Pages

facebook linkedin twitter youtube

A Dreamer

If you can't explain it simply, you don't understand it well enough - Albert Einstein

    • Home
    • Review
    • Opini
    • Prakerin
    • Karya

     

     Cerpen ini dibuat untuk diikutertakan dalam lomba bertema "Ruang Terbuka Biru Jakarta" yang diselenggarakan oleh Dinas SDA Jakarta.
    Continue Reading

     

    source: pixabay

    Cerpen fabel ini diikutsertakan untuk lomba yang diselenggarakan Cosmos Indonesia untuk launching produk magic com terbaru mereka yang bergambar tiga hewan. Tema yang dilombakan adalah "Persahabatan".

    Continue Reading

     


    Cerpen ini diikutsertakan dalam lomba cerpen fantasi bertema "Siluman" yang diselenggarakan oleh inthemicasa (sebuah grup kepenulisan). Cerpen ini memenangi juara 4 dan dibukukan bersama antologi cerpen terpilih lainnya.

    Continue Reading


    Tulisan ini berasal dari sebuah utas di twitter berikut (iya, pikiran saya kadang hanya butuh stimulasi seremeh baca utas twitter atau baca bacotan opini random orang di berbagai platform), di mana si pembuat utas menulis: 




    Dalam terjemahan bebasnya: "Aku tahu orang tua bukanlah tanggung jawab kita, tapi entah bagaimana rasanya menyediakan lihat orang tua kita beranjak tua sementara kita masih kesulitan berjuang untuk punya kehidupan yang stabil, hal ini adalah tekanan besar bagi beberapa orang. Perasaan bersalah yang sangat kuat ketika kita nggak mampu memenuhi sesuatu yang diinginkan orangtua atau kita gagal memenuhi apa yang mereka perlukan...." You got the point, saya nggak bakal translate seutuhnya.


    Dan, mengabaikan poin utama yang disampaikan pembuat utas, kolom komentarnya justru dipenuhi oleh perdebatan soal kalimat pertamanya. Antara yang setuju dan tidak setuju dengan kalimat "Aku tahu orangtua bukanlah tanggung jawab kita, tapi..." Beberapa mencela si pembuat utas dengan begitu defensif: gimana mungkin orang tua bukan tanggung jawab kita? Tentu saja orang tua adalah tanggung jawab kita di masa tuanya! 


    Pihak kontra ini ada yang sampai mengaitkannya dengan agama, di agama saya ortu adalah bla bla. Merawat mereka di masa tua adalah tugas mulia dan akan diganjar pahala dan sebagainya. Atau, argumentasi bahwa janganlah ikut-ikutan kultur masyarakat Barat sana yang individualis sampai-sampai jadi sesat pikir menganggap orang tua bukanlah tanggung jawab seorang anak. 


    Untuk waktu lama, saya—selayaknya anak keluarga Asia lainnya—dibesarkan untuk (dan barangkali) meyakini bahwa di masa tua mereka, orang tua adalah tanggung jawab saya sebagi anak. Namun, berusia dewasa berarti belajar lebih banyak hal dan mempertanyakan apa yang tadinya kita percaya, menjumpai lebih banyak ideologi, serta pemikiran-pemikiran lain yang kemudian kita adopsi. We learn and re-learn. Sekarang ini saya lebih percaya bahwa sebagai manusia, hidup kita adalah tanggung jawab kita masing-masing. Termasuk orang tua kita. Adalah tanggung jawab mereka pula hidup mereka di masa tua (seharusnya). Sayangnya, itu mungkin hanya bekerja dalam situasi yang ideal.


    Kalau saya mulai berargumen soal "kita tidak meminta dihadirkan di dunia ini, melainkan orang tua kitalah yang berkeinginan", pastinya saya akan dicap durhaka atau egois—yang mana memang pernah. Orang yang tidak tahu mungkin akan berprasangka "Oh, mungkin dia tumbuh dalam keluarga disfungsional, tidak akur, atau broken home sampai-sampai punya pemikiran aneh macam itu." Faktanya, meski tidak tumbuh dalam keluarga sempurna, keluarga saya adalah keluarga fungsional yang rukun.


    Maka, saya mengatakan apa yang saya yakini: tidak seorang anak pun meminta dilahirkan. Begitulah adanya. Apakah seorang anak meminta ia dilahirkan di dunia ini pada orang tua mereka? Apakah seorang anak bahkan bisa memilih orang tua mereka? Tidak. Meraka hadir ke dunia atas keinginan sadar orang tua mereka (kecuali dalam kasus kehamilan tidak diinginkan karena pemerkosaan atau paksaan salah satu pihak) tanpa bisa memilih siapa orang tua dan bagaimana status perekonomian orang tua mereka.


    Saya ada di dunia ini atas kehendak sadar orang tua saya yang menginginkan satu lagi anak berharap setelah dua kali perempuan, kali ini akan terlahir laki-laki—pada akhirnya, saya terlahir sebagi perempuan. Tapi toh, sepertinya tidak mengurangi rasa kasih orang tua pada saya.


    Sampai titik tertentu, saya adalah tanggung jawab orang tua saya. Mengapa? Karena merekalah yang menghadirkan saya. Atas kehendak sadar mereka, saya lahir ke dunia ini. Hidup kita memang adalah tanggung jawab masing-masing, tetapi saat memutuskan menghadirkan anak, maka tanggung jawab kita bertambah. Setiap anak adalah tanggung jawab orang tua mereka. Namun, apa itu lantas menjadikan anak juga bertanggung jawab atas hidup orang tua di masa tua? Karena telah merawat dan membesarkan si anak sejak kecil? 


    Jawaban pertanyaan itu mengingatkan saya pada perdebatan saya dengan orang lain soal hak dan tanggung jawab seorang anak. Menurut saya, hak saya sebagai anak adalah dipenuhinya kebutuhan dasar saya oleh orang tua (makanan dan gizi yang cukup), rasa kasih dan sayang, rasa aman, juga pendidikan yang layak (dan sebutlah segelintir hal lain yang layak kalian dapat sebagai anak untuk tumbuh menjadi manusia yang baik). Sementara tanggung jawab saya sebagai anak adalah menjalani kehidupan saya sebaik mungkin, sebagaimana hal-hal baik yang orang tua saya ajarkan. Lalu, hal-hal seperti memberi orang tua sejumlah uang tiap bulan, memenuhi keinginan material mereka, hingga menyokong dan merawat kehidupan mereka di masa tuanya (seharusnya) bukanlah tanggung jawab saya. Kalaupun saya melakukannya, itu bukanlah sebentuk tanggung jawab atau "balas budi karena telah dirawat sejak kecil" (sekali lagi, apakah seorang anak meminta untuk dilahirkan?), tetapi bentuk kasih saya pada orang yang begitu saya kasihi. Jika saya ingin membahagiakan mereka, membelikan hal-hal material yang mereka ingin, memberi sebagian gaji bulanan saya, itu karena keinginan pribadi saya untuk menyenangkan mereka dan bukanlah bentuk dari tanggung jawab sebagai anak.


    Pada titik ini, saya biasanya dikatai egois. Tapi, mari berpikir sejenak, di mana bentuk keegoisan tersebut? 


    Kalau pola pikir ini egois, apa tidak lebih egois para orang tua yang menghadirkan anak dengan pemikiran bahwa; biar nanti tuanya ada yang mengurus. Biar kalau sudah besar ada yang buat "sandaran".


    Beberapa (saya tidak bilang semua, oke?) orang tua justru menghadirkan anak dengan alasan yang menurut saya lebih egois. Pernahkah mendengar nasihat-nasihat untuk cepat-punya-anak dengan dalih "Kalau nggak punya anak, siapa nanti yang ngurusin pas tua?" Atau kalau kebetulan penasehat adalah orang yang mengaku saleh, "Biar mati nanti ada yang doain." Atau, "Kalau ada anak, bikin rumah tangga lebih erat. Mau pisah juga mesti pikir-pikir." Dan yang bikin lebih tepok jidat, saya pernah mendengar: "Punya anak jangan cuma satu, biar gedenya ada yang bisa dipilih-pilih." Satu bakal lebih makmur dari yang lain maksudnya. 


    Apakah semua alasan itu bukan bentuk dari keegoisan juga? Ingin punya anak karena ini dan itu, tapi hampir tak mampu memenuhi hak-hak yang layak untuk anak mereka. 


    Kita umumnya dikondisikan sejak kecil untuk berpikir bahwa kelak ketika besar, kita harus membalas jasa orang tua yang telah merawat kita, yang telah menghabiskan sejumlah uang mereka untuk kita. Tetapi, bukannya kita hadir atas kehendak orang tua kita? Orang tua yang menginginkan anak sepatutnya sadar bahwa menghadirkan anak ke dunia ini berarti bertanggung jawab atas kehidupan anak mereka. Atas terpenuhinya hak anak, bukan sekadar sandang dan pangan, tetapi juga hak untuk pendidikan moral dan akademis yang layak. Orang tua yang menginginkan anak sepatutnya sadar bahwa anak bukanlah penunjang ekonomi maupun calon perawat mereka kelak di masa tua. Orang tua dan calon orang tua yang menginginkan anak sepatutnya sadar atas mampu tidaknya mereka menghadirkan anak di dunia ini. Orang tua dan calon orang tua semestinya sadar bahwa menghadirkan anak ke dunia ini adalah tanggung jawab yang begitu besar.


    Jika dirasa belum bisa bertanggung jawab atas hidup sendiri (baik sekarang ataupun masa tua mereka kelak), mengapa mengalihkan tanggung jawab itu dengan menghadirkan sosok seorang anak?


    -


    Dalam dunia ideal, seharusnya orang tua tidak begitu saja menghadirkan anak kalau mereka rasa diri mereka belum siap. Kalau suatu saat mereka merasa bahwa mereka sendiri tak dapat bertanggung jawab atas masa tua mereka. Pada akhirnya, saya katakan itu dalam dunia ideal, sebab nyatanya, bahkan dapat berpikir soal kekhawatiran tidak dapat memenuhi hak anak mereka kelak bagi banyak lapisan masyarakat adalah sebuah privilese. Masyarakat kita menganggap bahwa memiliki anak bukanlah sebuah pilihan dengan tanggung jawab besar yang harus diambil dengan pertimbangan matang-matang, melainkan sebuah keharusan dan kewajiban mutlak. Orang-orang dengan entengnya menasihati pengantin baru untuk cepat-cepat punya anak, merongrong mereka di setiap kesempatan dengan pertanyaan, "sudah isi belum?". Memutuskan tidak memiliki anak dipandang serupa dosa besar.


    How ironic.


    -


    Saya juga jadi teringat tweet ini


    Bahkan untuk seorang egois seperti saya, ketakutan melihat orang tua menua sementara saya (yang menurut masyarakat harusnya bertanggung jawab atas masa tua mereka) masih kesulitan menjalani kehidupan yang lebih stabil secara finansial, masih belum menemukan jalan menuju kehidupan yang mapan, adalah ketakutan nyata. Sebagai anak terakhir dalam kultur desa, adalah hal wajar bahwa kelak sepatutnya saya tinggal serumah dengan orang tua, untuk merawat mereka di masa tua mereka. Apalagi, orang tua saya memang tergolong sudah berumur, bahkan masuk kategori lansia.


    Namun, sepertinya saya memang bukanlah gambaran anak ideal di mata masyarakat. Di usia ini seharusnya saya mulai berpikir untuk menikah dan menetap di rumah yang akan saya tinggali bersama bapak-ibu, tetapi jujur saja pemikiran itu justru mencekik saya perlahan. Kerap kali pemikiran saya yang tidak sejalan dengan apa yang diyakini mayoritas masyarakat dipandang sesat dan egois. Jika pemikiran semacam ini dianggap egois, maka biarlah saya menjadi Si Egois itu. Kelak saya mungkin akan lebih egois, mengambil keputusan-keputusan lain yang egoistis dan tidak sesuai dengan dogma tanggung jawab anak pada orang tua. Kelak saya mungkin menolak tinggal serumah dengan bapak-ibu dan lebih memilih tinggal sendiri. Barangkali saya akan lebih mementingkan keinginan dan mimpi saya. Barangkali saya akan seterusnya hidup jauh dari mereka demi mencapai kehidupan stabil yang saya kehendaki. 


    Bukan berarti saya akan menelantarkan dan mengabaikan mereka di masa tuanya. Berpikir bahwa masa tua orang tua bukanlah tanggung jawab seorang anak tidak sama dengan menelantarkan mereka begitu saja. Sekali lagi; berbakti, membantu secara finansial, merawat orang tua di masa tua sepatutnya adalah bentuk kasih, bukannya sebuah tanggung jawab. Dan bentuk kasih tidak seharusnya membuat kita mengorbankan mimpi, keinginan, dan masa depan sendiri. 


    Continue Reading

     

    Cover novel kim ji-yeong

    Judul : Kim Ji-Yeong, Born 1982

    Penulis : Cho Nam-Joo

    Genre : New-adult, Feminisme

    Tebal buku : 192 hlm, 20 cm

    Tahun terbit : 2019, Gramedia Pustaka Utama

    Blurb :

     

    Kim Ji-yeong adalah anak perempuan yang terlahir dalam keluarga yang mengharapkan anak laki-laki, yang menjadi bulan-bulanan para guru pria di sekolah, dan yang disalahkan ayahnya ketika ia diganggu anak laki-laki dalam perjalanan pulang dari sekolah di malam hari.


    Kim Ji-yeong adalah mahasiswi yang tidak pernah direkomendasikan dosen untuk pekerjaan magang di perusahaan ternama, karyawan teladan yang tidak pernah mendapat promosi, dan istri yang melepaskan karier serta kebebasannya demi mengasuh anak.


    Kim Ji-yeong mulai bertingkah aneh.


    Kim Ji-yeong mulai mengalami depresi.


    Kim Ji-yeong adalah sosok manusia yang memiliki jati dirinya sendiri.


    Namun, Kim Ji-yeong adalah bagian dari semua perempuan di dunia.

    Kim Ji-yeong, Lahir Tahun 1982 adalah novel sensasional dari Korea Selatan yang ramai dibicarakan di seluruh dunia. Kisah kehidupan seorang wanita muda yang terlahir di akhir abad ke-20 ini membangkitkan pertanyaan-pertanyaan tentang praktik misoginis dan penindasan institusional yang relevan bagi kita semua.

     

    --

     

    Membaca buku ini layaknya membaca sebuah biografi tokoh bernama Kim Jiyeong, yang lahir pada tahun 1982. Dibandingkan novel, buku ini memang lebih mirip biografi, atau memoar, bahkan juga essay. Footnote novel ini banyak berisi catatan soal hasil penelitian, artikel, data statistik, hingga jurnal terkait pernyataan dalam novel yang berisi fakta nyata. Karena itu, tentu saja saya juga nggak bisa menilainya seperti membaca novel lain.

     

    Buku ini dibuka dengan Kim Jiyeong, yang mulai bertingkah aneh. Ia bisa berubah menjadi seperti orang lain, mengatakan hal-hal yang tidak biasanya ia katakan, dan meniru gestur orang-orang tertentu. Lalu, kita dibawa flashback untuk menyaksikan bagaimana kehidupan Kim Jiyeong dari kelahirannya, masa kecil, remaja, hingga masa dewasanya.

     

    Buku ini menyajikan dan memperlihatkan kita bagaimana budaya patriarki ada di masyarakat dan bagaimana hal itu mempengaruhi kehidupan perempuan dari kecil hingga dewasa. Patriarki mengatur banyak aspek kehidupan perempuan (yang tidak berlaku sama pada laki-laki). Saya mau acungin empat jempol untuk penulis yang mampu menuliskannya dengan sangat, sangat baik.

     

    Lahir di tahun 1982, pada saat itu, di Korea Selatan sana, orang tua lebih mengharapkan anak laki-laki dibanding perempuan. Anak laki-laki adalah kebanggaan besar keluarga. Pada tahap ekstrem, dengan peraturan pembatasan kelahiran anak, jika anak pertama dan kedua adalah perempuan, dan anak ketiga yang akan lahir berjenis kelamin sama, para ibu terpaksa harus mengaborsi anak tersebut agar ia bisa melahirkan bayi lain, yang diharapkan sebagai laki-laki. Termasuk Ibu Jiyeong sendiri. Jiyeong dan kakaknya peremuan, ketika tahu anak yang akan lahir lagi-lagi adalah perempuan, ibu Jiyeong tahu anak itu tak diinginkan bahkan oleh suaminya. Jadi, dengan terpaksa, ia harus mengaborsi anak tersebut dan kemudian melahirkan anak lain yang berjenis kelamin lelaki.

     

    Membaca bagian ini membuat saya juga mengingat-ingat bahwa saya sendiri, dengan selisih umur yang jauh dengan dua kakak perempuan saya, mulanya diharapkan lahir sebagai anak laki-laki dalam keluarga. My father at that time, badly wanted a boy, but too bad I was born as a girl.

     

    Anggapan bahwa anak laki-laki adalah kebanggan, sayangnya, masih bertahan sampai saat ini. Beberapa orang tua yang saya kenal juga punya kecenderungan untuk mengharapkan anak pertama mereka laki-laki, meskipun jika yang lahir perempuan, mereka tetap merawat dan menyayanginya. Hanya saja, kelahiran anak pertama laki-laki masihlah tetap sebuah kebanggaan dan kebahagiaan yang berbeda pada sebuah keluarga baru.

     

    Pada bagian selanjutnya, buku ini menggarisbawahi banyak ketidakadilan yang nyata untuk perempuan, yang kelihatannya … sepele karena masyarakat menormalisasi hal-hal tersebut. Seperti bagaimana saat Jiyeong selalu diganggu anak laki-laki di kelasnya, tetapi itu seolah dianggap wajar karena “begitulah cara anak laki-laki mengekspresikan rasa sukanya pada anak perempuan”. Bahkan meski beda negara, hal itu juga umum kita dengar sewaktu kita remaja, kan? Ah, saya nggak mau bahas, tapi saya punya pengalaman yang sama. Sungguh, pada banyak poin, pembaca akan merasa sangat relate dengan pengalaman Kim Jiyeong.

     

    Kemudian bagaimana seragam anak perempuan diatur sedemikian rupa, utamanya agar tidak terlalu terbuka, tapi beda halnya dengan laki-laki. Bagaimana anak lelaki lebih didahulukan, seperti makan lebih dulu dalam antrian, atau kebanyakan ketua kelas adalah laki-laki meski anak perempuan lebih rajin dan secara general lebih pintar.

     

    Buku ini juga menyinggung victim blaming, yangs sering terjadi apabila seorang perempuan dilecehkan. Mereka disalahkan karena pakaian mereka, karena bersikap terlalu ramah, karena pulang terlalu malam, atau karena “karena” lainnya.

     

    Ketidakadilan tersebut terus terjadi, dalam setiap fase kehidupan dari Kim Jiyeong kecil, remaja, pada bangku kuliah, hingga saat ia bekerja, atau bahkan setelah ia menikah dan menjadi ibu.

     

    Ada satu bagian khusus yang membekas bagi saya. Saat Jiyeong dilema antara melepas pekerjaan yang susah payah didapatkannya, untuk mengurus anak mereka di rumah. Ia berdialog dengan suaminya.

     


     Kim Jiyeong, perlahan-lahan kehilangan suaranya. Tidak, bahkan sejak awal, Kim Jiyeong bukan tokoh pemberani yang menantang masyarakat dan patriarki. Ia adalah sosok pendiam, yang menyimpan suaranya atas ketidakadilan, karena ia tahu tak akan ada perubahan berarti yang terjadi. Kim Jiyeong, memang mirip kebanyakan dari kita.

     

    Menurut saya, buku ini a-must-read tidak hanya untuk perempuan, tapi juga laki-laki, berbagai kalangan, dan secara khusus, orang-orang yang menentang feminisme dan memiliki pemahaman yang salah. Untuk mereka yang berpikir bahwa feminisme hanyalah gerakan agar perempuan berada di atas laki-laki, bahwa feminisme itu berarti kampanye seperti “my body, my choice” dalam konteks negatif.

     

    Tidak, saat membicarakan feminisme, yang diperjuangkan adalah kesetaraan yang terampas dalam kehidupan perempuan, perlakuan-perlakuan tidak adil yang mereka terima hanya karena mereka terlahir sebagai perempuan. Seperti bagaimana dituliskan dengan sangat baik dalam buku ini.

     

    4.5/5 untuk buku ini!

     

    --

     

    By the way, waktu membaca buku ini, saya jadi teringat drakor Because This is My First Life. Di mana tokoh utama perempuannya terpaksa terusir dari rumah yang dicicilnya sendiri karena rumah itu diharuskan atas nama adiknya yang laki-laki; bagaimana ia diperlakukan seperti “pembantu” dalam acara temu keluarga di rumah mertuanya karena itu “adalah tugas menantu wanita”; atau bagaimana seksisnya pekerja laki-laki memperlakukan pekerja wanita dan susahnya wanita bertahan dan naik jabatan dalam perusahaan hanya karena ia seorang wanita. A good drama to watch.

     

     

     

     

     

    Continue Reading

    The Midnight Library Cover

    The Midnight Library -- Kesempatan Lain Dalam Hidup

    Judul : The Midnight Library (Perpustakaan Tengah Malam)

    Penulis : Matt Haig

    Genre : Kontemporari-Fantasi

    Tebal buku : 368 hlm; 20 cm

    Tahun terbit : 2020, GPU

    Blurb :

     

    Di antara kehidupan dan kematian terdapat sebuah perpustakaan yang jumlah bukunya tak terhingga. Tiap-tiap buku menyediakan satu kesempatan untuk mencoba kehidupan lain yang bisa dijalani sehingga kau bisa melihat apa yang terjadi kalau kau mengambil keputusan-keputusan berbeda... Akankah kau melakukan apa pun secara berbeda jika kau mendapat kesempatan untuk membatalkan penyesalan-penyesalanmu? Benarkah kehidupan lain akan jauh lebih baik?


    Nora Seed harus membuat keputusan. Ia dihadapkan pada kemungkinan bisa mengubah hidupnya, memiliki karier yang berbeda, tidak putus dari mantan kekasih, dan mewujudkan mimpinya sebagai glasiolog. Ia menjelajahi Perpustakaan Tengah Malam untuk memutuskan apa sebenarnya yang menjadikan hidup pantas dijalani. Setelah kehidupan yang diisi berbagai penyesalan dan kegagalan, akankah Nora Seed akhirnya mendapatkan kehidupan yang bisa memberinya kebahagiaan sejati?

     

    Sinopsis

    The Midnight Library bercerita soal perempuan berusia 35 tahun bernama Nora Seed, yang terus mengalami kegagalan demi kegagalan dalam hidup. Ia gagal menjadi perenang profesional seperti yang diinginkan ayahnya, gagal menjadi glasiolog dan malah berakhir kuliah dengan jurusan filsafat, batal menikah dengan kekasihnya dua hari menjelang tanggal pernikahan, mengecewakan kakaknya dengan keluar dari The Labyrinths, band yang mereka bentuk bersama dan berakhir dimusuhi rekan band lain, hubungannya dengan sahabat baiknya, Izzy, merenggang, dan sejumlah panjang daftar kegagalan lainnya.

     

    Seolah belum cukup, suatu hari ia dipecat dari pekerjaan yang telah lama dilakoninya di toko penjual alat bermusik, murid les pianonya memutuskan berhenti, kemudian ia menemukan kucing peliharaannya ternyata mati tertabrak mobil. Saat itulah Nora merasa, tak ada lagi yang membutuhkannya. Maka, Nora pun mencoba mengakhiri hidupnya dengan overdosis obat.

     

    Ia kira ia akan mati seperti keinginannya, nyatanya, ia terbangun di sebuah perpustakaan yang dipenuhi banyak sekali buku. Penjaga perpustakaan tersebut adalah Mrs. Elm, seorang pustakawati di sekolahnya dulu. Mrs. Elm menjelaskan bahwa di antara hidup dan mati, hadir sebuah perpustakaan tengah malam. Dalam salah satu buku, ada sebuah Buku Penyesalan, tempat semua penyesalan Nora dituliskan. Tiap-tiap buku dalam perpustakaan tersebut, menyediakan satu kesempatan bagi Nora untuk membatalkan penyesalannya dan mencicipi kehidupan lain untuk melihat apa yang terjadi jika Nora mengambil keputusan yang berbeda. Nora bebas memilih yang manapun, hingga ia menemukan kehidupan yang benar-benar diinginkannya dan tinggal selamanya dalam kehidupan itu. Setidaknya, itulah yang dikatakan Mrs. Elm. Asalkan, Midnight Library masih menunjukkan pukul 00.00.

     

    Review

    I’ve got a great time reading this!

     

    Sejujurnya, The Midnight Library punya cerita yang sederhana, dan sebagian besar pasti bisa menebak bagaimana ending-nya dengan tepat (I did!), tapi bagaimana kita akan sampai di kesimpulan akhirlah dan bagaimana penulis menuliskan pesan moral tersirat yang membuat kita merefleksi hidup adalah alasan buku ini sangat, sangat layak dibaca.

     

    “Sembilan belas tahun sebelum ia memutuskan untuk mati, Nora Seed duduk dalam kehangatan perpustakaan kecil di sekolah Hazeldene di kota Bedford.”

     

    Itu adalah kalimat pembuka novel ini, yang sukses mencuri atensi saya dan bikin saya penasaran. Kebetulan juga, saya baca tanpa melihat blurb ataupun mencari-cari review buku ini lebih dulu. Jadi, sepanjang membaca saya bertanya-tanya, apa yang terjadi dengan tokoh utama novel ini? Bab-bab selanjutnya pun dibuka dengan kalimat serupa: Dua puluh tujuh jam sebelum ia memutuskan untuk mati…, Dua belas jam sebelum…, Sembilan jam…,

     

    Lalu kita dibawa mengenal situasi Nora, dalam bab-bab awal, kita tahu bahwa Nora itu depresi. Paruh pertama buku juga cukup triggering untuk orang-orang yang memiliki masalah mental atau punya suicidal thoughts, sejujurnya, karena kita seolah menyaksikan bagaimana satu per satu alasan Nora untuk tetap hidup seolah menghilang. Mulai dari pemecatannya dari pekerjaan di The Strings, kucingnya mati, murid lesnya berhenti berlangganan les, bahkan tetangga sebelah rumahnya tidak membutuhkannya lagi untuk mengambil obat di apotek. Alasan demi alasan sederhana Nora untuk bertahan lenyap satu per satu, sementara tak ada orang-orang yang dapat dihubunginya. Hingga Nora memutuskan untuk mengakhiri hidup. Secara ironis, semua itu dituliskan dengan sangat baik, dan bakal menjadi bagian favorit saya di novel ini.

     

    Tidak ada konflik yang begitu kompleks dalam novel ini, tapi justru, dengan perjalanan Nora di Midnight Library, penulis dengan konsisten memasukkan pesan moral, yang membuat kita juga merefleksikan hidup. Nora ada dalam diri setiap orang.

     

    Di Midnight Library, Mrs. Elm meminta Nora membuka Buku Penyesalan, yang berisi setiap penyesalan yang pernah dan sedang dirasakan Nora selama hidup. Mulai dari penyesalan-penyesalan kecil seperti tidak jadi belajar, sampai pada rangkaian penyesalan lain yang cukup besar hingga mengubah hidup. Buku Penyesalan Nora sangat berat, dengan banyaknya penyesalan yang ia miliki.

     

    Lalu, dari buku penyesalan itu Nora diminta untuk memilih salah satu buku untuk menjalani kehidupan lain di mana ia mengambil keputusan yang berbeda dan membatalkan salah satu penyesalannya. Mula-mula, Nora ingin kehidupan di mana ia tidak membatalkan pernikahannya dengan kekasihnya, Dan.

     

    Lalu kehidupan di mana ia mengiyakan permintaan sahabatnya, Izzy, untuk bersama-sama pergi ke Australia.

     

    Kehidupan tempat ia tetap melanjutkan renang dan menjadi pemenang olimpiade.

     

    Kehidupan tempat ia masih menjadi anggota The Labyrinths dengan kakaknya dan band mereka menjadi terkenal.

     

    Kehidupan di mana ia berhasil menjadi glasiolog dan menempuh perjalanan ke Arktik.

     

    Satu per satu, dalam tiap kehidupan yang Nora jalani, ia menyadari bahwa sesuatu berjalan salah. Sesuatu tidak seharusnya. Bahkan meski dalam beberapa kehidupan ia sukses, memiliki ketenaran, dalam beberapa kehidupan ia sama tidak bahagianya dan sama depresinya dengan kehidupan lamanya. Beberapa kehidupan di mana ia mengambil keputusan yang berbeda menyebabkan orang terdekatnya justru tiada. Beberapa kehidupan mengajarkan Nora hal-hal yang tak disadarinya, satu per satu kehidupan mengajarinya sesuatu, tapi tak satu pun kehidupan ia rasa cocok untuknya. Ia terus mencoba satu demi satu kehidupan, sampa akhirnya ia menemukan satu kehidupan lain yang ia kira cocok….

     

    Hehe, sudah sampai situ saja spoilernya. Uniknya, dalam setiap kehidupan yang dicoba Nora, seperti Nora, kita juga dibuat menebak-nebak apa yang sedang terjadi di kehidupan itu, atau bagaimana Nora menjalani hidup dalam kehidupan itu.

     

    Well, singkatnya menurut saya, kisah Nora dituliskan dengan baik, dan pesan moralnya tersampaikan. Nggak ada masalah dengan penulisan karakter, pun karakternya nggak begitu banyak. Tiap bab juga pendek-pendek, membuat kita merasa keterusan karena; ah, satu bab lagi, pendek ini. Page turner abis! Meski entah kenapa di pertengahan, saya lumayan bosan, tapi, layak kok dibaca sampai tamat!

     

    4.5/5 bintang!

     

     

     

     

    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    About Me

    Photo Profile
    Tri!

    Pelajar tingkat akhir SMK. Hobi membaca dan (kadangkala) menulis baik fiksi maupun nonfiksi. Blog ini adalah tempat saya menjaga kewarasan dengan mempublikasikan pemikiran-pemikiran yang sulit didiskusikan dengan orang-orang di sekitar saya.

    Contact Me

    • facebook
    • twitter
    • bloglovin
    • youtube
    • pinterest
    • instagram

    Labels

    Review cerpen opini prakerin

    Blog Archive

    • ►  2017 (1)
      • ►  Desember (1)
    • ►  2018 (19)
      • ►  Januari (2)
      • ►  Februari (2)
      • ►  Maret (4)
      • ►  April (4)
      • ►  Mei (3)
      • ►  Juni (1)
      • ►  Juli (1)
      • ►  Agustus (2)
    • ►  2019 (6)
      • ►  Mei (3)
      • ►  Juni (1)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  November (1)
    • ►  2020 (4)
      • ►  Januari (1)
      • ►  Maret (1)
      • ►  April (1)
      • ►  Mei (1)
    • ►  2021 (17)
      • ►  Januari (3)
      • ►  Februari (3)
      • ►  Maret (3)
      • ►  April (2)
      • ►  Juni (1)
      • ►  Juli (2)
      • ►  Oktober (2)
      • ►  Desember (1)
    • ►  2022 (26)
      • ►  Januari (1)
      • ►  Februari (1)
      • ►  Maret (1)
      • ►  April (2)
      • ►  Mei (2)
      • ►  Juli (2)
      • ►  November (8)
      • ►  Desember (9)
    • ▼  2023 (7)
      • ►  Januari (2)
        • Review Novel — The Midnight Library (2020)
      • ►  Februari (1)
        • Review Novel — Kim Ji-Yeong Born 1982
      • ►  Mei (1)
        • Siapa Yang Bertanggung Jawab Atas Masa Tua Orang T...
      • ▼  Oktober (3)
        • Cerpen – Sembilan
        • Cerpen – Pemilihan Raja Baru
        • Cerpen – Oasis
    • ►  2024 (4)
      • ►  Januari (1)
      • ►  Mei (2)
      • ►  Agustus (1)
    facebook Twitter instagram bloglovin google plus

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top