017 (1)
      • ►  Desember (1)
    • ►  2018 (19)
      • ►  Januari (2)
      • ►  Februari (2)
      • ►  Maret (4)
      • ►  April (4)
      • ►  Mei (3)
      • ►  Juni (1)
      • ►  Juli (1)
      • ►  Agustus (2)
    • ►  2019 (6)
      • ►  Mei (3)
      • ►  Juni (1)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  November (1)
    • ►  2020 (4)
      • ►  Januari (1)
      • ►  Maret (1)
      • ►  April (1)
      • ►  Mei (1)
    • ►  2021 (17)
      • ►  Januari (3)
      • ►  Februari (3)
      • ►  Maret (3)
      • ►  April (2)
      • ►  Juni (1)
      • ►  Juli (2)
      • ►  Oktober (2)
      • ►  Desember (1)
    • ►  2022 (26)
      • ►  Januari (1)
      • ►  Februari (1)
      • ►  Maret (1)
      • ►  April (2)
      • ►  Mei (2)
      • ►  Juli (2)
      • ►  November (8)
      • ►  Desember (9)
    • ►  2023 (7)
      • ►  Januari (2)
      • ►  Februari (1)
      • ►  Mei (1)
      • ►  Oktober (3)
    • ▼  2024 (4)
      • ►  Januari (1)
      • ►  Mei (2)
      • ▼  Agustus (1)
        • Cara Lain Merayakan Hari Ulang Tahun
    facebook Twitter instagram bloglovin google plus

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top